"Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be."
Itulah lagu yang biasa aku lantunkan pada putraku setiap pagi. Setiap kali kunyanyikan lagu milik Doris Day ini, ia selalu menatapku dan tersenyum seakan mengerti dengan arti lirik lagu tersebut. Ia juga menghentikan tangisnya tiap kali aku menyanyikan lagu ini. Tak ada pemandangan yang lebih indah di dunia ini selain melihat senyum bahagia putraku.
Ya, saat ini aku memiliki putra yang sangat tampan. Waktu itu ketika bangun tidur aku merasakan sakit yang aneh di perutku, aku lebih suka mengibaratkan rasanya seperti saat kau sedang memeras kain basah dengan sekuat tenaga untuk menghilangkan airnya. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berdiri, tatapanku tertuju pada cairan air bercampur darah yang mengalir dikedua kakiku.
"Ibuuuuuuuu !"
Wanita paruh baya itu menghampiriku secepatnya. Ia menatap lantai yang penuh dengan tetesan cairan itu. Ia mendekat untuk memeriksanya.
"Air ketuban! Katakan padaku jarak sakit yang kau rasakan !."
"Sepertinya masih jarang bu,sekitar 20 menit sekali kalau tidak salah."
"Baiklah,kalau sudah lebih sering atau sekitar 5 menit sekali kita segera pergi ke klinik bersalin ! Sekarang berjalan - jalanlah agar bukaannya lebih cepat !."
Aku terus berjalan - jalan dan menunggu durasi kontraksinya lebih cepat, namun hingga semalaman kontraksinya tak kunjung menampakkan perubahan, aku pun panik karena memang sudah melewati hari prakiraan lahir atau biasa disebut dengan (hpl), hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke klinik bersalin.
Aku sampai di klinik pukul 8 pagi,bidan segera memeriksa kondisiku. Ia memasukkan jarinya kedalam vaginaku. Aku bersumpah rasanya sakit sekali, aku mengeratkan kedua tanganku memegang kasur yang aku tiduri untuk menahan rasa sakitnya.
"Baru bukaan 2 bu."
Apa ? Aku kira rasa yang sesakit ini kurasakan sudah membuatnya terbuka lebar sekitar 5, dugaanku ternyata salah. Bidan memintaku untuk makan dan berjalan - jalan padahal aku sama sekali tak nafsu makan karena merasa sangat mual.
"Nanti jam 12 saya periksa lagi bu."
Aku menunggu hingga waktu yang ditentukan, lapar,lelah,kantuk semua bercampur menjadi satu. Belum lagi merasakan sakitnya perut saat sedang kencang, hmmmm sungguh sangat nikmat. Perihal pusing dan mual? ah hiraukan saja.
"Baru nambah 1 bu,nanti jam 4 saya periksa lagi ya."
Bidan memberi semangat padaku untuk tetap kuat. Sebentar lagi aku bertemu dengan cinta pertamaku yang kunanti - nantikan. Bahkan aku sudah harus melupakan lelahku dan terus bergerak berjalan - jalan berharap kontraksinya akan lebih cepat begitupun bukaannya.
"Kok baru nambah dikit ya bu ? nanti pukul 20.00 saya periksa lagi, tapi kalau misal belum nambah juga terpaksa dirujuk ke rumah sakit ya bu ?."
"Harus operasi ya ?."
"Semoga saja tidak ya bu,berdo'a supaya bisa normal. Soalnya ini kan juga sudah lewat hpl kan bu? takutnya nanti ada kondisi yang tidak kita inginkan. kasian ibu dan bayinya juga sudah kelelahan dari kemarin merasakan kontraksinya."
Aku menambah semangatku,kali ini aku memaksa menelan makanan dan juga berjalan naik turun tangga agar nanti kuat ketika persalinan. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00.
"Ini belum juga nambah bu, kita harus segera ke rumah sakit !."
Mau tak mau aku mengiyakan perkataan bidan itu dan kami menuju rumah sakit khusus bersalin yang telah ditentukan. Bidan itu juga setia mendampingiku hingga rumah sakit. Sesampainya disana kami langsung disambut oleh perawat yang bertugas.
"Rujukan dari klinik ya?."
"Iya."
"Ayo silahkan langsung masuk ke ruang dokter."
Para petugas terlihat sangat sigap dan tanggap dalam menangani pasien. Tidak bertele-tele dan membuang waktu.
"Silahkan berbaring bu, saya usg dulu."
"Baik dok."
"Ini gak nambah ya bukaannya dari kemaren ? udah lewat hpl juga?."
"Iya dok."
"Loh ini keliatan mukanya tuh ! harusnya kalau bayi 9 bulan udah mau lahir tuh di usg gak keliatan mukanya. Ini posisinya mlumah bu."
"Terus gimana dong dok."
"Ya pilihannya ada 2 bu,kalo gak di pacu ya operasi sesar. Tapi kalo dipacu nanti kemungkinan di vacum juga pas mau keluarga dan itu sangat beresiko untuk ibu dan bayi. Lebih baik sesar aja bu untuk lebih amannya."
"Yasudah baik kalo gitu dok."
Perawat segera membawaku keruang sterilisasi. Ia memberikanku baju ganti dan menyuruhku mengganti pakaianku. Baru setelah itu aku berbaring dan mereka menyuntikanku ditangan kanan dan kiriku. Tangan kiri untuk suntik yang kemudian dipasang infus dan suntikan tangan kanan untuk antibiotik. Suntikan kedua entah mengapa terasa sakit dan panas. Tak lupa mereka juga memasang selang pernafasan di hidungku untuk membantuku bernafas karena memang tubuhku sudah mulai lemas. Namun beberapa saat setelah semua itu terpasang tiba - tiba badanku mengginggil hebat hingga membuat ranjang ikut goyang, aku seperti kejang. Ibuku yang semula berada di sampingku pun panik dan segera memanggil perawat. terlihat banyak perawat berbondong - bondong datang menghampiri ranjangku, mereka semua terlihat panik hingga beberapa saat kemudian aku dapat ditenangkan.
"Bu pindah keruang operasi sekarang ya."
Dua perawat menuntunku di kanan dan kiri menuju ruang operasi. Aku duduk di ranjang operasi dan mereka mulai menusukkan suntikan bius di punggungku bagian bawah.
"Disuntik bius ya bu. Tahan nafas jangan bergerak badannya rileks."
Setelah suntikan itu berhasil, mereka menyuruhku berbaring dan menggerakkan kakiku.
"Coba diangkat kakinya bu."
Aku menaikkan dan memang terasa berat namun aku masih bisa merasakannya. Hanya area perut kebawah saja yang mati rasa,area atas masih terasa normal. Salah satu dokter berada didekat kepalaku dan terus mengajakku bicara. Di antara dada dan perut ditutupi dengan selembar kain sehingga aku masih melihat beberapa kepala yang sedang menyayat - nyanyat perutku. Hingga aku merasakan sayatan pertama.
"Gak sakit kan bu? kaya digaris pake polpen aja?."
"Sakit."
"Sayatan kedua gak sakit juga kan bu?."
"Sakit dok."
"Gimana sayatan yang ini sakit gak?."
"Sakit ini dok."
Hingga akhirnya 2 orang dokter yang tepat berdiri di samping kanan dan kiriku menekan perutku dengan sangat kuat secara bersamaan dengan diiringi loncatan.
"Hmmmmmmh sakiiiiiiit !."
Aku merasakan sakit yang luar biasa hingga aku kesulitan bernafas. Semua orang terkejut dan panik. Dokter yang tadinya berdiri didekat kepalaku segera berlari dan menyuntikkan sesuatu di kantung infusku hingga aku tidak sadarkan diri.
Aku mulai mendengar suara-suara namun belum bisa membuka mataku. Aku merasakan mual yang sangat luar biasa hingga memuntahkan isi perutku sebanyak tiga kali. Mulut bergerak namun mata tetap tak mampu terbuka. Hingga aku merasa digantikan baju dan kemudian dipindahkan keranjang yang lainnya.
Aku mulai bisa membuka mataku tapi sama sekali tak bisa menggerakkan badanku. Rupanya aku sudah berada diruang sterilisasi. Aku melihat ibukku tengah menangis di sampingku. Ia segera memelukku dan menciumku.
"Nak akhirnya kamu sadar juga."
"Sudah berapa lama aku tidak sadar bu?"
"Lama nak,pasien lain yang operasinya bersamaan denganmu sadar semua. Mereka hanya dibius lokal saja."
"Ini anakmu nak." Ibuku memperlihatkan foto bayi mungil yang sangat lucu padaku. Rasa bahagia dan terharu bercampur menjadi satu. Akhirnya bayi mungil yang dulu ada didalam perutku sudah lahir di dunia ini hingga membuat perutku datar kembali.
"Aku belum bisa melihatnya langsung bu?."
"Belum nak dia masih dihangatkan diruang bayi, kata perawat akan dipertemukan besok pagi setelah kau dipindahkan di ruang inap."
Aku mulai bisa menggerakkan kaki dan tanganku. Aku tidak sabar menunggu datangnya pagi namun malam malah terasa sangat lama.
"Bu, bu keluar darah di infusku."
Ibuku ketiduran,mungkin ia kelelahan lantaran menemaniku selama persalinan. Tanganku sudah mengeluarkan darah begitu banyak. Ibuku pun panik dan mencari keberadaan perawat. Agak sulit menemukan mereka karena waktu sudah sangat larut. Dengan bantuan security akhirnya ia menemukan ruangan perawat. Mereka panik dan segera mengganti infusku.
Pagi hari telah tiba dan saatnya aku dipindahkan. Beberapa perawat datang dan memindahkanku di ruang inap. Ranjang yang aku gunakan pun juga harus diganti hingga membuat beberapa orang bersama - sama mengangkat tubuhku yang masih lemah dan sakit. Percayalah, ketika efek obat biusnya sudah hilang,sakit luka operasi yang dirasakan akan semakin menjadi.
Aku menunggu hingga cukup lama hingga waktunya aku dipertemukan oleh paduka kecilku. Perawat mendorong trolly yang berisikan anakku. Ibukku segera menggendongnya dan memberikannya padaku. Tak ada kebahagiaan yang melebihi ini, ketika aku memeluk dan menciumi anakku.
Selesai.