Wushh..wussh.. (angin yang terus berhembus dibelakang sekolah).
"Hei,jadilah pacarku" teriak cowok itu vano namanya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa" jawab cewek itu Callista namanya.
"Kenapa?" kembali tanya Vano.
"Kakak terlalu sem.." ucap Callista yang terpotong oleh omongan Vano.
"Jangan memakai alasan, aku terlalu sempurna untukmu,karena itu semua tidak benar, manusia itu terlahir sama, tidak ada yang sempurna" tukas Vano yang memotong ucapan Callista.
"Itu..aku.." Callista yang bingung untuk menjawab.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan padaku?" tanya Vano.
Callista yang mendengar ucapan dari Vano,hanya diam membisu memalingkan wajahnya, dan Vano yang melihat itu, hanya tersenyum kecut.
"Sudahlah ak.." ucapan Vano yang terpotong.
"Hei..Callista" sapa gadis itu, Luna namanya.
"Luna?" batin Callista, yang kaget melihat kemunculan Luna.
"Luna kenapa kamu kesini?" tanya Callista.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu ada disini?" jawab Luna.
"Tidak ada, ayo kita pergi" tukas Callista sembari menggandeng Luna pergi.
"Hei, lihatlah kak Vano hari ini sangat tampan, bukan hanya hari ini saja, tapi setiap hari dia selalu tampan" bisik Luna.
"Inilah..mengapa aku menolakmu kak, Luna sahabatku juga menyukaimu, dia mengagumimu dalam sepinya" batin Callista.
"Kringg...kringg" bel pulang sekolah.
"Aht, udah bel pulang tuh, ayo kita segera ambil tas kita dikelas" ajak Luna.
"Iya" jawab Callista dengan singkat.
mereka berdua pun mengambil tasnya dikelas, namun saat mereka berjalan dikoridor sekolah dan bersiap untuk pulang, mereka bertemu kembali dengannya vano.
"Itu kan kak Vano, gimana nih?" batin Callista yang gelisah.
"Eh lihat tuh ada kak Vano, siketua osis tampan, ayo kita kesana" teriak murid perempuan disana.
Benar, Ravano Adiputra yang merupakan ketua osis disana, tampan dan juga kaya, seorang sosok laki-laki yang diidam idamkan oleh para gadis disekolah, yang juga merupakan alasan kedua untuk Callista menolaknya.
"Seperti biasa ya, kak vano selalu dikelilingi oleh para gadis disekolah ini" bisik Luna.
Callista yang terlalu fokus pada Vano, hingga tidak mendengar ucapan Luna.
"Ayo kita pulang" ajak Callista sembari berjalan cepat melewati Vano dan para gadis itu.
"Ehh...tunggu" teriak Luna yg ditinggalkan.
~Keesokan paginya disekolah...~
"Hei, lihat deh dia datang, dia kan gadis itu? " bisik para murid yg melihat Callista lewat.
"Ada apa dengan mereka?" batin Callista.
"Eht, itu kan Luna..Lunaa..." tukas Callista sembari berteriak.
Entah mengapa, Luna yg menoleh kepada Callista, terasa dingin diwajahnya.
"Luna hai, selamat pagi" sapa Callista yg berjalan menuju Luna.
Luna yg mendengar sapaan dari Callista hanya mengabaikannya, dan menatapnya dengan sinis.
"Ayo kita pergi teman-teman" seru Luna mengabaikan Callista dan pergi bersama dengan murid perempuan lainnya.
"Eht tunggu lun" ujar Callista yg menarik tangan Luna.
"Lepaskan, kotor.." teriak Luna dengan menrpis tangan Callista.
"Hei ada apa sih itu..".
"Iya ada apa sih?".
"Itu kan Callista, yg katanya mengkhianati sahabatnya sendiri, si Luna itu loh".
"Mengkhianati bagaimana maksudnya?".
"Iya katanya sih, si Luna suka sama siketua osis itu, dan si Callista sahabatnya, malah mendekati siketua osis".
bisik para murid dengan ricuh, hingga membuat Callista mendengarnya.
"Apa?..itu semua gak bener lun..percaya deh sama aku" sahut Callista mencoba menjelaskan.
"Halah dasar munafik kamu, kemarin dibelakang sekolah kamu ditembakkan sama kak Vano?..ngaku kamu" ujar Luna.
"Itu..bisa aku jelasin" seru Callista yg meraih tangan Luna dan mencoba untuk membujuknya.
"Halah banyak alesan kamu..kemarin waktu aku disana, kamu tidak ngjelasin apapun ke aku, dan sekarang karena sudah ketahuan, kamu mau jadi jelasin ceritain ke aku, keterlaluan kamu cal" ujar Luna sembari meninggalkan Callista disana.
"Lun tunggu..." tukas Callista yg ingin mengejar Luna, tapi malah dihentikan oleh para gadis disana.
"Berhenti kamu" ucap gadis itu sembari menghalangi Callista.
"Lepasin aku..jangan ikut campur" bentak Callista yg menepis tangan gadis itu.
"Dasar cewek belagu..gak tau diri..gaess yuk kita beri pelajaran dia" perintah gadis itu kepada gadis lainnya.
"Hentikan..sakit" teriak Callista yg ditampar dan dijambak rambutnya.
"Hentikan... kalian apa-apaan sih" teriak Vano yg sedang lewat disana.
"Kak vano..kita" para gadis yg kikuk karena kedatangan vano.
"Sudah cukup..bubar semuanya" bentak vano kepada para murid disana.
"Ayo.. ayo..kita bubar" ucap para murid yg pergi.
"Cal kamu gak papa?" tanya vano sembari mbantu Callista bangun.
"Jangan sentuh aku...ini semua tuh salah kakak..aku benci sama kakak..hikss..hikss" teriak Callista yg sedang menangis dan sembari meninggalkan vano sendirian disana.
"Iya cal ini salahku..." guman Vano.
Setelah kejadian itu, Callista selalu dibuliy disekolah dan vano juga terus menyelamatkannya, tapi selalu ditolak oleh Callista.
Hingga suatu hari disekolah..
"Hei ada cewek pengkhianat tuh dibawah..kita beri pelajaran yuk dia" ucap murid perempuan diatas balkon yg melihat Callista sedang mencabut rumput dibawah.
"Ayo kita beri dia pelajaran" ucap murid perempuan itu, sembari menjatuhkan pot bunga kebawah.
"Brukkk..!!" suara pot bunga yg menjatuhi kepala Callista, hingga membuatnya pingsan.
"Hei, apa yang kalian lakukan,,turun kalian" teriak seorang gadis yg kebetulan lewat disana dan melihatnya.
"Hei..hei ada yg lihat..ayo kita pergi" ucap para gadis itu yg bergegas untuk pergi.
"Wah..wah..lari mereka" tukas gadis yg kebetulan lewat itu, bernama Rinda.
Rinda pun meminta pertolongan kepada murid laki-laki disana, untuk membawanya ke UKS.
~Di UKS..~
setelah beberapa menit kemudian, Callista pun terbangun.
"Auw, sakit...dimana ini?" ujar Callista yg baru saja terbangun dan sembari memegang kepalanya yg sedang diperban.
"Kamu di UKS" sahut Rinda.
"Siapa kamu?" tanya Callista.
"Aku tadi yg membawamu kemari, karena aku kebetulan lewat disana dan aku melihatmu terjatuh kebawah, sehabis dijatuhi pot bunga oleh para gadis dibalkon sana" seru Rinda.
"Terima kasih banyak, karena telah menolongku" ujar Callista.
"Iya sama-sama" jawab Rinda sembari memalingkan wajahnya(tipe yg dingin diluar tapi lembut Didalam).
"Pftt.." Callista yg menahan tawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rinda.
"Soalnya aku ingat kalau kamu itu, sicewek dingin dikelas itu kan?..gak kusangka kalau kamu itu tipe dingin diluar tapi lembut didalam" tukas Callista sembari tersenyum manis diwajahnya yang cantik.
Rinda, Luna dan Callista itu teman satu kelas, juga Rinda itu terkenal dengan sikap dinginnya kepada semua murid dikelas, tidak terkecuali satu pun.
usai tertawa riang, sesekali Callista mengingat kembali, kepada para murid yg membuliynya dan termasuk Luna.
"Nda aku ingin pulang..tolong bantu aku sampaikan kepada guru" tukas Callista.
"Oke" jawab Rinda dengan singkat.
Callista pun pulang kerumahnya, dan semenjak peristiwa itu, Callista mulai tidak masuk sekolah hingga lebih dari satu minggu.
~Dikelas IPS-1 (Luna, Callista, Rinda)~
"Kringgg....kringgg..." suara bel pulang sekolah.
"Yeayyy..pulang" teriak para murid dengan gembira.
"Baik semuanya...bapak akhiri untuk pelajaran hari ini...dan hati-hati dijalan" tukas guru Sosiologi.
"Tapp..tap.." suara langkah kaki Rinda yg mendekat kearah Luna.
"Hei, mari kita bicara" ajak Rinda pada Luna.
"Ada apa?.."tanya Luna.
"Ada yg ingin kubicarain..tentang Callista" jawab Rinda.
"Gak mau.." tukas Luna.
"Banyak omong.." seru Rinda sembari menarik tangan Luna.
"Heii.. lepasin" teriak Luna yg meronta-ronta.
Rinda yg melihat tingkah Luna, hanya diam dan terus fokus berjalan kearah balkon, sembari menarik tangan Luna.
sesampainya dibalkon..
"Ada apa sih kamu bawa aku kesini?" tukas Luna dengan nada sebal.
"Kamu tau gak?..kalau beberapa hari yg lalu, Callista dijatuhi pot bunga oleh para murid perempuan hingga dia pingsan ditempat" ujar Rinda.
"Ga..gak tau..to..toh lagi pula dia pantes kok dapet itu semua" jawab Luna dengan gagap dan memalingkan wajahnya.
"Heh.." seru Rinda yg penuh dengan nada merendahkan.
"Hei apa maksud kamu?" teriak Luna yg tidak terima.
"Kamu tau gak, kalau beberapa minggu yang lalu, Callista ditembak oleh Vano?" tanya Rinda.
"Tau kok..kalau maksud kamu bawa aku kesini untu mengingatkan aku.. itu tidak perlu" jawab Luna dengan nada marah dan bergegas meninggalkan Rinda.
"Tapi kamu gak tau kan?...kalau waktu itu Callista menolak Vano.." teriak Rinda hingga membuat Luna menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Luna yg kaget dan berbalik kembali kearah Rinda.
"Iya, Callista menolak Vano, padahal waktu itu aku bisa melihatnya dengan jelas, bahwa ada perasaan untuk vano dimatannya..jika dia juga menyukainya kenapa dia menolaknya?" tukas Rinda.
"Bicaralah yang jelas" ujar Luna dengan tidak sabar.
"Callista menolak Vano, itu semua karena kamu.. karena dia tau bahwa kamu menyukai vano..sahabatnya juga menyukainya..alasan utama membuatnya menolak dan mundur" teriak Rinda yg menekan Luna.
"Jangan asal ngomong kamu..itu semu gak bener, kalau memang Callista menolak kak vano, kenapa kak vano selalu menolong Callista disaat dia dibuliy" teriak Luna.
"Heh munafik" tukas Rinda.
"Apa?..jangan asal bicara kamu" teriak Luna sembari menarik kerah baju milik Rinda.
"Nih kukasih bukti" ucap Rinda sembari memberikan HPnya.
"Apa ini?" tanya Luna.
"Bukti" jawab Rinda dengan singkat.
Luna pun mengambil HP milik Rinda, dan dia melihat ada video disaat Vano menembak Callista waktu itu.
Luna pada akhirnya tau kebenarannya, bahwa sahabatnya tidak pernah mengkhianayinya.
"Dari mana kamu mendapatkan video ini?" tanya Luna.
"Aku yang merekamnya sendiri" jawab Rinda.
"Apa maksudmu?" tanya Luna.
"Aku sudah berada disana sebelum kalian bertiga sampai disana, aku melihat semuanya dari awal sampai akhir" jawab Rinda.
Setelah mendengar ucapan dari Rinda, Luna pun bergegas untuk pergi, pergi menuju rumah Callista.
~Didepan rumah Callista~
"Permisi Callistanya ada?" tanya Luna kepada satpam disana.
"Oh non Luna?..non Callistanya ada didalam, tapi sekarang dia sedang sakit" ucap satpam rumah Callista.
"Callista sakit apa ya pak?" tanya Luna.
"Wah kalau itu, saya tidak tau non, mendingan non Luna langsung masuk kedalam saja" jawab pak satpam.
"Kalau begitu saya masuk ya pak" ucap Luna.
"Iya non silahkan" jawab pak satpam.
"Drapp..darp..drap" suara Luna yg sedang berlari menuju kamar Callista.
saat sesampainya didepan kamar Callista, Luna mendengar suara Callista yang tengah terbatuk sembari membicarakannya.
"Uhukk..uhukk..Luna bagaimana ya kabarnya?..apa dia masih marah sama aku?..aku rindu dengannya...semoga kesa..uhukk..huk..kesalah pahaman ini segera selesai..uhukk..hukk".
"Uhukk..percayalah lun, aku tidak pacaran dengan kak vano, meski aku juga menyukainya, tapi uhukk..huk.. akh tidak menerima pengakuan cintanya..hukk.. karena aku tau lun..kamu juga menyukainya..uhukk.uhukk..hukk" tukas Callista didalam kamar.
"Yaampun Cal, kamu baik banget, betapa jahatnya aku yang telah menyakitimu" batin Luna.
"Tok..tok..tok" Luna yg mengetuk pintu kamar Callista.
"Iya sebentar...uhukk..huk..siapa ya?" tukas Callista.
"Jgrek!" Callista yg membuka pintu.
"Hai cal.." sapa Luna.
"Lun?...kok kamu ada disini?" tanya Callista.
"Brukk" Luna yg langsung memeluk Callista.
"Maafin aku ya cal..udah nuduh kamu" tukas Luna.
"Maksud kamu?" tanya Callista.
"Iya cal..aku udah tau semuanya" jawab Luna.
"Syukurlah" ucap Callista.
Mereka pun berpelukan satu sama lain, setelah saat itu, mereka berdua pun kembali bersahabat dengan baik.
Dan pada akhirnya juga mereka menemukan bahwa yg menyebarkan tentang fitnah kepada Callista itu, adalah salah satu dari teman sekelas mereka, yang kebetulan lewat disana dan merasa iri hingga menyebarkannya.
Rinda yang telah membantu Mereka berdua berbaikan pun, datang diantara mereka, hingga membuat mereka menjadi sahabat baik.
~Beberapa minggu setelah kejadian itu disekolah~
"Cal nanti ikut kita ya?" ajak Luna dan Rinda.
"Kemana?" tanya Callista.
"Ada deh pokoknya ikut aja" bujuk Luna.
"Yaudah deh" ucap Callista.
setelah pulang sekolah mereka bertiga pun datang kebelakang sekolah.
saat sesampainya disana mereka melihat ada sosok laki-laki tampan yang sedang berdiri sendirian disana menatap pohon didepannya..
laki-laki itu adalah Revano..
"Ha..kalian sudah datang ya!" sapa Vano.
"Iya" jawab Luna dan Rinda dengan kompak.
"Karena kita udah anterin dia, sekarang kita pergi dulu ya" Ucap Luna sembari menarik tangan Rinda dan pergi.
"Hei tunggu" teriak Callista yg mencoba mengejar mereka, tapi dihentikan oleh Vano.
"Kak ada apa ya?" tanya Callista.
"Kamu inget gak kalau aku pernah menembakmu disini?" tanya Vano.
"Inget kok" jawab Callista.
"Dan sekarang ditempat yg sama juga, aku ingin kamu menjadi pacarku" ucap Vano sembari memegang kedua tangan Callista.
"Kak kan aku sudah bilang waktu itu..kalau aku" tukas Callista.
"Luna sudah memberikan restunya untuk kita" ucap Vano.
"Benarkah?" tanya Callista.
"Iya" jawab Vano.
"Emm" Callista yg masih berpikir.
"Udah aht...kelamaan" tukas Vano yg langsung menggendong Callista berlari dan berteriak memutari sekolah.
"Hei kalian dengar..mulai hari ini Callista putri adalah pacar Revano adiputra" teriak Vano.
"Malu kak.." ucap Callista sembari menyembunyikan wajahnya, karena malu.
"tapi kamu mau kan jadi pacar Revano adiputra?" tanya Vano.
"Iya" jawab Callista dengan lirih.
"Apa?.. aku tidak mendengarnya" goda Vano.
"Iyaaa...akuu....mauu..jadi pacar kak vano...adiputraa.." teriak Callista dengan menggema bahagia.
"Haha..hh" tawa Vano.
"Cal semoga kamu bahagia selalu ya" batin Luna yg melihat Vano menggendong Callista.
"Terima kasih ya lun..kamu sudah memberikan kebahagianmu untukku..lun kamu adalah sahabat terbaikku" batin Callista.
"Biarlah ini menjadi School Love Story diantara kita, Callista putriku" batin Vano yg bahagia.
~☆TAMAT☆~
Terima kasih, mohon dukungannya ya🙏.
Ini adalah kali pertama bagiku menulis cerpen.
semoga kalian suka ya( • ̀ω•́ ).