Sebuah kejadian nyata yang kukemas dalam sebuah cerita, dan membuatku geli saat teringat kejadiannya. Tentunya dengan nama tokoh yang berbeda dan cerita yg kukembangkan sendiri.
Namaku Indra. Aku tinggal di sebuah kota di pulau Jawa. Suatu ketika aku pergi berkunjung ke rumah temanku yang bernama Dodik untuk mengerjakan tugas belajar bersama.
Di sela-sela kegiatan Dodik bercerita bahwa orang tuanya baru saja tiba dari mengunjungi sanak-saudaranya yang sedang sakit di luar kota.
Tak lama kemudian ibunya Dodik, bu Mira keluar membawakan minuman dan camilan sekedarnya.
" Mari lho nak Indra dicicipi...ini oleh-oleh dari luar kota, kemarin beli di jalan " kata bu Mira ramah.
" Iya bu, Terima kasih " jawabku malu-malu.
" Oh iya Dik, motor ibu yang bocor tolong ditambalkan ke bengkel ya... mau ibu pakai ke rumah bu Ida untuk setor arisan " kata bu Mira kepada Dodik.
" Iya bu " jawab Dodik.
" Ndra... aku keluar dulu ya, mau nambal motornya ibuku. Paling bentar lagi Reno datang. Kalian duluan saja mengerjakan tugasnya. Aku nggak lama kok, bengkelnya cuma dikampung sebelah "
" Oke Dik!.." kataku
Sepeninggal Dodik akupun mengobrol dengan ibunya. " Rumahnya dimana nak? " tanyanya.
" Kampung Sumber Rejeki bu " jawabku
" Oo.. tetangganya bu Elly ya? " tanyanya lagi.
"Eh... bu Elly yang mana ya bu?... soalnya bu Elly yang di kampung saya ada tiga, yang satu bu Elly yang jualan telor asin, yang satu bu Elly salon, dan yang satunya lagi bu Elly yang jualan gorengan"
"Sedangkan di kampung sebelahnya kampung saya, alias kampung Maju Mapan, ada juga bu Elly yang jualan sayur di pasar" jawabku sopan.
"Ngg...Bu Elly yang punya salon, itu langganan saya " kata bu Mira.
" Ooh.. yang itu, bu Elly salon...
iya dia satu kampung sama saya " jawabku lagi sambil mengangguk.
Sambil ngobrol sana-sini bu Mira menawarkan kudapan di meja. Ada kacang rebus dan setoples besar kue berbentuk bulat sebesar kepalan tangan mirip Onde-onde.
"Ini kan toples yang biasa buat wadah kerupuk" pikirku.
Karena desakan bu Mira akhirnya aku mencicipi kudapan "Oleh-oleh" nya itu.
Saat gigitan pertama " Krekk.. kk... "
Saking kerasnya, gigiku langsung mengeluh.
Ku coba mengunyahnya perlahan.
Gemeletuk suara gigiku terdengar menggema diruangan.
Karena bu Mira masih mengobrol denganku, maka demi kesopanan aku berusaha menghabiskan kue ditanganku ini.
Satu gigitan... dua gigitan.. hingga lima gigitan aku masih berusaha bertahan.
Meskipun seret dan susah ditelan karena rasanya yang nggak karuan, kupaksakan masuk juga ke tenggorokanku.
Hingga akhirnya... " Hhukk... uhhukk.. uhhuukk!! " akupun tersedak sambil batuk-batuk.
" Mminum..minum dulu nak! " kata bu Mira cemas sambil menepuk punggungku.
" Glekk...glekk..glekk " tanpa menjawab akupun langsung menenggak segelas air teh dihadapanku.
" Terima kasih bu..." jawabku setelah tenang.
Akhirnya setelah tragedi "tersedak" ini aku berusaha menyingkirkan "sepotong kue" di tanganku yang masih terlihat berukuran besar meskipun sudah berkurang beberapa gigitan.
" Bagaimana cara menyingkirkannya tanpa menyinggung tuan rumah? " pikirku.
Tak berapa lama kemudian Reno pun datang.
" Selamat siang bu..., ndra... " sapanya kepada kami.
" Siang nak Reno ", " Siang no " jawabku dan bu Mira bersamaan.
" Mari nak Reno, silahkan masuk... Dodik baru keluar sebentar, ditunggu saja ya! " kata bu Mira.
" Ya bu " jawab Reno sambil menuju ke salah satu kursi di depanku.
Setelah Reno duduk, bu Mira pun menyajikan lagi segelas minuman untuk Reno sembari tak lupa menawariku untuk menambah minum di gelasku yang telah kosong sebelumnya.
" Ini minumnya diminum ya nak Reno...cuaca sedang panas begini, apalagi tadi diluar, pasti haus di jalan " kata bu Mira
" O iya...apa nak Indra juga mau nambah minum? " tanyanya lagi.
" Ya bu.. Terima kasih " jawabku dan Reno.
Tak lama kemudian sebuah ide melintas di benakku.
Sambil berpura-pura akan memasukkan kue kedalam mulutku....
" Eh.. Mrucut! " teriakku tiba- tiba.
Seolah-olah kue terjatuh secara tak sengaja karena tergelincir. Padahal kue itu sama sekali tidak licin, bahkan kasar dan keras.
" Huuft.. aman sudah " batinku.
Bu Mira yang melihatnya buru-buru berkata;
" Ah...tidak apa-apa nak, karena yang jatuh sudah kotor, ini ambil lagi yang baru.. masih banyak " katanya sambil mendorong setoples penuh kue yang sama kepadaku.
Aku tercengang sesaat. Setelah pulih aku buru- buru menolaknya secara halus dengan alasan sudah kenyang.
Dan akhirnya...
Toples tersebut pindah ke hadapan Reno.
Aku menatapnya dengan iba.
" Mari lho nak Reno dicicipi kuenya, ini oleh-oleh dari luar kota, kemarin beli di jalan...kata pedagangnya sih ini kue enak khas kota sana, baru saja dibuka dari bungkusnya, saya saja belum sempat mencicipinya " kata bu Mira antusias.
Mata Reno pun berbinar. Serasa mendapat hadiah undian dadakan. Diambilnya salah satu kue yang ukurannya dirasa paling besar.
Terlihat memang kalau dia sedang lapar.
Maklum untuk bisa sampai kesini dia menempuh perjalanan yang cukup jauh sehingga rasa haus dan lapar mendera.
Dengan semangat dia segera menggigitnya.
" Klethukk...."
Saat gigitan pertama wajahnya mulai berubah.
Yang tadinya ceria dan berwarna kemerahan karena sinar matahari, sekarang berubah menjadi pucat secara tiba-tiba.
Untuk beberapa gigitan berikutnya dia mulai gelisah.
"Mari lho nak Reno.. dihabisin, nggak usah malu-malu, ini masih banyak kuenya" kata bu Mira ramah.
"Ii..iyya bu.." jawab Reno dengan muka pucatnya sambil sesekali mencuri pandang padaku.
Setelah gelisah begitu lama dan tak tahan lagi akhirnya...
"Eh.. Saya mrucut juga!" kata Reno sambil berakting kuenya tergelincir dan meluncur jatuh ke bawah.
Aku menangkap sekilas kelegaan di wajahnya.
"Sialan si Reno...nggak kreatif amat nih orang. Masa ide gitu aja nyontek. Ngapain pakai bilang "juga" segala, jadi kelihatan pura-puranya, dasar blo'on" batinku.
*******