Dulu, seringkali daun di halaman rumahku menjadi kanvas dan sebuah lidi menjadi kuasnya. Bukannya ingin menggambar tapi aku mengukirnya menjadi sebuah kata, ibu.
Hingga sekarang aku masih melakukannya. Daun-daun berserakan di bawah kakiku, ada yang bewarna hijau dan ada yang sudah menguning. Dan lagi, aku mengukir di tengahnya menjadi kata ibu. Namun tetap saja, beliau tidak akan kembali.
Tepat lebaran kesepuluh, ibu meninggalkan dunia ini, meninggalkanku yang saat itu sangat membutuhkan kasih sayang darinya, dan kami di sini hanya bisa meratapi kepergiannya.
Kata ayah, aku tidak akan melihat tempat peristirahatan ibu sekarang. Makam ibu berada di luar kota bahkan di luar provinsi. Tetapi aku ingin sekali mengunjungi dan berdoa di makamnya.
“Ayah, bisakah aku melihat makam ibu, sekali saja?” tanyaku sewaktu lebaran keduabelas.
Ayah menatapku lama, entah apa yang ia pikirkan, aku takut pertanyaanku salah dan menyinggung perasaannya.
“Tunggulah saat kau sudah bisa membiayai kehidupan ayahmu ini dan dirimu sendiri.”
Aku bisa mendengar suara ayah menyiratkan kerinduan sama halnya seperti diriku. Aku hanya bisa diam, menunggu saat aku sudah bekerja itu sangat lama.
Sebenarnya ibuku akan dimakamkan di sini, agar aku bisa mengunjungi dan membersihkan makam ibuku setiap seminggu sekali. Namun Tuhan berkata lain, anak dari ibuku yang lain, lebih tepatnya kakak tiriku, tidak mengizinkan dan lebih memilih memakamkannya di tempat asal ibuku. Akibatnya, terjadilah pertengkaran mulut bahkan fisik antara keluargaku dan kakak tiriku itu.
Suasana saat itu sangat menegangkan, suara dari pertengkaran itu bagaikan petir yang menyambar gendang telingaku, dan aku hanya bisa bersembunyi di balik pohon yang tak jauh dari liang lahat yang akan dijadikan tempat peristirahatan terakhir ibuku. Aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana kasarnya suara kakak tiriku dan tak kalah tajamnya suara ayahku, dan yang lain hanya bisa menangis, sesekali mengusap punggung ayahku supaya tenang.
Aku melihat jasad ibuku diperebutkan, tertarik ke kanan dan ke kiri. Hatiku mencelos saat aku melihat setetes air yang bening keluar dari mata ayahku, maka menetes pulalah air mataku yang sedari tadi susah payah aku tahan. Bagaimana ini? Bagaimana dengan nasib ibuku, yang telah tertutup oleh kain putih itu? Sampai akhirnya keputusan pun diambil, ibuku akan dimakamkan di tempat asalnya.
Karena kejadian itu, ayahku mengibarkan bendera permusuhaan dengan kakak tiriku. Jika kakak tiriku datang kesini, ayahku selalu mengusirnya.
“Jangan sesekali mudah menerima orang hanya dengan melihat wajahnya.”
Perkataan ayah saat itu masih melekat di otakku, dan sekarang aku baru memahami maksudnya.
Pada lebaran ketigabelas, aku menanyakan hal yang sama kepada ayahku, dan lagi, ayah selalu menjawab dengan suara lemah seakan pasrah dengan pertanyaanku yang tak kunjung usai. Sebenci itukah ayah kepada kakak tiriku hingga akupun tidak bisa melihat makam ibuku sendiri?. Pertanyaan itu terus menghantui pikiranku. Entah kapan aku bisa menyentuh dan mencabut rumputan liar yang mengotori makam ibuku.
Jika orang lain bersenang-senang atau bahkan mengunjungi makam keluarganya di saat lebaran, aku disini hanya memikirkan bagaimana caranya kabur dari rumah. Tapi setelah aku pikir-pikir, kabur dari rumah sangat tidak mungkin, apa lagi itu hanya untuk mengunjungi sebuah makam, orang-orang pasti akan geleng-geleng kepala melihat kelakuanku yang bodoh ini. Hingga akhirnya aku hanya menunggu waktu dan keajaiban dari Tuhan yang Maha Esa.
Di perjalanan pulang ke rumah, aku pernah melihat anak kecil meminta-minta di tengah ramainya kendaraan yang sedang berhenti akibat lampu merah yang menyala, anak kecil itu berpakaian lusuh, terdapat banyak sobekan di bajunya. Seperti tak kenal lelah, ia berjalan dan berhenti di setiap kendaraan untuk meminta uang, mengetahui jika lampu hijau akan menyala, ia menepi dan menunggu untuk pemberhentian selanjutnya.
Sekilas aku melihat, terdapat seorang bapak-bapak yang berpakaian layak menghampiri anak kecil itu. Mungkin ia adalah ayah dari anak kecil tersebut. Ia tampak membentak anak kecil itu, terlihat dari urat yang bermunculan di lehernya, lalu ia merampas uang hasil kerja keras anak kecil itu, dan tak luput air mata yang mengalir di pipi anak kecil itu. Di situ aku menyadari bahwa ada yang lebih membutuhkan kasih sayang ibu dari pada aku yang masih memiliki keluarga yang menyayangiku.
Tidak terasa waktu bergulir lebih cepat, Seperti biasa, aku menanyakan hal yang tak bosan-bosan aku pikirkan.
“Ayah, bolehkah lebaran ini aku pergi melihat makam ibu?” tanyaku saat lebaran keempatbelas.
“Ayah sudah lelah menjelaskan, lebih baik kau pikirkan masa depanmu,” jawab ayah dan aku lagi-lagi hanya bisa mengelus dada agar bisa bersabar menunggu waktu yang tepat.
Dua minggu setelah pertanyaan yang membosankan itu ku lontarkan, paginya aku terbangun setelah mendengar keluhan halus dari kamar ayahku, dengan rasa penasaran yang memuncak, aku perlahan berjalan ke kamar ayahku. Terlihat ayah dengan raut wajah yang sedang menahan sakit dan tangannya berusaha mengurut kaki sebelah kanannya. Aku segera berlari ke arah ayahku,
“Kenapa ayah?” tanyaku dengan cemas dan meraih kaki yang sedari tadi berusaha ia urut.
“Kaki ayah sakit,” jawab ayahku dengan suara yang terdengar parau.
Aku segera mengambil minyak urut yang mungkin bisa menghilangkan rasa sakit itu, lalu menggosokkan minyak urut itu dengan perlahan ke kaki ayahku.
Selang beberapa menit, sakitnya tidak kunjung mereda, dengan cemas aku mencari handphoneku dan menelepon keluargaku yang lain. Tidak butuh waktu yang lama, semua sudah berkumpul di kamar ayahku. Tidak dapat dipungkiri, semua memasang wajah khawatir dan bahkan ada yang menangis. Aku melihat yang lainnya menangis pun juga ikut menangis dengan rasa khawatir yang menguasai pikiran dan hatiku. Semua memilih untuk membawa ayahku ke rumah sakit untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit ayahku. Saat ayahku sudah berdiri, ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Seketika ayahku tampak sempoyongan, dengan sigap kakakku membantu ayah untuk berjalan.
Secepat mungkin ayahku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kata dokter yang merawat ayahku, beliau terkena penyakit stroke. Kami semua terkejut mendengarnya dan tidak sedikit keluargaku yang menangis.
Setelah beberapa hari, tidak ada perubahan dengan ayahku. Beliau masih tidak bisa berjalan. Baik aku maupun keluargaku lainnya tambah cemas memikirkannya. Sudah tiga rumah sakit kami kunjungi, namun tetap kondisi ayahku tak kunjung membaik.
Tetangga sebelah rumahku memberitahu, bahwa ada rumah sakit yang bagus, tapi lumayan jauh dari sini. Sekitar 5 sampai 6 jam untuk sampai ke sana, dan keluargaku memutuskan membawa ayahku berobat ke sana.
Pagi harinya kami langsung pergi setelah bersiap-siap menyusun beberapa pakaian. Saat di perjalanan, kami memilih untuk tidur agar perjalanan yang lumayan jauh ini terasa cepat. Ayahku duduk di kursi bagian tengah dengan kaki yang di luruskan, dan aku berada di dekat kaki ayahku. Sesekali ayahku meringis kesakitan saat tanganku tidak sengaja menimpa kaki ayahku, dan ringisan itu membuat satu pukulan ringan mengenai kepalaku.
Akhirnya kami sampai setelah melewati jalanan berlubang dan kemacetan yang lumayan lama. Kursi roda sudah siap sedia menyambut ayahku dari luar mobil, dengan perlahan ayahku di angkat dan menduduki kursi roda tersebut. Seperti perkataan tetanggaku yang berbaik hati itu, rumah sakit ini tampak bagus dan bersih, jangan lupa jika peraturan di sini sangat ketat. Aku hanya boleh menemui ayahku saat waktu kunjung. Salah satu kakakku menemani dan menjaga ayahku, selebihnya tinggal di penginapan yang tidak jauh dari rumah sakit itu.
Kata dokter yang merawat ayahku, sebenarnya ayah tidak terkena stroke, melainkan salah satu saraf di kaki sebelah kanan terjepit oleh tulang yang bengkok, tulang yang menjepit salah satu saraf itu bengkok karena ayahku pernah terjatuh. Akibatnya akan sulit berjalan dan berdiri lama.
Di hari pertama, ayahku sudah bisa menggerakkan kakinya, namun belum sanggup untuk berjalan. Dan kami kembali bernafas lega mengetahuinya. Di hari kedua ayahku sudah sanggup berdiri sedikit lebih lama.
Sejenak, terbesit dipikiranku untuk mengunjungi makam ibuku saat aku mengetahui jika tempat pemakamannya tidak jauh dari daerah rumah sakit ini. Apakah ini pertanda dari Tuhan bahwa saat ini lah waktunya? Waktu yang sedari dulu aku tunggu-tunggu. Dengan tergesa-gesa aku berlari ke rumah sakit, sekarang waktu makan siang dan juga waktu berkunjung.
Setelah sampai di depan pintu ruangan ayahku, seketika rasa takut menyerang. Aku berdiri cukup lama dan tidak menyadari bahwa pintu ruangan tersebut terbuka, sehingga jidatku mencium pintu yang menyebalkan itu.
“Kenapa kau berdiri di sini?” Tanya kakakku yang menemani ayahku selama di rumah sakit ini.
“Tidak ada” jawabku dan berusaha menetralkan raut wajahku yang sempat berkerut.
Aku masuk terlebih dahulu dan melihat ayahku yang baru saja selesai makan. Lalu aku berjalan ke arah ranjang yang ayahku tempati.
“Kenapa?”
Sepertinya ayahku bisa membaca ekspresi wajahku yang pasti saat ini terlihat kebingungan.
“Aku dengar bahwa makam ibu tidak jauh dari sini,” kataku yang masih terdengar ragu.
“Pergilah bersama yang lain, kaki ayah masih terasa sakit” ucap ayahku seolah bisa membaca isi pikiranku, namun aku sedikit kecewa dengan ayah yang tidak bisa ikut. Tapi aku tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini.
Sore harinya, aku dan keluargaku lainnya segera berangkat ke tempat pemakaman ibuku. Sepertinya aku yang terlihat sangat tidak sabaran, terbukti sedari tadi aku bertanya ‘sudah sampai di mana?’. Dan pada akhirnya aku memilih untuk diam saat mendapat tatapan tajam dari abangku ketika aku kembali ingin bertanya.
Tidak butuh waktu lama, kami sudah berada di tempat pemakaman. Saat baru beberapa langkah dari gerbang masuk, terlihatlah nama ibuku terukir di atas batu nisan yang tertancap di sebuah gundukan tanah bewarna cokelat kemerahan. Aku segera berjongkok untuk menyentuh tanah yang selama ini aku mimpikan. Kami membaca doa yang dipimpin oleh abangku.
Setelah membaca doa, Sesekali aku mencabut rumput liar yang tumbuh di atas gundukan tanah itu. Tidak dapatku pungkiri, beberapa tetes air mata telah jatuh dari mataku. Rasanya seperti hutang yang terbayar, dan seperti janji yang telah di tepati.
Semoga ibuku tersenyum di sana melihat anaknya yang menangis sambil tersenyum memandang tempat peristirahatan terakhirnya.
By : me.