Di atas sebuah bukit tanpa nama dengan rumput liar dan pepohonan yang tak terawat, seorang wanita muda berusia 21 tahun melangkah mundur di tengah kegelapan malam. Keringat mengalir di dahinya. Penampilannya benar-benar kacau. Wajahnya yang pucat lebam di beberapa sisi warnanya ungu hampir kehitaman. Rambutnya tak tertata dan kusut. Ia menelan ludah yang terasa seperti besi karena bercampur dengan darah. Matanya membelalak menatap sosok laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu bertubuh tinggi dan tidak terlalu berotot tetapi tanganya cukup untuk menghabisi seorang wanita dengan berat badan 45 kg dan tinggi 155 cm. Laki-laki itu terus mendekat kearah wanita tersebut yang membuatnya melangkah mundur hingga keujung bukit. Satu langkah lagi dan wanita itu akan kebawah kegelapan yang tidak diketahui apa yang menunggu di bawah sana. Laki-laki itu semakin dekat, membuat si wanita mencari apa saja yang bisa digunakan sebagai perlawanan diri. ia tidak boleh mati, pikirnya tetap tenang. Karena gelap, ia mengambil pijakan yang salah dan ia terpeleset jatuh.
Badannya terus terperosok kebawah hingga bagian tubuh sebelah kanannya menghantam sebuah batu besar. Terdengar bunyi “KRAK” memilukan dari tulang rusuk bagian tubuh sebelah kanannya yang patah. Tangannya yang terluka dan di penuhi noda darah bercampur tanah memegangi bagian tubuhnya yang sakit hingga terasa menyegat tersebut. Ia bersembunyi di balik kegelapan berharap laki-laki tadi tidak menemukannya. Ia mengatupkan gigi hingga bergetar karena menaha rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah karena, berteriak kesakitan akan membuatnya tertangkap. Terdenagar suara langkah kaki yang bergesekan dengan ranting-ranting pohon yang berjatuhan di tanah dan rerumputan yang di injak. Dari suaranya, sepertinya langkah kaki tersbut semakin mendekat dan terhenti. Hening. Tidak ada suara sepersekian detik. Suara angin malam yang berhembus dan rasa tegang bercampur menjadi satu meliputi wanita yang bersembunyi di balik batu ketakutan.
Terdengar suara nafas yang kasar dan berat di buang.
“ Kuberitahu kau satu hal, ibumu ingin kau mati karena kau bukan anak kandungnya dan ia mengirimku untuk membunuhmu “
Lalu terdengar langkah kaki menjauh.
***
Anto mengendarai truknya menlintasi jalanan yang sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Lampu sorot truknya menangkap seorang wanita di sisi jalan. Ia menghentikan truknya spontan bertepatan dengan wanita itu terjatuh ketanah. Anto segera keluar untuk melihat apakah pengelihatannya tidak salah, dan benar saja itu adalah seorang wanita dengan penampilan sangat kacau seolah-olah kabur setelah menjadi tawanan perang. Ia mengecek denyut nadi di telapak tangan dan leher wanita tersebut. Masih ada. Artinya wanita ini masih bernyawa, pikirnya. Ia segera mebopong wanita tersebut ke truknya dan membawanya ke rumah sakit. Setelah meletakkan wanita tersebut di kursi penumpang ia memeriksa tubuh wanita tersebut untuk mencari dompet ataupun ponsel. Akan tetapi, tidak ada kartu identitas maupun ponsel. Tanpa pikir panjang akhirnya ia membawa wanita tanpa nama tersebut ke rumah sakit terdekat.
Setelah truk anto melaju meninggalkan jalanan tersebut dengan keheningan malam, sosok laki-laki bertopi baseball keluar dari balik pepohonan. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket dan berjalan menjauh menuju mobilnya untuk mengikuti truk anto.
***
Inez sudah boleh pulang dari rumah sakit setelah beberapa pekan. Tubuhnya sudah pulih. Seseorang misterius menyelesaikan administrasi rumah sakitnya dan membayar biaya rumah sakitnya. Bahan orang tersebut meninggalkan sejumlah uang di samping ranjang rumah sakitnya untuk biaya perjalanan pulang ke rumahnya. yang membuatnya heran adalah bagaimana orang itu mengetahui namanya sebelum ia sadarkan diri akibat insiden malam itu. Ia bahkan tidak membawa tas yang berisi kartu identitasnya, bahkan ponselnyapun hilang entah kemana. Ia tidak dapat menghubungi orang yang keluarga maupun orang yag dikenalnya karena ia tidak hapal satupun nomor yang tersimpan di ponselnya.
Karena tidak bisa menemukan sosok yang menolongnya akhirnya inez memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ia harus menaiki bis karena entah bagaimana ia berakhir sampai keluar kota. Sesampainya di terminal ia menaiki taksi menuju rumahnya.
Seorang laki-laki bertopi baseball mengamati inez yang memasuki taksi di balik kemudi mobilnya. Ia lalu mengikuti taksi yang membawa inez menuju rumahnya.
***
Inez memasuki rumah tanpa mengetuk pintu karena pintu rumahnya tidak dikunci. Ibunya yang sedang berada di ruang tamu langsung berdiri kaget melihat inez berdiri di hadapannya.
“k-au” katanya terbata kaget.
“hai bu” sapa inez sambil tersenyum simpul.
Ibunya yang awalnya kaget ekspresinya langsung merubah ekspresinya menjadi khawatir yang di buat-buat.
“kemana saja kamu nak, ibu khawatir kamu lama tidak pulang”
“ada seseorang yang berusaha membunuhku” kata inez. Ibunya berusaha menutupi rasa kagetnya dengan memeluk inez.
“syukurlah kamu selamat” kata ibunya.
“aku mau membuat kopi” Inez melepaskan pelukan dari ibunya dan berjalan menuju dapur. Ibunya kembali ke sofa dan mengambil ponselnya lalu mengetik pesan yang di kirimkannya kepada nomor tanpa nama yang isinya.
Mengapa ia masih hidup, kau berjanji akan menghabisinya.
Sebelum pesan itu terkirim sebuah pukulan di belakang kepalanya membuatnya kehilangan kesadaran.
***
Seorang wanita berumur 40an akhir membuka matanya perlahan. kepalanya masih pening akibat pukulan yang membuatnya pingsan. Ia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan yang ia ketahui adalah sebuah gudang di rumahnya. Sekarang tubuhnya sudah terikat di sebuah kursi. Mulutnya di ikat kencang denga kain sehingga hanya suara-suara tak jelas yang dapat keluar dari mulutnya. Ia bergerak berusaha melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya.
Anak yang selama ini ia ketahui sebagai anak dari selingkuhan suaminya berjalan melewati pintu dengan membawa sebuah pisau. Ia membesarkan anak itu hingga suaminya meninggal karena ia tidak ingin bercerai dengan suaminya. Ia butuh harta milik suaminya karena ia tidak sanggup hidup miskin seberapa besarpun kebenciannya terhadap inez. Setelah suaminya meninggal ia berniat membunuh inez karena rasa bencinya terhadap anak tersebut.
Inez mendekat kehadapan wanita yang berusaha melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya.
“hai bu” katanya sambil tersenyum.
Ia lalu menggoreskan pisau tersebuut ke pipi wanita di hadapannya hingga membuatnya berteriak tertahan karena kain yang mengikat mulutnya. Pipinya terasa nyeri, rasanya sangat menyegat membuatnya menyesali keputusannya membesarkan moster di hadapannya. Seharusnya ia membunuh anak itu sejak kecil. Hukuman penjara 10 tahun lebih baik daripadaapa yang ia dapat saat ini.
Inez menusuk perut bagian kanan wanita di hadapannya yang ia ikat tangan dan kakinya di kursi. Kematian terlalu mudah untuk wanita tersebut. Ia ingin menikmati rasa takut dari wanita itu. Wanita yang ia anggap sebagai ibu bebrapa tahun ini, berusaha berteriak dengan kain yang di ikat kencang di mulutnya. Ia berusaha melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya. Inez mencabut pisau dari perut wanita tersebut secara perlahan membuatnya wanita itu semakin berusaha melepaskan diri. Usahanya melepaskan diri membuat rasa sakit di perutnya bertambah. Inez menikmati mencabut pisau dari perut wanita tersebut seperti menggesek sebuah biola. Darah sudah mengalir membasahi kursi dan tubuh wanita di hadapannya. Inez tersenyum di depan wajah wanita yang sedang membelalakkan mata ke arahnya. Tangannya yang dipenuhi darah ia usapkan ke pipi wanita tersebut.
Wanita yang terikat di kursi dengan tubuh lemas tak berdaya dan wajah pucat karena mulai kehabisan darah karena tiga tusukan di perutnya menatap inez meminta belas kasihan. Air matanya sudah mengering. Tenaganya sudah habis. Inez yang berada di hadapannya hanya tersenyum simpul. Inez tidak mnusuk jantungnya karena tulang dada yang akan terlalu sulit untuk ditembus. Serta menggorok lehernya akan terlalu mudah untuk wanita di hadapannya.
Inez tersenyum puas melihat wanita yang tak berdaya di hadapannya dan menjatuhkan pisau di lantai. Manusia memang terlihat sangat tenang saat sudah tidak bernyawa. Ambisinya akan kehisupan yang semupun sudah hilang dari sorot matanya.
“sampai jumpa di neraka, bu”
Detingan pisau yang mengenai lantai mengiringi hembusan nafas terkhir wanita di hadapannya yang sudah kehabisan darah.
Inez menekan angka 110 di ponselnya dan melakukan sebuah panggilan.
“ Saya ingin melaporkan diri saya karena melakukan pembunuhan “ katanya sambil tersenyum puas.
***
Seorang laki-laki bertopi baseball di balik tembok tersenyum puas. “sudah kuduga ia mirp denganku” pikirnya. Ia memang tidak pernah salah dalam memprediksi. Ia yang puas dengan pertunjukkan yang di lihatnya lalu pergi sebelum polisi datang.