Pejamkan matamu, maka kau akan baik-baik saja"
~author
Hari ini aku, Ayah dan Bunda akan pergi untuk makan malam disebuah restoran terkenal Prancis, makanan yang sangat empuk dan juga gurih adalah khas hidangan penutupnya. Karena Ayah bekerja dan Ibu cukup sibuk untuk mengurus butiknya, maka dari itu kami hanya bisa pergi pada malam hari.
Diperjalanan menuju restoran aku sangat antusias menceritakan tentang sekolahku dan juga beberapa teman laki-laki yang menyukaiku. Ayah sedang mengemudi didepan dengan Bunda yang duduk disampingnya dan aku duduk dibelakang sendiri sambil sesekali mengecek handphone ditanganku.
Saat tiba di restoran Retzle aku segera memilih tempat duduk yang langsung menghadap ke jalan luar, selain nyaman aku juga suka melihat orang-orang berlaluan.
Sambil menunggu pesanan datang, aku kembali bercerita ke orangtuaku tentang teman yang sebangku denganku, ia sangat pandai berbahasa Korea dan China,
Sesekali aku tertawa geli saat menceritakan ketika ia memarahi satpam sekolah yang tidak memperbolehkannya masuk, padahal hanya terlambat satu menit dari jam biasanya.
Aku makan dengan lahapnya karena memang makanan disini sangat enak. Aku pasti akan kesini lagi beberapa waktu nanti.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.41 malam tetapi restorant ini ramai akan pengunjung. Sembari menunggu Ayah dan Bunda menghabiskan makanannya aku izin pergi ke toilet sebentar karena ingin buang air kecil. Setelah bertanya pada pelayan restorant aku segera ke tempat yang dituju. Ketika lumayan jauh berada di lorong ternyata ada dua jalan yang menuju kearah kiri dan kanan. Sialnya karena sudah tidak tahan aku tidak mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan pelayan tadi.
Aku mengambil jalan kearah kanan, karena kanan itu selalu baik dan benar bukan? Pasti ini sudah benar. Aku mempercepat langkahku karena ini benar-benar sudah diujung.
Aku terus berjalan, sampai akhirnya mataku tertuju pada ruangan yang terbuka dengan lebar. Aku membelalakkan mataku kaget, beberapakali ku netralkan penglihatanku, dan hasil yang tetap sama. Seorang perempuan sedang berdiri membelakangi pintu sedang memasak dengan santainya, aku tidak mempersalahkannya yang sedang memasak, tetapi aku mempersalahkan apa yang sedang dimasak olehnya. Wanita-wanita yang masih hidup tanpa busana disuntikkan dengan cairan yang tidak kuketahui, kemudian dipanggang diatas pemanggangan persegi panjang yang besar. Wanita itu tidak berteriak, hanya meringis sambil mengeluarkan air mata. Apa itu efek dari suntikkan sebelumnya? Otakku buntu, bahkan kakiku seperti tertahan oleh lem yang sangat kuat. Ada wanita yang diikat dalam keadaan masih hidup, ada yang sedang dipanggang dan dibalik sesukanya, tidak ada yang dipotong, tidak ada yang terluka, tidak ada anggota maupun organ tubuh yang kurang, semuanya dimasak dalam keadaan utuh dan masih bernafas.
Kupaksa kakiku melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah secepat mungkin yang kubisa. Nafasku sudah tidak beraturan, saat sampai di meja Ayah dan Bunda aku segera menarik keduanya untuk pergi dari restoran ini.
"Ada apa nas?" Tanya Bunda
"ayo kita segera pergi dari sini, Ayah, Bunda, akan kuceritakan saat di mobil nanti"
"kita bayar dulu" kata Ayah kemudian. Saat Ayah ingin berdiri, seorang pelayan datang menghampiri kami.
"Selamat tuan, nyonya kalian adalah pelanggan ke seratus ribu kami yang berkunjung kemari, untuk pelanggan spesial, kami menyediakan kamar khusus yang luar biasa untuk kalian, jika kalian menerima tawaran kami, kami akan menggratiskan semua makanan tuan dan nyonya malam ini, apapun yang tuan dan nyonya butuhkan merupakan kewajiban kami untuk memenuhinya, apakah kalian bersedia menjadi pelanggan spesial kami?"
Seperti sihir, Bunda menyetujuinya lalu diiringi anggukan oleh Ayah, jantungku berdetak kencang saat tau aku akan lebih lama disini. Tuhan.. Tolong aku.. Semoga tidak terjadi apapun pada kami.
Aku, Ayah dan Bunda berada di ruangan terpisah dan masih sama, Ayah Bunda hanya menurut saja. Malam semakin larut, aku bangkit lalu membuka pintu perlahan, berjalan dengan sangat hati-hati menuju ke kamar Ayah untuk menceritakan semuanya. Tiba-tiba pintu kamar Bunda terbuka, aku segera bersembunyi di manapun aku bisa, dan yang kulihat adalah Bunda sedang diseret oleh seorang wanita yang sedang memasak beberapa jam lalu. Ditarik rambutnya dengan kondisi Bunda yang terbaring diam tanpa suara dan kedua mata yang terbuka.
APA YANG SEBENARNYA TERJADI!?
Setelah kupastikan tidak ada siapa-siapa, dengan langkah cepat aku menuju kamar Ayah yang tidak dikunci, Ayah sendiripun sedang mondar-mandir memikirkan sesuatu.
"Ayah.." panggilku. Ayah segera menoleh dan memelukku seolah tau apa yang terjadi.
"Ada ada? Apa kau tidak bisa tidur juga nak?" Tanya Ayah khawatir
"lebih dari itu Ayah.." aku menghapus air mataku kasar lalu menceritakan semuanya termasuk Bunda yang dibawa wanita gila tadi. Ayah terdiam, sesekali menitikan air matanya.
"Patas saja perasaan Ayah tidak tenang saat ingin pergi kesini"
"Kenapa Ayah ingin menginap?" Tanyaku kemudian
"Bundamu yang menginginkannya, Ayah juga sebenarnya ingin langsung pulang, tapi tadi Bundamu baru kali ini sangat ingin sesuatu dan meminta pada Ayah"
"dan sekarang bagaimana?"
Tiba-tiba handphone disaku ku bergetar tanda ada panggilan masuk, aku baru mengambil handphoneku, namun tiba-tiba panggilan itu terhubung otomatis.
"Nas.." panggilnya dari ujung telepon
"Nasya..."
Siapa yang menelpon tengah malam begini dengan suara rintihan!? Ayah terlihat khawatir, badanku gemetar, jantungku berpacu dengan cepat, darahku mengalir dengan derasnya.
"Nasya..."
"Nas..."
"Siapa!? Apa maumu!?" Jawabku berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis
"Nasyaa..." Panggilan itu justru semakin keras namun lemah membuat jantungku berpacu dengan cepat tanpa henti.
"Nas..."
Sedetik kemudian handphoneku ku banting ke tembok dengan keras sehingga membuatnya hancur berantakan. Namun tiba-tiba handphoneku utuh kembali dan ada vid call masuk. Lagi, tanpa disentuh dia terhubung dengan sendirinya. Aku memeluk Ayah erat, yang tertampil di layar hanya gelap, dan suara itu lagi.
"Nasya..."
"Nas..."
Ku injak handphoneku dengan sisa keberanian sampai benar-benar tidak terbentuk, aku dan Ayah lari melalui jendela, untungnya kami berada di lantai bawah sehingga bisa langsung berpijak ke tanah. Ayah memegang tanganku erat menyalurkan kekuatan. Ayah melajukan mobilnya keluar dari restoran ini,
"tenang ya, semua pasti baik-baik aja" aku mengangguk sebagai jawaban, aku bingung dengan semua ini, air mataku keluar tanpa henti.
Kami semakin jauh meninggalkan restoran, tiba-tiba pikiranku seperti terhubung dengan seseorang, apa yang ia lihat aku melihatnya, apa yang ia dengar aku mendengarnya, dan apa yang ia pikirkan aku bisa merasakannya.
"Kalian itu pelanggan spesial, kenapa pergi? Padahal kalian akan sangat ku perlakukan dengan istimewa, terlebih kamu Nasya... Kamu akan sangat ku perlakukan dengan istimewa, aku tidak akan langsung memasakmu hidup-hidup, aku akan membuatmu bahagia dengan banyaknya goresan di wajah, tangan, kaki dan tubuhmu. Matamu? Aku akan menyimpannya di toples khusus, jari-jarimu itu, aku akan menyimpannya di lemariku, aku tidak mungkin memasak makanan istimewa sepertimu dengan cepat, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu cepat. Kau wanita ketiga yang tidak terpengaruh dengan sihirku, ah, 2 wanita itu sangat lezat, mengapa yang ketiga ini bisa lolos? Ayolah Nasya... Kembalilah sayang, susul lah Bundamu yang sudah bahagia ini. Andai saja sihirku juga berlaku untuk pria, aku pasti akan sangat membuatmu bahagia bukan? Melihat Ayah dan Bunda yang bahagia menikmati kematiannya" kulihat, Bunda dipotong lehernya dengan pisau yang tidak terlalu tajam lalu kepalanya disusun di atas lemari kaca.
"Bundaaa!!!"
"Ada apa sayang?" Aku langsung memeluk Bundaku erat.
"Apa kamu bermimpi buruk, hm?" Tanya Ayah. Aku hanya terus menangis sambil memeluk Bunda.
"Udah gakpapa, itu cuma mimpi, sekarang tidur lagi yah? Bunda temenin. Jantungku masih berdetak tidak karuan serta nafasku yang tidak beraturan. Syukurlah, ternyata hanya mimpi. Perlahan, aku memejamkan mataku kembali dengan Ayah dan Bunda yang berada di sampingku.
TAMAT