Mengandung 17+
"Aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku cemburu ketika melihatmu membawa teman pria ke rumahmu, apapun alasannya, aku tetap tidak menyukainya"
~Alvin
Aku Queensa Laurent, umurku 18 tahun tinggal disebuah daerah kecil di kota New York dan bertetangga selama 18 tahun pula dengan pria yang sejak kecil sangat irit berbicara. Selain irit bicara, wajahnya juga datar tanpa ekspresi membuat Queen kecil enggan untuk bermain dengannya, usianya 1 tahun lebih tua diatasku dengan wajahnya yang tirus, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis serta pupil mata berwarna cokelat terang membuatnya terlihat tampan, kulitnya yang putih seperti orang yang mandi susu setiap harinya dan juga tingginya yang mungkin mencapai 183 cm membuatku harus mengangkat kepala ketika berdiri didepannya. Sayang sekali dia bukan tipeku, karena aku menyukai pria yang humoris dan tentunya romantis, bukan yang kaku dingin seperti es dan datar seperti tembok. Entah hanya perasaanku atau memang benar, aku tidak pernah melihatnya keluar rumah. Tidak tidak tidak, aku pernah melihatnya, tidak, bukan pernah melainkan akan hapal kapan saja pria itu keluar dari sarangnya. Saat sekolah dan juga membeli keperluan rumah, waw, apakah dia pikir jika dia keluar rumah itu akan menghilang? Pantas saja kulitnya seputih susu. Alvin Leordn Grissham, mengapa juga aku memikirkan pria itu?
Aku tidur seperti malam biasanya, karena aku tinggal sendiri aku tidak pernah mematikan lampu kamarku ketika tidur, selain karena takut ada apa-apa aku juga takut pada kegelapan. Ralat, bukan tinggal sendiri, lebih tepatnya Papa membuatkanku semacam rumah kecil dibelakang rumah, dan aku juga yang memintanya, agar aku bisa belajar mandiri.
Rasanya tidurku sangat nyenyak, aku bermimpi Alvin berbicara banyak padaku, memanggil namaku berulang kali, seandainya ini nyata, betapa bahagianya diriku.
"Queen"
"Queen"
"Queensa"
"Queen, bangun"
Apa aku berhalusinasi? Atau aku masih berada di alam mimpi? Aku mendengar suara Alvin di kamarku. Kamar!? Aku membuka mataku saat menyadari kamar, dan benar saja, pria ini!? Bagaimana mungkin dia berada di sini!?
"Apa yang kau lakukan di kamarku!? Mengapa lampu kamarku mati!?" Ya, lampu kamarku mati, tetapi cahaya bulan membuatku samar-samar melihat wajahnya.
"Shuutt, bisakah kau tidak berteriak?" Tanyanya dingin, aku memilih diam tidak menjawab pertanyaannya. Sebenarnya aku bingung, mengapa dia ada di kamarku? Dan mengapa lampunya mati?
"Cepat ikut aku dan jangan banyak bersuara" ucapnya lagi dengan dingin. Aku membalas dengan deheman lalu mengikuti langkahnya keluar dari jendela belakang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Vin..."
"Kita harus segera pergi"
"Papa.. Mama.."
"Akan kujelaskan nanti, tapi tidak sekarang. Diamlah."
Aku menurut dan terus melangkah setengah berlari mengikuti Alvin yang entah sejak kapan mulai menggandeng tanganku. Aku tidak tau sekarang sudah jam berapa, hawa dingin semakin menusuk kulitku, padahal aku menggunakan celana panjang dan baju lengan panjang, bagaimana dengan Alvin? Dia hanya menggunakan baju lengan pendek dan celana panjang selutut, apa dia juga merasa kedinginan?
Sekitar satu jam lebih berjalan dan beberapa kali berlari, rasanya kakiku mati rasa, aku benar-benar lelah sekarang.
"Istirahatlah, sebentar lagi pagi" Aku menurut, karena kakiku seperti tidak bisa melangkah walau hanya sebentar. Aku bersandar pada tembok yang ada, aku tidak tau sekarang kami ada dimana dan aku tidak tau mengapa Alvin membawaku sejauh ini.
"Alvin.."
"Queen.."
Panggilku dan panggilannya bersamaan,
"apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau membawaku sejauh ini?" Alvin yang tadinya berdiri ikut bersandar di sampingku. Dapat kudengar ia menghembuskan nafas berat.
"Bagian komplek tempat tinggal kita di bantai"
"Bag.."
"Aku mendengar suara keributan saat aku mengerjakan tugas di kamar. Saat aku ingin keluar, tiba-tiba Ibu masuk dan menyuruhku pergi sejauh mungkin, karena satu komplek kita akan habis malam ini" aku diam mendengarkan, air mataku akan segera tumpah sekarang.
"Awalnya aku tidak ingin pergi sendiri, namun Ibu mengatakan bahwa Ayah telah di bunuh dan Ibu yang langsung berlari ke kamarku, mengunci pintu rapat dan menyuruhku pergi segera, aku meninggalkannya dengan langkah berat, dan kulihat, sebagian orang serba hitam sudah berada di rumahmu, dan aku melihat, tempatmu masih menyala, aku segera kesana dan menghancurkan lampu yang ada agar tidak ada yang menyadari di sana ada rumah, lalu aku membangunkanmu dan membawanmu pergi. Mungkin hanya kita yang selamat dari pembunuhan berantai itu" aku tidak bisa membendung air mataku lagi, aku menangis sejadinya mengingat Papa dan Mama yang ternyata ciuman selamat malam itu adalah yang terakhir kalinya.
"Pa.. Ma..."
"Shuuuttttt" tiba-tiba Alvin mencium bibirku membuat air mataku berhenti mengalir, lebih tepatnya aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukannya sekarang.
"Ap..."
"Aku menyukaimu" ucapnya saat ciuman kami terlepas, bagaimana mungkin? First kiss ku diambil secara cuma-cuma olehnya.
"Tap..."
"Aku selalu menyukaimu"
"Bag.."
"Apa kau tidak menyadarinya? Atau pura-pura tidak peka? Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, tawamu, kebiasaanmu, aku tau semuanya"
"Tap..."
"Aku tidak peduli kau menyukaiku atau tidak, tetapi aku akan ku buat kau menyukaiku"
"Ak.."
"Mulai hari ini, detik ini, kau adalah milikku dan akan selalu begitu, begitu pula sebaliknya, aku milikmu dan kau hanya milikku, kita akan pindah dari kota ini lalu aku akan menikahimu"
"Ak..." Belum selesai ucapanku, lagi-lagi Alvin membungkam mulutku dengan bibirnya, sialnya bibir ini manis, walau aku tidak tau caranya berciuman tetapi dapat kurasakan manis dari bibirnya.
"Ak..."
"Ayo kita pergi, disini ada jalan menuju jalan raya"
"Stop Alvin, aku ingin bicara dulu"
"Baiklah"
"Aku juga menyukaimu.." tanpa mengatakan apapun Alvin kembali menciumi lalu menggendongku ala bridal style menuju jalan raya. Tidak lama kemudian matahari terbit menandakan hari sudah pagi. Aku bingung, apakah ini hari bahagiaku? Atau justru sebaliknya?
Alvin menurnkanku dari gendongannya saat kami tiba dijalan raya, beberapa kendaraan sudah banyak yang lewat, Alvin menyetopkan mobil yang melaju perlahan dan kamipun ikut menumpang sampai di bandara.
Beberapa jam kemudian kami telah tiba di Australia, karena Alvin mengatakan dia memiliki rumah disana, atau lebih tepatnya rumah orangtuanya.
Aku dan Alvin masuk ke dalam rumah dan disambut senyuman orangtuaku dan orangtua Alvin.
"Papa.. Mama..." Aku tidak sedang berhalusinasi bukan?
Aku melihat kearah Alvin yang memasang wajah datarnya. Apa-apaan pria ini!? Beberapa menit yang lalu dia bersamaku dengan wajah yang begitu ramah, sangat hangat membuatku nyaman, lalu sekarang? Hey! Apa dia membohongiku!?
"Ini semua rencana Alvin Queen.." ucap Ibu Alvin seakan tau apa yang aku pikirkan
"awalnya saya tidak setuju, enak saja, dia merencanakan hal seperti ini dan mengatakan bahwa saya mati" sambung Ayah Alvin kemudian disambut dengan kekehan
"iya nak, ini semua rencana Alvin" Mama dan Papa ikut bersuara
"dia menyukaimu, tetapi tidak tau ingin mengatakan bagaimana, beberapa hari ini kamu sering membawa teman laki-laki kerumah, Alvin sampai geram sendiri, tante udah berulang kali nyuruh dia ngaku, tapi malah gengsi, kayak cewek aja" ucap Ibu Alvin tertawa diiringi dengan yang lainnya. Jadi pria es ini cemburu? Benarkah!?
Tiba-tiba Alvin membawaku ke taman belakang rumahnya.
"Jangan dengarkan mereka, walau itu memang benar" ucapnya memelukku
"hey, aku belum mandi dari pagi, apa kau tidak kebauan?"
"Tidak" jawabanya masih memelukku
"Pantas saja kau terlihat sangat tenang, ternyata itu rencanamu" ucapku kesal dan hanya dibalas deheman olehnya
"baiklah, sekarang apa maumu?"
"kau belum pernah berciuman dengan pria lain bukan?"
"Tentu saja" jawabku kesal, bisa-bisanya dia bertanya begitu "kau satu-satunya pria yang berani mengambil first kiss ku!" Tiba-tiba ia menciumku lagi, oh ayolah, mengapa dia agresif sekali.
"Aku suka bibirmu, manis. Hanya aku yang boleh mencicipinya."
Dasar pria es agresif!
TAMAT