Kebohonganku ‘memakan’ diriku sendiri. Jika kurenungkan masalah ini dari awal memang benar.
Apa sebenarnya yang sedang aku lakukan. Menjadi orang lain? Tidak menjadi Feyunna Marguerite yang sebenarnya. Dan anehnya aku senang dengan ini semua.
Terkenal?
Aku sudah mendapatkannya. Tapi ini bukan aku. Dan aku masih menikmati keadaan ini.
Senggolan lengan Aleysha membuyarkan segala renungan singkatku beberapa saat tadi.
Seseorang yang siap menjejalkan ilmu memuakkan pada kami sudah datang.
Suasana kelas yang sedang gaduh berubah cepat menjadi ruang hantu tanpa suara.
Aku benci pelajaran Matematika!
Kulirik Leysha disebelahku, dia senantiasa mendengarkan, mengamati dan mencatat segala kalimat yang diterangkan wanita paruh baya yang ada di depan kelas itu.
Jelas saja senang, dia siswi cerdas.
Kualihkan pandanganku kesana kemari.
Aku bosan disini.
Aku merogoh saku seragamku mencari-cari sahabatku di dalam sana.
Handphone adalah sahabatku selain Aleysha.
‘1 pesan diterima…’
"From : Agam Sialan tapi Tampan!"
Besok hari minggu kan? kita kencan! Dan itu harus! Hah... Bagaimana ya cara Penakluk Pria berkencan? Kkhh Sampai besok sayang.. ”
“Sayang? Apa-apaaaaaannnnnnnn ini???!!!”
Ahh.. Bodohnya aku! Ini kan masih di dalam kelas!!!
Aku mengangkat tundukan kepalaku malu.
Benar saja. Semua manusia yang ada di ruangan ini sedang menatap ke arahku. Tak terkecuali wanita berkacamata yang ada di depan papan tulis itu.
Senyum memalukan yang kupancarkan dari wajahku masih membuat wanita itu geram menahan amarahnya.
"M-maafkan aku.”
“Jika kau sekali lagi mengganggu pelajaran ini, bersiaplah berdiri menemaniku mengajar di depan teman-temanmu Nona Marguerite!”
Aku terdiam menganggukkan kepalaku,
Akan kukemanakan wajahku setelah ini!?
***
Teng... Teng... Teng!
Akhirnya bel istirahat tiba juga, Sungguh melegakan bagiku, setelah tadi berjuang mati-matian dengan angka-angka laknat itu!
Aku membereskan semua peralatan tulisku, lalu memasukkan nya kedalam tas.
"Waktunya Makan siang..." Gumamku pelan, setelah selesai membereskan peralatan tulisku.
Belum sempat aku berdiri dari tempat dudukku, tiba-tiba saja beberapa murid kelas lain datang berlari menghampiri ku.
"Kyaaaaaaaaaaaaa!!! Syukurlah kau belum Pergi ke kantin Yunna!" Seru gadis berambut coklat ikal pendek padaku. Lalu ia mengambil kursi lain, untuk duduk dihadapan ku.
Aku mengernyit bingung melihat mereka berdua.
"Hehehe. Seperti biasa." Jawab murid perempuan sebelah nya lagi, yang berambut merah panjang. Yang ku ketahui dia bernama Sara Astrada.
"Cinta?" Tebakku sembari meletakkan kepala di atas meja bangku malas.
"Tepat!" Seru Sara dan Mia bersamaan.
Aku mengehela napas mendengar jawabannya. Sebelum aku mulai berceloteh panjang lebar tentang akan Hal Cinta.
Note : Aku bahkan tidak tau, apa itu cinta yang sesungguhnya?
Apa kalian tau?
.
.
.
Setelah Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya kami sudah sampai di depan rumahku.
Ck! Kenapa dia harus mengantarku pulang!?
"Sudah sampai." Ucapnya tersenyum manis.
"Aku tau." aku menggerlingkan Mataku, menatapnya kesal.
"Terimakasih sudah mengantarku." Ucapku datar, sembari akan membuka pintu mobil.
Belum sempat aku turun dari mobil sportnya, tiba-tiba saja tanganku ada yang menarik kebelakang?
Coba tebak siapa???
Siapa lagi kalau bukan si pirang tampan nan menyebalkan itu!?
"E-ekh!!!"
Brukh!
Aku membalikkan tubuhku cepat, Karena tarikan Agam yang tiba-tiba, reflek tubuhku kembali masuk kedalam mobil dan menubruk badan Agam.
Cup!
Hn?
Aku menautkan kedua alisku berpikir, tadi itu apa?
"Jangan lupa sore ini." Ucapnya membuyarkan pemikiran ku barusan.
"A-apa?? Sore??"
"Tentu saja... Kau lupa?" Tanyanya dengan Senyum manis lucunya.
"Hn."
Aku menghela napas pasrah ketika melihat tatapan nya itu. Kuanggukan kepalaku sembari bersiap keluar dari mobilnya.
Tak lupa kulambaikan tanganku kearahnya.
***
Aku duduk di bangku yang sedikit lembab ini sembari memutar-mutarkan Handphone, menunggu seseorang.
Banyak pasangan kekasih yang berlalu lalang di taman ini.
Melihat mereka bergandengan, berpelukan bahkan ada yang berciuman membuatku semakin gelisah melihatnya.
Sesekali kurapikan rambut hitam bergelombangku yang sengaja kuurai. berkali-kali aku memastikan apakah sudah cukup menawan aku sekarang ini?
Tak berapa lama datang seseorang yang sudah kutunggu dari 15menit yang lalu, dia menghampiriku dengan sedikit berlari.
“Haah.. Haah.. Maaf aku terlambat, tadi ada sedikit urusan.”
Kening Agam sedikit berkeringat, wajah berminyaknya tidak mempengaruhi ketampanannya.
Baru pertama kali ini aku melihat dia memakai baju Casual.
Ah, apa ini??? Apa aku terpesona lagi dengannya.
“Kenapa? aku tampan ya?”
“Fppt Jangan bergurau! Aahh..cepat katakan kita akan kemana hari ini?”
Agam tersenyum dan seperti biasa, dia lebih memilih menarik lenganku daripada menjawab pertanyaanku.
*
Aku tidak tau ini jalan apa dan daerah mana. Tiba-tiba saja mobilnya berhenti.
Apakah sudah sampai?
“Hei... Kau bawa kemana aku ini sebenarnya?”
Masih dalam keadaan menarik lenganku.
Agam tidak menjawab lagi dan tetap lebih memilih tanganku yang ditariknya memasuki gedung berwarna putih ini.
Tak sempat kubaca gedung apa ini, Agam menarikku dengan buru-buru.
Sedari tadi aku hanya berjalan mengikutinya. Kulihat di sepanjang lorong ini ada banyak sekali pintu yang berjajar seperti bangunan Hotel saja.
“Hotel?”
Tiba-tiba darahku berdesir hebat. Sebelum aku bersuara tanpa kusadari kami berdua sudah berada di sebuah kamar sweet dengan pintu kamar yang sudah tertutup.
Agam mulai menatapku lekat.
Aku tidak tau akan ‘kemana’ tujuan kami berdua ini.
Tiba-tiba dia memegang kedua bahuku. Dan Tiba-tiba saja, Dia memelukku.
Sebenarnya ini hanya pelukan biasa. Tapi aku tidak pernah berpelukan sebelumnya dengan laki-laki selain Ayahku.
Jantungku serasa ingin keluar dari lindungan tulang rusukku saat aku mulai merasakan hidung Agam menyentuh leherku.
“Akh! T-tunggu sebentar Agam!”
Kudorong dada bidang Agam. Dan aku berhasil melepaskan diri darinya. Aku menatap wajahnya terkejut
'Apa-Apaan ini!? Tidak mungkin dia akan melakukan hal 'itu'!?
“Kenapa Hm?”
“Bukan seperti ini cara Feyunna Marguerite berkencan.”
Balasku sedikit gugup, berusaha menghilangkan rasa terkejut ku pada kenyataannya.
“Ah benarkah? kukira kau akan menyetujui ini. SO?, Bagaimana caramu berkencan dengan laki-laki?"
“Ikut aku. Akan kutunjukkan padamu.”
Seruku sembari menarik lengan Agam penuh semangat, dan berlari mengajak nya pergi keluar dari gedung laknat itu.
***
Kami berdua sudah berkeringat. Baju yang kami kenakan juga sudah basah karena peluh disekujur tubuh kami masing-masing.
Aku membiarkan Agam mengambil nafas.
“Sudah jelas kau kalah Agam... Hahaha ini sudah 5-0!!”
“Haah~ baiklah, jelas saja kau yang menang! Aku kan atlet Basket bukan atlet Tennis! Haah..”
Dilapangan Tennis yang luas ini aku dan Agam berlomba mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena sudah dari 2 jam yang lalu aku melawannya bermain Tennis, dan akulah pemenangnya!
Kami benar-benar kelelahan kali ini, untuk pemula bermain Tennis Agam cukup bagus karena 2 jam tanpa istirahat dia melawan Feyunna Marguerite atlet Tennis pemenang kejuaraan lomba Tennis di kota Seoul selama 2 tahun berturut-turut.
Serendah-rendahnya ‘Nama belakangku’, aku masih punya secuil prestasi yang bisa dan ’Layak’ kupamerkan pada semua orang, yaitu Tennis.
Ahh.. Senja datang.
Seharian ini aku bersama dengan Agam.
Kuaduk-aduk sirup berwarna merah jambu yang ada di dalam gelas ini agar warnanya bercampur rata dengan air es diatasnya.
Sepertinya aku sedikit malu karena aku mengetahui sedari tadi Agam terus menatapku dengan senyuman tampannya.
Sebenarnya seperti apa aku ini di matanya?
Aku tak tahan ditatap olehnya seperti itu sehingga aku mulai bersuara.
“Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?”
“Tidak.. Aku senang menatapmu, sebenarnya pribadimu tidak sesombong dan secongkak saat kau disekolah. Kau gadis yang baik.”
“Apa katamu?”
“Aku sekarang ini sedang membanding-bandingkanmu dengan beberapa wanita yang aku kencani dulu. Mereka sama, jika sudah kubelikan sesuatu mereka akan merajalela mengamati sisa uang yang ada di dompetku. Dan, jika aku sudah mulai memeluk mereka, mereka akan dengan senang hati dan rela menyerahkan tubuh mereka padaku. Jika sudah seperti itu aku jadi malas untuk meniduri mereka, karena sudah jelas jika seperti itu aku bukan yang pertama untuk mereka.”
Aku mendengar Agam berbicara panjang lebar seperti pria dewasa yang bijaksana, aku terpesona.
Kali ini bukan karena wajahnya, tapi karena ‘Agam yang sesungguhnya’.
“Dan kau kira aku sama seperti mereka? Hei! Jaga bicaramu Tuan Agam Pratama Rajendra!”
Ck! Ingin rasanya aku menjitakknya!
“Hahahaha! Maaf, awalnya kukira kau seperti itu. Ternyata aku salah.”
“Cih!”
Agam tersenyum didepanku, aku damai melihat wajahnya yang seperti ini.
10 menit kami fokus menghabiskan minuman yang ada di depan kami, sebelum Agam membuka suaranya.
“ Feyunna Marguerite.”
“Hmm?”
“Kau… Berpeluang besar membuatku jatuh cinta padamu.”
"A-Apa?" Aku membelalakkan kedua mataku terkejut. Apa yang dia katakan tadi? Kenapa tiba-tiba aku berdebar-debar seperti ini?
Apa itu cara dia menaklukkan seorang Perempuan?
Kulihat Agam berdiri dan berjalan membelakangiku.
“Ayo cepat! kuantar pulang.”
Aku masih terhipnotis dengan kalimatnya beberapa detik yang lalu. Aku melihatnya yang berdiri satu meter dari tempat dudukku, dia masih memunggungi aku, sedetik kemudian Agam menengokkan kepalanya. Dia mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum kemudian dia berkata.
“Ayo cepat, Sayang..”
Ahh dia memanggilku dengan sebutan itu lagi, tahukah kau aku selalu Meleleh bagai lilin yang dimakan api saat kau mengucapkan kata ‘Sayang’ dengan senyum yang paling kusukai seperti itu.
Bagaimana mungkin aku membiarkan uluran tanganmu kosong tanpa ada yang menggenggam seperti itu.
Jika sudah seperti ini aku rela menjadi kekasihmu, Walaupun palsu seperti sekarang.
Agam Pratama Rajendra, mungkin aku sudah gila.
Aku... mulai menyukaimu secara ‘hati’ bukan menyukaimu secara ‘raga’.
-Fin-