"Marwah ayo ganti bajumu dengan ini dan turunlah kebawah." perintah bunda padaku yang tak ku tau ada apa.
"Kenapa harus ganti baju sih ma, emang ada apa an?" tanyaku bingung pada mamaku siang itu.
"Untuk meresmikan tunangan mu." jawab mamaku lagi.
"Hah? Tunangan apa an ma. Aku aja baru kelas 1 SMU loh ma, itu pun baru masuk orientasi. Mama ini kenapa tiba - tiba tuna,,, emmm" mamaku membungkam mulutku dan mendorong tubuhku masuk kedalam kamarku.
"Anak ini, apa kau tak tau kalau dibawah itu ada keluarga dari tunanganmu hah?" mama memukul aku pelan dengan gemasnya.
"Maksud mama apa? Kenapa tiba - tiba saja aku punya tunangan dan kapan aku melakukan itu? Mama seenaknya saja kan menentukan, aku gak mau." kesal ku pada mamaku yamg seenaknya saja.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat pakai baju itu, 10 menit lagi mama datang." ucap mamaku dan keluar kamarku.
Tak lama kemudian mama masuk lagi dengan seorang penata rias yang akan merias wajahku. Aku ngedumel selama dirias dan itu membuat mbak penatarias tersenyum. Setelah selesai aku keluar, ternyata itu adalah kelurga sahabat mama dan papaku semasa mereka sekolah.
Aku melakukan foto - foto bersama dengan mereka, dan tak kulihat siapa tunangan ku sebenarnya karena orangnya gak ada, dia gak ikut datang karena sibuk.
💓
"Yasi,,," teriak Alika dan Kania dari depan pintu gerbang sekolah.
"Ini adalah hari terakhir orientasi kamu mau ambil eskul apa nanti?" tanya Alika padaku setelah kami berjalan masuk sekolah bersama
"Eskul apa an, aku gak mau ikut apa pun malas." jawab ku asal karena aku memang lagi malas.
Suasana hari itu sangat riuh karena katanya ketua OSIS yang biasanya tak datang hari ini dia bisa datang untuk memimpin hati penutupan orientasi dan mulai resminya kami siswa baru memasuki hati pertama sekolah di sekolahan Harapan Bangsa.
"Yasi, ikut keruangan ibu." ucap Bu Ayu padaku sesaat sebelum dimulainya acara penutupan, sehingga aku tak ikut penutupan orientasi hari itu.
"Tapi maaf Bu saya tidak mau ikut eskul apa pun dulu, karena saya masih tidak berminat ikut apa pun." jawab ku menolak saat Bu Ayu menyuruhku untuk memilih ikut eskul musik atau Pramuka.
"Apa kamu benar - benar tak ingin mengikuti apa pun juga? Sayang sekali loh bakat mu kalau dibiarkan begitu saja." ucap Bu Ayu yang sudah tau kalau aku suka musik dan tari.
"Memangnya kenapa Bu Ayu? Apakah dia punya bakar yang bagus?" tanya Bu Nita pada Bu Ayu yang merupakan guruku waktu di SMP.
"Benar Bu Nita, Yasi ini merupakan anak yang berbakat di bidang musik dan tari." jawab Bu Ayu dan Bu Nita terlihat sangat tertarik karena beliau adalah guru musik disekolah Harapan Bangsa.
Mereka berdua merayu aku namun aku tetap kekeh tak mau ikut apa pun, dan pada akhirnya Bu Niya mengijinkan aku untuk menggunakan aula seni jika aku ingin melakukan apa pun di sana. Dan hal itu membuat aku sangat senang, walau bagaimana pun aku masih suka nari.
"Dari mana kok lama sekali?" tanya Kania padaku saat aku masuk kedalam kelas.
"Dari ruang guru bicara sama Bu Ayu dan Bu Nita." bisik ku pada Kania.
"Baiklah, saya di sini sebagai guru seni dan musik sangat senang karena dari kelas ini ada beberapa siswa yang tertarik dan ikut dalam eskul yang akan saya pimpin." ucap Bu Nita didepan kelas. Bu Nita orangnya cantik dan seksi beliau juga sangat luwes dan baik.
"Ada 1 orang yang saya harapkan dia bisa ikut bergabung, namun saya akan selalu memberikan kesempatan itu dan membuka aula seni untuknya. Jadi kamu bisa bermain sesuka mu dalam aula itu Yasinta." sambung Bu Nita melihatku dengan tersenyum dan semua teman sekelas ikut menatapku.
Tak terasa sudah 1 bulan aku aktif belajar dan menjadi siswa resmi sekolah Harapan Bangsa. Banyaknya materi dan tugas membuat ku mulai suntuk dan otak ku butuh hiburan.
"Apa sebaiknya aku menghibur diri saja ya di aula tari sekalian nunggu Alika dan Kania selesai ikut eskul." gumam ku dan berjalan menuju ke aula seni.
"Wao,,, ini aula luas sekali. Apa kah di sini tempat diadakannya teater sekolah ya?" aku sangat terpukau melihat luasnya aula seni sekolahku itu.
"Hem, ada sound. Bolehkah aku memakainya?" aku bergumam dengan sangat senang dan aku menyalakan musik yang ternyata malah lagu India serial Asoka.
Tanpa sadar kakiku bergerak dan aku tak peduli lagi dengan tempat itu, ku lepas seragamku dan hanya tinggal kaos santai dengan bawahan abu - abu lalu ku likitkan jaketku di pinggangku, aku pun menari mengikuti iramanya yang merdu.
Ya maklum ya aku adalah orang yang suka dengan tarian dan sejak kelas 3 SD aku sudah masuk sanggar tari hingga waktu SMP aku telah mendalami zumba dan kesenian lainnya yang berhubungan dengan musik, bahkan sekarang aku adalah guru senam.
"Hah,,, hah,,, hah,,," nafasku memburu karena aku telah menari cukup lama dengan rasa puas yang sangat luar biasa.
"Terus saja tersenyum kayak orang bodoh, sampai tak tau dan tak sadar kalau sudah jadi tontonan banyak orang." tegur seseorang yang berjalan masuk kedalam aula seni.
"Eh,,," aku kaget karena sudah ada banyak orang dan semuanya anak cowok, mereka bertepuk tangan membuat ku malu karena terlalu asik sampai aku tak sadar.
"Siapa orang ini, kenapa dia bisa masuk kedalam aula ini dengan santainya." gumam ku melihat orang itu, dan aku langsung menggunakan seragamku serta melepas ikatan jaket ku.
"Begitu suka menari." ucap orang itu lagi dengan dingin saat dia berdiri tepat dibelakangku.
"Astaga, kaget." aku menatap takut karena sorot mata orang itu sangat tajam dan menakutkan.
"Lain kali perhatikan sekitar sebelum bermain dan jangan asal masuk ruangan yang kosong. Apa kau anak seni?" tanyanya dengan dingin padaku.
"Ma-maaf kak, tolong maafkan aku." ucapku menunduk dan lari keluar.
Malu sekali karena aku mendengar suara tawa semua orang yang ada didalam saat aku lari keluar. "Gila, gila, gila." aku mendecak dengan menutup wajahku yang memerah karena malu.
"Hei Yas, kenapa? Kok bajumu lusuh dan compang camping begini?" Alika
"Aku gak papa, cuma aku malu sekali. Karena tadi aku menari di ruang tari." Yasinta.
"Hah?! Bukannya disana ada rapat kakak - kakak OSIS untuk lomba basket antar sekolah ya?" Alika.
"Kau ini, selalu saja tak melihat situasi dan asal baru saja." Kania.
"Habisnya aku bosan nunggu kalian jadi saat aku masuk ruang seni itu sepi dan gelap, jadi ku pikir gak ada orang disana." Yasinta.
"Kamu suka nari ya Yas?" Alika
"Dia bukan hanya suka nari, tapi maniaknya tari." Kania.
"Ah, iya kalian kan temanan sejak SMP ya. Ceritakan tentang diri kalian dong, aku kan juga ingin kenal teman - teman baruku ini. Dan kamu yang paling tak ku mengerti." Alika.
Kania pun menceritakan tentang kami selama masa sekolah di SMP dan kami bertiga telah menjadi sahabat saat ini. Begitu juga setelah kejadian itu aku tak lagi mau pergi ke aula seni, kehidupan sekolahku pun terasa sangat damai dan menyenangkan. Namun hal itu tak bertahan lama saat kakak kelas dingin dan garang mendekatiku setelah acara upacara bendera 17 Agustus.
"Yasinta, anak kelas 10B." kakak dingin itu mendekatiku dan mengecup punggung tanganku.
"Ya ampun kak Hendra" teriak semua orang yang melihat itu, sedangkan aku hanya diam tertegun karena kaget.
"Jangan nakal manis." ucap kakak itu lagi menyentuh hidungku.
"Apa yang kau lakukan dasar tidak sopan." teriak ku kesal dan meninggalkan dia.
💓
"Kenapa kok uring - uringan sih sayang" Bu Rita
"Karena ada kakak kelas di gin yang sok dekat dengan Marwa." kesal ku pada mamaku.
"Hem, yasudah makan dulu geh." Bu Rita.
"Papa mana ma?" Yasinta.
"Papa keluar kota lagi, baru berangkat tadi siang." Bu Rita.
Papaku selalu sibuk dan tak peduli hari libur pun kalau pas sibuk maka akan sibuk seharian, apa lagi sekarang lagi banyak pesanan jadi akan sibuk terus sekarang. Karena papaku bekerja di tambak udang yang melayani semua restoran seafood seluruh kota hingga luar kota.
"Tidak tinggal sebentar sayang, Marwa ada didalam."
"Tidak Tan, Putra mau langsung pergi saja. Ini tadi disuruh mama karena sejalan dengan kantor."
"Ya sudah hati - hati dan terima kasih."
"Iya Tan, Putra pamit dulu. Salam saja sama Marwa."
"Siapa ma? Marea dengar mama lagi bicara sama seseorang?" tanyaku penasaran.
"Iya sama calon suami kamu dan dia titip salam buat kamu, nih kue dari ibu mertua kamu." menyerahkan bungkusan.
"Apa an sih ma, Marwa gak anggap itu serius. Orang e aja Marwa gak tau dan gak kenal." sewot ku.
💓
"Hei, kamu ya yang bernama Yasinta." terus kakak - kakak cantik padaku saat aku baru sampai sekolah.
"Dengar ya, jangan dekat - dekat dengan Mahendra dia adalah inceran Angela kamu masih kecil jangan sok kecentilan." ucap kakak berambut pendek dengan mendorong bahuku.
"Maafkan, tapi aku gak kenal dengan nama kakak yang baru saja kakak sebutkan tadi." jawab ku bingung.
"Yasi." Alika.
"Kasih tau teman mu." ucap kakak berkaca mata, lalu mereka bertiga pergi.
"Mereka adalah geng mawar yang beranggotakan kak Angela sebagai ketua, kak Marlin, kak Laras, kak Yuni dan masih banyak lainnya. Mereka memiliki anggota anak - anak populer dari kelas 1 sampai kelas 3, sudah ayo jangan berurusan dengan mereka." Alika.
"Tapi aku tak mengerti loh apa yang mereka katakan, atau jangan - jangan berhubungan dengan kakak formalin waktu itu." Yasinta.
"Kak Hendra, bisa jadi sih karena kak Angela menyukai kak Hendra sejak pertama masuk sekolah ini." Alika.
Bersambung...