Kita memang tak bisa menyalahkan keadaan dan rasa cinta yang dimiliki tapi yang dinamakan kehidupan, memanglah tempatnya bahagia, terluka, derita dan air mata.
Pernikahan adalah part paling bahagia yang dirasakan oleh setiap manusia, kita bahagia karna bisa hidup bersama orang yang kita cintai bukankah itu kebahagiaan yang sungguh tiada Tara lagi.
" Tapi kita harus kembali disadarkan jika kita hidup didunia bukan surga ".
32 tahun hidup bersama adalah waktu yang sangat lama rasa cinta yang telah memberikan 2 orang putra dan 1 putri, serta kehidupan yang berkecukupan adalah kebahagiaan yang telah lengkap dirasakan.
Namun kenyataannya itu tidak nyata dan bertambah usia rasa cinta berhenti dimasa senja, untunglah tuhan sangat menyayangi hambanya ia memberikan kekuatan serta ketegaran tiada tara.
" Aku sudah menikah lagi dengan dia aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini " ujar Bimo.
" Rasanya sungguh menghujam dijantung ini saat mendengar ucapanmu ini, ternyata selama ini mas sudah berkhianat apa kurang diriku mas " ujar Mia.
" Kamu bisa menyadari dimana kekuranganmu tapi yang jelas aku sekarang memiliki istri lagi jadi bagaimana dengan dirimu ? " ulang Bimo.
" Baiklah aku akan mencoba ikhlas dan menerima keputusanmu mas terima kasih juga sudah mau jujur padaku.
Tapi aku ingin kamu bersikap adil padaku dan dirinya banyak hal yang ingin aku katakan tapi, yang pasti aku ingin kau adil dalam membagi waktumu itu saja " ujar Mia penuh ketegaran namun di dalam hati hancur sehancur-hancurnya.
" Baiklah hanya itu saya bisa lakukan terima kasih juga sudah mau menerima hal ini " ujar Bimo.
Kabar ini terdengar ketelinga sang putra pertama Erman dapat dibayangkan apa yang ia lakukan mendengar hal ini.
Tidak terima, marah, benci, dendam dan amarah yang bergejolak.
Rumah
" Bu ibu ibu dimana bu " panggil Erman.
" Iya nak ada apa kenapa teriak-teriak kamu baru pulang kerja kenapa ada masalah ? " Mia.
" Bu aku gak nyangka ya ibu tega bohongin aku sama adek-adek kenapa bu kenapa ? " ujar Erman.
" Bohong ibu bohong soal apa nak, udah sekarang kamu bersih-bersih dulu habis itu makan ya ibu siapin makanannya " Mia.
" Ayah bu ayah kenapa ayah tega ngelakuin ini ke ibu ke kami bu anaknys sendiri " Erman.
" Er sudahlah ibu ikhlas karna ibu tidak ingin berpisah dengan ayahmu ibu yakin ayahmu bisa adil nak " Mia.
" Entahlah Bu aku tidak bisa berpikir seperti cara berpikir ibu tapi yang pasti mulai sekarang ini dia bukan ayahku lagi, dan jangan ibu katakan lagi bahwa aku anaknya.
Satu hal yang harus ibu tau aku tidak akan diam ketika ibu disakiti sekalipun dia tua bangka yang tidak tau di untung, tua bangka yang semakin menjadi-jadi " ujar Erman lalu pergi meninggalkan ibunya.
Hari-hari dilalui dengan senyuman dikala terlihat oleh orang namun, menangis ditengah malam dalam kesepian.
Setelah semua anaknya tau mereka juga ikut membenci sang ayah, ayah yang telah menyakiti ibu mereka.
Janji keadilan pun tidak sanggup ditepatinya karna istri muda lebih menggoda dirinya.
Bahkan untuk sehari saja tinggal bersama Mia dia tidak bisa seperti cacing kepanas, melihat perlakuan suaminya yang memang sudah melupakan dan tidak menginginkan dirinya lagi.
" Mas bisakah malam ini kamu bermalam disini atau paling tidak setelah saya selesai bicara mas bisa pergi ke rumahnya " ujar Mia penuh getir dan hancur.
" Kenapa harus menunggu malam hari bicara saja sekarang " ketus Bimo.
" Uhhhhhh baiklah kita bicara sekarang saja tapi bisakah kita bicara di dalam rumah tidak diluar seperti ini ? " Mia.
" Perkara bicara saja banyak perkara ayo cepat bicara " ujar Bimo masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu.
" Baiklah aku tidak akan membuang waktumu mas uhhhhhh terasa sungguh sesak dan sakit rasanya mas tapi apa boleh buat inilah takdir kita.
Aku merasa pernikahan kita hanya sampai disini aku tidak sanggup melihat perlakuanmu kepadaku mas, jangankan seminggu disini seminggu disana setengah hari pun kamu tak sanggup menunggu untuk mendatangi istri mudamu itu.
Aku tau dia masih muda sedangkan aku sudah tua pipiku sudah mulai kendor, kulitku semakin keriput bahkan mata ini terkadang juga tak sanggup melihat lagi.
Aku sudah memutuskan untuk pilihan bahwa lebih baik kita akhir saja pernikahan kita, aku juga tidak ingin perkelahian terjadi antara kamu dan anak-anak kita " jelas Mia.
" Jika anak-anak itu mencoba mencegahku tidak akan bisa jika dirimu saja yang istriku tak bisa apalagi anak-anak kecil itu " ujar Bimo.
" Mereka bukan anak kecil mas mereka sudah besar dan dewasa jadi, mereka sudah bisa merasakan tentang hal ini " Mia.
" Baiklah ini pilihan dan keputusanmu sendiri jangan salahkan aku lagi, sekarang juga jatuh talakku padamu semua akanku urus sampai selesai aku pamit " ujar Bimo.
" Ternyata memang tidak ada sedikit rasa cintamu tersisa untukku mas, uhhhh aku rasa aku tidak perlu meneteskan air mataku untukmu aku harap kamu bahagia terima kasih untuk 32 tahun bersamanya " batin Mia.
Setelah Erman dan adik-adiknya mengetahui keputusan sang ibu mereka sangat bangga dan bahagia melihat ibu mereka.
" Ibu sudah memilih pilihan yang paling tepat bu dan ibu tenang saja kami akan menjaga ibu penuh kasih dan cinta bu " ujar Erman.
" Lili juga senang melihat ibu sudah lepas dari ayah bu tapi bagaimana dengan lili yang akan dilamar mas Arkan bu, dan siapa nanti yang akan menikahkan lili bu " ujar lili.
" Sudahlah li jangan bahas hal itu dulu yang terpenting sekarang adalah ibu ibu dan ibu, masalah itu lain waktu kita bicarakan " tegas Erman.
Hari demi hari kini dilalui dengan kesedihan dan lamunan yang menyelimuti hati dan pikiran, bagaimana tidak kenangan 32 tahun tidak lagi berbekas dibenak bimo hingga sanggup menduakan istrinya.
Disaat lamaran lili berjalan tanpa sosok ayah yang datang, namun disaat akad nikah sang ayahlah yang tetap menjadi wali nikahnya.
Bukan Erman yang sebagai putra pertama meminta kedatangan ayahnya, namun saudara sang ayah yang datang menemui ayahnya.
Setalah akad selesai dan di sesi foto orang tua Mia dan Bimo memilih berjarak, dendi tetap ikut berfoto sebagai anak paling kecil namun juga telah mengerti apa yang terjadi dengan keluarganya.
" Terkadang air mata kepedihan tak sanggup ditahan karna luka sudah terlalu menguak naik ke permukaan tetasan airpun mulai membasahi pipi ".
Keheningan malam selalu menjadi saksi bahwa selalu ada air mata yang membasahi pipi Mia.
Luka semakin mendalam ketika keluarga Bimo balik membenci Mia.
" Dia yang memulai api hingga terbakar sendiri karena ulahnya, malah mengatakan jika diri yang tak bersalah ini menjadi tersangka dan sosok paling mengerikan dan tau akan diri ".
" Sungguh keterlaluan Mia itu Bimo kenapa dia tidak memberikan hak kamu semua harta bahkan mobil juga dia ambil, kenapa kamu malah diam saja Bimo " ujar saudara Bimo.
" Sudahlah aku masih punya kebun milikku sendiri jadi untuk apa memikirkan hal itu biarkan saja
dia, siapa tau semua itu untuk biaya pengobatannya yang sakit-sakitan itu " ujar Bimo.
" Tidak ada hak sepersen pun untuk tua bangka yang tak tau diri itu, semua yang ada adalah milik ibu semuanya dari ibu dan keluarga ibu bukan dia dan keluarganya " ujar Erman.
Setelah prahara yang cukup pelik bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan jika berada diposisi seorang Mia.
Sekarang hari-hari yang ia lewati hanya berisi kekecewaan dan hati yang berusaha yakin untuk bisa ikhlas akan semua yang terjadi.
Namun kecewa begitu dalam air matapun selalu menjadi teman terbaik untuk menemani, kita memang tidak baik berlarut-larut dalam kekecewaan dan rasa sedih karna itu bisa perlahan menjadi penyakit yang akan membunuh kita.
Untuk menghilangkan rasa stres dan luka derita yang begitu dalam lagi sungguh menyakitkan, Mia selalu diajak kemanapun oleh anak-anaknya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Masih banyak lagi kesedihan dan hal menyakitkan yang dirasakan oleh seorang Mia namun, aku tidak lagi mampu menuliskannya karna rasa itu juga menghujam jantung ini.
Jika aku yang hanya sebagai pendengar dan saksi yang tidak tau akan semua yang terjadi bisa merasakan sakit yang begitu dalam, bagaimana lagi dengan dirinya yang memang menjalani dan melewati semuanya sendirian.
Mia adalah sosok perempuan kuat, tegar dan bijaksana yang pernah aku temui dan saksikan beberapa part menyakitkan dalam hidupnya.
Aku punya banyak kisah tentang seorang istri yang disakiti oleh suaminya aku memang tidak tau, siapakah yang paling bersalah dalam hal ini.
Tapi dalam kisah nyata kali ini yang bersalah adalah pihak laki-laki yang tergambar dari sikap dan perlakuannya pada sosok Mia.
Menjadi seorang janda adalah mimpi terburuk dalam hidup seorang perempuan janda karna kematian mungkin biasa.
Tetapi menjadi janda karna dikhianati sosok suami adalah hal terburuk dalam hidup seorang perempuan, apalagi dikhianati diusia senja berharap menua bersama tapi akhirnya berakhir jua oleh orang ketiga.
Beberapa kisah nyata tentang hal ini yang aku sendiri menjadi saksinya membuat diriku trauma, seperti yang aku katakan jika aku yang hanya saksi penonton bisa dibuat trauma oleh kisah menyakitkan mereka.
Bagaimana dengan mereka yang menjadi pemainnya dan yang melewatinya ? aku rasa itu lebih dari kata trauma rasa apakah itu akupun tak tau.
Yang pasti aku adalah Trauma Sang Saksi aku berkata pada diriku kau tak perlu menikah kau tak perlu laki-laki.
Sebenarnya perkataan ini seakan menggambarkan sosok sombong apalagi keluar dari mulut seorang perempuan, kita memang tidak tau isi hati seseorang.
Tetapi sejuah mana aku melangkah dan menjadi saksi hidup seseorang membuatku menjadi perempuan untuk memilih berpikir dua kali dalam mengambil keputusan.
Akhir cerita aku akan tetap menikah dan membutuhkan pasangan hidup dan seorang imam untukku.
Namun akan ku lihat perjuangan siapakah yang akan berhasil memenangkan hati seorang perempuan dengan trauma yang ia saksikan.
" Rasanya kita tidak berhak menghakimi semua hal kesalahan laki-laki tetapi kebanyakan memang akar masalah dari sang laki-laki ".
Untukmu yang tidak sengaja menyelesaikan bacaanmu semoga mendapat pasangan terbaik sampai tua bahkan merenggut nyawa sekalipun.
Sekarang ini aku juga berpikir bahwa perkataan ini benar " Tak perlu takut, bersedih dan merasa menghindar karn akan ada sosok setia dan tulus yang akan mencintaimu apa adanya ".
Ungkapan yang cukup menghibur bagi seorang anak kecil bukan diri saya.