Kak Julian, semua orang tahu dia pemuda pekerja keras dan baik hati. Ramah dan suka menolong. Dimasa lalu dia seperti itu. Sampai semua gadis yang mengenalnya, selalu merasa nyaman padanya. Begitupun aku. Aku yang tidak sadar dari kecil sudah mengikutinya kemanapun. Masuk ke sekolah yang sama dengannya selama 12 tahun, bahkan aku berencana untuk masuk ke universitas tempat nya menempuh perguruan tinggi. Ya aku melakukannya. Semua yang kulakukan bukan semata untuk dapat membuntutinya. Aku juga menjalani hari-hari ku sebagai gadis biasa dengan rutinitas pelajar. Aku bukan stalker. Bukan pula penggemar fanatic yang terobsesi terhadap nya. Aku hanya menyukainya. Iya! Aku sudah menyukainya bertahun-tahun. Dan selama belasan tahun ini aku tak pernah ada kemajuan.
Saat masuk universitas aku sangat senang. Siapa sangka kak Julian jadi salah satu senior satu jurusan denganku. Aku tahu dia populer diantara para gadis di kampus ini, sama seperti saat masih SMA atau SMP dulu. Tapi tak apa. Asal bisa melihatnya itu cukup membuatku senang. Sangking senangnya mungkin wajahku akan memerah setiap melihat wajah itu tersenyum. Aku yang terlalu mendambanya ini sampai lupa kalau sebenarnya kak Julian tak pernah sadar aku selalu jadi adik kelasnya. Aku dan dia seperti berdiri ditangga yang berbeda. Dia berdiri di ujung anak tangga tertinggi, sedangkan aku adalah salah satu dari banyak gadis yang berdiri di anak tangga paling bawah. Ya aku cukup sedih. Tapi juga tak bisa apa-apa. Hingga saatnya aku mendapat kesempatan untuk mendekati kak Julian dari orang yang entah darimana tahu diriku. Muncul di depanku dan tiba-tiba tahu rahasia terbesarku.
"Oh? Kau Arin kan? Kau mengejarnya sampai kemari? Luar biasa pertahananmu." Pemuda tampan yang sepertinya lebih tinggi dari Kak Julian. Tapi aku tak tertarik. Pertama kali kami saling kenal dimulai saat itu. Saat aku diam-diam memandangi Kak Julian di tepi lapangan dan terpergok olehnya.
"Kau menyukainya sangat lama ya? Kenapa tidak menghampiri dia dan jujur?" Dia menyuruhku dengan begitu mudah tanpa tahu isi kepalaku.
" Jika kau menghampirinya dan bicara sekarang mungkin kau akan lebih cepat mendapatkan jatah patah hati dari Julian." Dia selalu mengatakan kata-kata yang membuat rasa percaya diriku semakin ciut. Atau mengatakan hal yang bisa membuatku semakin tak pantas mendambakan Kak Julian. Itu benar-benar aku rasakan. Aku merasa rendah. Dan itu membuat moodku terasa datar. Beberapa hari setelah hari pertama aku bertemu denganya, tiba-tiba dia muncul lagi di hadapanku saat aku sedang makan siang di kantin.
"Kau tidak menonton Julian bermain basket? Banyak Dewi kampus yang datang mendukungnya." Apa lagi? Apa dia akan memberiku kalimat yang menjatuhkan mental ku untuk kedua kalinya?
"Ya, sebaiknya kau tidak usah pergi. Lagipula kau tidak akan terlihat dimata Julian." Kan... Sudah kuduga. Dan yang membuatku kesal. Dia ikut memakan kentang goreng yang kubeli. Moodku buruk. Lebih baik langsung pergi daripada diam didepan orang yang bahkan saat itu belum kutahu namanya.
Itu belum apa-apa. Di pertemuan kami yang ketiga, lagi-lagi dia muncul tiba-tiba saat aku belajar di perpustakaan. Dengan sengaja dia berbicara lantang padaku,
"Kau murung akhir-akhir ini? Apa kau sedih karena sainganmu semakin banyak? Apa kau tak percaya diri? Kau biasanya selalu ada disetiap Julian dimana-mana?" walaupun aku tak menghiraukannya, dia terus bicara. Dan akhirnya
"Kalian berdua berisik!!! Keluar dari perpustakaan!!!" pengawas perpustakaan mengusir kami dengan galaknya. Bergegas aku meninggalkan perpustakaan. Hariku berlalu benar-benar buruk sejak bertemu orang ini.
"Kau sengaja menggangguku?" Ya aku sudah tidak tahan. Semua harus dibicarakan sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan berkelahi dengan pemuda ini.
"Aku tahu kau mengikuti Julian sejak SD. Bagaimana jika aku mengatakan hal ini pada Julian dan teman-teman lainya?" Konyol! Dia mengancam ku.
"Lakukan jika kau mau!"
"Ok! Hey semuanya, dengarkan ak,,,!" Kubungkam mulutnya segera. Seluruh murid dilorong perpustakaan menengok kearah kami. Dia benar-benar melakukannya. Gila! Aku tak bisa membiarkan anak-anak kampus tahu. Apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu aku melakukan itu.
"Kau tahu darimana? Kau ini siapa? Muncul tiba-tiba dan merusak hari-hariku?"
"Aku orang terdekat Julian. K-E-I-N." Dan saat dia mengeja namanya aku baru tahu dia siapa. Sepupu Kak Julian? Yang namanya juga sering disebut oleh anak-anak di kampus.
"Aku tahu rahasiamu karena aku selalu bersama Julian. Wajahmu itu terus menerus terlihat. Kau itu nampak menyedihkan karena terus mengikutinya. Jadi ku putuskan untuk membantumu." Membantuku? Apa maksudnya?
"Dua pilihan. Satu, Kau mundur sendiri dengan harga diri dan sadar diri. Dua, kau perjuangkan perasaanmu dan patah hati." Aku yang bodoh atau memang bahasanya yang berkelit-kelit?
"Cepat jawab!"
"Tentu saja aku akan perjuangkan perasaanku. Dan tentu tanpa bantuanmu."
"Yakin? Kau menyukainya sejak dulu dan tak membuat kemajuan sedikitpun hingga sekarang? Yakin mau menolak tawaranku?" Dia benar. Tak ada kemajuan selama ini. Jika aku menerima tawarannya apa dia akan meminta sesuatu dariku?
"Aku membantumu karena kau terlihat menyedihkan. Aku kasian padamu! Aku tak mengharapkan balasan apapun darimu." Dia mengatakannya bahkan sebelum aku bertanya. Dia cukup peka juga dengan pikiranku.
Iya! Aku menerima tawarannya. Dan kami mulai saling terhubung setelah itu. Dia benar-benar membantu ku. Langkah pertama dia membawaku berkenalan dengan Kak Julian secara langsung. Sungguh tak terbayangkan. Aku gugup dan sangat senang. Bahkan Kak Julian menjabat tanganku dan tersenyum padaku. Hampir-hampir aku menghancurkan perkenalan ini karena kegugupanku. Untunglah Kak Kein berhasil menutupi kesalahanku.
Langkah keduanya, Kak Kein mengajaku menyampaikan bekal makan siang dari ibu Kak Julian yang dititipkan pada Kak Kein. Aku masih gugup. Bahkan tanganku gemetar sangking geroginya saat Kak Kein menyuruh ku memberikan kotak bekal itu. Dan lagi-lagi aku hampir menjatuhkan kotak bekal itu. Untung saja Kak Kein sigap membenahi posisi tanganku. Syukurlah masih berjalan baik.
Dihari selanjutnya Kak Kein mengajaku belajar di rumah Kak Julian. Kali ini sangat mengesankan, Kak Julian yang ramah membuat rasa gugup dan canggung ku perlahan memudar. Sangat menyenangkan bisa mengobrol banyak dengannya. Semuanya terus berjalan baik. Kak Kein selalu mengajakku di setiap ia akan bertemu Kak Julian dan membantu ku agar semua berjalan lancar. Memberi kesempatan padaku untuk sebanyak mungkin bisa menyapa Kak Julian. Walaupun awalnya Kak Kein memberi kesan buruk, pada akhirnya aku tahu Kak Kein benar-benar tulus membantuku. Dan aku juga mulai terbiasa dengan Kak Kein di sampingku.
Sepertinya perlahan aku menjadi bagian di hari-hari Kak Julian. Kami saling menyapa saat di kampus. Makan siang bersama dan bahkan Kak Julian mengajaku secara khusus mendampinginya bermain basket. Hari terus berganti, berlalu dari Minggu ke Minggu, Kami semakin banyak melakukan hal bersama baik di dalam atau diluar kampus. Kemajuan yang sangat pesat dan bagus. Aku fikir aku akan bisa segera jujur pada Kak Julian tentang perasaan ku, dan entah mengapa aku begitu yakin aku akan mendapat balasan yang aku mau. Sikap Kak Julian sangat hangat. Itu membuat ku sangat yakin bahwa aku telah menempati satu posisi bagus di hatinya.
Sore di awal pekan aku duduk di taman kampus. Menunggu Kak Julian untuk pulang bersama. Ia sedang menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-temannya. Aku cukup terkejut saat tiba-tiba Kak Kein duduk di sampingku dengan wajah datar.
"Lama tak bertemu. Kau terlihat sangat bahagia sekarang."
"Berkat Kak Kein juga." Memang benar sudah lama aku tak bertemu dengannya. Jujur saja aku cukup merindukannya Karena dia sebelumnya selalu bersamaku menemui Kak Julian. Jika difikir aku cukup jahat juga karena tiba-tiba melupakannya setelah aku berhasil mendekati Kak Julian.
"Aku akan mentraktir Kak Kein makan siang besok untuk ucapan terimakasih."
"Tidak perlu. Sebagai gantinya, apa kau mau dengar suatu pengakuan dariku?" Wajahnya tersenyum tapi terdengar serius. Aku mengangguk menyanggupinya.
"Aku menyukaimu."
"Deg!!!" Apa??? Apa yang kudengar???
"Aku tahu semua karena aku memperhatikanmu yang memperhatikan Julian. Aku mengatakan ini karena aku ingin kau tahu, aku punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang aku simpan belasan tahun padamu. Jadi... " Kak Kein mendekat kan wajahnya padaku dan "cup!" Ia mengecup pipiku dengan wajah sendu.
"Kau juga harus berani mengatakan perasaanmu pada Julian." Badanku kaku. Bibirku membeku dan tak bisa berucap apapun. Menatap sorot matanya yang lemah. Dia bangkit dan berbalik.
"Aku sudah membantumu. Tugasku selesai. Selamat tinggal."
Tidak! Ada apa dengan perasaanku? Tiba-tiba kacau dan beku. Langkah Kak Kein menyusuri jalan taman meninggalkan aku yang menatap punggungnya dengan perasaan yang tiba-tiba terasa sesak. Aku ingin menahannya tapi tubuhku tak bergerak sesuai pikiranku. Seperti ingin berteriak padanya "Tunggu!"
****
Waktu berlalu semakin jauh, aku dan Kak Julian semakin dekat. Tapi entah mengapa aku terus memikirkan Kak Kein. Sudah lama aku tak melihatnya sejak saat itu. Aku merasa sangat merindukannya. Aku sampai tidak sadar aku tak sebahagia kemarin-kemarin walaupun ada Kak Julian disampingku. Seperti ada yang hilang. Apa aku sudah serakah? Ada perasaan ingin menahan Kak Kein disampingku, tapi aku sangat tahu bahwa aku menyukai Kak Julian. Aku terus melamun dan menanyakan tentang perasaan ini pada diriku sendiri.
Malam ini Kak Julian memintaku pergi ke taman kota. Dia bilang ada yang akan ia katakan padaku. Tapi aku tak tahu apa itu. Pikiranku sudah terlalu kalut ke arah Kak Kein. Sebenarnya perasaan apa yang aku rasakan terhadap Kak Kein?
Jam 7 sore, aku sudah sampai di taman kota. Aku baru sadar kalau hari ini hari kasih sayang. Banyak sekali tulisan yang berisi ucapan-ucapan terpanjang di sisi taman. Aku menengok ke segala arah. Berjalan mengikuti arah kaki yang mungkin saja akan membawaku menemukan Kak Julian. Aku mengirim pesan padanya tapi tidak dibalas. Mungkin dalam perjalanan. Dan saat aku sedang duduk-duduk, ada seorang teman yang membawa pacarnya menghampiriku. Kami saling mengobrol, hingga aku mendengar satu pertanyaan yang membuatku bungkam.
"Kau janjian dengan Kak Kein?" Aku tercengang. Kemudian menggeleng.
"Kalian terlihat sangat dekat dan cocok." Perasaanku semakin tak jelas. Aku hanya diam. Dan setelah itu mereka berpamitan untuk pulang. Fikiranku lagi-lagi pergi mencari segala sisa masa yang ku lalui dengan Kak Kein. Semakin aku mengulang segala ingatan itu, semakin dalam nyeri di dalam hatiku.
Aku ini kenapa?
Perasaan apa ini?
Kenapa perasaanku tak jelas hanya karena Kak Kein memutuskan pergi?
Aku ini menyukai siapa sebenarnya?
Kak Kein atau Kak Julian?
"Ting!!!!" Satu pesan masuk menghancurkan segala lamunanku.
Dari : Kak Julian
"Berbalik lah!"
Aku memutar langkahku berbalik dan perlahan mengangkat pandangan.
"Set!!! ""Grepp!" "Maaf."
"Deg!!!" Suara Kak Kein. Nafasnya hangat membelai telinga ku. Tangannya yang kekar memeluk tubuhku dengan erat. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang karena dadanya menempel pada kulit telingaku. Perasaan ku yang kacau tadi mencair berubah menjadi kenyamanan dan ketenangan. Tanpa sadar aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Membalas pelukannya dengan kuat.
"Aku rindu Kak Kein." Ucapku menenggelamkan wajahku di dadanya. Dia tersentak. Sepertinya terkejut dengan kalimat ku. Beberapa detik kemudian kami melepaskan pelukan dan menghadap ke dua pasang mata yang menatap ke arah kami dengan tercengang. Kak Julian yang bergandengan dengan seorang gadis cantik. Sepertinya pacarnya. Tapi aku sama sekali tak merasakan apapun melihat mereka. Padahal aku menyukai Kak Julian sejak lama. Daripada itu aku merasa sangat senang Kak Kein berdiri di samping ku.
"Kau mau memberi tahu Arin kalau kau pacaran dengan Irene kan?" Irene? Irene Dewi kampus? Aku baru pertama kali melihatnya. Dia memang sangat cantik dan cocok dengan Kak Julian.
"Aku juga mau memberi tahu kalian, Arin adalah pacarku." Aku melebarkan mataku, jantungku berdetak kencang mendengar kalimat Kak Kein. Perlahan senyumku merekah saat kedua mata lembut nya memandangku.
"Aku... Menyukai nya sejak SD hingga saat ini."
****
Kein POV.
Saat SD, di satu hari hujan turun, aku berkelahi dengan Julian dan kami saling dorong di taman bermain. Julian mendorongku hingga aku tersungkur. Saat ia melihat sikuku terluka, Ia berlari karena takut dimarahi ibuku. Tapi ada gadis kecil yang lebih muda dariku datang dan memberiku obat. Ia mencuci lukaku tanpa menanyakan namaku. Dia hanya berkata "Kak Julian melukai kakak, aku menolong kakak karena aku menebus kesalahannya." Sejak saat itu aku memutuskan untuk menyukainya. Aku yang menyukainya sebagai anak kecil. Tiba-tiba terus membawa perasaan itu hingga dewasa. Kebiasaan ku memperhatikanya terbawa sampai sekarang. Sebenarnya tanpa sadar dia sudah membawa dirinya padaku. Aku ingin mencoba membuat dia menyukaiku walau aku tahu dia menganggumi sepupuku sejak kecil. Karena itu, aku akan memperjuangkan perasaan ini. Aku akan mendekati nya dengan cara membantu nya memperjuangkan perasaan yang ia simpan untuk Julian. Ada kemungkinan aku yang terluka, tapi tak apa. Baik aku maupun dia harus memperjuangkan perasaan yang kami simpan.
***
Arin POV.
Hari itu Kak Kein datang sebenarnya untuk menjaga perasaan ku. Dia tahu Kak Julian baru saja menyatakan perasaan pada Irene. Jadi Kak Kein menyangka aku akan patah hati dan bersedih saat Kak Julian mengenalkan Irene padaku. Dia bergegas menyusul ke taman kota saat tau Kak Julian pergi dengan Irene untuk menemuiku. Malam itu juga aku mengambil kesempatan untuk bicara padanya. Aku menyampaikan semua apa yang aku rasakan. Aku bersyukur. Sejak saat itu akhirnya aku dan Kak Kein menjalin hubungan yang baik. Kami berpacaran dengan bahagia. Dengan segala yang terjadi aku semakin tahu. Suka dan kagum itu berbeda. Aku hanya kagum pada kak Julian dan orang yang sebenarnya kusukai adalah Kak Kein yang selalu memberi ku kenyamanan. Sesekali kami double date dengan Kak Julian dan Irene. Tiga tahun menjalin hubungan, aku dan Kak Kein memutuskan bertunangan dan tinggal satu atap. Menjalani hari-hari bersama dalam situasi dan kondisi apapun.
Kami akan bahagia selamanya, iya! Aku berharap seperti itu. Semoga kalian juga mendapat kebahagiaan seperti yang kalian inginkan.
End.