Malam yang gelap dengan terang bulan yang menyinari semester.
Aku hanya gadis biasa yang sedang menyisiri jalan saat akan hendak pulang ke rumah, harus melewati jembatan tanpa pembatasan dan di bawah nya terdapat aliran sungai yang terkenal dalam.
Jembatan nya hanya selebar setengah meter dengan panjang yang lebih dari 3 kilo meter.
Harus berhati hati saat melintasi nya, di tambah jembatan ini hanya lah jembatan yang terbuat dari bambu.
Saat sudah di tengah jembatan, aku melihat ada pria tinggi sedang berlari ke arah ku, mungkin dia juga hendak melewati jembatan ini.
"Heeei jangan berlari!" seru ku dengan berteriak, takut lah kalo pria itu nekat berlari saat menyebrangi jembatan ini, pikiran ku takut jatuh ke sungai yang sudah di pastikan dingin.
"Oh tidak, kacau!" seru ku lagi saat aku melihat di belakang pria itu seperti nya ia sedang di kejer beberapa orang dengan membawa senjata.
"Haduuuh mati, aku."
Pria yang aku teriaki tadi terus berlari dan mendekat hingga beberapa langkah ia berhasil melewati jembatan dengan berlari cepat menghindari kejaran orang orang di belakang nya.
Dari sinar bulan aku melihat pria itu terluka dan berdarah darah, ia berlari dengan satu kaki yang pincang mungkin terluka parah.
Pria itu menarik pergelangan tangan ku dan menarik ku hingga tercebur ke dalam aliran sungai yang dingin.
Grep.
"Aahhhhk."
Byuuuuurrrr.
Aaakh, bodoh kalo mau mati ya mati saja sendiri jangan bawa bawa aku. batin ku berusaha bernafas dalam air dan mencoba menyembulkan kepala ku agar aku bisa mengambil nafas.
Aku melihat ke atas jembatan, orang orang yang tadi berlari mengejar pria itu hanya menatap ke arah aliran sungai dan pergi menjauh dari atas jembatan.
"Sebenarnya siapa sih pria itu? apa mungkin penjahat yang sedang di kejar masa?" monolog ku sendiri, aliran sungai yang deras menyeret ku menjauh dari bawah jembatan tempat si pria kurang asemmm itu menjatuh kan diri nya dan diri ku.
"Hei, bangun... apa kau sudah mati?" aku berusaha membangun kan pria tinggi ini dengan menepuk nepuk pipi nya, tubuh nya yang luka tersangkut di akar pohon yang tumbuh di pinggiran sungai.
Menekan nekan dada nya, kali aja ada air yang ia telan hingga membuat nya tidak sadar.
"Uhuk uhuk."
Akhirnya ia sadar dengan menyemburkan air dari dalam mulutnya.
"Untung lah, kalo kamu sudah sadar." ucap ku ketus lalu berdiri hendak meninggalkan pria tinggi tapi bodoooh, iya lah bodoh orang mau mati ko ngajak ngajak aku segala, kalo mau bagi rejeki si gak apa dah ngajak aku juga.
Grep.
Pria tinggi dengan wajah luka goresan itu mencekal pergelangan tangan ku lagi, aku menatap nya dengan marah, "Ada apa lagi? belom puas membuat ku basah kuyup karena kamu itu menarik tangan ku dari atas jembatan heh?"
"Tolong bawa aku bersama mu." ucap nya dengan memegang perutnya, wajahnya meringis menahan sakit.
"Iiihs menyusah kan ku saja sih!" ada rasa kasihan juga sih, pria tinggi ini wajahnya bonyok kaya abis di pukuli, belum lagi ada bekas goresan di tubuh nya, darah masih mengalir di beberapa lukanya.
Ia menatap ku dengan mata memelas.
"Ihs, udah gak usah jelek gitu mukanya... ia kamu ikut dengan ku... jalan sendiri." oceh ku dengan bibir mengerucut, entah apa nanti yang akan di pikirkan nenek saat tahu aku pulang dengan membawa si pria asing ini.
Saat pria itu berusaha berdiri, ia hampir terjatuh, "Akh."
Grep, aku gantian yang kini memapah nya hingga sampai rumah kecil dengan bilik bambu sebagai dinding, rumah yang menjadi tempat tinggal ku sejak usia ku 9 tahun hingga kini aku berusia 18 tahun, aku hanya tinggal dengan nenek.
"Aku Mimi, nama kamu siapa?"
"Aku? aku tidak tahu, siapa nama ku."
"Ihs, yang bener aja, udah gede masa gak tau nama sendiri... jangan bohong kamu!"
"Aku sungguh tidak tahu, nama ku siapa." ujarnya dengan memegang kepalanya.
"Ah payah kamu, tubuh boleh lebih besar dari ku, tinggi mu juga tinggi banget, tapi aku lebih pintar dari mu, aku bisa mengingat nama ku.. hahaha." ejek ku.
Tapi dia hanya diam saja, sampai di rumah... nenek banyak bertanya siapa dia dan bagaimana bisa aku membawanya pulang, aku bicara apa ada nya saja, toh selama ini juga nenek mengajari ku untuk selalu jujur entah mau di percaya atau tidak.
Kami mengaku pada warga kalo pria tinggi besar ini adalah salah satu keluarga nenek dari kota yang kena musibah di begal saat mau mengunjungi rumah nenek, untung saja para warga percaya.
Hingga hari berganti hari.
Aku, nenek dan juga pria tinggi itu sepakat untuk memberikan nya nama Leo, kaya singa sangar, sama kaya wajah nya sangar tapi lembut hati nya selama kami tinggal bersama.
Aku dan dia semakin dekat, mungkin lebih seperti kaka adik, wajar saja selama ini aku hanya dekat dengan nenek, tidak ada yang mau berteman dengan ku, selain aku tidak berpendidikan, tidak pernah sekolah, buta huruf, waktu ku juga lebih sering aku habiskan untuk mencari kerjaan serabutan di pasar yang ada di ujung desa, kadang jadi kuli panggul, kadang membawakan belanjaan orang, kadang nyuci piring kotor di rumah makan.
Tapi aku juga bingung dengan hati ku, entah kenapa ku merasa terbakar jika melihat Leo bersama dengan wanita lain, apa lagi saat ada wanita atau ibu ibu yang mencoba mendekati nya, ingin rasa nya aku menjambak rambut mereka, wanita gatel yang mencoba untuk mendekati Leo, tapi dengan cepat pula aku menepis rasa di hati, siapa aku? hanya sebatas gadis biasa yang di anggap adik mungkin sama Leo.
Selama Leo tinggal dengan kami, ia juga ikut bekerja dengan ku di pasar tapi sebagai kuli panggul.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, kini genap sudah 3 tahun pertemuan ku dengan Leo.
Malam itu tidak seperti biasa nya, Leo meminta ku untuk pulang lebih dulu ke rumah, aku pun menurut saja tanpa berpikir buruk.
"Mimi, kenapa Leo belum juga pulang?" tanya nenek nampak khawatir sambil menatap bulan yang bersinar terang, saat ini terang bulan.
"Biar Mimi susul, nek... mungkin ia tersesat lupa jalan pulang, hihihi." aku terkekeh mendengar ucapan ku sendiri mengejek Leo.
"Kamu itu, Mi kalo ngomong asal ngejeplak aja."
"Nenek kaya baru tahu Mimi aja, Mimi jalan dulu nek, mau cari bayi gede, hahaha." aku menyusuri jalan di tengah malam dengan hembusan angin yang menyapa kulit.
Entah kenapa aku mengingat seperti pernah melihat kejadian ini lagi, seorang pria berlari hendak melewati jembatan dengan menghindari kejaran orang orang yang terus saja mengejar nya.
Tapi kali ini aku yakin itu adalah Leo, orang yang sedang aku susuli untuk mengajak nya pulang, ia di kejar orang orang sambil meneriaki nya.
"Woy, sini lu!"
"Jangan lari, woy!"
"Mampusss lo kali ini!"
"Cepet kejer, jangan sampe lepas!"
Seruan yang samar samar aku dengar.
"Aku tidak akan terjerumus dua kali dalam dingin nya aliran sungai." gumam ku, aku berlari ke arah dinding yang ada di pinggiran jembatan, beruntung kali ini Leo berjarak lumayan jauh dari orang orang yang mengejar nya.
Grep.
Aku menarik tangan Leo, membekap mulut nya dan menyandarkan punggung nya ke dinding pinggir jembatan, kami bersembunyi di balik pepohonan yang sengaja di tanami warga.
Byuuur.
Ku tendang tong samapah dari kaleng besi ke aliran sungai.
"Ah sial, kali ini kita gagal." umpat pria dengan tangan memegang cerulit.
"Tenang bos, bos Brian tidak akan selamat kali ini, yang aku tahu aliran sungai sangat deras dan juga dalam." oceh pria yang membawa tongkat.
Satu persatu dari mereka pergi menjauh dari atas jembatan.
Brian? sebenarnya siapa yang sedang mereka bicarakan? siapa yang mereka kejar? aku menatap Leo penuh tanyak.
Leo menyingkirkan tangan ku yang membekap mulutnya, "Aku bisa menjelas kan nya." ujar Leo.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Leo menggenggam pergelangan tangan ku, ia bercerita tentang jati diri nya.
"Aku sudah mengingat semuanya." ucap Leo, aku menatap nya dan dia tersenyum teduh di bawah sorot sinar bulan.
"Aku adalah Brian, orang yang sedang mereka cari, aku ini ketua dari salah satu geng mafia terkenal di dunia, mereka ingin melenyap kan ku." ujar Brian.
"Mafia itu apa?" mafia itu terdengar asing di telingaku.
"Mafia itu, sudah lah... kau tidak perlu tahu."
Aku menghentikan langkah kaki ku, "Ada apa lagi? apa kau takut dengan ku, Mimi?" tanya Brian dengan berdiri menghadap ke arah ku.
"Aku takut, sangat takut... aku dan nenek sudah terbiasa dengan kehadiran mu Leo, emmm maksud ku Brian, sekarang kau sudah mengingat semuanya, apa kau akan meninggalkan aku dan nenek?" tanya ku dengan kaki lemas tidak mampu lagi berdiri dan akhirnya aku berjongkok, rasa nya berat melepaskan orang yang sedang berdiri di depan ku ini, rasa takut akan kehilangan yang tidak pernah aku bayangkan. Aku pikir lebih baik Leo tidak ingat jati diri nya agar aku bisa terus bersama meski hanya di anggap adik, tidak apa bagi ku.
Leo (Brian) ikut berjongkok di depan ku, ia membelai wajah ku menangkup wajah ku dengan ke dua tangan nya.
"Siapa bilang aku akan meninggalkan kalian.. hem? kalian itu dewi penolong ku, kau itu hidup ku, aku akan membawa serta kalian ke tempat tinggal ku. Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan untuk kalian berdua, nenek dan juga kamu Mimi."
Kedua mata ku panas, tidak pernah ada yang bicara semanis ini dengan ku, aku terharu hingga air mata ku menetes, aku memeluknya erat, "Aku sangat menyukai mu, ka Leo."
Leo (Brian) membawa ku dalam gendongannya, "Aku pikir hanya aku saja yang menaruh rasa pada mu, tidak di sangka kau nakal juga ya, berani mengucap kan suka pada ku?"
Entah sejak kapan rasa itu ada untuk nya, yang aku tahu aku hanya tidak bisa melihat nya dekat dengan wanita lain, aku ingin memiliki nya seutuh nya dan seorang diri.
Leo (Brian) membawa ku dan nenek ke tempat tinggal nya yang ada di kota, aku sangat takjub melihat apa yang ia miliki, tidak hanya rumah megah, tapi kendaraan yang banyak, belum lagi banyak pria berbadan kekar seolah patuh dan takut pada nya langsung menunduk kan kepala saat menyadari kehadiran Leo (Brian)
"Bos, anda baik baik saja?"
"Kami sudah lama mencari anda, anda kemana saja bos?"
"Siapa mereka bos?"
Pertanyaan terlontar dari beberapa orang, mungkin anak buah nya.
"Hampir aku mati karena anak buah gang black, kalo bukan karena gadis ini, entah mungkin aku sudah jadi mayat."
"Terima kasih nona sudah menyelamatkan nyawa bos kami."
"Sudah sudah, mulai sekarang panggil dia nona muda dan nenek ini nyonya, karena mereka juga akan menjadi tanggung jawab kalian untuk melindungi nya." ujar Brian.
"Baik bos."
"Siapkan acara pernikahan ku dengan Mimi sesegera mungkin." ujar nya lagi.
Tidak pernah terbayang kan aku yang gadis biasa bisa berdampingan dengan orang ini, orang yang aku pikir penjahat, bodoh dan gila ternyata malah membawa ku dan nenek pergi dari hidup susah dan menjadi bergelimpangan harta dan kemegahan.