Malam itu, seseorang mengajakku untuk makan malam. Bagaimana bisa aku menolak, jika yang mengajak itu adalah seorang Dewa Bramasta. Siswa yang paling populer di SMA Dwi Tunggal. Bahkan, semua siswi berbondong-bondong untuk menarik simpati Dewa. Seperti mendapat lotre, ajakan makan malam itu membuatku sangat bahagia.
Aku memakai pakaian terbaik yang kumiliki. Dress selutut berwarna putih dengan motif bunga warna merah.
Jam 7 malam, Dewa datang ke rumah. Setelah berpamitan pada Ibu, akhirnya kami pergi ke sebuah tempat yang aku belum tahu di mana, karena Dewa tak mengatakannya. Dengan sepeda motor matic dia menjemputku tapi rasanya seperti pangeran berkuda putih dalam hayalanku. Benar-benar saat itu, aku merasa mimpiku menjadi nyata. Sedikit aku mencubit tangan, ternyata sakit. Ini bukan mimpi.
Motor berhenti di sebuah cafetaria dengan suasana romantis. Jika ada yang tahu, saat ini hatiku sedang berpacu cepat seperti mau melompat. Keitka kami turun dari motor, Dewa menggengam tanganku masuk ke dalam. Rasanya seperti terbang ke awan.
Dewa menuntunku ke sebuah meja dengan dekorasi sangat indah, lampu sedikit redup hanya lilin kecil di sekeliling yang menjadi penerang, alunan musik romantis mendayu indah. Taburan bunga mawar merah membentuk hati tepat di depanku saat ini.
Dewa melepas tanganku, lalu berjalan ke tengah, kemudian berlutut. Pandangannya ke arahku, cukup dalam hingga membuatku terhipnotis. Dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku kemeja dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dan membukanya. Sontak aku membulatkan mata dan menutup mulutku yang menganga. Aku tak percaya, bukankah ini adegan yang sering kulihat di televisi, dan kini Dewa melakukannya padaku.
"Maukah, Kau menjadi kekasihku?"
Kata-kata Dewa berhasil membuat kupu-kupu berterbangan dalam dadaku. Bingung, aku harus jawab apa. Seorang Dewa yang selama ini diam-diam kucintai dalam hati sedang berlutut mengatakan sesuatu yang selama ini mungkin mustahil bagiku. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya senyum manis dan anggukan kepala berkali-kali kutunjukkan padanya.
Dewa tersenyum, lalu berdiri menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya, ini adalah hari yang sangat bahagia bagiku.
"Makasih ya, Mit. Aku yakin dia pasti akan jawab seperti itu."
Seperti kilat yang baru saja menyambar, pikiranku terguncang menelaah kata-katanya.
"Dia?"
Pelukannya mengendur, Dewa menggengam tanganku, kutatap maniknya yang teduh, ada binar rasa bahagia di sana. Aku ragu apakah itu karena aku atau ... ah, kotak biru tadi dimasukkan ke dalam sakunya. Bukan, itu bukan untukku.
"Hei, boncel. Lu jangan iri ya! Gue mau nembak cewek."
Kata-kata Dewa seperti mata pisau yang mengiris tipis hatiku. Seharusnya dari awal aku sadar, siapa aku? Tanpa diperintah, air mata ini mengalir di pipi.
"Boncel, kok Lu nangis, sih. Jangan terharu dong, gue belum ngapa-ngapain, orangnya belum dateng."
Aku segera menghapus air mata yang tak tau diri, mengapa harus keluar disaat seperti ini.
"Lu sih Wa, mau nembak orang ngajak-ngajak gue. Ngapain coba? Gue jadi nyamuk dong," kesalku pada Dewa.
"Aku tuh mau kamu ada di saat terpenting bagi aku, Cel. Kamu tuh bestfriend aku. Jadi, kamu itu orang pertama yang harus tau kebahagiaanku."
"Namaku Mita, bukan boncel!" Sengaja aku memasang muka marah untuk menutupi rasa sakit yang mulai terasa di ulu hati.
"Iya, ya, Boncel sayang." Dewa berhenti berkata setelah aku melototinya tapi dia malah tersenyum melihat tingkahku. "Iya, ibu suri Mita," lanjutnya dengan mengelus pelan pucuk kepalaku.
'Mengapa masih berlaku manis begini Wa. Aku semakin sakit.'
"Eh, itu dia datang." Pandangan Dewa beralih ke belakangku, dengan sisa ketegaran yang ada, aku membalikkan badan. Clairy, gadis blasteran yang belum lama masuk ke SMA Dwi Tunggal. Mengapa selama ini aku gak tahu kalo Dewa dekat Clairy. Gadis yang sempurna bila dibandingkan dengan diriku ini. Begitu bodohnya aku, mengharapkan kupu-kupu hinggap di bunga bangkai.
Aku berjalan mundur, memberikan ruang untuk mereka. 'Sanggupkah aku melihat ini? Sebaiknya aku pergi.' itulah yang kupikirkan. Aku pergi menjauh meninggalkan Dewa, beruntung saat keluar dari cafe ada taksi yang lewat.
Sepanjang malam aku menangis, merutuki kebodohanku. Bahkan, sengaja aku tak masuk sekolah selama tiga hari. Selain untuk menghindari Dewa, aku juga malu jika harus ke sekolah dengan mata yang sembab dan bengkak jarena terus-terusan menangis. Pun saat Dewa datang ke rumah untuk melihat keadaanku, sengaja aku menolak. Beruntung Ibu mau membantuku untuk memberi alasan pada Dewa agar dia tak bisa mengangguku, karena biasanya Dewa selalu langsung masuk ke kamarku jika aku sedang sakit.
Aku meminta pada orangtuaku untuk pindah sekolah. Dengan alasan ingin membantu pamanku yang ada di kota J berjualan agar bisa punya tabungan untuk kuliah, akhirnya ayah dan ibu menyetujuinya. Tentu saja, Dewa tidak tahu. Aku tak tahu bagaimana reaksinya, selama ini kami bersama tetapi jika sekarang sudah ada Clairy, buat apa aku harus memikirkannya, belum tentu dia memikirkanku.
****
Tujuh tahun berlalu.
****
Malam ini, kurebahkan tubuh mungilku ke ranjang yang tidak terlalu besar karena rasanya sudah lelah seharian ini bekerja, ditambah lagi harus lembur, sebab temanku tidak masuk kantor, sehingga aku harus menyelesaikan pekerjaan lebih banyak.
Denting ponselku berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Buru-buru aku menyambar ponsel yang berada di atas bantal. Aku takut ada pesan penting dari orang tuaku, karena berada jauh dari mereka membuatku selalu cemas sehingga tak pernah mengabaikan jika ponsel itu berbunyi. Aku tinggal jauh dari orang tua karena harus bekerja di kota sedangkan mereka masih di kampung. Namun, komunikasi hampir tiap malam kami lakukan.
Aku membuka aplikasi-WA, sebuah pesan dari nomor baru. Entah mengapa jariku bergerak untuk membuka pesan tersebut, padahal biasanya aku tak pernah peduli dengan nomor yang tidak dikenal.
'Halo, Mita. Apa kabar?'
begitu kata-kata yang tertera dalam layar diakhiri dengan gambar emoji tersenyum. Aku mengecek profilnya, tak ada foto ataupun nama yang tertera.
Aku mengacuhkan pesan tersebut, tak ada niat sama sekali untuk membalas. Aku pikir itu hanya orang iseng yang tak punya nyali untuk berkenalan. Kuletakkan ponsel kembali di atas bantal, namun benda itu berbunyi lagi, kali ini suaranya berbeda karena ponsel kali ini berbunyi lagu favorit yang kupasang sebagai panggilan masuk.
Kulihat di layar adalah sebuah nomor yang baru saja mengirim pesan tadi. Haruskah aku mengangkatnya? Ragu, karena aku tidak tahu siapa, tetapi mungkinkah ayah yang memakai nomor baru? Ah, tidak mungkin. Pesannya saja seperti itu. Aku diamkan ponsel itu berbunyi hingga nada panggilan berhenti.
Sekali lagi, ponselku berbunyi namun kali ini meminta untuk panggilan video. Mungkin saja ini penting. Baiklah, kali ini aku menerima panggilan itu dan menggeser gambar telepon hijau pada layar ke atas.
Terkejut. Perasaan pertama yang hadir dalam hati. Bahkan aku spontan menutup mulut, tak mengira bahwa seseorang yang sedang berada dalam layar ponselku saat ini adalah Dewa, teman semasa SMA dulu. Orang yang selama ini kukubur sosoknya di sudut kecil dalam hati.
Dia tersenyum. Ahh, senyumnya manis, masih sama seperti saat itu. Wajahnya sedikit berubah, terlihat lebih dewasa namun tetap tampan bahkan terlihat bertambah dibanding terakhir aku melihatnya dulu.
"Boncel!"
Aku terhenyak dari lamunan, bingung harus berkata apa, tak bisa menutupi rasa gugup pertama kali bertemu setelah sekian lama meski berbatas oleh teknologi.
"Hai! Dewa." Aku melambai seperti anak abg yang baru kenalan.
"Di mana?" tanyanya ketus.
"Hah! A-aku lagi sibuk, Wa."
"Aku tanya kamu di mana?"
"Dewa, Aku di--" mulutku berhenti saat aku melihat sosok cantik di belakang Dewa sedang membawa secangkir kopi dan mendekati Dewa.
"Cepetan telponannya, udah ditunggu mama di bawah," suara cantik itu adalah Clairy. Begitu dekatkah mereka, bahkan sampai serumah. Apa jangan-jangan mereka sudah menikah.
"Wa, maaf ya, sebaiknya jangan ganggu aku lagi." Setelah berbicara aku menutup sambungan telepon. Akan tetapi denting ponsel selanjutnya selalu berbunyi disusul beberapa rentetan pesan karena aku tak mengangkat panggilan telepon dari Dewa.
Tak ingin menjadi perusak hubungan rumah tangga Dewa dan untuk menjaga hati ini tetap baik-baik saja, aku memblokir nomor yang baru saja membuat detak jantungku naik turun tak beraturan.
****
Esok hari di kantor, ada sebuah pengumuman penting tentang pengganti Direktur utama yang baru karena Pak Dandi Pradana mengundurkan diri. Beliau sakit dan harus berobat ke luar negeri.
Semua tampak heboh antusias menyambut Direktur yang baru, bagiku biasa saja. Siapapun orangnya, asalkan aku masih bisa bekerja. Aku tak peduli. Namun, ketidakpedulian itu terusik saat kutahu bahwa direktur yang baru saja menjabat itu adalah Dewa Bramasta.
Sorot mata yang tajam itu bahkan memindaiku dari atas sampai bawah hingga membuatku langsung menundukkan wajah. Derap langkahnya seperti gempa yang membuat tubuhku seakan berguncang. Langkahnya berhenti tepat di hadapanku bahkan aroma tubuhnya tercium menusuk di hidungku.
"Kamu, ke ruangan saya!" perintahnya dan sukses membuat jantungku semakin berdetak kencang, ditambah lagi tatapan dari beberapa karyawan lain yang bingung atas kesalahan apa hingga aku dipanggil oleh direktur yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di perusahaan ini.
Suasana di ruangan ini panas, padahal sudah ada pendingin ruangan. Mungkin hanya aku yang merasakannya karena orang yang sedang duduk di kursi Dirut yang baru ini tampak dingin.
"Baca!" Dewa melemparkan sebuah undangan berwarna gold ke atas meja.
Aku mengambil dan membaca beberapa kata dalam undangan. Ada beberapa nama di sana, bahkan nama Dewa sangat besar dan jelas terlihat. Itu karena ini adalah undangan pernikahannya.
"Apa!" keningku mengkerut saat melihat nama Paramitha Saraswati tepat di bawah nama Dewa yang menjadi mempelai wanita. Aku menatap Dewa menuntut penjelasan.
"Dua minggu lagi kita menikah. Jangan pernah kabur lagi. Kalo kamu gak suka undangan yang itu, kamu bisa pilih yang lain."
Pikiranku bertambah kacau, apa maksudnya? Bukankah dia sudah punya istri, kenapa mau menikah denganku.
"Kamu pikir aku mau menikah denganmu!" bentakku yang tak terima dengan aturan yang gak logika.
"Kenapa? Kamu, gak mau menikah denganku!"
Aku menarik napas tak percaya seorang Dewa masih sama seperti dulu yang tengil dan sesuka hatinya.
"Aku gak mau ya! Jadi perusak rumah tangga orang. Apalagi harus jadi bini ke dua. Ogah!"
Dewa tertawa keras melihatku, entahlah. Namun, jujur aku tidak suka caranya yang merendahkanku.
Tiba-tiba pintu terbuka, wanita seksi yang kulihat di layar ponsel saat itu bersama Dewa kini masuk ke dalam. Menyunggingkan senyuman dan merangkul bahuku. Clairy, wanita itu terlihat ingin mengakrabkan diri.
"Halo, Mitha. Senang berjumpa kembali. Tambah cantik kamu Mit. Pantes saja kakakku tergila-gila padamu," ucap Clairy.
"Kakak?"
"Ya, Kak Dewa," jawab Clairy, melihatku yang terlihat kebingungan, Clair bertanya pada Dewa, "Kamu belum menjelaskan padanya?"
"Buat apa! Yang jelas dua minggu lagi kami menikah," jawab Dewa.
"Astaga, kakakku yang bodoh. Kamu tidak menjelaskan bahwa ternyata kita kakak adik." Dewa hanya menggelengkan kepala, "Pantas saja, Mitha bisa salah paham. Dengar ya, Mit! Aku sama kak Dewa itu ternyata kakak adik satu ayah beda ibu."
Kenyataan pertama yang membuatku terkejut. Berarti, tidak mungkin mereka bisa menikah. Dewa terlihat menahan senyum saat pandangan kami bertemu, tetapi aku langsung membuang muka.
"Mit, kau tahu, kakakku seperti orang gila tau! Kamu menghilang gak ada kabar. Tujuh tahun, Mit. Dia selalu nyari kamu." Clairy memeluk diriku dan menangis di pundak mengeluarkan isi hatinya, "Maafkan aku, Mitha. Dulu aku menjadi penghalang cinta kalian. Kak Dewa sangat mencintaimu. Tolong, bahagiakan kakakku, Mit."
Pernyataan Clairy mengejutkan, benarkah itu? Clair menjauh saat Dewa berdiri di hadapanku. Bersimpuh dan mengeluarkan sebuah cincin berlian.
"Will You Marry Me?"
Air mata ini lolos begitu saja di pipi, benarkah ini? Aku tidak bermimpi ataukah aku akan kecewa lagi. Dewa orang yang dulu diam-diam kucintaiku sedang menembakku dan mengajakku menikah. Apakah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, sekarang?
"Yes, I Do"
Dewa memasang cincin bertahta berlian di jari manisku dan kami berpelukan. Terima kasih sudah mencintaiku sebanyak ini Dewa.
Love You DEWA❤