Sore, udara cerah, langit tampak biru ditemani bentukan-bentukan awan penuh pesona. Aku ... ah ya ... kenalkan namaku Meong. Entah kenapa mereka memberiku nama itu, mungkin karena suaraku yang mengeong maka aku akrab dipanggil meong.
Hidupku di jalanan, sejak umurku 1 bulan aku sudah hidup di setumpuk onggokan sampah, entahlah ... padahal sebelumnya aku hidup dengan ibuku yang cantik di sebuah rumah megah, tapi ketika malam aku terlelap ternyata ada yang mengangkutku dan meletakkan aku di tempat pembuangan sampah, entah apa maksudnya. Dan mulai sejak itu aku tidak lagi mendapatkan ASI dari ibuku, mau tak mau, suka tak suka, aku mengais makanan di tempat sampah itu.
Semakin waktu berlalu aku tumbuh dengan baik, yah ,,, walaupun badanku dekil, tapi aku mampu bertahan hidup dengan mengais makanan dijalanan. Aku sudah tidak hidup lagi di tempat pembuangan sampah. Aku ingin berpetualang, melihat dunia luar, dimana yang aku dengar diluar sana banyak hal yang indah.
Seperti sore ini, ini sedang duduk di depan sebuah cafee, disana ternyata ada temanku juga, hanya saja jika warnaku oranye, maka warnanya tidak jelas, ku dengar orang menyebutnya sebagai kucing tortie. Maka sebut saja dia Tortie.
“Hai ... kau baru ya nongkrong disini ?” Tanya Si Tortie
“Hm... iya, aku hanya mencari suasana baru. Jawabku.
“Memang selama ini dimana kamu hidup ?” Tanya tortie
“Tempat sampah.” Jawabku.
“Pantas kamu bau banget.” Kata Tortie
“Hei ... dipikir dia juga tidak bau apa, sama-sama hidup dijalan dimana letak bagus-bagusnya kita sebagai kucing.” Kataku dalam hati.
Sepasang pengunjung cafe tampak keluar dari cafe dan berlalu begitu saja tak memperdulikan kami.
“Sayang .... aku mampir mini market dulu sebentar.” Kata sang cowok cakep
“Mau apa ?” tanya si mbak yang mungkin pacarnya
“Ada deh.... tunggu saja disini.” Jawab sang cowok
Sang cowok itu kemudian masuk ke sebuah mini market yang ada disebelah cafe, dan keluar dengan membawa sesuatu ditangannya. Sang cowok menghampiri kami ternyata dan memberikan sebungkus makanan yang belum pernah aku lihat. Dia membuka sachet makanan itu kemudian mengeluarkan dalam 2 wadah bekas mika makanan dan memberikan pada kami berdua.
Jangan ditanya, aroma makanannya sungguh menggoda selera. Aku dan Tortie dengan perut lapar tentu saja langsung menyerbunya dan memang enak sekali. Baru kali ini kami makan seenak ini.
“Makanlah dan habiskan... maaf ternyata hanya ada 1 bungkus makanan basah, jadi dibagi 2 ya.” Kata sang cowok sambil tersenyum
“Ih... sayang ... ngapain sih ngurus kucing dekil gitu.” Gerutu si mbak tiba-tiba.
“Kasian mereka, sayang .... pasti mereka lapar sekali. Lihat saja mereka lahap makannya.” Balas Sang cowok. “Ayo kita pulang.”
“Siapapun dirimu mas ganteng, terima kasih atas makanannya. Tak kusangka engkau ternyata masih perduli pada kami”. Kataku dalam hati.
Akhirnya aku dan Tortie selesai menghabiskan makanan kami, lalu kami mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, pinggiran minimarket tadi, sambil kami melakukan pembersihan bulu-bulu kami dengan lidah kami.
“Mas nya tadi baik ya ...” Kata Tortie
“Iya, tapi mbaknya judes banget, gak suka sama kita.” Balasku
“Gakpapa yang penting malam ini kita kenyang.” Kata Tortie. “Setelah ini kamu mau kemana ?”
“Entahlah .... aku hanya ingin melihat dunia luar saja.” Balasku
“Aku ikut boleh ?” Tanya Tortie
“Tentu.” Jawabku.
Setelah ini kami selalu bersama, kemanapun. Kami saling berbagi makanan setiap kali kami menemukan makanan dijalanan. Usia kami sama-sama di usia 7 bulan (mungkin). Aku tumbuh besar dan gagah, sedangkan Tortie tumbuh dengan menawan.
Sore ini, kami begitu lapar. Kami tiba disebuah perumahan penduduk. Perumahan sederhana padat penduduk, kami mengais-ngais tempat sampah, dan mendapatkan sepotong ayam yang masih ada sisa sedikit daging. Aku berikan pada Tortie.
“Kamu gak makan ? Ayo kita makan bareng.” Kata Tortie.
Akhirnya kami makan bareng, sedikit mengganjal perut kami. Lalu hari mulai gelap, kami masih terus menyusuri jalanan komplek. Sejurus kemudian seorang laki-laki sudah agak tua membuang sesuatu ke selokan agak jauh dari rumahnya.
“Hei ... ayo kita lihat, siapa tahu orang itu buang sisa makanan.” Kata Tortie
“Ayo ...!!!” Balasku dengan semangat
Selokan tampak kering tetapi kotor, dan sungguh diluar dugaan kami, ternyata orang tadi buang tikus mati.
“Wah .... makanan !!” Seru Tortie yang langsung mengambilnya dengan mulutnya.
Aku hanya terdiam, “Jangan dimakan !” Kataku
“Kenapa ? Aku lapar. Mumpung ada makanan.” Balas Tortie.
“Aku sering mendengar banyak temanku mati karena makan tikus mati yang ternyata sudah kena racun.” Kataku. “Ayolah kita cari makanan lain saja.”
Kali ini Tortie menurut, kami memang walaupun hidup dijalanan tapi jarang sekali berburu tikus atau lainnya, kami lebih suka mengais sisa makanan saja. Menurutku merepotkan saja mau makan masih harus susah payah kejar-kejar mereka dahulu. Atau mungkin aku golongan kucing malas berburu, entahlah ....
Kami akhirnya mendapatkan satu rumah yang didepannya ada makanan kucing ditaruh disebuah wadah. Sepertinya pemilik rumah ini seorang pecinta kucing, kami pun memakan makanan yang sudah disediakan sampai habis.
“Terima kasih ....” kataku dalam hati sambil mengajak Tortie pergi
Kami kembali melewati jalanan yang kami lewati tadi, karena Tortie mengajak aku beristirahat di sebuah pos kampling tak terpakai yang ada di ujung gang perumahan. Dari jauh kami melihat sesama kami, tampak sedang tergeletak ... kami mendekati, dia kejang-kejang, dan aku lihat ada sisa tikus yang tadi diambil Tortie.
“Kenapa dia ?” Tanya Tortie ketakutan
“Dia keracunan. Benar saja, ternyata tikus tadi mati karena keracunan. Untung kamu tidak memakannya tadi.” Jawabku
Semenit kemudian, kucing putih bertubuh besar itu kaku tak bergerak. Dia mati. Hati kami tentu saja menangis, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mati karena makan racun yang ada pada tikus yang sudah diracun.
“Bagaimana ini ?” Tanya Tortie
“Sudahlah, ayo, besok pasti ada yang menguburkannya. Manusia mana mungkin ada bangkai kucing dibiarkan begitu saja, bisa bau dan menjadi polusi udara buat mereka.” Jawabku
Mau bagaimana lagi, kami ini kucing jalanan, tak tahu menahu soal mengubur teman yang mati karena keracunan. Kami hanya menyusuri jalanan mencari makanan untuk mengenyangkan perut kami.
Aku selalu berharap supaya besok-besok lagi tidak ada kejadian seperti ini terulang lagi. Tuan, bolehlah meracun tikus, karena tikus memang hama untuk manusia, tetapi tolonglah bahwa diluar ini masih ada kami-kami yang tidak selalu pikir panjang untuk makan apa saja yang kami temukan. Kuburkan tikus yang sudah mati kena racun, itu lebih baik dari pada membuang sembarangan dan membuat makhluk lain ikutan mati.
Kami juga bukan hama seperti tikus, asal kami kenyang dan ada yang perduli pada kami walaupun hanya sekedar memberikan sisa makanan pada kami sudah cukup bahagia dan kenyang.
Terima kasih untuk yang masih perduli pada kami ini.
Temanggung, 26 Oktober 2020