Ingin menerima kenyataan bahwasanya kami memang tidak bisa bersama. Berharap jika persahabatan ini bisa mengubah kehidupanku, tapi nyatanya tidak bisa. Tuhan tidak berkehendak. Hanya bisa mengaguminya dalam diam, tersenyum melihat tingkahnya, jantung berdegup kencang disaat dia berada di sampingku dan hatiku luluh saat melihat dia tersenyum manis menampilkan deretan gigi putihnya.
Baiklah, hal yang harus kulakukan adalah mencintainya dalam diam.
Pernahkah kau mengalami jatuh cinta kepada seseorang? Tapi sayangnya kau tidak bisa mengatakan perasaanmu kepada orang itu. Takut jika dia menjauhimu saat dia mengetahui perasaanmu atau pertemanan kalian renggang karena rasa canggung. Mungkin setiap orang presepsinya berbeda-beda. Ada yang berani langsung mengungkapkan perasaannya, ada yang diam-diam memendam perasaannya yang entah sampai kapan dia akan jujur kepada orang yang dia incar, dan ada pula yang langsung menyerah begitu saja. Kalian termasuk pilihan yang mana? Maju, bertahan, atau menyerah?
"Nia!!" Suara yang tak asing bagi sosok perempuan yang di panggil. Nia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok lelaki yang dia kenal sedang berlari kecil menghampirinya.
"Kenapa tidak menungguku, huh?" Ketus lelaki itu saat sudah sampai di samping Nia.
Nia terkekeh, "Aku kira kau ada kelas lagi, jadi aku putuskan untuk pulang duluan."
"Sebenarnya ada sih, tapi aku bolos karena tidak suka pelajarannya." Jawab lelaki itu sambil cengar cengir.
Nia langsung melontarkan tangannya dan menjitak kepala lelaki itu, "Dasar berandalan! Sana kembali masuk, nanti nilaimu terancam bodoh!"
"Tidak akan. Aku sudah minta tolong sama Ryan untuk menyelamatkanku. Lagian kau tahu sendirikan pelajaran Pak Tono membuatku stress. Bisa gila aku kalau mendengar ocehannya."
Nia berdecih kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena temannya itu. Ya, dia adalah Dhyto, teman masa kecilnya yang dia cintai dalam diam. Dan sampai sekarang Dhyto tidak pernah menyadari perasaan Nia kepadanya.
"Nia! Kau meninggalkanku lagi!" Teriak Dhyto sampai di lihat beberapa mahasiswa, tapi dia menghiraukannya.
"Tidak usah lebay. Lari dan susul aku jika kau tidak ingin tertinggal jauh." Jawab Nia setengah berteriak.
"Dasar anak itu."
***
Malam harinya di kediaman Nia.
"Iya aku dengar begitu, dia mengundang Dhyto. Kau di undang tidak?" Ucap seseorang di balik telefon.
"Tidak. Lagian jika aku di undang untuk apa aku datang? Aku hanya akan merusak suasana." Jawab Nia sambil menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Kau jangan begitu. Tahu sendiri kan kalau Silvi suka sama Dhyto, begitupun sebaliknya. Kalau mereka pacaran gimana?"
Mendengar itu Nia menghentikan aktivitasnya, dia menatap dirinya di depan cermin kemudian tersenyum tipis.
"Itu urusan mereka, bukan urusanku Bella."
Terdengar di seberang sana Bella menghela nafas kasar, "Jangan munafik, aku tahu kau mencintai Dhyto. Apa kau akan menyerah begitu saja? Kau seperti bukan Nia yang kukenal."
Nia terkekeh mendengar penuturan Bella, "Aku bahagia jika Dhyto bahagia. Aku tidak bisa memaksa perasaannya untuk mencintai diriku. Jika aku melakukan itu maka aku yang akan tersiksa dan hubungan kami pasti tidak akan bertahan lama ."
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi, tapi aku harap kau bisa menemukan seseorang yang mencintaimu juga dengan tulus."
"Hmm, kalau begitu sudah dulu ya, aku mengantuk."
"Baiklah, selamat malam." Setelah Bella mengatakan itu panggilan pun terputus.
Nia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disana.
"Mau dengan siapapun kau bersanding, aku adalah orang pertama yang mendukungmu. Walau hatiku hancur tidak apa-apa, asalkan kau bahagia dengan wanita pilihanmu maka aku juga bahagia." Gumam Nia dengan mata berkaca-kaca. Dia menutup kedua matanya dan membiarkan air matanya lolos begitu saja membasahi wajah cantiknya.
***
Keesokan harinya, Nia beraktivitas seperti biasa. Bangun tidur, mandi, sarapan dan berangkat kuliah. Dia berjalan menuju halte sambil mendengarkan lagu favoritnya.
Tak!
Seseorang melepaskan sebelah headsetnya, Nia berpaling dan melihat sahabatnya memasang wajah kesal.
"Kan sudah kubilang berangkat sama, kenapa meninggalkanku sih?" Ucap Dyhto kesal dan duduk di sebelah Nia.
Nia tersenyum tipis, "Aku kira kau sudah berangkat jadi aku pergi duluan."
"Lain kali harus barengan. Aku lelah tau pergi kerumahmu ternyata kau sudah pergi."
"Maafkan aku."
"Iya tidak apa, lain kali jangan di ulangi."
Setelah itu Nia dan Dhyto sama-sama terdiam dan beberapa menit kemudian bus datang dan mereka masuk ke dalam.
Selama di perjalanan mereka tidak bicara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tiba-tiba Dhyto membuka pembicaraan dan itu membuat Nia kaget.
"Nia, aku sudah pacaran dengan Silvi." Ucapnya dengan antusias.
Nia kaget langsung beralih menatap wajah sahabatnya itu, "Ka-kau pacaran dengannya?" Dhyto menggangguk.
"Sejak kapan?"
"Sekitar seminggu yang lalu. Maaf aku lupa memberitahumu."
Nia tersenyum kecut, "Tidak apa, akhirnya kau pacaran juga dengannya mengingat kau sangat menyukainya."
"Iya, aku juga tidak menyangka dia akan menerimaku."
"Selamat untuk kalian berdua."
Dhyto mengangguk, "Terimakasih. Kau datang ke party Silvi kan?"
Nia terdiam sesaat, tidak tahu akan datang atau tidak karena pasti dia tidak sanggup jika melihat orang yang dia sayang berada di samping wanita lain.
"Aku tidak di undang, jika pun aku di undang aku tidak akan datang."
"Kenapa begitu? Ah, karena Silvi bukan satu kelasmu? Tidak apa datang saja, kan ada aku. Nanti kalian bisa berkenalan.
Nia tersenyum tipis, "Lihat nanti ya, tapi aku tidak janji."
"Baiklah, kabari saja aku biar kita berangkat sama."
Nia hanya menganggukkan kepalanya dan beralih melihat dunia luar berbataskan jendela bus. Hatinya perih dan dia ingin sekali menangis saat itu juga. Sekuat tenaga dia menahan tangis agar Dhyto tidak mencurigainya.
"Ya Tuhan, saat ini aku ingin menghilang. Kenapa aku harus mencintai dia? Kenapa aku menaruh perasaan lebih kepadanya padahal aku tahu kalau dia tidak pernah menganggap aku sebagai wanitanya?" Batin Nia perih.
***
Di dalam Kelas.
"Nia!"
Itu suara Bella. Dia berlari dan menghampiri sahabatnya itu dengan tergesa-gesa.
"Hei Nia, kau sudah tahu bahwa---"
Belum sempat Bella melanjutkan omongannya, tangan Nia memberi tanda berhenti.
"Aku sudah tahu." Ucapnya sendu.
Bella meraup wajah Nia yang sedang menunduk, "Dhyto yang memberitahumu?" Nia hanya mengangguk.
"Dasar lelaki sampah!!" Maki Bella dengan suaranya yang lantang sampai mahasiswa yang berada di ruangan kelas melihat kearah mereka berdua. Berbeda dengan Bella yang masa bodoh dengan hal itu.
"Aku tidak kuat Bel, aku harus bagaimana?" Nia menangis. Air matanya lolos begitu saja.
Bella menatap wajah sahabatnya itu dengan sendu dan memeluknya.
"Lupakan dia Nia, dia tidak baik untukmu."
Nia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa. Tidak semudah itu."
Bella meleraikan pelukannya.
"Kau tahu? Dia berbicara soal itu dengan antusias. Aku bahkan tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa saat dia menceritakan kisah mereka. Rasanya aku ingin mengatakan kalau aku mencintai dia selama ini, tapi lidahku keluh." Nia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Hei, jangan seperti ini. Kau tidak boleh menangis karena cowok brengsek seperti dia. Look at me."
Bella menarik pelan tangan Nia yang menutup wajah cantiknya itu.
"Lihatlah, karena air mata ini make up mu jadi berantakan."
Bella mengambil tisu dan mengusap air mata Nia, "Aku yakin kau bisa melewati ini. Kau dan Dhyto tidak di takdirkan untuk ke jenjang lebih serius tapi kau masih bisa bersahabat dengannya bukan?" Nia hanya diam mendengarkan ucapan Bella.
"Tidak selamanya keinginan kita terwujud begitu saja. Mungkin Tuhan tidak mengijinkan kalian bersama karena Tuhan tahu Dhyto bukan lelaki yang pantas untukmu. Tuhan memberikanmu luka di hati karena dia tidak ingin kau jatuh lebih dalam lagi. Kau harus kuat, harus bisa menyingkirkan perasaan itu secara perlahan. Aku yakin kau bisa."
Nia menatap wajah Bella dan memeluknya sambil menangis, "Terimakasih telah menasehatiku. Entah apa jadinya jika aku tanpamu. Aku akan berusaha untuk melepaskan perasaan ini."
"Itulah gunanya sahabat bukan?"
"Tapi aku ingin jujur kepadanya."
Bella meleraikan pelukannya, "Apa kau yakin? Jika tidak siap lebih baik jangan."
"Aku yakin dan siap. Aku hanya ingin bagaimana tanggapan dia setelah mendengarnya. Aku lakukan ini agar hatiku juga lega."
"Baiklah jika itu keputusanmu. Kapan kau akan mengatakannya?"
Nia berfikir sejenak, "Mungkin malam ini, lebih cepat lebih bagus bukan?"
Bella tersenyum tipis, "Baiklah, semoga sukses. Nanti malam telfon aku oke?" Nia mengangguk.
Setelah itu mereka kembali ke bangku masing-masing dan pembelajaran pun di mulai.
***
Jam istirahat pun berlangsung. Nia berjalan ke kantin sendiri untuk mengisi perut kosongnya yang sudah kelaparan. Biasanya dia pergi bersama Bella tetapi Bella ada urusan organisasi jadi Nia terpaksa sendirian.
Saat berjalan, Nia tidak sengaja melihat Dhyto dengan Silvi berjalan ke arahnya sambil bergandengan tangan. Nia berbalik badan karena dia belum siap untuk pemandangan itu. Tapi apalah daya, belum sempat Nia berbalik, Dhyto sudah melihatnya dan langsung memanggil namanya.
"Nia!" Dhyto mengangkat tangannya dan menyuruh Nia menghampirinya.
Nia terpaksa tersenyum dan berjalan pelan ke arah mereka berdua.
"Mau kemana?" Tanya Dhyto merangkul erat pinggang Silvi dengan posesif seakan-akan dia tidak ingin kekasihnya itu memasang jarak sedikit pun.
Nia melihatnya hanya bisa tersenyum kecut meratapi nasib, "Harusnya aku yang kau perlakukan begitu Dhyto, bukan wanita itu." Batinnya.
"Hei, Nia. Kau tidak mendengarkanku?" Tangan Dhyto melambai di hadapannya dan Nia tersadar akan lamunannya.
"Ah maaf, kau mengatakan sesuatu?"
"Aku bilang kau mau kemana? Kau melamun apa sih?"
"Maaf, aku ingin ke kantin."
"Baguslah kalau begitu, kami juga ingin ke kantin. Kalau begitu barengan aja."
"Tapi aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua."
"Tidak mengganggu kok, sekalian biar kalian kenalan."
"Tapi aku---" Ucapan Nia terpotong.
"Sayang aku lapar. Ayo ke kantin, nanti keburu habis jam istirahat." Ucap Silvi sang kekasih Dhyto dengan manja.
Dhyto tersenyum gemas sambil menoel hidung Silvi, "Baiklah, ayo kita makan. Nia ayo, aku tidak menerima penolakan."
Nia menghela nafas kasar dan dengan terpaksa Nia mengikuti mereka berdua yang sudah berjalan duluan.
"Semoga kau kuat dengan situasi saat ini Nia." Gumamnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di kantin.
"Kalian duduk saja, biar aku yang pesan. Kalian mau makan apa?"
"Aku nasi soto ya sayang." Ucap Silvi.
"Aku nasi goreng aja." Jawab Nia.
"Oke tunggu sebentar ya. Sambil menungguku kalian mengobrollah."
Dhyto pergi dan kini menyisakan mereka berdua. Nia tersenyum simpul dan mengulurkan tangannya.
"Nia."
Silvi tersenyum dan membalasnya, "Silvi."
"Kamu jurusan apa?" Tanya Silvi.
"Akuntansi." Jawab Nia.
"Oh.. Aku Sistem Informasi." Ucap Silvi lembut.
"Iya, aku sudah tahu. Kamu sekelas Dhyto kan? Dia banyak bicara tentangmu."
"Benarkah? Dia bicara tentang apa?"
"Dia bilang kamu wanita yang baik. Dia sangat menyukaimu."
"Hahaha dasar anak itu. Hmm, kalau boleh tau Nia siapanya Dhyto?"
"Aku sahabatnya. Sahabat sejak kecil."
Silvi menganggukkan kepalanya, "Pantesan kalian sangat dekat dan akrab." Nia hanya tersenyum.
"Oh iya, lusa aku mengadakan birthday party. Party kecil-kecilan sih hehe, kamu datang ya."
"Kamu ngundang aku? Tapi kita kan gak sekelas, bukan satu jurusan juga."
"Tidak apa, kamu kan sahabat Dhyto. Datang ya?"
Nia terdiam sesaat, "Jika aku tidak sibuk aku akan datang." Silvi membalasnya dengan tangan berbentuk ok.
Tak lama Dhyto datang membawa makanan pesanan mereka dan segera melahapnya karena waktu istirahat akan segera habis.
Nia tidak sengaja melihat keromantisan Dhyto menyuap makanannya ke Silvi begitupun sebaliknya. Nia menahan sesak gemuruh di dadanya dan dia fokus ke makanannya agar cepat habis supaya dia bisa pergi dari tempat itu.
"Aku sudah selesai. Aku ke kelas duluan ya?" Ucap Nia setelah meneguk air putih.
"Cepat sekali makannya, kau ini kelaparan atau bagaimana?" Tanya Dhyto.
Nia terkekeh, "Iya aku kelaparan jadi cepat habis."
"Dasar. Yasudah kalau mau ke kelas pergilah duluan, Silvi masih belum habis makanannya."
"Baiklah aku pergi dulu." Dhyto menganggukkan kepalanya.
Belum sempat Nia melangkahkan kakinya, berhenti dan teringat sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Dhyto.
Nia ragu mengatakannya karena ada Silvi disana, Nia tidak ingin membuat Silvi salah paham. Dhyto yang paham pun membuka suara.
"Katakan saja, Silvi tidak keberatan."
Nia menghembuskan nafasnya, "Nanti malam bisa ke taman? Ada yang mau kusampaikan padamu."
"Tentang apa?" Tanya Dhyto.
"Datang saja, jam 8 aku tunggu."
"Baiklah."
Nia menatap Silvi yang sedang makan, "Maaf ya Silvi, aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku dan Dhyto ingin berbicara sesuatu yang penting. Jika kau merasa keberatan tidak apa, Dhyto tidak perlu datang."
Silvi menghentikan aktivitasnya, "Aku tidak keberatan sama sekali. Mungkin kalian punya urusan yang penting jadi aku tidak bisa melarangnya. Lagi pula kamu kan sahabat Dhyto jadi aku percaya sama kalian berdua."
Nia tersenyum, "Terimakasih. Yasudah aku ke kelas duluan ya." Nia segera pergi dari tempat itu dan mereka berdua saling melambaikan tangan.
Malam hari pun tiba, Nia duduk di taman sambil menunggu Dhyto. Sesekali Nia melirik jam tangan, sudah lewat 15 menit.
"Aish kemana anak itu? Tidak biasanya dia terlambat."
Tak lama kemudian Dhyto datang. Dia berlari menuju Nia.
"Huh.. huh.. Maaf aku telat. Tadi aku habis video call dengan Silvi." Ucap Dhyto ngos-ngosan.
Nia tersenyum kecut, ada rasa cemburu yang menjalar di hatinya, "Cih, dasar bucin."
Dhyto terkekeh, "So... Kau ingin bicara soal apa? Tumben mengajakku keluar. Biasanya kalau penting kau langsung bilang padaku."
Dhyto duduk di sebelah Nia dan menyandarkan punggungnya di kursi sembari mengusap keringatnya yang bercucuran mengggunakan sapu tangan.
Dhyto bingung karena Nia hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Ada apa? Apa ada masalah? Ceritakan saja padaku, aku siap mendengarnya."
Nia menarik nafasnya dengan perlahan, "Berjanjilah padaku, setelah aku mengatakan ini tolong jawab dengan jujur."
Dhyto sedikit bingung tapi dia segera menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin bertanya padamu." Ucap Nia serius.
Dhyto menaikkan salah satu alisnya, "Tanya soal apa?"
"Apa kau punya perasaan kepadaku? Entah itu sedikit, apa ada?" Tanya Nia hati-hati.
Dhyo terkejut dengan pertanyaan sahabatnya itu tapi tiba-tiba dia langsung tertawa, "Hahaha.. Kau bicara apa sih? Tiba-tiba bertanya soal perasaan. Sudahlah mungkin kau sedang lelah, ayo kita pulang."
Dhyto menarik pergelangan tangan Nia tapi Nia segera melepaskannya.
"Apa menurutmu pertanyaanku hanya lelucon bagimu? Aku bertanya serius Dhyto."
Dhyto menghela nafas, "Aku tidak mengerti apa maksudmu Nia, yang penting saat ini kau sedang lelah dan melantur yang tidak-tidak jadi ayo kita pulang."
Nia menggeleng, "Tidak, aku tahu kau paham apa yang aku maksud."
Nia menghela nafas pelan dan kembali menatap mata Dhyto dengan berkaca-kaca, "Aku mencintaimu, apa kau tidak sadar dengan hal itu?"
Dhyto hanya diam mendengar penuturan Nia.
"Aku tahu perasaanku ini salah, mencintai sahabatku sendiri yang ternyata sudah memiliki kekasih. Tetapi aku hanya ingin menyampaikan perasaanku ini agar aku lega. Aku lelah menyembunyikannya terus menerus. Maaf jika momennya tidak pas, tapi aku hanya ingin tahu apa kau pernah memiliki perasaan kepadaku? Perasaan antara lelaki dengan wanita?"
Dhyto menatap Nia dengan lembut, "Nia, kau tahu bukan kalau kita sudah bersahabat dari kecil. Kita bersahabat sudah 20 tahun lamanya. Selama 20 tahun itu aku hanya menganggapmu dan menyayangimu sebagai sahabatku saja, tidak lebih. Maafkan aku."
Tes...
Air mata meluncur begitu saja dari mata Nia tanpa disuruh oleh pemiliknya. Kakinya lemas dan dia tersungkur ke tanah begitu saja.
"Nia kumohon jangan begini. Jika kau begini yang ada aku makin merasa bersalah kepadamu karena tidak bisa membalas perasaanmu. Pikirkanlah hubungan persahabatan kita, aku tidak mau hubungan persahabatan kita hancur begitu saja." Ucap Dhtyo berjongkok di hadapan Nia.
Nia menggeleng kepalanya, "Tidak, kau tidak salah. Yang salah adalah aku. Aku yang salah karena mencintaimu dalam diam dan membiarkan perasaan itu menetap di hatiku. Seharusnya aku melenyapkan perasaan itu karena mustahil aku bisa memilikimu."
Dhyto menatap sendu sahabatnya itu, "Maafkan aku, kau tidak salah. Aku yang salah karena tidak bisa membalas perasaanmu. Aku---" Ucapan Dhyto terpotong karena ada panggilan dari handphonenya.
Dhyto mengambil handphonenya dari saku dan menatap layar. Sebelum mengangkat panggilan, Dhyto melihat kearah Nia, kemudian dia menekan tombol hijau.
"Ya sayang? Ada apa?" Jawab Dhyto.
Terdengar suara wanita berbicara dari balik handphone itu.
"Ah baiklah, aku akan kesana." Dhyto mematikan panggilannya.
Dhyto kembali menatap Nia yang masih tetap di posisinya.
"Maafkan aku tapi aku harus segera pergi, Silvi menyuruhku kerumahnya. Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu dulu baru aku akan kesana.''
Nia menggeleng kepalanya lagi, "Tidak, aku bisa pulang sendiri. Pergilah. Aku ingin sendirian saat ini."
Dhyto menghela nafasnya, "Baiklah kalau itu yang kau mau. Jangan pulang terlalu malam, tidak baik perempuan pulang terlalu larut."
Nia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku pergi ya, jangan bersedih lagi. Aku yakin kau pasti akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku." Dhyto mengusap lembut kepala Nia dan beranjak dari sana.
Tak lama setelah kepergian Dhyto, Nia menangis sekencang-kencangnya sambil memukul dadanya.
"Kenapa rasanya sakit ya, Tuhan?! KENAPAAAAA?!" Teriaknya.
Gluduk!
Terdengar suara petir menyahut dari atas langit, tidak lama kemudian rintikan hujan turun membasahi bumi.
"Ternyata langit pun tahu apa yang sedang aku alami sekarang." Ucap Nia miris sambil melebarkan telapak tangannya, merasakan rintikan hujan itu jatuh ke tangannya.
Nia bangkit dari duduknya dan berjalan tertatih meninggalkan tempat itu.
Nia mengambil handphonenya dan menghubungi sahabat tersayangnya.
"Halo Bella"
"Ah ya Nia, ada apa?"
"Aku sudah melakukannya."
"Benarkah? Jadi bagaimana? Apa yang terjadi? Bagaimana tanggapannya?"
Nia terkekeh pelan, "Banyak sekali pertanyaanmu, aku bingung mau yang mana kujawab."
"Hehehe, yasudah ceritakan saja apa yang terjadi."
Nia pun menceritakan kejadian yang baru saja dia alami. Nia bercerita sambil sesegukan. Dia kembali menangis.
Terdengar Bella menghela nafasnya, "Sudah kuduga dia akan seperti itu. Yasudah lupakanlah dia. Dia bukan yang terbaik untukmu."
"Aku akan melupakan perasaan ini. Terimakasih karena kamu selalu ada untukku Bella."
"Itulah gunanya sahabat bukan?"
Nia tersenyum di balik handphonenya, "Maaf jika aku belum bisa menjadi sahabat yang selalu ada buatmu. Maaf jika aku masih banyak kekurangan." Nia menahan tangisnya.
"Kau bicara apa? Kau sudah sempurna untuk menjadi sahabat terbaikku, tidak ada orang yang lebih baik sepertimu. Jangan bicara yang aneh-aneh!"
Nia terkekeh pelan, "Baiklah, maafkan aku. Terimakasih untuk semuanya, maaf jika aku ada salah padamu."
"Iya, aku memaafkanmu. Yasudah kau tidurlah, besok kita harus ke kampus. Jangan telat datang ya."
Nia hanya berdehem kecil sebagai jawaban.
"Okeee aku tidur duluan ya, babaaaayyy... Muach!" Setelah mengatakan itu Bella pun memutuskan panggilannya.
Nia menangis sekencang-kencangnya, tidak perduli dengan keadaannya yang sekarang. Toh juga tidak akan ada yang melihat kondisinya di balik hujan yang lebat dan petir yang saling sahut menyahut dengan kerasnya.
"Maaf, maafkan aku Bella. Maaf jika aku meninggalkanmu terlalu cepat. Maafkan aku."
Hujan semakin deras dan keadaan Nia sudah basah kuyup. Dia membiarkan tubuhnya basah begitu saja dan tetap berjalan menyusuri jalanan sepi itu sambil menangis terisak.
Malam ini, hari ini, di tempat ini, biarlah itu menjadi kejadian yang memilukan untuknya. Biarlah hujan dan petir menjadi saksi bisu bagaimana rasa sakitnya Nia saat itu.
Nia berusaha untuk jujur dengan perasaannya yang awalnya dia takut untuk jujur tapi dia tetap mencobanya. Memperjuangkan cintanya? Mustahil. Dhyto tidak pernah menatapnya dengan cinta. Memiliki perasaan lebih pun tidak, jadi mustahil bagi Nia untuk memperjuangkan cintanya karena yang akan menjadi korban adalah dirinya dan perasaannya.
Nia akan melupakan kejadian dan perasaannya dengan pelan-pelan. Dia yakin kalau dia bisa. Dia tidak mau persahabatan yang mereka jalin runtuh begitu saja hanya karena keegoisannya. Kali ini dia harus menyerah.
"Selamat tinggal cinta, selamat tinggal perasaan, dan selamat tinggal Dhyto. Aku akan tetap mengingat momen kebersamaan kita. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Maafkan aku."
Byur!
Suara air terdengar dari bawah jembatan. Seorang wanita baru saja melompat dari atas dan meninggalkan kita semua.
-THE END-