Ah, sial.
Aku sering bertanya-tanya tentang banyak hal setiap kesialan menimpaku.
Seperti sekarang.
Aku memandangi kertas di hadapanku lalu menghela nafas berat. Ah, tidak. Aku tidak kecewa. Aku tidak sedih. Aku tidak marah. Aku hanya, penasaran. Mungkin karena hal yang sama terjadi berulang kali membuatku terbiasa. Tetapi tetap saja, pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di otakku.
Di bagian bumi sebelah mana keceerdasanku tetinggal saat aku lahir ke dunia ini?
Aku masih menatap kertas itu dan tidak ada yang berubah. Aku mencoba peruntungan sihir dengan membayangkan angka delapan yang tertulis di kertas itu berubah perlahan menjadi angka 80.
Ah, sial, tetap tidak terjadi apa-apa.
Pikiranku mulai menghayal, apakah ini akibat karena aku sering memakan bakwan? Apakah otakku sudah tertutupi minyak sehingga tidak bisa lagi kugunakan untuk berfikir? Ah, aku mulai gila.
Aku menoleh ke seisi kelas, mencari seseorang yang bernasib sama denganku.
Sialan.
Pandanganku malah tertuju kepada segerombolan cewek populer yang berjalan mendekat ke araku. Aku merasakan bahwa kesialan akan menimpaku, lagi.
***
Aku berakhir dengan diseret paksa menuju ke atap sekolah. Satu-satunya tempat yang hampir tidak pernah dikunjugi siapapun, kecuali aku tentunya.
Mereka mendorong dan memojokkanku ke tembok. Salah satu dari mereka membuka sebotol air mineral lalu menyiramkanya kepadaku. Aku menghela nafas berat. Mereka sudah berkali-kali melakukan hal seperti ini. Apakah mereka tidak bosan? Aku saja bosan, bahkan sudah sampai ke titik jenuh dalam meghadapi tingkah mereka.
“Kenapa lagi?” tanyaku malas kepada mereka.
“Seharusnya kau bilang kepada saudara kembarmu itu untuk tidak menggoda pacarku!” seseorang dari mereka berbicara keras sambil menatapku kesal.
“Kenapa kalian malah mendatangiku? Lagipula bukan aku yang merayu pacarmu.” Aku mulai bosan dengan ini.
“Sama saja, bukankah kalian saudara? Itu terlihat tidak ada bedanya dimataku. Dia membuatku kesal! Dan kau, kau harus menggantikan dia untuk melampiaskan kekesalanku!” katanya bertubi-tubi kepadaku.
“Dengar baik-baik! Aku bukan dia! Mengapa aku harus menanggung kesalahan yang dia perbuat!? Kalian sungguh bodoh!” ucapku kesal karena alasan mereka melakukan hal ini selalu sama. Sama sekali tidak kreatif!
“Apa itu penting?! Kau hanya objek pelampiasan kekesalanku kepada saudara kembarmu itu. Muka kalian sama, jadi apa bedanya mau itu kau atau dia!” mendengar jawabannya, membuatku benar-benar kesal. Rasanya ingin sekali kutonjok wajah penuh silikon itu. Tetapi aku terlanjur berjanji untuk tidak membuat masalah disini. Aku bisa apa?
“Kalau begitu, segera saja kita mulai acara utamanya! It’s Time-,”
BRAKKKKKK
Semua pasang mata langsung menatap pintu yang dibuka dengan sangat tidak santai itu. Lalu, seorang lelaki masuk dan berjalan ke arah kami. Langkahnya tidak terlihat kuat namun yakin, kaca mata yang bertengger di hidungnya pun hampir melorot dan terjatuh jika ia tidak segera membenarkannya. Tentu sana aku mengenal lelaki itu, Ethan. Lelaki yang selalu bernasib sama denganku, korban bulliyng.
“Jika kalian tidak berhenti sekarang, maka aku akan melaporkan kalian kepada guru!” Suaranya bergetar, tetapi ia berhasil menyelesaikan kalimatnya. Tangannya sedikit terulur untuk menunjukkan handphone miliknya yang berisi video pembullyan tadi.
“Cih!”
Pada akhirnya mereka memilih untuk meninggalkan kami. Aku sangat beruntung, hari ini aku tidak mendapatkan jambakan maut itu. Jika setiap hari begini aku bisa terbebas dari kebotakan di usia muda. Lumayan kan.
“Kau tidak apa-apa?” Ethan sepertinya mencemaskanku. Aku harus menenangkannya.
“Tentu saja, ini hanya masalah kecil. Kau tidak perlu cemas.” Kataku berusaha menenangkannya.
“Tidak bisa begitu! Kau memang lebih kuat dariku, tetapi itu bukan alasan untuk tidak mencemaskanmu! Kau tahu seberapa paniknya aku saat tidak menemukannmu dikelas?! Ditambah teman-temanmu mengatakan kalau kamu diseret oleh si muka silikon itu! Itu tidak baik untuk jantungku!” dia benar-benar menggebu-gebu, padahal aku yang terkena masalah tetapi dia yang malah seakan-akan tertabrak kereta.
“Iya-iya, intinya sekarang aku baik-baik saja kan? Dan kau salah dalam satu hal, aku tidak punya teman.” ucapku.
“Itu kabar bagus sih. Tetapi, kenapa kamu tidak melawan mereka? Kupikir tadi kau akan memukul atau menjambak salah satunya, tatapanmu tadi seram. Dan soal teman, jadi selama ini kau tidak menganggapku sebagai temanmu?! Kejam!” Ethan mengerucutkan bibirnya.
“Aku memang bukan perempuan yang baik, tetapi aku juga bukan sampah seperti mereka yang bisanya hanya bisa mengganggu orang lain.” Kataku menjelaskan kepada Ethan.
“Hei! Itu namanya membela diri! Dan kau belum menjawab pertanyaanku!” Ethan pun semakin merasa kesal.
“Kita memang bukan teman kan? Dan mengapa kau ingin menjadi temanku? Aku ini bodoh loh, tak mungkin kau tak tahu.” Jawabku, sambil duduk dan menyenderkan punggungku ke tembok. Diapun mengikutiku.
“Kau memang bodoh, tetapi banyak kok kelebihanmu yang lain, contohnya........, em,,,,,,,,,, apa yah?” Ethan mencoba berfikir dan megingat-ingat.
“Tidak usah sok memuji, jika tidak ada yang bisa dipuji dariku. Aku cukup tahu diri.” Jawabku santai yang malah membuat dia kelabakan.
“Tidak kok! Kau sangat keren! Saat mereka membullymu mau sama sekali tidak menangis. Itu sangat hebat!” katanya terburu-buru kepadaku.
“Kau menangis saat mereka mengganggumu?” Tanyaku setelah mengetahui terdapat pernyataan rahasia dalam kalimatnya.
“Tentu saja tidak! Aku hanya sedikit meneteskan air mata. Hanya sedikit! Itu tidak dihitung menangis!” Ethan menutupi mukanya yang memerah karena malu.
“Astaga, jujur saja. Dan kau akan menjadi temanku.” Kataku sambil memberikan penawaran kepadanya.
“Itu benar. Kau puas!” Ethan mengalah dengan kesal di dalam dada. Haha.
“Benar-benar puas.” Cengirku tidak bersalah kepadanya.
“Karena kita teman sekarang, aku akan memberikan beberapa nasihat kepadamu. Sering-seringlah tersenyum, wajahmu itu seram. Jadi jangan buat banyak orang menjauhimu karena wajah datar dan serammu itu.” Ethan berbicara kepadaku sambil membenarkan kaca matanya yang hampir melorot.
“Tetapi aku tidak dalam keadaan senang. Mengapa aku harus tesenyum?” tanyaku malas kepada Ethan.
“Dasar bodoh, bukan begitu maksudku. Kau itu jangan tersenyum karena bahagia, tetapi bahagialah karena tersenyum. Banyak-banyaklah tersenyum makan kau akan merasa bahagia.” Jawab Ethan panjang lebar kepadaku.
“Itu sangat tidak bermutu, tetapi aku akan melakukannya. Kelihatannya tidak buruk.” Aku menanggapi itu dan tersenyum simpul.
“Bagus, dan aku mempunyai hadiah untukmu. Jeng jeng jeng!” kulihat Ethan mengeluarkan sebuah bungkusan yang terlihat berminyak dari saku celananya.
“Bakwan!!” ucapku girang saat mengetahui apa itu.
Pada akhirnya, aku dan Ethan, berdua. Membolos bersama, duduk bersama, dan memakan bakwan bersama. Itu cukup menyenangkan. Aku jadi ingin melakukannya lagi. Membolos sambil menikmati bakwan di sore hari. Benar-benar ide yang cemerlang!
***SELESAI***