"Yasi." Alika.
"Kasih tau teman mu." ucap kakak berkaca mata, lalu mereka bertiga pergi.
"Mereka adalah geng mawar yang beranggotakan kak Angela sebagai ketua, kak Marlin, kak Laras, kak Yuni dan masih banyak lainnya. Mereka memiliki anggota anak - anak populer dari kelas 1 sampai kelas 3, sudah ayo jangan berurusan dengan mereka." Alika.
"Tapi aku tak mengerti loh apa yang mereka katakan, atau jangan - jangan berhubungan dengan kakak formalin waktu itu." Yasinta.
"Maksudmu kak Hendra, bisa jadi sih karena kak Angela menyukai kak Hendra sejak pertama masuk sekolah ini." Alika.
"Hai, ngapain kalian bisik h bisik begitu ayo bagi aku bicara apa kalian berdua." Kania.
"Tidak ada kok, cuma aku tadi dimarahi sama kak Angela dan teman - temannya." Yasinta.
"Hah? Kok bisa sih kamu berhubungan dengan mereka. Mereka itu kan sangat kejam dan juga tanpa ampun." Kania.
"Sepertinya kak Angela dan gengnya salah paham padaku karena si formalin itu deh." Yasinta.
Sekolah pagi itu sangat tenang dan Yasinta selalu berusaha menghindari agar tak ketemu sama Mahendra supaya tak dimarahi oleh gengnya Angela lagi.
💓
"Tunggu sepertinya ada yang kurang deh dengan tariannya." Deril yang menjadi seksi pengamat untuk semua anggota seni yang akan diadakan perayaan peringatan 17 Agustus nanti setelah selesai lomba basket antar sekolah.
"Maksudmu apa Ril? Apa kau punya kandidat penari yang lebih bagus dari pada Marlin dan Angela?" Bu Ayu
"Ya itulah Bu, waktu itu saya melihat seorang penari yang sangat luar biasa di panggung ini, namun sayangnya saya tidak tau siapa dia." Deril
"Ah, ini hanyalah perayaan saja Ril, untuk apa harus penari profesional. Angel dan aku juga sudah baik kok, apa lagi Angel sangat berbakat." Marlin
"Justru itu kawan, karena acara ini akan dilihat oleh sekolah lain dan juga para gurunya maka kita harus semaksimal mungkin. Aku gak bilang kalau kalian buruk cuma kalian kurang eskpresi saja saat menari." Deril.
"Memangnya ada siapa lagi di sini, anak seni tak ada yang bisa mengikuti iramanya kalau diadakan seleksi mendadak." Marlin.
"Sudah - sudah, waktunya memang mepet kalau harus cari penggantinya nanti diperbaiki lagi saja." Bu Ayu.
"Baiklah Bu, nanti kalau Deril dapat menemukan penari itu Deril akan bawah pada ibu untuk dilihat cara dia menarinya." Deril.
"Apa - apa an si Deril itu bikin kesel aja." marlin
"Sudah ayo ke kantin karena aku lapar banget." Angela.
Priiiit,,, prit,,, prit
"Ayo oper bolanya." teriak pak Kolek ditengah lapangan yang sedang mengajar olaraga anak kelas 1
"Yasi oper bolanya ke aku." Alika.
Siang itu mereka sedang jam pelajaran olaraga dan sedang melakukan tanding voli dengan teman sekelasnya. Mereka semua menikmati permainan mereka dan berbaur jadi satu sampai konsentrasi mereka buyar karena Mahendra melintas di lapangan itu untuk bertemu dengan pak Kolek.
"Ya ampun kenapa kak Hendra begitu cakep ya." ucap semua anak cewek teman sekelas Yasinta.
"Baiklah nanti latihan setelah jam sekolah saja, kamu arus enaknya bagaimana." ucap pak Kolek memukul bahu Mahendra dengan akrab seolah bisacara dengan temannya.
"Eh, kak Hendra mendekat kemari." kasak kusuk semua anak cewek.
Yasinta mundur dan lari memungut bola untuk dibawah ke ruang penyimpanan karena bel istirahat telah berbunyi. Dengan cepat Yasinta lari menghindari Mahendra karena dia gak mau dicegat anak geng mawar lagi.
"Ya akhirnya selesai." Kania.
"Ayo Yasi, kita ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan." Alika.
"Eh," Alika dan Kania kaget karena Mahendra ada dibelakang mereka.
"Keluarlah dulu." bisik Mahendra dan dengan patuh kedua teman Yasinta itu keluar.
"Ok, selesai. Ayo ke kan,,," kalimat Yasi terhenti karena melihat Mahendra.
"Halo aku belum tau nama lengkap mu siapa." Mahendra.
"U-untuk apa kakak tau, saya permisi karena teman saya sudah menunggu." Yasinta menunduk dan pergi.
"Siapa yang bilang kau boleh pergi," Mahendra menahan tangan Yasinta, "Katakan dulu siapa namamu." bisik Mahendra.
"Yasinta" teriak Yasinta dan lari keluar ruang penyimpanan.
"Gila, apa aku sudah gila. Aku punya tunangan tapi entah kenapa aku begitu tertarik pada anak itu." Mahendra bernafas kasar.
"Yasinta." Mahendra tersenyum dan keluar.
Deril yang berusaha mencari Yasinta yang waktu itu dia lihat sedang menari saat dia melakukan rapat mangalami kesulitan karena Deril tak tau siapa nama penari yang dia lihat waktu itu, sedangkan adik kelas ada begitu banyak dia juga tak begitu ingat dengan wajahnya karena Deril mudah lupa dengan wajah orang.
💓
"Dasar gila, apa sih maunya sebenarnya. Aku kan hanya ingin sekolah dengan tenang kenapa dia terus saja ingin membuat ku susah." gerutu Yasinta kesal dalam kamarnya.
"Marwa, sayang keluarlah ada Yusnia datang ini" teriak mama Yasinta
"Nia naik ke kamar kak Marwa boleh Tan?" Yusnia
"Boleh, naik saja" mama Yasinta.
Tok tok tok
"Kak Nia boleh masuk?" Yusnia
"Iya, iya masuk saja." Yasinta.
"Hiya,,," Yasinta mengejutkan dengan memukul dengan bantal
"Aah, kakak sedang apa?" Yusnia
"Oh, ku pikir Kania. Maaf, maaf ya gak tau." Yasinta.
Setelah diam beberapa detik mereka pun tertawa bersamaan karena merasa lucu, dan Yasinta merasa malu pada Yusnia yang tiba - tiba saja dia pukul dengan bantal.
"Mau perang bantal ya, setidaknya biarkan aku juga memegang satu bantal" Yusnia mengambil bantal Yasinta dan memukul Yasinta, sampai akhirnya mereka saling serang.
"Sudah - sudah aku nyerah capek." Yasinta menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Hem, iya." Yusnia menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.
"Kakak seru ya, aku kalau di rumah tak bisa main dan tertawa lepas seperti ini karena gak ada teman main. Apa aku boleh sering datang kesini untuk main sama kakak?" Yusnia
"Tentu saja, nanti ku kenalkan dengan Kania dan Alika juga kita bisa main bareng." Yasinta.
"Memang boleh begitu kak?" Yusnia
"Tentu saja boleh, tapi kenapa kamu kemari? Apa kamu datang sama orang tuamu? Apa orang itu juga ikut datang kemari?" Yasinta mendekat dan berkata dengan serius.
"Orang itu?" Yusnia memiringkan kepalanya
"Iya, kakak mu." Yasinta
"Ooh, tidak aku datang sendiri karena mau ngajak kakak ke Basar yang akan dialami di sekolah orang itu untuk memperingati kemerdekaan." Yusnia.
"Hei, kanapa kau juga memanggilnya orang itu?" Yasinta.
"Karena kakak ipar bilang begitu jadi aku ikuti." Yusnia tersenyum
Setelahnya mereka tertawa lagi dengan terbahak. Yasinta dan Yusnia jadi akrab dan Yusnia banyak cerita soal kakaknya yang dingin dan juga tak mudah untuk tersenyum, begitu juga dengan Yasinta yang menceritakan kakak kelasnya yang dingin dan selalu mengganggunya sampai dia berurusan dengan geng mawar yang pemimpinnya menyukai kakak kelas dingin itu.
"Dasar si formalin" Yasinta menggerutu dengan kesal.
"Formalin? Itu julukannya ya kak?" Yusnia.
"Tentu karena dia begitu dingin." Yasinta.
"Baiklah kak kita ketemu di sekolah ya lusa." ucap Yusnia dan pamit pulang.
"Hem, tak buruk juga punya adik perempuan jadi ada teman untuk main dan bergosip." Yasinta tersenyum sambil lompat - lompat
Bersambung...