"Bekerjalah yang benar. Harus sampai tuntas!" perintahnya tanpa menurunkan nada bicaranya.
"Baik nyonya!" balas beberapa pekerja di rumah mewah bak istana kerajaan tersebut.
Alina, wanita berumur yang menjabat sebagai kepala pelayan di rumah tersebut tanpa rasa takut melabrak nyonya rumah tersebut.
"Huh, dulunya kau juga seorang pelayan di rumah ini. Sekarang saat menjadi nyonya, sombongmu semakin merajalela. Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan untuk menjadi nyonya di rumah ini? Kau... "
DOR!
Terlambat. Alina tewas seketika di hadapan seluruh pekerja d rumah tersebut. Terrie, si nyonya rumah tersebut telah menembak kepala Alin. Ya, rupanya dia membawa pistol. Kejadian mengerikan itu terjadi begitu saja dan para pekerja yang menyaksikan itu semakin trauma bekerja di sana.
Setelah menyisakan tatapan benci kepada mayat Alina yang bersimbah darah, kini tatapan sadisnya berpindah ke seluruh pekerja yang menyaksikan itu.
"Kalau kalian berani buka mulut, coba saja. Polisi juga tidak akan berguna. Hari ini juga kalian akan berakhir menyedihkan seperti wanita tua ini jika kalian berani buka mulut."
Tatapan dan ancaman itu semakin terasa nyata kepada mereka.
"Mami!" panggil seorang gadis. Dia adalah Linda putri semata wayang Terrie.
"Ada apa sayang?"
Dan Linda tertawa menyeringai seram saat melihat darah merah ranum tanpa berhenti mengalir dari mayat Alina.
"Jadi wanita tua bangka mati hari ini? Huft padahal aku baru mau melabraknya. Kamera pengawas di kamarku menangkap bahwa dia sedang mengobrak-abrik isi laciku dan mencuri berlian lima miliar."
"Yah, resiko karena telah melawan Mami. Ayo kita pergi sekarang."
"Dan kalian semua, bekerjalah yang benar. Jatah makan siang hari ini tentu saja berkurang karena teman sialan kalian ini." Terrie masih berani mengecam Alina yang telah tewas di tangannya.
Mereka semua mengangguk ketakutan.
...
Setelah mengantarkan Linda ke sekolah, Terrie pun memeriksakan diri ke dokter mengenai penyakitnya. Dokter yang akan menanganinya adalah dokter langganannya.
"Bagaimana hasilnya?" wajah Terrie langsung pucat pasi, menyiapkan diri menerima kenyataan pahit. Ya, itu pasti.
"Maaf nyonya, hasil tes laboratorium mengatakan hal lain. Kanker serviks anda semakin sensitif dan ganas. Dan ini... sudah stadium akhir. Maaf."
Terrie menahan tangisannya. Seketika wajahnya terlihat sembab dan tirus.
"Berapa hari lagi...?"
"Paling lama... tiga hari nyonya."
Terrie semakin putus asa. Dia berlalu dari ruangan dokter spesialis kanker tersebut dan meletakkan black card di meja dokter tersebut. Dokter tersebut tampak kaget.
"Nyonya, ini sungguhankah?"
Terrie tidak memedulikan ocehan si dokter dan berlalu begitu saja.
...
Linda cukup heran dengan kebiasaan ibunya yang kini semakin sering tidur siang lama-lama di kamar. Ada apa dengan mami? Terjadi sesuatukah?
...
Sungguh keluarga kecil yang bahagia. Sang ayah yang tampan dan tampak begitu menyayangi istri dan anaknya. Sang istri yang cantik dan penyayang. Juga sang anak, gadis kecil yang kerap di panggil Raina.
"Raina, hati-hati sayang. Nanti jatuh loh!" teriak sang mami.
"Iya mami! Tenaga aja! Gak bakal jatuh kok! Raina itu kuat! Gak lemah!"
"Ntar kita gak jadi beli eksrim loh!"
"Jangan mami!"
"Makanya jalan yang pelan, okay? Kalo nurut, mami kasih bonus."
"Apa itu mami?"
"Boneka Barbie! Mau? Kita beli di mall." ucap sang mami.
"Papi tambahin lagi. Weekend ini kita liburan ke Singapura ya?"
"Yeay, naik jet baru Papi kan?"
"Iya sayang."
"Asyik."
Tanpa disadari oleh ketiganya, seseorang menatap dengan dengki, merasa iri dengan kebahagiaan keluarga tersebut.
"Ibu aku juga mau ikut libur bareng Raina. Jadi Raina enak banget ya? Ada papa, orang kaya, liburan ke Singapura juga." rengek putrinya yang berada di sampingnya.
Sementara si wanita semakin memanas saat melihat sebuah kecupan hangat nan mesra mendarat di kening nyonya-nya. Dan kecupan itu berasal dari tuan yang di cintainya dalam diam.
"Tidak, tidak boleh seperti ini terus. Linda sayang. Kamu akan merasakan bagaimana rasanya menjadi Raina. Lihat sajalah sebentar lagi."
"Nikmati saja nyonya terhormat. Percuma sekarang. Lagipula sisa hidupmu tersisa 24 jam lagi. Nikmatilah semuanya."
Keesokan harinya, seisi rumah mewah bak istana di salah satu perumahan elit di gemparkan dengan kabar yang menyatakan bahwa tuan dan nyonya rumahnya kecelakaan dan meninggal dunia saat di bawa ke rumah sakit. Sedangkan putri mereka selamat dari kecelakaan tragis tersebut meski lukanya terbilang parah. Setengah wajahnya melepuh. Pekerja di rumah itu sangat berduka atas kepergian tuan dan nyonya mereka yang sangat baik hati.
Saat pemakaman, isak tangis para pekerja rumah tersebut tidak berhenti dan semakin menjadi-jadi. Terlebih putri tuan dan nyonya mereka, Raina. Mereka merasa miris melihat wajah cantik dan mulus Raina yang dulu kini menjadi setengah buruk rupa. Mungkin tak akan pernah ada orang yang mau bergaul dengan Raina selain para pekerja di rumahnya. Raina menangisi kepergian kedua orangtuanya yang terlalu cepat dan bersamaan. Saat itu usianya masih sebelas tahun. Dan anehnya, kecelakaan yang di duga dengan motif pembunuhan terencana tersebut menyisakan teka-teki rumit yang misterius dan tanpa jejak.
Raina, oleh Terrie yang mendadak menjadi nyonya rumah, di kurung dan di siksa hingga tak lama kemudian menyusul kepergian kedua orangtuanya.
Para pekerja mulai curiga bahwa kepergian keluarga tuannya adalah kejahatan terencana dari Terrie yang secara mendadak menjadi nyonya rumah mereka.
...
WUSS!
Terrie terbangun. Apa itu?
Dia merasa heran dengan angin yang mengelus secara tiba-tiba. Dan tiba-tiba... WUSS!
"Ha? Siapa itu?"
...
"Hiks, hiks... "
Terrie terperanjat. Terdengar suara tangisan anak kecil tak jauh dari tempat ia tertidur saat ini.
"Linda, itu kamu sayang?"
"Hiks, hiks...tolong! Aku, aku kelaparan. Ayo kemari!"
"Kelaparan? Tunjukkan wujudmu dulu!"
"Tidak bisa, aku takut orang akan melihat wajah buruk rupaku... "
"Tunjukkan dirimu dulu!"
"Tidak aku tak mau di siksa lagi, hiks, hiks... "
WUSH!
Hawa dingin terasa lagi di sekitarnya. Leher Terrie terasa di cekik oleh seseorang dari belakang.
"AAA, LEPASKAN!"
"HIHIHI, AKU KESEPIAN, AKU TAK ADA TEMAN, TEMANI AKU, SUPAYA KITA TAK BEDA ALAM LAGI... "
"KAU PASTI RAINA! JANGAN, JANGAN, TOLONG, TOLONG!"
"TIDAK, HIHIHI. KAU AKAN TEWAS SEKARANG JUGA. "
"Kyaaa!"
"Mami, bangun mami! Mami kenapa sih?"
"Linda, Linda, mami... "
"Apaan Mi?"
"Mami mimpi buruk, Raina ada dalam mimpi Mami. Mami akan di bunuh... "
"Sudah deh, mi. Kalo mami mau pindah, sendiri aja sana. Aku dan Jekson akan tinggal di sini setelah kami menikah,"
"Menikah? Kau akan menikahi Jekson? Sejak kapan kau menjadi pembangkang mamimu sendiri? Ha? Aku melarangmu menikah dengan pengkhianat itu. Batalkan Linda."
"Tidak, Ma! Tidak akan. Aku dan Jekson saling mencintai."
"Kau percaya dia akan mencintamu? Jangan bodoh Linda."
"Terserah mami. Aku gak mau batalin. Aku pergi dulu."
Linda keluar kamar, di susul oleh Terrie yang berusaha mengejarnya.
"Linda, berhenti! Dengarkan ucapan mami dulu! Kau tidak boleh... "
"KYAAA!" Terrie terpeleset dan terguncang-guncang ke bawah di tangga yang berbentuk spiral tersebut.
BRAK! Terrie jatuh terjerembab ke lantai dengan posisi telungkup.
Terrie setengah sadar. Matanya masih terbuka sedikit dan jari tangannya masih bergerak. Dia menangis pilu dan mendesah putus asa. Samar-samar terlihat olehnya sosok Raina yang berdiri di tangga dan menyeringai seram. Darah semakin mengalir deras dari kepalanya. Dia menggerakkan jari telunjuknya di atas genangan darahnya, tertulis di sana, 'Kau akan membayarnya dengan harga yang pantas, Linda putriku'
Setelahnya, kini pandangan Terrie semakin gelap, buram dan abstrak.
...
Bagaimana perasaan kalian setelah membacanya? Apakah menegangkan? Maaf kalau terlalu sadis, author keseringan nonton film horor. Hehehe! Oh iya, setelah membaca ini, baca juga chat story author, ya? Judulnya 'Hey Badboy I Love U!' Seru kok? Makanya langsung mampir ya?🙃
Tinggalkan jejak saat membaca karya author ya?
Makasih buat yang udah mampir dan baca cerpen ku.