"Lin kawin lari yuk," kalimat yang ku ucapkan membuatnya tersedak.
"UHHUKK! Hukk, ughh. Air woi minum!!" ia kelimpungan mengambil segelas jus didepannya, "ngomong apaan dah. Huahh dan jangan ngomong aneh-aneh kalau lagi makan. Mana pedes lagi.."
"Lo kan suka gue, terus gue gamau dijodohin." ucapku datar seolah tak peduli. Pria bernama lengkap Lai Guan Lin itu sedikit panik hingga tidak memperhatikan lanjutan kalimat Sierra, "ngaco ah, suka lo dari mananya coba. Jangan kepedean."
Sierra mendengus, meneruskan makan nya yang sempat tertunda, "ngaku aja napa sih, tsundere amat jadi orang. Terus suka gue dari mana? Ssttt kelebihan gue banyak ya."
"Emang dapat rumor dari mana gue suka Lo?" Guan Lin mencoba untuk kembali makan. Kan sayang ayam geprek nya dianggurin.
"Echan sama Nana."
Guan Lin mendesah pasrah, ternyata duo bigos alias biang gosip itu yang mempengaruhi gadis didepannya.
"Ra, biar gue kasih satu fakta. Percaya mereka itu sama aja musyrik." Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ga salah sih, cuma Jeno sama Renjun juga setuju. Dan Jeno itu anak baik," Sierra menjawab dengan polosnya.
Guan Lin menggeram kecil, "awas kalian."
"Jadi bener gak?"
"H-hahh? A-apa?" sepertinya ia tidak bisa mengelak lagi.
"Kamu suka aku?" Sierra menggeram gemas. "...dikit," pria itu menunduk. Rambut wolfy-nya menutupi air mukanya.
"HEHH! Cuma dikit?!!" tidak bisa, ia tidak terima. Sebagai most wanted di sekolah juga di kantornya sekarang, ada yang hanya sedikit menyukainya? Setidaknya pastikanlah! Suka atau tidak.
"Aaa-ah nggak nggak gituu!" Guan Lin menggeleng panik, wajahnya tiba-tiba terlihat menggemaskan.
Sierra menatap serius, "Lin kamu beneran suka aku?" Persahabatan 10 tahun mereka, ternyata tidak murni pertemanan.
Guan Lin mengatur napasnya, menetralkan detak jantung dan ekspresi yang tidak karuan. Pria itu menatap balik, netra honeybrown itu menatap dalam pada mata gadis itu.
"Sierra, aku ingin mengatakan sesuatu tentang perasaan ku. Aku suka kamu, itu pengakuan dari seorang pria bukan sebagai sahabat." debar jantung mereka hampir terdengar.
Sierra merilekskan tubuhnya, namun pipinya memiliki rona samar, "Sejak kapan?"
"Mungkin sudah lama. Namun, aku baru menyadari saat wawancara kerja." Tubuhnya masih tegap, ia masih serius.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?" Guan Lin sedikit bingung, ini ditolak atau gimana. "Maksudnya?"
"Tujuan pengakuan ini apaa?" Sierra mengambil esteh-nya.
"Ya cuma pengen ngasih tau. Kalau mau, ayo pacaran." udara disekitar kembali netral, beban pikirannya sedikit terangkat.
"Telat ngajak pacaran, udah mau nikah bulan depan. Tapi thanks gue terima." Guan Lin ingat ada kalimat janggal di awal pembicaraan, "Emang siapa yang dijodohin sama Lo?"
"Oh, hahh? Gatau, bapak bilang mau dijodohin terus gue lari ke kamar buat nangis." Sierra kebingungan sendiri. Guan Lin mengusap kasar wajahnya,"Astaghfirullah Sierra. Drama banget Lo."
"Biar kek sinetron. Ehh tapi pilihan bapak jarang salah kan ya, terima aja deh." tidak memperhatikan hati Guan Lin yang terbakar.
"Ga, gue yang ga terima! Ayo ke rumah, biar gue yang ngomong." Ia berdiri sambil menarik tangan gadis itu. Sierra kebingungan, "mau ngomong apaan?"
"Pasti Om Jackson ngira anaknya ga laku laku. Makanya dijodohin, padahal dia punya sahabat disampingnya." ucapnya setelah membayar dan keluar dari warung tersebut.
...
"Oke, batalin gapapa deh." Selama 2 jam mengobrol dalam, Guan Lin menghela lega saat ayah Sierra menyetujui hubungan mereka. Meski cukup lama berteman, ia hampir tidak pernah bertemu beliau. "Tapi harus segera menikah"
"Saya siap Om." Om Jackson mengangguk mendengar jawaban tegas pria lebih muda didepannya
"Yah, itu nikahan loh. Seumur sekali di hidup Era." wanita paruh baya di sisi om Jackson kembali membuka suara. "Bunda nggak mau--"
"Iya aku tau semua kekhawatiran mu. Bungsu udah bisa berpikir dengan baik, ya kan dek?" subjek yang dibahas malah enak enakan makan pudding coklat.
"Sierra sih netral pak. Ga nikah yo oke." ucapan santai gadis itu dihadiahi tatapan tajam dari sang bunda, "ehh- sabar bun, Era bercanda. Peace" ia mengangkat dua jarinya. Ayahnya sudah tidak ada di tempatnya.
"Huffttt, ternyata kamu emang memiliki perasaan lain pada putriku ya Lin.." Guan Lin sedikit kelabakan. Dengan tiba tiba calon ibu mertua mengalihkan perhatian kepadanya.
"Maaf tante."
"Tidak apa-apa, cukup lama juga Bunda mengenalmu. Bunda mohon jaga Era ya." senyum lembut dari wanita itu menenangkan dirinya.
"Baik tante,"
"Bunda dong, calon mantu." membuat keduanya tersipu.
Jackson kembali entah dari mana, "Bun, ayah sudah bicara dengan Donghae." Sierra mengernyitkan dahi. "Bagaimana pendapatnya?? Apakah kau bicara blak-blakan?!"
"Aman atuh neng, kita diskusi santai kok." Ayah mencoba menenangkan bunda.
"Pak? Mau tanya. Itu Donghae, Lee Donghae?"
"Iyalahh, siapa lagi yang punya nama aneh kek gitu." ayahku mengendikkan bahu.
"Bentar, anaknya dua kan? Yang mana?" Sierra semakin berpikir keras. "Siapa ya, Jono? Jeno? Lupa ah pokoknya yang itu."
Bunda membenarkan,"Lee Jeno. Kakaknya namanya Lee Mark. Itu yang bener. Heran anaknya baik baik semua."
"Lee Jeno??!" Bukan ini bukan Sierra. Guan Lin terkejut terlebih dahulu.
ting!
Handphone Sierra di meja berbunyi dan menyala, menampilkan adanya pesan masuk. Itu dari Jeno!
Selamat Sierra, jangan lupa undang kami ke pernikahan kalian ya(.◜◡◝)-Jeno
Baik ia dan Guan Lin dapat membacanya dengan jelas. "Hahh ternyata Jeno ya." terselip jelas nada menyesal disana.
"Loh kok ngga ngasih tau adek kalau itu Jeno?" Bunda kebingungan, ini kenapa kayak kaget semua, "Era kenal?"
"Jeno itu bestie Era di SMA Bun. Sama Echan, Huang Njun, Nana juga. Bunda inget kan, cowo yang kesini 3 hari yang lalu? Yang kata bunda kayak Dilan."
"Si Jemin itu?" Bunda mengingat ingat siapa saja yang datang tiga hari lalu."Ho'oh, itu salah satunya."
"Duhh besuk minta maaf ke Jeno ya dek. Ga ngerasa bersalah apa?"
"Gak usah bunda kasih tau juga."
"Nggak gitu om, bidak kuda langkahnya 'L' bukan diagonal."-Guanlin
"Lha terus yang diagonal tadi mana?"-Om Jackson
"Ini si menteri, yang ini nih."-Guanlin
"Bukannya itu lurus ya?"-Om Jackson
"Yang lurus itu benteng! Yang ini,"-Guanlin
Dilantai, dua lelaki asyik bermain catur. Ah tepatnya belajar-mengajar main catur. Cukup mengejutkan, hampir belum pernah bertemu sudah seakrab ini. Entah bagaimana nantinya.
"Lin master catur loh pak, berguru pada orang yang tepat!" Sierra mengacungkan jempolnya, "yang sabar ya tampan, sudah 6 ahli menyerah untuk mengajari ayah main catur."