Sementara itu didalam ruang ICU, team dokter bergerak kesana kemari.
"Dok detak jantung pasien semakin menurun" ucap dokter specialist jantung. Yah, beberapa dokter specialist diikutkan dalam penanganan. Atas permitaan Tuan Besar.
Namun dokter adalah manusia. Semua kehendak ada ditangan Tuhan Yang Maha Segalanya.
"Dok pasien kritis" Teriak seorang dokter.
"Siapkan alat pemacu jantung" semua saling bekerja sama. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya mereka berhasil. Nona Metta melewati masa kritinya. Namun ia masih memejamkan matanya.
"Bagaimana keadaan istri saya?"tanya Henry.
"Nona berhasil melewati masa kritisnya tuan " ucap dokter Alvin.
"Syukurlah... " ucap semua orang.
"Tapi sebaiknya biarkan pasien beristirahat"
" Tapi aku harus menemani istriku."
"Maaf tuan, Nona baru saja melewati masa kritisnya. Jadi saya mohon keeja samanya."
"Dia sendiri didalam sana. Biarkan aku masuk." Henry masih bersikeras.
"Baiklah tetapi hanya boleh satu orang saja. Selebihnya masih tetap diluar."
"Baiklah..." Henry segera menerobos masuk. Ia harus menggunakan pakaian steril.
Dipandanginya wajah cantik istrinya. Meski sedikit pucat namun masih terlihat cantik. Damai seperti orang yang tertidur.
Henry mengecupi wajah istrinya. Membisikan doa. Mengajaknya berbicara tentang rencana bahagia mereka. Metta tak bergeming. Ia hanya bisa meneteskan air matanya.
Henry tak beranjak sedikitpun dari samping istrinya. Hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya ia sandarkan diatas tangan yang tak henti menggenggam tangan istrinya.
"Sayanggg... Kamu sudah bangun?" tanya Henry.
"Iya sayangg.. Aku sudah lelah terus tertidur." ucap Metta.
"Sayang aku sangat bahagia. Aku mewujudkan keinginanmu menjadi seorang Daddy. Apa kamu bahagia hmm?" Metta membelai pipi Henry. Namun aneh tangan Metta terasa sangat dingin.
"Tentu saja aku bahagia sayang. Kamu sumber kebahagiaanku. Kenapa tangan sangat dingin sayang? Apa kau kedinginan? tanyanya.
"Tidak apa sayang. Aku hanya ingin jalan-jalan. Melihat taman bunga yang sangat indah. Tolong kau jaga baby El yaa... Sayangilah Henry junior kita." Metta tersenyum tulus.
"Tapi sayang.. Kau mau pergi? Aku akan menemanimu. Dan juga baby El akan ikit bersama kita."
"No no no.. Sayang tetaplah disini.. Bersama baby El.. Kau harus berjanji padaku hmmm."
"Tidakkk.... tidak sayang jangan tinggalkan kami. Lihatlah baby El menangis. Dia butuk kamu sayang. Dia butu ibunya." Henry semakin kalut. Ia sudah berderai air mata dengan baby El dalam dekapnya.
"Sayangggg pleaseeee... Jangannn pergiiiii."
Akhhhh... Henry tersentak. Ia bermimpi. Mimpi yang seperti kenyataan. Dipegangnya kedua pipinya. Ada bekas air mata.
Ohh syukurlah Tuhan... Ini hanya mimpi belaka. Tetapi kenapa aku menangis sungguhan?
Henry berfikir positif. Ia bangun dari duduknya. Suasana diluar sudah gelap. Ia pasti kelelahan karena semenjak kemarin malam tidak tidur. Bahkan tidak makan apapun. Ia merasa sangat haus dan beranjak keluar.
Sayang aku pergi sebentar ya. Hanya ingin meminta air. Tolong tunggu ya. Aku tak akan lama.
Ceklek
Pintu dibuka. Disana masih ada beberapa pengawal. Sedangakan Tuan dan Nyonya besar bweistirahat dikamar sebelah. Yang sudah disulap menjadi kamar tidur.
"Anda memerlukan sesuatu Tuan?" tanya seorang pengawal.
"Emmm ya.. Beri aku air minum. Aku sangat haus." ucap Henry.
"Baik Tuan." ucap pengawal itu. Tak lama ia kembali dengan sebotol air mineral.
"Ini.. Silahkan Tuan."
"Hmmmmm."
"Henry bagaimana Metta sekarang?" tanya Tuan Abimanyu.
"Masih sama Dad... Ia belum sadarkan diri." ucap Henry.
"Dimana mommy?" Apa dia baik baik saja?" tanyanya kemudian.
"Ya, mommymu sedang beristirahat. Ia sangat kelelahan."
Tiba-tiba alarm berbunyi dari dalam ruang perawatan. Susuter jaga yang menyalakanya. Dokter Alvin dan bebeeapa orang berlari masuk.
"Ada apa lagi ini Dad? Aku harus lihat kondisi Metta." Henry hendak masuk. Namun ditahan Tuan Abimanyu dan beberapa pengawal.
"Kau tetaplah disini. Biarkan para dokter bekerja." Bujuknya lagi.
Henry sudah mendesah frustasi. Ia mondar mandir tak jelas. Rambutnya kusut. Pakaian jangan ditanya lagi semenjak pagi dia memakai pakaian yang sama.
Dokter Alvin menghampiri Henry. Mengajaknya masuk kedalam. Dokter yang lain masih berjaga. Disana, Metta sudah membuka matanya. Henry berlari, menghambur dalam pelukan istrinya.
"Sayang... Kau membuatku takut. Apa yang kamu rasakan? Hmm"
"Bagian mana yang sakit? Ayo katakan padaku. Biar kubuang semua dokter tak berguna itu. Mereka membiarkanmu merasakan kesakitan" ucap Henry mengintrogasi.
Astaga, Tuan sikapmu terlalu berlebihan. Sultan mah bebas.
"sssssst... " Metta menutup mulut Henry dengan telunjukknya.
"A-aku tak apa sayang. Percayalah. Dan mereka melakukan yang terbaik" ucapnya pelan.
"Ya itu harus."
"Sayang berjanjilah padaku kau tak akan menangis. Apapun yang terjadi, Kau harus menyayangi Henry junior kita."
Deggg
Perkataan ini. Yang ada dalam mimpiku. Mimpi didalam mimpi.
"Tanpa kau minta aku pasti melakukanya, sayang" Henry terus mengecupi wajah istrinya.
Metta tersenyum. Perlahan matanya terpejam. tanganya luruh seketika.
Niiiiiitttt Niiittttt
Layar monitor beeubah menjadi garis datar. Alvin mengecek peenapasan dan detak jantung Metta.
"I'm sorry..." Dokter Alvin menundukkan kepalanya.
"Tidakkk.. Kamu gak lagi bercanda kan? Sayanggg bangunlahhhh.. " Henry terus menggoyangkan bahu Metta. Ia masih tak peecaya dengan ini semua.
"Tidakkkk... Ini tidak mungkiiin. "Badan Henry lemas seketika ia sudah berlutut dilantai. Air matanya terus saja mengalir.
Nyonya Amel sudah bangun. Mendengar anaknya menjerit ia menerobos masuj diikuti Tuan Abimanyu. Semua orang menundukkan kepala.
"Ada apa ini?" Tanya nyonya Amel.
Hening.
Tak ada yang berani menjawab.
Nyonya Amel mendekati Metta. Menyentuh wajahnya. Dingiin.
"Ini gak mungkin kan dok?" Masih tak ada jawaban.
"Jawab aku Alvin.." Nyonya Amel menggoyangkan lengan dokter Alvin.
"Maafkan kami Nyonya..." hanya itu yang keluar dari tenggorokkanya yang terasa tercekat.
"Bilang padaku ini semua bohong kan? " ucap Nyonya Amel prustasi.
"Tenanglah Mom... " ucap Tuan Besar. Nyonya Amel terus menjerit. Hingga akhirnya tak sadarkan diri.