“Ssstttt, hei”, seru seseorang dengan nada berbisik
“Iya, ada apa?”, menyamakan nada suara yang memanggilnya
“Lihat”, sambil menunjuk layar Hp-nya
“Apaan sih, lagi belajar ini, Alan”, gerutu di seberang bangku lagi
Berkali-kali orang yang dipanggil Alan itu mengganggu temannya yang tengah fokus mendengarkan materi dari dosen di depannya. Namun, tak digubris oleh temannya itu.
30 menit berlalu
“Baiklah, sekian mata kuliah untuk hari ini, ingat kalian harus menampilkan presentasi yang terbaik, karena saya tidak memberi kalian ujian diakhir semester nanti” ucap Dosen itu sambil membereskan perlengkapan mengajarnya dan berlalu dari ruang kelas.
“Terima kasih pak” seru mahasiswa mengantar kepergian dosen dari ruang kelas.
“Hei, Saga, sekarang mau merencanakan apa nih?”, ucap Alan yang berada di depan Saga.
“Kayaknya aku nyerah Lan”, balas Saga lesuh
“Kok, cuma sampai disini perjuangan sang pejuang cinta kita”
“Kamu kan tahu sendiri, dia responnya datar-datar aja”
“Semua itu butuh proses Ga, sabar aja”
“Iya aku tahu, tapi kayaknya aku selesai sampai disini saja Lan. Kalau memang kita digariskan bersama, palingan nanti ketemu”, ucap Saga pasrah
“Iya juga sih, tapi tidak ada salahnya kan berusaha”
“Coba kau hitung berapa kali aku berusaha dekatin dia?, sudah berkali-kali Lan, dianya cuma anggap biasa saja”
“Kamu kan tahu sendiri, dia orangnya seperti apa. Yah, pantas kalau dia cuma respon biasa-biasa saja”
“Iya, kita sudah sama-sama dewasa loh Lan, masa dia tidak paham sih”
“Dewasa atau tidaknya orang itu tidak bisa kita ukur, kakak aku saja yang sudah menikah tingkahnya masih kayak anak-anak di depan suaminya”
“Pokoknya aku nyerah Lan”
“Aku sih tidak memaksa yah, cuman nanti takutnya diambil orang kan sakit juga”
“Yah, kalau masalah itu, . . . . . aku pasrah aja Lan”
“Oke, mending kita ke kantin, lapar nih”
“Oke”
Saga dan Alan berjalan beriringan menuju kanting tidak jauh dari ruang kelasnya yang hanya berjarak satu lantai. Mereka langsung mengantri untuk mengambil makanan yang mereka inginkan.
Ditengah menikmati makanan, tiba-tiba pandangan Alan tidak sengaja menangkap seseorang yang akhir-akhir ini mengguncang perasaan temannya, Saga.
“Ga, coba kamu lihat dimeja sana”
Saga langsung mengalihkan perhatiannya ke meja yang ditunjuk oleh Alan. Seketika perih terasa dihatinya kala melihat perempuan yang selama ini dikejarnya tengah makan bersama dengan seorang laki-laki sambil sesekali bercanda.
“Ini nih, yang selama ini kukhawatirkan, Ga”
“Pasrah ajalah, pasrah . . . pasrah”
“Yang kuat bro, mending kita cepat habisin makanan kita, lalu segera pergi dari sini”
“Hmmm”
Saga selama ini memendan rasa dengan seorang gadis yang satu fakultas dan beda jurusan dengannya. Sudah bermacam cara dia lakukan untuk mendekati gadis itu, tapi tidak mendapatkan respon berarti untuk Saga. Kali ini ia memutuskan untuk berhenti mengejar gadis itu dikarenakan tidak mendapat tanda-tanda bahwa gadis itu menerimanya ditambah lagi pemandangan yang dilihatnya di kantin membuatnya semakin teguh untuk menyelesaikan perjuangannya sampai disini saja.
Berbulan-bulan berlalu, perlahan-lahan Saga dapat melupakan perasaannya dan memfokuskan diri untuk belajar karena sebentar lagi ia akan menyelesaikan kuliahnya dan tengah menanti ujian sidangnya.
*****
Tiga tahun berlalu . . . . .
“Tok . . . tok . . . tok . . .”
“Iya, masuk”
“Pak, ada seseorang yang mau bertemu bapak”
“Siapa?”
“Katanya dia seorang penulis yang sedang melakukan riset dan telah membuat janji ketemu dengan bapak”
“Oh, saya hampir lupa, suruh dia menunggu di meja biasa”
“Baik pak, saya permisi dulu”
Tak butuh lama orang itu menyelesaikan pekerjaannya dan langsung keluar menemui orang yang menunggunya.
“Mohon maaf menunggu la . . . ., ma”, pria itu kaget dengan orang yang duduk di depannya. Setelah sekian lama, ia bertemu kembali dengannya.
“Saga kan?” tanya wanita itu.
“Eh. . . iyah, kamu Nalaya kan?” ucapnya gugup
“Gak nyangka kita dipertemukan dengan cara seperti ini yah, kamu apa kabar?” wanita itu kembali bertanya.
“I. .iya, baik, kamu?”
“Seperti yang kamu lihat saat ini”
Setelah obrolan basa-basi itu, mereka akhirnya membicarakan tujuan awal mereka bertemu. Selama obrolan mereka, Saga tak henti-henti bersorak dalam hati, ia tidak menyangka bertemu dengan gadis pujaannya semasa kuliah dulu. Dia tidak berubah, tetap seperti itu. Setelah membahas pekerjaan, Saga mengajak Nalaya jalan-jalan dengan maksud reuni dengan wanita itu dan wanita itu langsung mengiyakan.
“Kamu sudah lama jadi penulis?” Tanya Saga memulai obrolan
“Baru dua tahun ini resmi jadi penulis, tetapi sebenarnya itu cuma kerjaan sampingan. Aku ada buka toko kue di dekat perbatasan kota ini. Mungkin lain waktu kamu bisa mampir”
“Pasti aku akan mampir. Kamu tidak berubah yah, masih sama seperti dulu, cantik, murah senyum, ramah sama orang sampai ada yang baper, ha ha ha ha”
“Aku tidak pernah berniat membuat orang baper, orangnya aja yang mudah terlena, ngaku aja, ha ha ha ha”
“Iya juga sih”
“Oh, iya, Ga, dulu kamu kok tiba-tiba menghindar gitu sama aku? Jujur loh, aku kayak merasa bersalah sampai sekarangpun begitu”
“Biasalah, dulu kan kita sama-sama sudah semester akhir, jadi aku mau fokus dulu. Oh, iya Nala, kamu tidak takut jalan sama aku?”
“Kenapa harus takut?, memangnya kamu ini psikopat”
“Yah, tidak, cuman nanti ada yang cemburu gitu”
“Siapa yang cemburu?”
“Yah, pacar atau mungkin suami kamu”
“hahahhh, aku gak ada pacar kali apalagi suami”
“Beneran?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Terus, dulu kamu kan tahu aku selalu berusaha dekatin kamu dan kamu tidak memberi respon, aku pikir kamu sudah ada yang punya”
“Saga, apakah aku harus bilang aku mencintaimu baru kamu akan anggap aku menerimamu?”
“Yah, haruslah biar hubungan menjadi jelas”
“Menurutku, dengan perlakuan aku dulu yang sering mendekatimu, meminta bantuanmu dan lain-lain itu sudah membuktikannya”
“Jadi, dulu kamu terima aku?”
“Apakah aku harus bilang iya?”
“IYAA”, Saga langsung memeluk Nala mengeluarkan semua perasaan bahagianya. Mereka tidak menyadari senja kini telah muncul menjadi saksi resminya hubungan mereka.