Entah apa yang tengah aku rasakan saat ini. Semua yang aku lakukan selalu saja tidak membuat puas hati. Aku rasa sejak pertemuan dengan Fanesa di coffeshop itulah penyebabnya.
Pertemuan tanpa sengaja setelah komitmen gila itu. Ya saat itu kami bersahabat cukup lama, kemana selalu bersama bahkan ibu menganggap kami sepasang kekasih karena kedekatan kami. Namun karena ego kamilah yang membuat benteng tinggi hingga cinta yang tumbuh di antara aku dan Fanesa harus kandas.
Sore itu setelah latihan basket aku bersama Gio mampir ke tempat kak Fandri, kakak Gio.
Ada beberapa kopi varian rasa baru yang belum sempat aku cicipi. Kehadiranku demi memenuhi undangan kak Fandri, meski sejujurnya aku lebih suka kopi rasa original dengan cita rasa pahit tanpa gula, apa adanya seperti diriku hehe.
Atensiku tertahan oleh sosok cantik di meja no 5, aku memandanginya dengan seksama untuk memastikan bahwa aku tidak sedang halu.
Aku mendekatinya
"Fanesa, apakah benar kamu ?" aku duduk di kursi kosong tepat di depannya.
"Eh .. hai Zal apa kabar, lama juga ya kita gak jumpa" Fanesa meletakkan gawai yang sedari tadi di tangannya. Setelahnya sibuk mengaduk minuman di depannya sesekali menyesap dan menatapku.
"Yah beginilah aku, masih seperti yang dulu" aku terkekeh
"Kamu sendirian kesininya? lagi libur ya?" selidikku. Satu sesapan caramelo membasahi kerongkonganku.
"Iya kebetulan libur sabtu minggu" Fanesa menghela nafas dengan lembut "tadinya aku janjian dengan Rena di sini, tapi mendadak perutnya sakit, jadinyaaa yah aku sendirian deh. Tahu Rena kan Zal?" mata jernihnya mengerjap seraya menatapku. Aku mengangguk mengiyakan. Desiran halus menyusup jantungku. Ah mata itu..
"Nes, boleh bagi no yang bisa aku hubungi?" tanpa basa basi lagi aku langsung minta nomornya.
"kontakku maksudnya?" tanya Fanesa memastikan. Aku mengangguk, kuberikan ponselku. Jari Fanesa mulai memejet beberapa angka yang selanjutnya dia tekan sekali gambar telepon warna hijau dan ponselnya berdering kemudian aku tahu dia simpan nomor ku sebelum menyerahkan kembali ponselku.
"Terimakasih ya Nes, kalau aku telpon kamu.. ada yang marah tidak?" tanyaku yang secara tidak langsung menyelidiki statusnya kini.
"Eh, gak ada kok. Ya nggak segitunya kali Zal santai aja" jawabnya malu. Ciyaaaa... aku bersorak dalam hati, mungkin ada kesempatan yang tertunda batinku.
"Hehe bercanda Nes" senyumku merekah.
"Zal, dah hampir jam 10 aku pulang duluan ya" pamitnya
"Owh ya, boleh aku antar? kalau nggak keberatan sih" aku berharap dia setuju
"Makasih Zal, aku bawa motor kok dah ya" Fanesa beranjak meninggalkan kursinya
"Hati-hati Nes, kapan-kapan sambung lagi ngobrolnya" pesanku
Fanesa mengacungkan jempol tanda setuju.
Senyumku kembali merekah puas, ada sesuatu yang menggelitik hati. Tanpa aku sadari dua pasang mata mengawasiku. Siapa lagi kalau bukan Gio dan kak Fandri.
"Ketemu mantan bro?" seloroh kak Fandri
aku terkek
"Bukan mantan tapi calon hahaa, doain ya kak"
"eits harus ada pajak jadian dong hehehe" Gio ikut urun rembug juga. Kami bertiga tertawa gembira sekali rasanya. Jam 12 malam coffeshop tutup, setelah berkemas kami segera pulang.
Hari ini genap satu minggu sejak pertemuanku dengan Fanesa. Dan sesuai pembicaraan lewat telephon pagi ini aku akan kerumahnya.
Mengapa aku merasa sangat gugup seperti ini? entahlah. Bukankah Fanesa adalah orang yang sama dengan yang sering bersamaku dulu? tapi entahlah sepertinya saat ini dadaku penuh dengan bongkahan batu yang menghimpit jalan nafasku.
Sreeettt aroma woody watery menyeruak penuhi inderaku, setidaknya harum aquaticnya menenangkan gemuruh ini.
hhhhh... tenangkan diri Zaldy.
"Assalamualaikum" suaraku memecahkan suasana hening di rumah Fanesa. Memang hanya ayah ibu Fanesa dan seorang bibi yang menghuninya.
"Assalamualaikum" aku mengulang salamku, mungkin memang nggak ada orang. Aku hendak menekan icon telephon ketika seseorang menjawab salam.
"Waalaikum sallam, ayok masuk dulu Zal" Fanesa mempersilahkanku.
"Pada kemana Nes? kok sepi?" aku mengikutinya duduk.
"Iya, kebetulan ayah dan ibu kerumah uwak, ada acara selapanan cucu pertama. Mau aku buatin teh hangat Zal?" Fanesa beranjak dari kursinya.
"Boleh, tawar saja ya"
"Okay" Fanesa masuk kedalam, tak berapa lama keluar membawa dua gelas teh dan meletakkan di depanku."Diminum Zal"
"Makasih Nes" aku menyesapnya sedikit "mmm.. Nes, bagaimana kalau kita ke Pantai? lama kita gak ketemu kan? itung-itung merayakan kembali pertemuan ini" ajakku ragu-ragu.
"Mauuu.." jawabnya semangat.
Sungguh diluar dugaanku. Ataukah Fanesa juga merasakan hal yang sama denganku saat ini?
Entahlah. Yang pasti langkah kakiku semakin mantap keluar dari halaman rumah Fanesa.
Rasanya aku seperti dejavu ketika spontan tangan Fanesa melingkar di perutku. "Awas Zal, jalannya banyak lubang" katanya mengingatkanku. Semakin kurasakan dekapan eratnya.
Ahh andai saja aku bisa mengambil kesempatan kedua.
"Zal, bantu aku lepasin helm ini" Suara Fanesa bersaing dengan detak jantungku. Aku menoleh ke arah Fanesa, tangannya masih memegang pengait helm yang susah dilepasnya.
"Sini aku bukain" kami saling mendekat, berhadapan hingga jarak wajah kami hanya beberapa centi. Kurasakan hembus nafas hangat yang membuncahkan rasa di dalam sini.
Fanesa menatapku sekilas, tampak rona merah di pipinya saat mata kami saling pandang.
"Nah sudah, ayok" kataku menenangkan gemuruh di hatiku.
"Makasih Zal, ayok" kami melangkah menuju pantai. Fanesa berlari kecil menuju bibir pantai kecipak air tampak mencuat menyentuh betisnya yang ramping. Tawa kecilnya tak henti keluar dari bibirnya.
Bahagianya bisa selalu melihatnya tertawa.
"Kejar aku Zal" dia berlari menjauh aku terpancing mengejarnya, tak akan aku sia-siakan kebersamaan ini sedetik pun.
Kaki kami sibuk menyibak ombak kecil yang mulai pasang. Ubur-ubur mendekat silih berganti. Walau silau matahari yang panasnya perih menyentuh kulitku aku tak perduli. Semakin tenang hati ini tenggelam dalam tawanya.
Ya Tuhan, indah nian ciptaanMu. Dalam hati aku bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan Fanesa, kisahku yang tertunda.
Fanesa menghentikan langkah. Pakaian kami sudah basah karena percikan air yang kami mainkan. Wajah Fanesa semakin ayu. ahh andai saja kisahku benar-benar menjadi milikku.
"Zal, basah" dia tunjukkan kaos yang dipakainya.
"trus?" tanyaku menggodanya
"Ke sana yok" Fanesa menunjuk pedagang kaos di deretan cindera mata.
Kami keluar dari Pantai sesuai keinginan Fanesa.
Setelah kami mendapatkan kaos yang pas akhirnya kami ke kamar mandi. Banyak juga pengunjung hari ini kemungkinan masih liburan sekolah jadi masih banyak wisatawan yang singgah di sini.
Kami mengantre di depan kamar mandi, namun Fanesa yang masuk lebih dulu karena sudah tiba antreannya. Aku masih menunggu, tak berapa lama pintu terbuka, aku segera membersihkan badan seadanya. Kupakai setelan kaos dan Celana pendek yang kubeli tadi. kemudian...
"Zal, kok kaos kita sama?" teriak Fanesa riang sekali, padahal kami membelinya di penjual yang terpisah. Mataku membulat mengamati seseorang di depan sana.
"Ah ya kok bisa sehati ya kita" aku tersenyum menggodanya, kulihat lagi wajahnya memerah. Sungguh Ciptaan Tuhan yang paling indah yang aku temui saat ini.
Hari mulai sore ketika pengunjung mulai sepi. Tanpa aku sadari ada yang protes di sini, seakan cacing di perutku mulai menggeliat kelaparan.
Aku gandeng tangan Fanesa seperti dulu, Fanesa menatap tanganku kemudian melihat ke arahku. Aku mengangguk, selanjutnya berjalan sejajar denganku.
"Nes, kalau seperti ini ingat saat-saat itu ya" aku lirik kearahnya. Dia mengangguk dan menundukkan kepala. Aku sengaja hentakkan tangannya agar dia menatapku. Rasanya aku ingin ungkapkan rasa yang hampir meledak ini.
"Iya, kita selalu bersama kemanapun" katanya lirih.
Aku mulai menangkap kesedihan dari ucapannya.
kulepaskan genggamanku saat kami sampai di tempat penjual bakso.
"Dan tempat ini.." katanya lagi dengan kalimat menggantung yang mengundang penasaranku
"Tempat ini .. kenapa Nes?" tanyaku, aku lihat wajahnya mulai berubah muram, kemudian menunduk dan mengaduk mie bakso didepannya.
Aku pegang tangannya, mungkin bisa menguatkannya untuk melanjutkan sebaris kalimat yang terputus tadi.
"Terakhir saat kebersamaan itu" kini kulihat air bening menetes dari susut matanya. Tangan lembutnya mengusapnya dengan tishu.
Aku kini menjauhkan kursiku agar bisa menatapnya. Ku pegang pundaknya dengan kedua tanganku. Ya Tuhan sedemikian terlukanya Fanesa karena komitmen kami waktu itu.
"Fanesa, maafkan kekonyolan waktu itu. Seharusnya memang kita tidak perlu malu mengakuinya bukan?"
Fanesa mengangguk aku lihat perlahan kesedihan itu pudar
"Zal, bisakah kita ulang kembali saat itu? aku ingin kebersamaan itu nyata" Fanesa menghela nafas.
"Jadi.. maksudnya?" tanyaku ingin kepastiannya.
"Maukah kau menjadikanku kekasihmu, aku merindukanmu Zal" Dia menatapku. kulihat dalam manik matanya semua kejujuran yang terungkap di sana.
Ciaa.. apakah ini berarti Fanesa menyatakan Cintanya..? dia menembakkuuu. Aku bersorak dalam hati.
"Cukup hanya kekasih?" tanyaku masih ingin tahu sejauh mana harapannya.
"mmh...mmhh... aku maluu" katanya tiba-tiba, dia tepis kedua tanganku.
Aduuhhh.. semakin meleleh hatiku di buatnya.
Aku tersenyum melihat tingkah lucunya.
Ya Allah sekian lamanya Engkau pisahkan kami, aku baru tahu rencana indahmu. Ternyata perpisahan itu membuat kami saling mengerti bahwa sebenarnya kami saling merindu dan menginginkan kebersamaan itu. Inilah kesempatan kedua yang tidak akan aku sia-siakan. Aku akan wujudkan kisah itu menjadi indah dan tak terlupakan seumur hidup kami.
"Bagaimana kalau aku menerimamu sebagai istriku?" Tanpa ragu lagi aku gantian menembaknya. Kembali kupegang kedua pundaknya, kali ini kami saling berhadapan sangat dekat, mata indahnya seakan menjawab pintaku.
"Benarkah kamu mau Nes?" tanyaku terharu. Fanesa mengangguk.
"Benarkah? aku ingin dengar jawabanmu Fanesa" Semakin kuat gemuruh ini kurasa, demi menunggu dua kata yang aku harapkan.
"Aku mau" Jawabnya tegas, ada senyum mengembang dibibirnya. Ya Allah terimakasih.
Kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku untuk pertama kalinya. Kurasakan degup jantung saling bersahutan.
"Terimakasih Nes" dan untuk pertama kalinya aku kecup keningnya. Kurasakan betapa indah senja ini. Aku tak peduli dengan penjual bakso yang melongo menatap kami.
"Sudah hampir petang, kita harus pulang" aku berdiri merangkul pundak Fanesa, meninggalkan selembar uang ratusan untuk penjual bakso
"kembaliannya ambil mas" kataku, berbagi kebahagiaan dengannya.
"Terimakasih ya, semoga SaMaWa" doanya
"Aamiin" jawab kami. kami tersenyum penuh arti.
Bahagia bersama seakan didepan mata. Akan aku jadikan kau kisah indah dan selalu terindah dalam setiap nafasku Fanesa.
Terimakasih Ya Allah. Sejauh kakiku melangkah ternyata Engkau telah siapkan RencaMu untukku.
Kami meninggalkan pantai, ingin segera sampai di rumah dan menyusun segala sesuatunya. Semua sudah terunut dalam fikiranku. Aku akan segera melanjutkan kisah ini. Minta ijin kepada ayah dan ibu Fanesa untuk membawa anaknya mengarungi samudra kehidupan ini. Selanjutnya minta restu ayah dan ibuku.
Sungguh kisah indah yang tak terlupakan sejauh mana kakiku melangkah.
❤❤❤❤Terimakasih❤❤❤❤