Hari ini aku diundang temanku untuk datang ke pesta pernikahan teman SMA-nya, alasannya dia butuh pasangan supaya engga terlihat jomblo katanya. Konyol! Jelas aku tolak mentah-mentah.
"Astaga Bim liat dulu nih kartu undangannya aja udah epik gini yakin masih ga penasaran??"
Dan disinilah aku menelan ludah sendiri.
"nyesel ga nih? Tema wedding-nya epik-parah pake banget kan??" Andriana bilang begitu bikin aku makin pengen sumpal mulutnya pake kue-kue yang ada disini biar diem dan berhenti ngomong. Dia bakal terlihat lebih anggun dan cantik kalau ga ngomong.
Anyway, liat semua dekorasinya. Meja-meja kayu, hutan-hutan ditambah tanamannya. Ini dekorasi paling Insane dan terniat dari semua pernikahan yang pernah aku datangin. Ga kerasa pengantin mulai jalan menuju altar. Pengantin perempuan dengan telinga panjang elf memakai gaun putih tanpa veil dan tetap elegan dengan rambut putih yang tergerai sepunggung. Dia berjalan di depan hidung. Di kepala cuma bisa berkata cantik banget! Setelah itu speechless.
"hus! Udah ada yang punya dia. Ga usah nge-blushing gitu, norak!!" Sambil nyikut perutku.
"ih situ yang norak! Ga bisa liat yang cantik-cantik sambil natap cantik ga sih?" Kesal namun sambil nada bisik pada Ana.
Mempelai prianya juga pake kostum elf! Ga ada kata-kata lain yang bisa aku deskripsikan buat kekaguman yang sekarang aku liat. Semuanya keren parah!!
Aku bener-bener ada di dunia fantasi rasa di film dan memang aku sedang mengejar banyak referensi untuk visual yang lagi aku garap untuk tugas kampus. Ini engga bisa aku biarkan lolos dari kameraku!! Itu tujuan awalnya sampai "pasangan" palsuku ini minta ditemani sampai after party selesai.
"Gila! Ini udah jam 12 lewat." Sambil liat jam di handphone "gerbang kosan udah pasti ditutup An!"
"ih gini nih bocah kupu-kupu, kuliah-pulang kuliah-pulang," ejek Andriana. "santai aja kali nginep aja di kosan aku.."
"udah mabok ya.. kosan kamu khusus cewe ngaco!" Begitu tengok ternyata Ana udah tergelepar di meja. Aku langsung deketin dan kaget. Bau alkohol!!
'Mampus!! Ga mungkin kan kita nginep di hotel!!??' pikir dangkal yang saat ini terpikir saat panik. "digerebeg satpol pp berabe! duh!"
"loh Ana kenapa?"
"Ana mabuk! An bangun An!" menepuk-nepuk pipi Andriana supaya bangun. "Salah aku juga mau-mau aja jadi pasangan palsu datang kesini-" Aku tiba-tiba blank setelah liat siapa yang ngomong. Si mempelai wanita elf yang rambut putih panjang barusan! Tentu aja dengan sang mempelai prianya.
Keduanya tertawa dan hanya aku yang tertawa kecut. Malu.
Akhirnya kita semua duduk berhadapan kecuali Andriana yang tidur dan aku makin ciut, gerogi, sama sekali engga kenal mereka.
"haha, lo keliatan gugup gitu. Pasangan palsu Ana, siapa nama lo?" tanya mempelai pria.
Duh! Pengen rasanya masuk ke dalam karung sekarang juga. "gue Bima temen kampus Ana, jadi yang temen Ana tuh.."
"gua Miles, bukan temen sih tapi mantannya Ana" Rasanya pengen tepok jidak berkali-kali buat hari ini. Betapa sialnya hari ini aku kena prank sama teman super gaada akhlak.
"ah.." Aku bingung harus sambung apa. "tapi lo tau ini bocah bakal datang pamer pasangan hari ini?"
Miles tertawa lagi. "si Ana udah gua anggap ade, buat hubungan gua sama Ana yang pacaran itu malah jadi complicated dan akhirnya kita mundur." Wow ternyata orang ini blak-blakan luar biasa. "jadi gua ga merasa terganggu." Lanjut Miles.
Meski dia bilang gitu, sorot matanya keliatan tetep sayang sama Ana yang katanya hanya sebagai "ade".
"Sorry, tapi apa lo tau gimana perasaan Ana sama lo?" melirik kearah Lisa dan seketika panik. "gue gaada maksud apapun buat ganggu kehidupan lo yang baru, tapi meluruskan yang takutnya ada kesalahpahaman. Itupun dengan persetujuan istri lo"
Lisa menatap Miles agak ragu. "ini pertama kali gue liat Ana mabuk gini. Ato emang kalian bertiga perlu ngomongin ini tanpa gue?" Aku cari alasan buat kabur.
"kayanya ga perlu, Ana memang pernah cerita tentang temen gila tugas yang namanya Bima dan dia berhasil bawa lo keluar dari sarang tugas" Disambung dengan tawa ringan. "dia banyak cerita tentang lo!"
'sumpah ini anak mesti di sumpel mulutnya!' pikirku sambil kesal liat Ana yang pulas tidur.
"jadi kamu masih kontakan sama dia?" spontan Lisa bertanya.
"loh aku kira kamu memang tau. Itu loh yang aku save pake nama si bungsu" balas Miles.
"oh itu Ana?"
"iya Ay!" Mengelus kepala istrinya.
"perasaan gua sama Ana mungkin sebatas sekedar Ade tapi gua tulus Bim, but no more than that! Di sisi lain Ana engga. Kita sama-sama sayang tapi titik itu ga akan pernah ketemu. Loving her in not the way she want. Ini selalu jadi bahan pertengkaran yang gaada abisnya, kita jadi saling lukain satu sama lain." Miles berhenti dan buang nafas panjang.
Aku berusaha nerka kesimpulan yang ada bahwa Miles dan Ana masih kontakan dan Ana berusaha pamerin aku sebagai pasangan palsu di depan Miles dan istrinya. Miles dan Ana saling sayang dengan makna yang jelas engga se-visi.
Loh, bentar inti masalahnya dimana?
"kapan lo putus sama Ana?"
Terdiam panjang, Miles ragu untuk jawab pertanyaanku. Meski aku hanya bisa tebak dia putus belum lama ini dan kemungkinan Lisa jadi pelarian namun malah nemuin kecocokan tapi apa bener ini cocok dengan faktanya? Kalau cinta dari ego dipaksakan engga pernah berakhir baik.
"kita pacaran 3 bulan yang lalu!" Lisa angkat bicara. "Ay! Bilang dong!" Kemudian membujuk Miles untuk ngomong.
"Gua... putusin Ana sejak 5 bulan yang lalu, tapi dia masih pengen terusin dan ya pertengkaran demi pertengkaran ga bisa terelakan." Raut wajahnya udah engga karuan hampir-hampir terlihat menyesal, marah, sedih, dan semua bercampur sekarang sambil menunduk.
"jadi," Lisa menengok kearahku lalu tatapannya berakhir di Miles. "kapan kalian tepatnya putus?" Aku ga tahan untuk tau jawaban.
"An!" Miles kaget liat Andriana terbangun dan
matanya udah sembab.
"tenang aja lo bukan lagi pacar gue, Miles!" Ana sesunggukan. "Dan lo mesti berhenti anggap gue Ade yang lo sayang-sayang lagi karena gue kesini mau bilang semoga kalian bahagia!" Tangis Ana pecah. "semoga lo paham apa maksudnya Miles." Ana tatap tajam Miles.
"ya gue kesini bahwa gue masih bisa suka sama yang lain, alasan kenapa bawa Bima kesini."
Aku lebih jadi mati kutu dengan momen awkward ini. 'aduh An aku mohon jangan ada lagi kepalsuan lagi' mencoba mengirim telepati ke kepala Ana lewat ekspresi muka meski kayanya dia terlalu mabuk untuk terima pesan yang aku maksud.
"Lisa, lo mesti tau kita baru putus 1 bulan yang lalu." Mendekatkan wajahnya pada Lisa. "tapi lo ga usah khawatir, Dia cinta mati sama lo dan gue... heh cuman sekedar 'ade bungsu' yang terikat dengan sayang-sayangan yang ga jelas ini."
Aku pegang tangan Ana untuk meminimalisir ucapannya yang mirip gerbong kereta yang jalan terlalu cepat. "tenang An! Kamu mabuk!"
"lo gausah pegang-pegang Ana!" tiba-tiba Miles teriak dan memisahkan paksa tanganku dengan kasar. Aku kaget dengan respon Miles yang protective atau malah over ini. Oke, semua yang dibilang memang serumit itu.
"hapus semua hal yang berhubungan dengan gue Miles, sekarang lo punya kehidupan baru dan gue juga ingin punya yang baru."
"denger dulu penjelasan aku An!" Miles menarik Ana yang langsung dihempas.
"penjelasan? lo hutang penjelasan sama istri lo yang hampir-hampir nangis tuh!" Miles langsung menangkap arah telunjuk Ana.
"Miles" Lisa bernada parau. "Aku ingin semua ini clear!" Dengan Miles yang keliatannya panik dan gagap sekarang. Aku ga pengen Ana juga uring-uringan di kelas dan juga ga mau jadi saksi pernikahan singkat yang berlangsung beberapa jam hanya karena kesalahpahaman ini meski di sisi lain aku jadi haus gimana kelanjutan cerita- bukan drama ini berakhir. Setidaknya Aku bisa jadi penengah tapi,
"hah.. gausah buat ini jadi panjang deh. Kalian belom mulai malam pertama udah hampir berakhir tragis penuh tangis." Emosi Ana mulai meledak lagi.
"Maaf gue kira pelurusan kesalahpahaman ini harus ditunda" Aku mendeklarasikan seolah pemimpin diskusi pertemuan.
"Ini bukan masalah lo Bim! Harusnya lo ga ikut campur!!" Ana kesal.
"bukan masalah gue!!?" Semua kekesalan yang udah aku tahan begitu aja muntah dari mulut. "Bukannya lo yang bawa gue kesini dan terpaksa jadi pasangan palsu lo kan??" Ana diam mematung dan memasang wajah terkejut. Aku langsung terdiam setelah sadar kalau aku bener-bener marah sambil teriak ke depan muka Ana.
"sorry Miles dan Lisa kalian mending istirahat, ini ga akan selesai dengan cepat kalau sambil marah dan ada yang mabuk!" Melirik ke Ana.
*****
"astaga serunyam ini masalahnya." Membuang nafas panjang dan membuat kepulan asap keluar dari mulut. Apa yang jadi pikiran dangkal tadi jadi kenyataan.
Lisa saranin aku dan Andriana nginep di hotel yang sama dengan mereka honeymoon. Aku ga pernah ngerti jalan pikiran orang, mereka mau aja direpotin oleh orang asing macam Aku. Bersyukur banget malah aku bisa tidur di kasur empuk nan mewah gratis meski harus terpaksa tidur satu kamar sama Andriana kalau engga, bakal ada headline news muncul yang judulnya seorang gadis melompat bunuh diri dari hotel karena sang pujaan menikah dengan perempuan lain. Terdengar clickbait.
Begitu kita sampai di hotel, Ana histeris setelah sadar dari mabuknya dan Aku ceritain semua yang terjadi. Semua udah tenang karena Ana udah tidur, staf hotel juga udah kembali lagi bertugas, dan Aku melepas stress bersama sebatang rokok di balkon kamar.
Suara ketukan di pintu buat aku matiin rokok dan yakin Miles ada di balik pintunya karena.. ah aku gamau berpikiran aneh-aneh buat seseorang yang terlalu over protective seperti Miles. Dia juga pasti punya cerita dibaliknya.
Aku harus respon kaya gimana dengan situasi kaya gini. Begitu aku buka pintu hanya ada Lisa di sana, kali ini tanpa Miles. Iya Lisa dengan guyuran kesedihan di pipi, kali ini keberadaanku terasa jadi perusak hubungan orang.
"Lisa!!" Aku kaget dan juga ga bisa bilang apa-apa Lisa langsung peluk aku dan sambil nangis sejadi-jadinya.
"Miles bilang ga sayang sama aku!!" Tubuhnya ambruk terduduk.
Oke tenang-tenang aku harus tenang. "Kamu mau kita obrolin di dalam aja?" Lisa masih terus nangis dan mengangguk.
Sambil membuat Lisa tenang dan duduk di kasur. Aku buatin teh manis. Suasana jadi awkward 'lagi' di menit-menit menunggu teko mendidihkan air. Aku ga pengen dia nangis tapi setauku kalau cewe di pamper (dibuat tenang perasaannya) dia malah makin nangis. Mungkin itu mode pelepasan sedih secara natural yang mudah untuk dilakukan.
Dan kenapa malam ini terasa panjang banget!? Sakit kepala rasanya. Teko berbunyi dan segera menyiapkan teh di cangkir kemudian memberikan pada Lisa yang sedang melihat Ana yang tidur.
Menyodorkan teh "Lisa, minum dulu tehnya. Kelar nangis pasti lemes kan?" Tanpa bilang apapun dan menerima teh buatanku. Meminumnya pelan-pelan.
"kamu suka Ana Bim?" tanya pelan dari Lisa.
"Hah?" Aku sama sekali engga bisa memikirkan kata yang harus aku jawab dengan pertanyaan barusan. Duh seriusan aku harus jawab?? Demi menenangkan sampai Miles datang. Gimana aku kabarinnya dan terlintas ide ketika lihat handphone Ana di meja.
"menurut kamu gimana?" Berjalan ke meja dan duduk di kursi.
Lisa diam tapi matanya men-scan aku. "Meski kamu engga mirip sama Miles. Ana mungkin bakal sedih lagi kali ini."
"...." Aku udah berhasil buka lock screen. "Sakit hati? Gimana bisa? aku engga sakitin Ana, kenapa kedengernya Aku yang jahatin Ana?" Sambil mencoba mengetik chat.
"Aku engga bilang kamu jahat tapi jelas Ana suka sama kamu."
"apa!?" Cangkirnya terangkat dan minum tehnya. Akhirnya kami sama-sama terdiam.
"kamu orang Bandung ya?" memutus senyap tadi.
Aku langsung tengok Lisa, tiba-tiba tanya gitu. "kok tau?" Yang aku pikir kalau bocah mulut ember yang lagi tidur udah bocor.
Lisa terkekeh. "Kamu-aku soalnya, hehehe."
Aku mesti respon gimana untuk pernyataan barusan?? Dan terjadi ke-awkward-an berikutnya. Hening lagi.
Sampai Miles datang. Mini drama terjadi dan pastinya ada tangis haru dan sedih saat menjemput sang mempelai istri dan pamit meninggalkan kamar.
Ini belum selesai dan sekarang Aku engga bisa tidur. Di ranjang dekat jendela, Ana tidur sangat pulas dan ini membuatku kesal. Kenapa tadi ikut campur masalah orang lain sedangkan yang punya masalah bisa tidur nyenyak. Entah ini jam berapa tapi Aku yakin tadi saat kirim chat udah jam 1.54. Ini pertama kalinya nginep di hotel bareng cewe tapi engga ada fun-nya sama sekali.
Mematikan semua lampu kecuali lampu meja di ujung berharap bisa tidur meski sampai menjelang subuh baru bisa tidur. Kepalaku masih terus bergendang ria menabuh, Aku migrain dan pusing.
Karena staff hotel meminta kami untuk sarapan pagi atas permintaan Pak Miles, bilangnya. Ana yang tadi menerima undangan sarapan di pintu kini jalan bersebelahan denganku hanya diam engga seperti biasa di kampus. Mungkin merasa bersalah atau masalahnya bertambah rumit dengan banyak getar di ponselnya.
'Plis Tuhan semoga ini engga tambah rumit lagi. Aku butuh banyak tidur Tuhan, pliss.' Aku pasrah dengan masalah mereka, nanti lagi aku cuma angguk dan diem aja.
"itu Ayah sama Mamanya Miles" gumam Ana yang tiba-tiba berhenti jalan.
Oke. Aku ingin teriak sekencangnya terus pingsan sekarang. Ini ga mungkin bakal engga makin rumit kan??
Kami semua berkumpul di meja besar setelah selesai sarapan, ibu dan ayah Miles sudah siap membicarakan masalah ini. Kini jantung makin degup gelisah dan parahnya perutku jadi mulas.
Ini jelas bukan masalahku tapi kenapa harus aku yang ngerasain segelisah ini.
"Andriana" Panggilnya, kerutan di bawah matanya tidak menghilangkan kesan tegas pada sorot matanya.
"i-iya bunda?" Jawab Ana.
Gelagat Ana yang tersudut di depan ibu Miles. Apa aku salah ngira kalau Ana masih ada yang disembunyikan dari masalah ini?
"kenapa masih diam kamu?" Perkataan sederhana yang bahkan bisa buat Ana tersentak, padahal di ucap dengan intonasi biasa.
Ana masih diam atau mungkin bingung takut-takut salah ucap. Kemudian perempuan yang Andriana panggil Bunda memaling pandang pada Miles, lalu pada Lisa.
"Bun aku bisa jelasin-"
"Ya jelasin Miles! Ini bahkan belum genap 1 hari pernikahan kalian!" Miles jadi tegang mendapat tamparan dari kalimat Bunda sampai ia pun ikut ragu untuk buka suara.
"maaf bu, saya mungkin hanya orang luar." Ternyata akupun merasakan tatapan tajamnya. Matanya menyelidiki dari ujung kaki hingga ujung kepala seolah matanya bisa menembus kata apa yang sedang kuputuskan lolos dari mulutku. "saya seharusnya lebih banyak bertanya pada Ana dan lengah karena bersimpati dia terlihat sedih sampai mabuk tadi malam.
"sudah banyak waktu yang saya habiskan semalam kenapa saya harus terlibat masalah rumah tangga orang dan saya juga yakin anda bisa menjawab pertanyaan yang bahkan seharusnya Ana dan Miles bisa sendiri menjelaskan kepada kami. Saya tidak mau memperpanjang waktu lagi!"
"nama kamu siapa?" Tanya Ayah Miles.
"saya Bima pa, teman kampus Ana."
Sambil meletakan cangkir teh dan bilang "nak Bima, kami mohon maaf. nak Bima harus terseret masalah keluarga kami. Kami akan menyelesaikan ini hanya untuk keluarga saja."
"apa!?" jawabku tanpa pikir panjang.
"Nanti supir saya yang akan antar kamu pulang. Terimakasih sudah menjadi teman Ana, nak Bima."
Aku bener-bener ga habis pikir. Ana yang nyeret aku ke dalam masalah cuma diam nunduk saat aku pergi. Aku beneran kecewa.
*****
Hari ini udah hampir 1 minggu dari kejadian lalu. Aku gamau ambil pusing dengan jutaan pertanyaan dan rasa kesal yang harus menggantung. Udah keseret masalah gatau penyelesaiannya gimana. Bodo amat lah!
Semenjak hari itu juga Ana engga pernah keliatan lagi di kampus dan aku masih kesal karena dia juga bales chat dari aku ataupun buat setidaknya jelasin alasan kenapa harus bawa-bawa aku ke dalam masalahnya!?
Hah.. ya udahlah. Bukan masalah besar juga buat aku kan.
Momen ketika aku hampir lupa masalah itu karena ujian akhir semester datang dan matkul studio ke-4 masuk ke tahap final. Lebih banyak waktu yang aku habisin untuk nginep di studio dan mati-matian menyelesaikan tugas ini. Apa lagi kalo bukan si konsep fantasi elf dan hutan ajaib ini yang dibuat jadi komik format webtoon.
Tok-tok-tok. Suara ketukan di meja, aku yang masih fokus sama pen tab kemudian beralih ke sumber suara. Mood-ku hancur seketika dan aku terus melanjutkan menggambar.
"Bim! Please dengerin dulu!"
"mau apa lo?" Aku mengabaikan. 'Sumpah! Kalo ada maunya aja nyamperin!' Aku mengepal kesal.
"aku mau kasih ini." Tanpa basa-basi langsung menyodorkan sebuah amplop dan menutupi seluruh monitor pen tab.
"yaudah simpen aja di meja!", jawabku makin kesal dan menepis tangannya pelan.
"tapi kamu datang ya!"
"gue ga janji"
"lo kenapa si!!?" Kini suaranya jelas kesal. "ketus banget lo!"
"ya gimana engga, lo datang kaya gini cuma bilang 'gue mau ngasih ini' udah gitu doang!" Kujawab dengan nada tinggi.
Aku bisa ngerasain jantung memompa lebih cepat, seluruh amarah yang sebelumnya dipendam mulai meledak.
"ya iyalah, buat apa basa basi di depan lo yang mukanya aja udah asem jeruk sambel! Mau gue ményé-ményé buat mohon sama lo!?? gaada gunanya!!"
"yaudah mau lo, gue dateng kan?!"
"iya!!"
Mengambil kasar amplop dari tangan Ana. "puas kan lo!"
"awas aja kalo lo ga datang!" Kemudian membalikan badan dan berjalan keluar studio.
"bacot banget lo!!"
"elo yang banyak maunya!!" teriaknya membalas. "dasar ményé!"
"ARGH! Jing!!!"
Semua anak-anak di studio mendadak hening. Mungkin gara-gara teriakan tadi.
Ketika aku baca apa yang tertulis di amplop. Aku speechless. Surat undangan pernikahan Miles dan Andriana. Aku engga mau tau gimana dan kenapa. Kalau orangnya yang bilang sendiri, saat itu aku tau alasannya.