“Di antara dua manusia ciptaan Tuhan ini, kamu lebih suka siapa, Senja?”
Pertanyaan yang terlontar dari bibir salah satu pria di depannya, membuat dia mengerutkan dahi, bingung. Ini sangat konyol, pikirnya. Memangnya siapa mereka? Harus Senja pilih salah satu.
“Aku tidak bisa memilih,” balas Senja.
“Tapi kenapa? Apa karena dia pacar kamu?” tanya pria itu lagi, seraya menunjuk lelaki dengan senyum tipis di sebelahnya.
“Rain! Stop! Aku dan Ethan nggak ada hubungan apa pun, kami hanya teman,” ucap Senja meyakinkan.
Decihan kecil yang keluar dari bibir Rain, menandakan bahwa pria itu tak percaya dengan ucapan Senja. Tak ingin bertanya lagi, dia memilih pergi dari sana.
“Rain! Jangan pergi!”
“Rain! Aku ... aku suka hujan!” teriak Senja menghentikan langkah Rain.
Tatapan Rain ikut terhenti pada satu objek, mobil Senja. Pria itu masih meresapi setiap kata yang Senja ucapkan tadi. Debaran kecil timbul di dadanya, membuat Rain tersenyum kecil.
“Aku suka sesuatu versi Bahasa Indonesia. Seperti Hujan.”
Senja tersenyum manis di sebelah Rain, jemarinya dengan erat menggenggam jemari pria itu. Menit kemudian, Senja menariknya untuk berlari menembus hujan yang baru saja turun dengan cukup deras.
**
Masih tentang masa lalu yang sama, dengan deraian air mata yang bercampur dengan hujan, seorang Senja duduk di atas rerumputan. Air matanya seperti tak menemukan titik untuk berhenti, hingga membuat sesenggukan kecil terdengar lirih dari bibir gadis itu.
Tentang hujan, yang mengingatkan dia kembali pada sosok yang sudah pergi dua tahun lalu. Pria tampan dengan sejuta senyuman, lemah lembut dan selalu mencurahkan kasih sayang padanya. Senja masih ingat semuanya, bahkan wajah saat pria itu merasakan sakit untuk pergi.
Masih tentang Rain, sosok yang dinyatakan pergi menghadap Tuhan pada 1 Januari 2020. Sosok yang selalu menghantui hari-hari Senja, mengingatkan dia pada derasnya hujan di pagi hari. Dan indahnya senja di sore hari.
“Kenapa harus kamu?” Sebuah pertanyaan yang sudah terlontar ke seribu kalinya pada udara, langit, dan alam.
“Rain! Kenapa harus kamu?” teriakan Senja kembali terdengar. Gadis itu semakin memeluk erat kedua lututnya.
“Dari banyaknya orang yang hidup di dunia ini, kenapa harus kamu? Kenapa enggak mereka, dia, atau ... aku?”
Air mata kembali berderai, Senja berteriak, memanggil nama yang sangat dia rindukan. Namun, pemilik nama itu tak kunjung datang. Membuat luka yang masih menganga, kembali tergores dengan kasarnya.
Senja membiarkan tubuhnya basah diterpa hujan yang semakin deras hingga membuat tubuhnya terasa sakit. Awan pun semakin gelap menyelimuti langit, seperti enggan untuk pergi setelah tadi cerah.
Untuk yang ke sekian kalinya, Senja kembali meredup dalam gelora rindu yang menggebu. Rasa ingin bertemu, membuat dadanya amat terasa sakit. Bait demi bait kata, terucap sebagai doa, penemu rindu di penghujung senja. Yang ia tunggu di mimpi indah, malam ini, bersama hujan yang seakan larut dalam kesedihannya.
“Rain, I love you.”
**
Masih pemula kak, tolong bimbingan dan dukungan 🙏