Cinta Dalam Diam
"Alhamdulillah akhirnya pikiranku sedikit mencair setelah 1 jam di suguhkan dengan rumus-rumus yang membuat otakku oleng".Gumam Salsa dalam hatinya.
Suara adzan terdengar di ujung masjid yang terletak tidak jauh dengan sekolah tempat salsa menjadi siswa semester akhir.
" Wahai pemilik suara merdu, maafkan aku yang diam-diam mengagumi suaramu".Aku masih berdiri di ujung masjid, menatap pria yang tengah mengumandangkan suara adzan di samping mimbar.
"Hey! Melamun lagi, pamali nanti kamu kesambet. Jawab tuh suara adzan nya. " Riska membuyarkan lamunanku.
"Astagfirullah, maafkan aku ya Allah. Mata ini tidak bisa aku jaga untuk tidak melihat yang tidak pantas aku lihat. "
Memang ini bukan pertama kali pria itu mengumandangkan adzan. Aku selalu mendengar setiap kali ashar tiba, dan aku mendengarkan lantunan nya tanpa tau rupa pria itu.
"Jangan terlalu lama memandangi. Kamu ingat apa yang di sampaikan Pa Cahyadi waktu pelajaran agama berlangsung. "
Lagi-lagi Riska membuyarkan lamunanku, apa yang di katakan Riska memang ada benarnya juga. Aku sedikit tertampar oleh ucapannya.
"Aku hanya mengagumi suaranya saja. Hati aku tenang setiap kali lantunan itu terdengar merdu di telingaku. Aku juga sadar bila perbuatanku ini mendekati zina. "
"Tuh kamu tau Sa! Kamu boleh mengagumi tapi sewajarnya saja, jangan berlebihan karena yang berlebihan tidak baik. "
Aku mencoba untuk berpaling, namun ketika aku berusaha untuk melupakannya,Allah malah memperlihatkan kesempurnaan ahlaknya, kenapa aku harus mengalami seperti ini. Rasa kagum ini semakin kuat tertanam, seringkali aku memikirkan dia yang tak seharusnya di pikirkan. Dan hati ini sering kali ingin menginginkan lebih. Ya Allah sampai kapan hati ini menginginkan yang sempurna sedangkan aku hanyalah wanita akhir zaman.
Kurang 6 bulan lagi aku akan mengakhiri sebagai siswa SMA. Banyak impian yang harus aku wujudkan sebagai janjiku kepada ibu yang sudah 2 tahun ini pergi meninggalkanku. "Ayo semangat Sa, kamu pasti bisa" ucapku menyemangati diri sendiri.
Hari ini sungguh melelahkan, tugas yang segunung siap menghantam pikiranku,tapi aku bersyukur memiliki teman yang selalu memberikan semangat full dia adalah Riska Ayu Kumala Sari, perempuan nyeleneh, ceplas -ceplos namun bisa membuat aku terhibur oleh tingkahnya.
Hujan menggujur deras sore itu. Jalanan sepi. Hanya segelintir roda dua yang melintas. Suara adzan di sore itu sudah berkumandang namun aku tidak bisa salat di masjid karena hujan yang masih cukup deras di luar sana. Hatiku bergemuruh kencang, rasanya ingin berlari menuju masjid agar bisa melihat pria itu. Karena sampai saat ini aku belum juga bisa melihat rupanya. Suara adzan sudah berada di akhir kalimatnya. Sedangkan aku masih berdiam diri di dalam kelas.
"Sa, kamu pasti memikirkan pria itu ya?" Tanya Riska padaku.
"Heem"
"Sa, sejauh ini apa yang sudah kamu lakukan pada pria itu? "
"Aku tidak melakukan apa-apa Ris, lagi pula aku tidak ada keberanian untuk berkenalan dengan nya".
" Hah! Kamu mau mengulurkan tanganmu kepadanya sebagai simbol perkenalan? "
"Emang kenapa tidak boleh? "
"Jelas tidak boleh lah Sa. Kamu bukan muhrim dia, bersentuhan haram hukumnya. "
"Terus aku harus bagaimana Ris? "
"Langit kan doamu kepada Allah"
Seketika salsa terdiam mendengar kalimat akhir Riska, mengingatkan dia untuk melangitkan doa untukknya.
Aku harus mensetting handphone ku pada pukul 03.00.malam ini aku akan melangitkan doaku untuknya. Aku akan khusukan salatku untuk mendapatkan ridho-Nya.
Di sepertiga malam, hanya di temani cahaya rembulan aku mengadahkan kedua tangan ku meminta agar diri ini selalu dalam pengawasan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya, Ya Allah aku mengagumi salah satu hambaMu, aku langit kan doaku kepadaMu, Engkau Sang pemilik hati jagalah hati ini agar tidak salah menaruh rasa.
"Allahummagfirli jani hubbaka, wa hubbaka man ahabbaka wa hubbaka man yuqarribunni".Ya Allah rezekikanlah kepadaku cinta kepadaMu dan cinta kepada seseorang yang mencintaiMu dan dekatkanlah aku kepada sesuatu yang mampu mendekatkanku kepada cintamu. Sebait doa aku langit kan kepadaMu, aku susah payah ya Allah untuk menghapalkannya. Maka kabulkan lah doaku. Aamiin
" Sa, hujannya belum juga reda,apa sebaiknya kita diam dulu di dalam masjid? "
"Baiklah Ris, kita diam dulu di sini, ga ada salahnya juga kita sambil mendengar ceramah yang sedang di sampaikan oleh salah satu ustad sore itu. Terlihat di ujung pria itu sedang mendengarkan dengan khusu. Terkadang tanpa aku sadar pria itu melirik kearah kita,lalu dengan cepat menundukkan pandangannya.
" sebaiknya tunggu sampai hujannya reda, jangan sampai orang rumah mengurus kamu gara-gara kamu kehujanan".Terdengar suara pria di belakang punggung kita. Sontak kita pun mengalihkan pandangan menuju suara itu berasal.
"Dakkk!! Hatiku bergemuruh. Pria itu semakin mendekat.
" lebih baik tunggu di dalam. Jangan di luar. Lantai nya licin karena air hujan. "
"Trimakasih atas tawarannya."Riska dengan cepat membalas.
Pria itu hanya membalas dengan senyuman yang dia perlihatkan di ujung wajahnya. Aku hanya bisa tertunduk, tak berani aku melihat rupa dia dengan begitu dekat. Ya Allah hatiku seperti tidak bisa terkendali lindungi aku ya Allah.
" Mas, asli orang sini? "
"Ya, rumahku tidak jauh dari masjid"
"Oh, mas masih sekolah? "
"Aku membuka usaha pribadi"
"Oh, hebat dong masih muda sudah punya penghasilan sendiri. Nerima lowongan ga mas? " cetetuk Riska sambil mengumbar senyuman kepadanya. Sontak aku mencubit tangan Riska. "Aww sakit, Sa".
" Maafkan teman ku,"
"Tidak ada yang salah dengan temanmu, dia bertanya dan aku menjawab".
Mereka cukup lama berbincang di teras masjid, sampai tidak terasa hujanpun telah berhenti.
"Tunggu" pria itu menghampiri dengan jarak yang begitu dekat. "Aku ingin mengenalmu lebih dekat boleh? "
"Maaf aku belum pernah berteman dengan pria begitu dekat"
"Aku paham apa maksud kamu, izinkan aku untuk mendatangi kedua orangtuamu. Meminta izin kepada mereka. Apa kamu mengizinkan? "
"Ibuku sudah lama meninggal, aku tinggal bersama ayahku. Aku akan bilang terlebih dahulu. "
"Kalau begitu apakah aku boleh meminta no handphone mu? "
Akupun memberikan no ku kepadanya, meski aku merasa takut hati ini menyimpan lebih perasaan kepadanya.
[Assalamualaikum]
Notip Wa bergulir di layar ponselku. Malam itu dia menghubungiku.
[Waalaikum salam]
[Maaf, aku mengganggu waktu istirahatmu, aku hanya ingin memastikan apakah kamu telah meminta izin kepada ayahmu? ]
[Sudah,tapi apa alasan kamu ingin bertemu dengan ayahku? ]
[Kamu akan tau ketika aku berbicara nanti dengan ayahmu. Besok aku datang kerumahmu, berikan alamat lengkap rumahmu]
Akupun dengan sigap memberikan alamat lengkap rumahku. Semakin penasaran, apa tujuan pria itu menemui ayahku.
"Assalamualaikum"
Terdengar ada suara yang mengucapkan salam di lantai bawah. Akupun menuruni anak tangga dan membuka pintu.
"Waalaikum salam." Aku membulatkan kedua bola mataku, pria itu, dia beneran datang kerumah. Aku terpesona melihat parasnya yang begitu rupawan.
"Assalamualaikum.hay! Ada apa? . Pria itu melambaikan tangannya di hadapan wajahku.
Akupun terbangun dari lamunan. " Maafkan aku, silahkan masuk".Aku mempersilahkan pria itu masuk, dan diapun mendaratkan bokongnya ke sofa.
"Aku panggilkan ayah dulu"
Akupun memanggil ayah yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Ada tujuan apa anda datang kemari. Dan ingin berbicara dengan Bapak? ".Aku yang duduk di samping ayah membuat hatiku tidak karuan. Keringat dingin langsung mengguyur kedua telapak tanganku. Jantung ini berdetak tidak seperti biasanya.
" perkenalkan om saya Abimanyu, kedatangan saya kemari ingin meminta izin om untuk ber taaruf dengan putri om. Jujur,sudah lama saya menyimpan perasaan kepada anak om, namun saya baru memberanikan diri sekarang. "
"Maksud kamu ingin menikahi anak om? "
"Ya om, saya ingin menjadikan putri om satu-satunya bidadari dalam rumah tangga saya, izinkan saya untuk menjadi imam rumah tangga putri om. "
Ya Allah ada apa ini, apa dia benar jodoh yang Engkau beri untukku? Apakah dia benar-benar pria yang terbaik untukku? Jujur akupun menyimpan rasa suka kepadanya. Dan ternyata diapun menyimpan perasaan yang sama.
"Saya akan menunggu putri om selesai masa pendidikannya, setelah menikah sayapun akan mengizinkan bila putri om ingin melanjutkan ke perguruan tinggi".
Hari itu menjadi hari yang bahagia campur haru. Ayah merestui hubungan kita. Cinta dalam diam yang berujung ke pelaminan. Terimasih kamu adalah pilihan Allah untukku.