“Iya, bu, Saga usahakan”
“Iya, iya, ini juga usaha cari uang dulu”
“Hmm, iya ibu, wa alaikum salam”
Akhir-akhir ini telepon dari ibuku sudah menjadi alarm buatku menjalani setiap rutinitasku. Hal yang akhir-akhir ini yang ia bahas selalu menyangkut masa depanku. Aku yang sudah lama bergelut didunia fotografi, masih belum juga melangkah ke jenjang selanjutnya. Salah satu tujuanku kerja, yah, mencari pelabuhan hatiku. Hati yang telah bertahun-tahun dipenuhi kekosongan. Bukan bertahun-tahun, tetapi memang dari dulu aku tidak pernah dekat dengan lawan jenis melebihi teman. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti itu. Teman-temanku asyik menorehkan kenangan-kenangan masa remajanya dengan kata-kata “cinta”, “pacaran”, “main mata”, entah kata-kata apalagi yang identik dengan masa remaja itu. Aku tidak tahu, bukan karena aku orang yang tertutup. Aku dikenal sebagai orang yang terbuka dan suka bergaul dengan orang-orang disekitarku, sehingga aku memiliki banyak kenalan dari segala usia. Sejak masih duduk dibangku sekolah menengah, aku memang kurang suka dengan topik tentang percintaan. Setiap teman-teman mulai membicarakan hal itu, aku otomatis mencari kesibukan lain untuk menghindari pembahasan itu. Menurutku, pembahasan mengenai percintaan adalah sesuatu yang hanya diciptakan oleh tiap orang untuk mengendalikan nafsunya terhadap lawan jenis. Bukan karena aku lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, justru aku hanya lahir dari keluarga yang masih berusaha membenahi diri untuk tetap menjalankan perintah dan menghindari larangan-Nya.
Siang ini, aku telah menerima telpon dari ibuku untuk yang ketujuh kalinya dalam lima hari ini. Ibuku terus-menerus menyuruhku agar segera menikah. Mencari pendamping hidupku, yang mengurusku nantinya. Aku tidak menampik akan keinginan ibuku. Usiaku yang telah menginjak 26 tahun memberi kekhawatiran sendiri bagi ibuku. Ibuku khawatir, nantinya aku menjadi bujang lapuk yang tak laku-laku. Hal ini karena ia tak pernah mendengar kedekatanku dengan seorang wanita. Aku memiliki banyak teman wanita. Namun, tidak ada yang menarik bagiku. Aku tak bersombong diri, ada beberapa teman wanitaku yang menyukaiku. Ada yang terang-terangan mengakuinya dan ada yang berusaha dekat denganku dengan mengikuti kegiatan-kegiatan diskusi atau kegiatan lain yang sering kuikuti. Aku hanya menanggapi biasa-biasa saja dan tidak memberi harapan bagi mereka. Toh, aku juga terang-terangan hanya menganggapnya sebagai teman saja, tidak lebih dari itu. Namun, mereka tetap saja berusaha mendekatiku. Aku terkadang risih dibuatnya, apalagi jika mereka berani merapatkan tubuhnya didekatku.
****
Minggu pagi disambut mentari yang menelisik di celah-celah gorden yang sedikit terbuka. Saat ini aku tengah bersiap-siap melakukan perjalanan yang pastinya berkaitan dengan profesiku. Fotografi telah menjadi hobiku sejak kecil. Hal itu makin kukembangkan saat aku membeli kamera dengan gaji pertamaku kerja di sebuah kafe sebagai pelayan. Semakin lama, fotografi telah berubah menjadi ladang keuanganku.
Hari ini, tempat yang aku tuju untuk makanan kameraku ini adalah tempat wisata yang saat ini sedang ramai-ramainya menjadi pembicaraan. Tempat wisata yang hanya dipenuhi padang rumput yang hijau sepanjang mata memandang. Dari kejauhan berderetan pegunungan yang masih rimbun dengan pepohonan dan langit yang bersih membiru, udara yang sangat bersih, sangat berbanding terbalik dengan udara perkotaan. Tempat itu bernama Padang Indah. Tak butuh waktu lama aku untuk sampai disana karena hanya sekitar 3 jam dari kota tempatku tinggal. Motorku masih leluasa menembus jalan saat masih di jalan utama, tetapi saat tiba di jalan masuk ke Padang Indah, aku mendapatkan jalanan yang tak terbentuk, penuh dengan bebatuan dan sesekali dibeberapa area jalan yang dekat dengan jurang membuatku harus ekstra hati-hati membawa motorku. Apalagi kondisi jalan yang licin membuatku semakin khawatir. Ternyata sebelum sampai di lokasi yang aku tuju, aku disuguhi dengan hutan pinus yang menjulang tinggi dan tentunya banyak pengunjung yang tak menyia-yiakan kesempatan untuk mengambil kenangan di tempat itu. Tentunya sebagai fotografer, aku pasti menyempatkan diri mengambil beberapa gambar dan kemudian melanjutkan perjalanan.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, aku sampai pada padang rumput yang luas dan langsung disambut oleh sejuknya udara di tempat itu. Setelah membayar tiket masuk, aku mencari tempat yang cocok untuk membangun tenda. Rencananya aku berada disini selama tiga hari tiga malam. Setelah siap semuanya, aku mengisi perutku terlebih dahulu dan mulai beraksi mencari sasaran pemotretan.
Ditengah kesibukanku memotret alam disekitarku, mataku seketika tak sengaja melihat pemandangan yang membuatku tak bisa berpaling darinya. Dia sangat menawan dan penuh misteri membuat rasa penasaranku menggebu-gebu. Tak sengaja kupotret dia tanpa sepengetahuannya. Sesekali kupotret gerak-geriknya. Semakin membuatku penasaran ingin berkenalan dengannya.
****
Pagi yang cerah, aku terbangun dari tendaku, aku disambut sang surya yang mulai terbit dari timur. Pemandangan di pagi hari sangat menyejukkan, udara yang sangat dingin, tak pernah kurasakan di perkotaan, meski musim penghujan. Kembali kupotret embun-embun pagi yang berjatuhan dari daun-daun diantara rumput-rumput subur di dekat tendaku. Atensiku teralihkan saat kulihat tidak jauh dari tendaku. Seorang gadis tengah duduk di bebatuan sendiri sambil memeluk jaket tebal yang dipakainya. Aku mulai mendekatinya.
“Hai”, panggilku mulai menyapanya, (tak ada sautan darinya)
Aku mulai sedikit mendekat agar dapat melihat wajahnya, mungkin dia tengah menyibukkan diri mensyukuri keindahan alam yang ada didepannya.
“Aku tak salah lihatkah? (gumamku dalam hati), “Astagaaaa” kagetku membuatnya menoleh kearahku
“Maaf kak, ada apa yah?”
“Ah, oh, i-ni tidak apa-apa, cuman tadi aku panggil-panggil, kamu pake earphone ternyata”
“Oh, maaf kak, saya tidak dengar panggilan kakak, kenapa kak?”
“Cuman mau menyapa aja, kok sendiri aja?”
“Teman-teman masih tidur”
“Ohh, suka berpetualang yah?”
“Suka”
“Sudah kemana saja?”
“Sebenarnya baru mulai menjelajah sih, baru-baru beberapa tempat juga saya datangi”
“Ada komunitas atau organisasi gitu yang mewadahi?”
“Organisasi kak”
“Ooh, kuliah dimana?”
“Iyah?” (sepertinya dia mulai risih dengan pertanyaanku yang tidak ada henti-hentinya. Padahal suaraku terdengar jelas, tapi bertingkah seperti itu)
“Kuliah dimana?”
“UH”
“Gak suka yah kalau ada yang ajak kenalan seperti ini?”
“Hmm, kenapa kak?”
“Maksudnya, kamu tidak suka ada orang asing ajak kenalan gitu?”
“Gak juga”
“Teruss”
“Saya memang orangnya seperti ini kak, suka sendiri, jadi kalau ada yang ajak bicara, yah saya balas sekenanya aja, saya pergi dulu yah kak, mau bangunin teman-teman dulu”
“Oo, iya”
“Kesan yang manis, hmmm, menarik” gumamku sembari mataku tak lepas mengiringinya hingga masuk ke tendanya.
Aku kembali melanjutkan kegiatanku setelah beberapa saat aku melamunkan dirinya. Saat ini, aku tak tahu mengapa ada yang bergetar didalam ragaku ini. Aku daritadi berusaha menutupi kegugupanku saat berbicara dengannya. Dia hanya menanggapi sekenanya seperti yang yang ia terangkan padaku. Jantungku tak berhenti berdetak kencang saat ini, bahkan ia telah lama hilang dari pandanganku.
“Ya Allah, mungkinkah ini jawaban atas tanyaku selama ini?”
“Semoga Engkau mempermudah jalanku menuju jalannya agar menyatu di jalan yang sama, aamiin”.
****
Malam harinya, ada segerombolan orang yang yang telah duduk menyatu dengan tanah mengelilingi api unggun. Aku menyaksikan kegiatan mereka dari tenda yang tak jauh dari mereka. Sesekali kudengar mereka tertawa riang, sesekali serius menyimak orang yang berada ditengah perkumpulan. Sepertinya mereka tengah berdiskusi atau merapatkan sesuatu dan orang yang berada ditengah mungkin adalah pemateri atau pemandu mereka.
Lagi-lagi mata itu, senyum itu, yang membuatku tak henti-hentinya memotret dirinya kemarin. Aku tersenyum seketika saat dia tersenyum, walau senyum itu bukan untukku. Sepertinya dia ditunjuk berbicara. Aku penasaran. Aku perlahan mendekat, mencoba mendengar suaranya kembali yang sulit hilang dari ingatanku. Lagi, aku memotret dia dalam diam dengan gawaiku. Namun, sepertinya aku tidak mau menyia-yiakan kesempatan. Aku memberanikan diri untuk mendatangi kumpulan itu.
“Permisi dek”
“Eh, iya kak”
“Boleh saya memotret kegiatan kalian, kebetulan saya fotografer dan sepertinya kegiatan kalian seru sekali”.
“Boleh, boleh kak, nanti kami siap jadi modelnya, hehehehh”
“Terima kasih yah”, (akhirnya, kesempatan emas kudapat dengan mudahnya)
Sembari memotret kegiatan mereka, aku sesekali bertanya mengenai kegiatannya. Tiba saat dia yang mulai berbicara lagi.
“Dek, laki-laki yang ditengah itu yang pandu kegiatan ini yah?”
“Iya kak, dia ketua dari organisasi kami ini”
“Terus perempuan yang bicara itu siapa yah?”
“Itu anggota baru kak, namanya Nalaya, pasti kakak penasaran kan, kenapa dia sering bicara?”
“Iya, saya kira dia wakil atau yang punya jabatan tinggi dibawah ketua”
“Memang budayanya begitu kak, anggota baru sering jadi sasaran, apalagi dia satu-satunya yang bergabung bulan kemarin, jadinya cuma dia yang jadi sasarannya”
“Oo, gitu yah”, ternyata nama gadis itu Nalaya, cantik, tunggu aku Nalaya, kamu tidak akan berhenti menatapku jika aku mulai melancarkan aksiku. Sepertinya kamu telah mengusik hati yang selama ini kosong. Kamu berhasil mencurinya. Nalaya, kamu telah mencuri hatiku, menggoyahkannya dari kesendiriannya selama ini.
Setelah pertemuanku beberapa kali dengannya, aku semakin gencar mencari tahu tentang dia. Aku percaya, jika memang ini telah digariskan. Pasti akan dipermudah jalanku untuk mencari tahu tentangnya dan mungkin setelah itu aku akan bulatkan tekadku, mulai merangkai masa depanku. Semoga inilah yang selama ini aku cari.