Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang Helen katakan. Dia gila! Sangat gila!
Baru saja dia memintaku untuk menjadi dirinya di hari pernikahannya besok.
Dengan memaksa, dia menggeliat dilengan kiriku sambil merengek histeris. Aku risi, nyaris membentaknya tapi kutahan. Bagaimanapun, dia sahabatku. Aku—kurasa, aku harus—
“Yak! Jessie, lo harus bantu gue!” teriaknya berderai air mata.
Lah, dia nangis? Pikirku. Tampak kemerah dimatanya tapi aku tidak boleh goyah.
“Ngga!” Tolakku telak. “Ngaco! Lo pikir, pernikahan itu mainan?!”
“Bukan gitu!” Helen buru-buru bangkit lalu duduk disampingnya. Suaranya yang telah serak kembali mengudara. “Lo harus bertahan selama 3 hari. Setelah itu, gue bakal urus perceraian lo. Plis, bantu gue, ya? Gue ngga mau nikah sama dia! Gue ngga suka sama dia!”
“Terus? Gimana sama gue?!” balasku kesal berbalut sewot. “Bahkan gue nggak kenal dia... dan lo malah seenaknya maksa gue!”
Helen terdiam. Tubuh tambunnya perlahan menjauh dari sisiku. Pun, dapat kurasakan perubahan atmosfer diantara kami; aku dengan emosiku dan Helen dengan rengekannya.
Mata kami sempat bertemu tapi Helen buru-buru mengelak. “Maaf, Jes. Gue udah keterlaluan.” Begitu katanya, sebelum dia pergi dari kamarku.
Perkataan Helen barusan berhasil menarikku kembali ke realita. Aku menunduk sambil menahan sesak didada. Tidak seharusnya aku seperti itu namun, aku juga tidak bisa melakukannya. Oh, God! Apa yang harus kulakukan?
Menikahi calon Suami Helen atau merusak tali persahabatan kami?
Tok! Tok!
Seketika aku terkesiap. Rupanya, ada seseorang diluar sana. “Masuk!” cetusku. Tidak lama kemudian, maid-ku datang. Dia membawa segelas susu dan sebuah apel.
Bibi Maid tersenyum lebar lalu menyahut, “Waktunya minum susu.”
Aku balas tersenyum. “Aku udah dewasa, Bi. Udah ngga minum susu lagi.”
“Malam ini special,”, jelasnya seraya memberikan segelas susu padaku. “kita dapat kiriman dari tetangga. Katanya, ini dari Swiss.”
Aku terkekeh kecil. “Nyari susu aja sampai ke Swiss?”
Bibi Maid hanya tersenyum. Senyum yang tidak seperti biasanya.
Tiga detik kemudian, aku meneguk susu tersebut.
Tiga detik kemudian—
“Hooaaahhh....” Kepalaku sedikit pening. Tumpukan cahaya berebutan mengisi penglihatanku. Tubuhku juga sedikit nyeri. Aku ingin berdiri tapi kok tidak bisa?!
“AAARRRGGGHHHH!” jeritku bak orang kesetanan. Dimana aku sekarang? Kenapa tanganku dirantai? Kenapa aku mengenakan gaun putih? Lalu kamar siapa ini, kenapa banyak bunga mawar dan wangi menyengat?! Ada apa ini?!
Pikiranku terus saja melontarkan banyak pertanyaan hingga bunyi pintu terbuka menyita perhatianku.
Klek!
Perlahan, sosok laki-laki asing muncul dari sana. Tubuhnya tinggi dan ramping berbalut tuxedo mewah. Dia mengunci pintu lalu berjalan ke arahku sambil melonggarkan dasi. Ku rasa, aku mulai paham premisnya.
Sialan!
“YAK!” sergahku sebelum langkahnya semakin dekat.
Dia tercekat. Pun, begitu denganku.
“Diam disana! Jangan kesini!”
Namun, dia malah tersenyum miring kemudian berhenti tepat disamping ranjang yang kutempati.
Aura menyeramkan kian terasa saat tangan besarnya membelai telapak kakiku. Sentuhan ringan dan naik-turun itu membuatku gila. Aku mulai meronta-ronta sambil menahan tawa. “Udah! Geli!”
“Gimana? Seru?” tanyanya pertama kali buka suara.
Aku speechless mendengar suara beratnya. Kemudian, dia duduk disampingku dan membuka borgol dikedua kakiku.
“Kok diem? Tadi baru aja teriak,” godanya membuatku malu.
Sialan, minta dibawa ke neraka! Aku langsung menarik kedua kakiku begitu borgol-borgolnya terbuka. Melihat itu, Seungmin kembali menatap netraku. Kali ini, terasa lebih serius.
“Apa?” lontarku berani. “Lo siapa?! Kenapa gue ada disini?! Kenapa gue oakai gaun pengantin?! Lo penculik, ya?!”
“Atau jangan-jangan—“
“Kita baru nikah,” jawabnya enteng. “Gaun lo, gue yang—“
Aku nyaris terkena serangan jantung. Dengan mudahnya, dia mengatakan hal tersebut. “Lo bercanda, kan?”
Laki-laki itu tersenyum tipis lalu membelai pelipisku.
“Aaarrggghhh! Jangan sentuh gue! Jijik tau!” amukku.
Namun, sentuhannya perlahan berubah menjadi cengkraman kuat didaguku. Aku menjerit terkejut dihadapannya.
“AAARRRRGGGHHH SAAAKKKIIITTT!”
“Gue Park Seungmin. Selamat datang di dunia gue, Sahabatnya Helen.”
Lima belas menit berlalu, manusia itu masih berada di kamar mandi setelah membuatku kesakitan. Seungmin, namanya tidak asing sejak sebulan yang lalu. Sejak Helen bercerita bahwa dia akan menikah dengan laki-laki kaya nan tampan. Dan mungkin inilah sosok yang ia maksud dulu.
Aku meringis, antara benci dan menyesal. Semua rasa itu membuatku terbatuk-batuk. “Uhuk! Uhuk!” Tenggorokkaku sakit tapi belum puas menyumpahi sahabatku. Meski dia orang yang baik tapi aku tidak—belum bisa menerima ini.
“Minum ini.” Tangan itu tiba-tiba muncul, memberikan segelas air. Kurasa, air.
Aku menggeleng. Namun Seungmin bersikeras memaksaku. “Minum ini atau mau gue cekokin?”
Aku menggeleng tegas.
“Kenapa? Takut ada racunnya?” tukas Seungmin lalu tiba-tiba dia meneguk setengah isi gelas tersebut. Mataku terbelalak sempurna. “See?”
Tidak terjadi apa-apa tapi senyumnya kok mencurigakan. Seungmin meletakkan gelas tersebut dengan kasar. Bunyi hentakan gelas dan meja terdengar cukup jelas. Kami saling melontarkan pandangan sebelum akhirnya, tatapannya berubah sayu.
Pun, dia beralih membuka gembok pada kedua tanganku. Belum sempat bernapas lega, Seungmin langsung memelukku erat. Kulit lembab nan dingin, wangi mint dan rambut basah. Kok aku malah tergoda?
Pelukan itu kian mengerat, pun, tangannya ikut posesif. Lalu Seungmin beranjak menuju leherku. Dia berbuat nakal disana hingga aku kewalahan.
“Yak! Seungmin cukup! Lo gila, ya?!” makiku bercampur panik. “Lo pasti habis meracuni diri sendiri, kan?!”
“SEUNGMIN!” teriakku sambil menahan kepalanya yang kian naik. “LO UDAH KETERLALUAN! GUE NGGA TERIMA DENGAN PERNIKAHAN INI. JADI, LO NGGA BISA SEENAKNYA BEGINI!”
Seungmin mendadak berhenti. Salah satu tangannya membelai rahangku. Dia tersenyum licik. “Helen bilang, lo setuju. Jadi, kenapa lo memberontak?!”
“Sejak kapan?!” aku tidak percaya ucapannya.
“Sejak semalam.”
“Maksud lo?” Kenapa otakku tiba-tiba teringat kejadian malam itu. Malam ketika Helen berkunjung, kami bertengkar, Bibi membuatkanku susu lalu semua gelap. “Jangan bilang... kalian bersekutu?!”
Seungmin tertawa licik lalu dia mencium daguku sekilas. “Ngga, dia yang janjiin, gue yang nungguin.”
“Hah? Terus kenapa kita bisa menikah? Lo pasti bohongkan?”
“Menikah ngga perlu persetujuan pihak wanita.” Lagi, dia melakukannya. “Semua orang setuju. Bahkan, ortu lo hadir. Hidup lo bakal sempurna, mulai hari ini.”
“NGGA! POKOKNYA, GUE NGGA MAU MENIKAH SAMA LO! GUE KENAL SAMA LO! HELEN JUGA SIALAN! GUE MAU PULANG! PAPA! PAPA! MAMA!
Seungmin menghela napasnya sembari menungguku selesai menangis. “Gue mau pu—mm”
Dasar cowok brengsek!