Hari-hari menempuh perjalanan jauh dan penuh dengan halang rintang dalam hutan. Myta seorang pengembara menemukan titik terang setelah melihat tembok kayu besar di hadapannya.
Ia pun pergi, berharap ada seseorang dibalik tembok itu, mungkin saja sebuah peradaban ataupun kota yang ada dibaliknya.
Grraarrhhh....
Suara rauman mahluk buas terdengar keras dari arah belakang, semakin keras dan tanah pun bergetar seperti terjadi gempa bumi.
Ia melihat ke depan. Terdapat sebuah batu besar yang diselimuti api mengarah kepadanya, Myta yang bingung sekaligus panik berlari ke sumber pelontaran batu besar itu.
Dengan batu yang terus berjatuhan membuat tanah bergetar, langkah kaki pun semakin berat dengan guncangan yang terus menerus terjadi.
"Entah objek apa itu, sepertinya ada sesuatu yang besar hingga mengguncang hutan ini." Pikirnya sambil berlari melewati batu-batu yang terbakar terjatuh di hadapannya.
Myta pun berhasil melewati hutan tersebut. Namun ia terkejut melihat barisan prajurit dan sebuah pelontar raksasa yang ada di hadapannya.
Apakah terjadi perang di sini? Pikirnya dalam hati.
Ia pun menghampiri mereka, ada di antara mereka yang menaiki kuda mendekat kearah Myta berniat untuk menjemputnya.
Setelah tiba pria yang menaiki kuda itu mengulurkan tangannya, Myta yang masih bingung memilih untuk menurut karena daerah yang di pijakinya mungkin saja berbahaya.
"Siapa kau? Kenapa ada di desa kami?" Tanya pria itu dengan sedikit berteriak kearah Myta.
"Aku pengembara, sebenarnya apa yang terjadi disini?" Tanya Myta melihat barisan pasukan yang ada di hadapannya.
"Kami sedang berperang, kau akan mengetahuinya sebentar lagi." Pungkasnya.
Abu dari kayu yang terbakar mulai menghujani mereka, Myta menelan ludahnya dalam-dalam, apa yang sedang mereka hadapi sepertinya sangatlah kuat.
Rauman mahluk itu kembali terdengar, gemuruh suara terdengar di telinga mereka. Seketika prajurit yang bersiap untuk menghalau serangan tiba-tiba gemetar dan takut, ada pula yang panik dan langsung berlari ke barisan belakang.
Sesuatu bergerak cepat menghampiri mereka, para pemanah pun bersiap dengan ujung panahnya yang sudah dibakar nyala api.
"Tembak!"
Mereka pun melepas panah api itu ke target yang bergerak cepat dan sulit diikuti oleh mata, Myta memperhatikan keadaan sekitar yang nampak mencekam. Prajurit terlihat gemetar karena takut, mereka sangat putus asa melawan mahluk itu.
Crakk.... crakk....
Darah mengucur dimana-mana, baris pasuka n yang bersiaga pun berhamburan dan tumbang satu persatu. Para pasukan itu berlari ke arah gerbang yang hendak menutup rapat.
Myta bergegas berlari, namun beberapa orang yang tumbang membuatnya tersandung jatuh. Hal yang mengerikan terjadi di hadapannya ketika seorang prajurit yang berlari tertusuk oleh benda yang terlihat seperti lidah yang memanjang dan penuh dengan duri.
Ia menutup mulutnya untuk menenangkan dirinya. Tempat itu berubah menjadi danau darah berwarna merah, beberapa organ tubuh yang terpisah berserakan di depannya membuat dirinya takut bukan main.
Myta terbangun dengan banyak prajurit yang mati secara sadis. Tubuh yang terkoyak dan kepala yang terputus seperti tertebas sebuah pisau, mahluk misterius itu pun seketika tidak nampak dalam pengelihatannya. Kini dirinya hanya seorang diri di hadapan tembok kayu raksasa setinggi sepuluh meter.
Mencoba menemukan seseorang yang masih hidup, Myta menyisir dan memperhatikan orang-orang yang tergeletak meskipun ia tidak mau.
Pssst....
Terdengar suara yang sepertinya memperingati Myta akan sesuatu.
Seseorang pun menariknya kedalam parit yang tertutup oleh semak-semak, terdapat beberapa prajurit yang bertahan di sana dan beberapa orang diantaranya terluka cukup parah.
"Apakah Hell Beast masih berada di atas sana?" Tanya salah seorang diantara mereka.
"Aku tidak tahu, mahluk apa itu?" Tanya Myta yang masih gemetar.
Lalu seorang pria dengan baju zirahnya yang penuh dengan cipratan darah menghampirinya, ia pun duduk di sampingnya.
"Mahluk yang berasal dari dalam bumi berbentuk kadal raksasa, kami memanggilnya Hell Beast. Sudah hampir satu bulan melawannya dan ini akan menjadi hari terakhir." Jawabnya sambil mengepalkan tangannya.
"Kalian akan menyerah?"
"Hah? Ini hari terakhir untuk melawannya karena akan kami sudahi pertempuran ini sampai duel terakhir." Jawab pria itu sambil mengangkat tangannya, beberapa orang pun bersorak semangat membuat Myta merasa lega.
"Ngomong-ngomong siapa namamu petualang?" Pria itu kembali bertanya.
"Myta, dari negri barat." Jawabnya.
"Aku Liu Zhou, akan ku bukakan pintu gerbang menuju kota untuk kau berlindung." Cakap pria itu lalu keluar dari persembunyiannya dengan berbekal busur dan anak panah.
Suasana mencekam terasa, bau amis darah tercium dimana-mana. Zhou berlari kearah gerbang dan memberi kode kepada penjaga untuk membukanya.
Myta memberanikan diri keluar dan menghampiri Zhou yang masih berusaha untuk membuka gerbang.
"Sial! Apakah kita harus mati konyol seperti ini?" Zhou begitu putus asa, beberapa kali ia memukul tanah yang penuh dengan darah.
"Mau sampai kapan pun kita bertahan hidup, mereka yang berada di dalam tembok tidak akan membuka gerbangnya." Jawab pria yang baru saja keluar dari dalam parit dengan luka di bahunya yang cukup serius.
Zhou pun terdiam sejenak lalu menatap hutan yang terbakar di hadapannya, ia mengambil beberapa ember yang masih terisi bensin lalu menuangkannya kedalam parit yang cukup lebar di hadapan gebang kota.
Beberapa orang pun mengikuti hal serupa, ternyata mereka sudah berdiskusi sebelumnya di dalam parit untuk menjebak mahluk buas itu.
Myta pun membantu mereka menyiapkan perangkapnya hingga beberapa saat kemudian suasana kembali berubah, Myta yang sebelumnya merasa baik tiba-tiba gemetar dan merasa takut tanpa alasan yang jelas.
Mahluk itu masih belum muncul tapi aku sangat takut, apakah dia akan datang sebentar lagi? Gumam Myta sambil menyiapkan busur miliknya.
Namun ketegangan tidak hanya dirasakan Myta, seluruh pasukan yang tersisa di luar tembok terlihat gemetar dan sangat putus asa, Zhou memperhatikan mereka seperti tidak ada semangat untuk hidup.
"Fear Factory, aura ini membuat orang-orang di sini mati ketakutan. Ini mendandakan mahluk itu sudah berada di dekat kita." Cakapnya sambil bersiaga melihat ke arah depan.
Seharusnya setelah menerima beberapa serangan di tubuhnya, Hell Beast tidak bisa bergerak cepat dan serangannya akan berkurang walaupun masih mematikan. Gumam Zhou menyiapkan sebuah nyala api.
Hwaaaahh....
Suara terdengar dari belakang mereka tepat di dekat tembok kayu, seorang prajurit berteriak tanpa sebab.
Tubuhnya bergertar, matanya berubah menjadi merah, dan mulutnya tiba-tiba mengeluarkan banyak darah.
Crakk....
Sebuah benda berbentuk lidah dengan tepian takam menusuk tubuh pria itu menembus baju zirah besinya.
"Kamuflase!"
Mereka pun menembakinya dengan panah api hingga beberapa bagian tembok terbakar, melihat itu seorang prajurit di dekatnya mengambil sebuah bilah kayu yang terbakar lalu berteriak untuk memancingnya.
"Hei! Disini!" Teriaknya.
"Texa pancing dia kedalam parit!" Teriak Zhou sambil bersiap membidik panahnya kearah monster itu.
Ia berusaha berlari mengalihkan perhatiannya. Namun tidak disangka olehnya, mahluk itu melompat dan menerjang pria bernama Texa itu menggigit kepalanya hingga tubuhnya terbagi dua.
Myta terduduk lemas melihatnya, air mata putus asa membasahi pipinya. Banyak sekali orang-orang bernasib tragis di sini, mungkin hanya menunggu beberapa saat lagi untuk kematiannya.
Pandangan pun teralihkan pada alat altileri Ballista, sebuah busur besar pelontar proyekyil jarak jauh yang terlihat masih bisa digunakan.
"Zhou! Ballistanya di depanmu!" Teriak Myta pada Zhou yang paling dekat dengan meriam ballista tersebut.
Teriakan Myta membuat pandangan mahluk itu tertuju padanya, beberapa pasukan yang tersisa mencoba menjerat mahluk itu dengan rantai dan menariknya dari kedua sisi untuk memperhambat gerakannya.
Myta di dorong seseorang lalu merangkulnya untuk melindunginya dari serangan, spontan Myta memeluknya dengan erat sampai ia tersadar orang yang melindunginya sudah tewas tepat di hadapannya dengan kepala yang terpapas sebagian.
"Kyaaaahhh....!"
Sangat shock melihat seseorang terbunuh dengan sadis di hadapannya membuat mental menjadi tidak karuan, ia melihat Zhou yang berlari kearahnya sambil meneriaki namanya.
"Myta sadarlah!" Zhou memegangi tangannya yang gemetar, wajahnya nampak pucat membuat Zhou kebingungan.
"Ballista itu dioperasikan oleh dua orang, kumohon sadarlah Myta!"
"Maaf Zhou, aku akan bangun." Cakapnya lemas, ia pun bangun dan melihat beberapa personil masih menahan pergerakan kadal raksasa itu.
Mereka berdua pun berlari setelah mendapat momentum dan mempersiapkan ballista untuk menembakkan anak panah raksasa kearah monster itu.
"Myta! Bantu aku menarik pelatuknya."
"Iya!"
Dengan tubuh yang ringkih dan tenaga yang terkuras habis, mereka pun menggeser dan membidik mahluk itu.
"Tembak!"
Jreebb....
Panah itu mengenai tubuh kadal raksasa dengan tepat sasaran. Perlawanan pun berhenti untuk sementara, mereka begitu kelelahan dan duduk diatas tanah yang bercampur darah.
Zhou pun meminta personil yang tersisa untuk membawanya ke parit berisikan bensin untuk dibakar.
Dengan tenaga yang tersisa, mereka pun menarik kadal raksasa itu kedalam parit. Setelahnya Zhou pun melempar panah api hingga parit tersebut terbakar.
"Kita berhasil!" Zhou dan yang lainnya bersorak, Myta tersenyum senang karena semua telah berakhir.
Mereka pun pergi ke pintu gerbang, namun masih terkunci rapat.
"Hei mahluk itu sudah mati!" Teriak Zhou pada penjaga gerbang itu.
Namun ada yang mengganjal pada penjaga gerbang itu, ia gemetar seperti masih takut dengan mahluk yang mereka hadapi di luar gerbang.
Efek Fear factory pada diri mereka masih belum hilang, ini menandakan kalau....
Grraarrhhh....
Teriakan mahluk itu terdengar kembali. Zhou melupakan satu hal, mahluk itu berasal dari dalam bumi yang berarti dari panasnya inti bumi.
"Sial! Jadi kita melawan dengan cara yang salah." Cakap Zhou sambil melangkah mendekat pada parit yang masih terbakar di hadapannya.
"Aku akan mengalahkannya meskipun menjadi peduel terakhir dalam pertempuran ini." Dalam langkahnya ia berkata di ikuti dengan beberapa orang personil yang tersisa di belakangnya.
Salah satu dari mereka membawakan seekor kuda dan menghampiri Myta, sepertinya mereka tidak ingin dirinya membantu kali ini.
"Kau pergilah dari sini." Zhou berkata sambil memberikan kuda itu pada Myta.
"Tapi bagaimana dengan kalian?" Tanya Myta harap cemas.
"Jangan khawatir, kami akan menang walaupun dengan tenaga yang tersisa karena kami peduel terakhir."
Myta bersiap dengan tunggangannya, namun ia masih belum bisa meninggalkan mereka, mengingat mahluk yang disebut Hell Beast masih mengancam desa tersebut.
Muncul seseorang dari kobaran api yang membakar hutan di hadapan mereka, dengan jas kulit berwarna coklat, berambut hitam panjang, matanya merah menyala dan membawa pedang perak di tangannya.
"Tress, jadi ini ulahmu?" Teriak salah satu personil yang tersisa.
"Bisa apa kalian melawan Hell Beas hanya dengan sepuluh orang?" Pria itu berkata dengan sinis kearah mereka.
Ctikk...
Dengan petikan jari, Hell Beast melompat kearahnya lalu berubah menjadi sebuah batu kristal.
"Kau! Akan ku bunuh!" Dengan tenaga yang masih bersisa, pria yang terluka cukup parah di bahunya mengangkat pedang lalu berlari kearah pria berambut panjang itu.
Namun mereka seketika terkejut, langkah kakinya nampak begitu cepat hingga tanpa sadar mereka sudah berhadapan.
Ayunan pedangnya tak terlihat lalu menebas lengan pria di hadapannya.
"Hypotermia? Kau sudah tersesat Tress."
Tress mengangkat pedangnya lalu menusuk bagian leher pria itu lalu memutarnya, tak berdaya pria itu jatuh bercucuran darah.
"Sekarang aku adalah peduel terkuat, Shenn sudah lenyap di hadapanku!" Dengan arogansinya, ia mengangkat pedangnya yang penuh dengan darah lalu mencipratkan kepada Zhou dan yang lainnya.
"Tress!"
Delapan orang yang tersisa maju menghadap Tress secara bersamaan, Myta yang hendak pergi kembali turun dari kudanya.
Ternyata kekacauan ini ulah pria yang ada di depan sana. Gumamnya dalam hati.
Tress menerjang orang pertama yang berhadapan dengannya, ia mengayunkan pedangnya memotong dari atas ke bawah dan membelah orang itu.
Dengan cepat ia memasang kuda-kuda. Zhou mengayunkan serangannya memotong secara horizontal, namun dengan teknik hypotermia ia bisa menangkisnya dengan merasakan angin.
Trang... Trang...
Suara pedang saling beradu, hingga mereka mereka saling berhadapan dengan memasang kendo.
"Kau lumayan tangguh juga, kawan lama." Tess menunjuknya dengan pedang peraknya.
"Kau tak pantas menyandang gelar Last Duelist. Kau memanfaatkan Hell Beast untuk menghancurkan desa, tindakanmu sudah keterlaluan!" Zhou pun menerjang dan melakukan tusukan kearah Tess.
Tess pun merespon dengan melakukan manuver satu langkah ke belakang lalu menebasnya dari bawah secara diagonal.
Zhou pun menghantam pedangnya ke tanah dan membentur pedang Tess hingga terlepas.
"A... Apa! Kiss of wind!" Tess terkejut.
Zhou menghujam serangan mematikan pada Tess. Lawan yang berada dalam area serangan mendapat empat serangan normal dalam rentetan cepat, serangan itu menembus tubuh Tess hingga mendapat luka serius.
"Aaarrkkkhhh..."
Tess terkujur lemah, tubuhnya tak bisa ia gerakan sedikitpun. Ia memegangi sebuah kristal lalu mengacungkannya ke atas.
Zhou pun dengan cepat mengambil kristal itu lalu menghancurkannya. Beberapa warga desa keluar dari gerbang melihat genangan darah dan bau amis yang menyengat, namun mereka pun bersorak melihat Zhou yang mengacungkan pedang miliknya.
"Aku adalah peduel terkuat, dan kau tidak bisa merebutnya dariku!" Ujar Tess dengan lemah.
"Kau sudah kalah dalam duel, akulah The Last Duelist." Jawab Zhou membungkam Tess.
Myta terlihat berlari kearah Zhou, ia sangat senang karena pertempuran sudah berakhir. Ia memeluknya dengan rasa bersyukur.
"Zhou kau menang!" Tangis haru tak terbendung membasahi pipi Myta.
"Ya, kita berhasil."
'Sebuah gelar pahlawan tidak bisa di dapat dengan cara instan. Namun seseorang yang memperjuangkan kedamaian, meskipun gagal, mereka adalah pahlawan sesungguhnya.'
TERIMAKASIH SUDAH MENUNGGU. MAAF NUNTUT SOALNYA BARU NGEH LANGSUNG DI POSTING, KIRAIN TEH MASUK DRAFT 😁