Keira memandang langit-langit kamarnya, melihat sambil berpikir, apa yang akan terjadi apabila tiba-tiba atap rumahnya ini runtuh, "pemikiran gila", katanya sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ngapain juga mikir yang aneh-aneh", katanya sambil berguling-guling ke kiri dan kanan di atas tempat tidurnya yang empuk dan hangat.
Sebenarnya Keira sedang gundah dan gulana, ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, tadi sore ia melihat teman dekat sahabatnya yang bernama Elang sedang berjalan dengan seorang gadis, mereka berdua berjalan bergandengan tangan dan terlihat mesra.
"Teman dekat?, apakah teman dekat itu bisa dikategorikan dengan pacar atau tidak ya?", kebingungan melanda pemikirannya.
"Besok aku akan menanyakan hal ini pada Nadia", tekad Keira. Perlahan-lahan ia mengantuk dan akhirnya tidur dan memasuki alam mimpi.
Paginya, Keira sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan sekolah, setelah memastikan penampilannya hari itu rapi seperti biasanya, ia berangkat ke sekolah dengan percaya diri, itu semua dikarenakan ia sedang mengemban misi yang luar biasa.
Setidaknya itulah yang ada di pikirannya. Sesampai di gerbang sekolah, ia bertemu dengan Duta, salah satu cowok most wanted yang ada di sekolah. Keira pura-pura tidak melihatnya.
Duta melihat hal itu dengan sedikit gemas menghampiri Keira, cewek mungil yang akhir-akhir ini entah mengapa telah menimbulkan rasa aneh di hati Duta setiap melihatnya.
"Keira, hei ga usah pura-pura acuh begitu, aku tahu tadi kamu melihatku", kata Duta.
"Ih, gede rasa, siapa yang lihat juga", jawab Keira acuh dan berjalan melewati Duta yang menatapnya dengan pandangan yang tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
"Kei, tunggu", Duta memperlebar langkahnya mensejajarkan langkahnya dengan langkah Keira. Melihat hal itu Keira malah berlari, tambah kaget lah Duta melihatnya, semakin cepat Keira berlari semakin lebar juga langkah kaki Duta, dan tanpa mereka sadari mereka melewati ruang kelas masing-masing dan berhenti tepat di depan kantor guru dengan nafas tersengal-sengal.
Pintu kantor terbuka, Pak Sahid yang merupakan guru mata pelajaran matematika menatap kedua muridnya itu dengan pandangan mata penuh tanya, ada apa gerangan murid-muridnya ini pagi-pagi sudah berdiri di depan kantor guru dengan nafas tersengal-sengal dan wajah penuh keringat, apalagi ia melihat muridnya yang bernama Keira sedang melotot menatap Duta yang satu kelas dengan Keira.
"Ngapain sih ngikutin, Kelasnya kan kelewatan jadinya", tanya Keira dengan nafas memburu.
"Lho, aku kan tadi ngikutin kamu Kei, kamu juga mengapa tadi pakai lari sih, kita kan satu kelas Kei, jadi ga salah kan kalo aku bareng kamu?", jawab Duta dengan wajah memelas.
"Aku sebel dengan kakimu yang panjang, seenaknya saja mengikuti langkahku, mentang-mentang kakiku pendek", jawab Keira dengan kesal.
"Aduh Kei, salah kakiku dimana nya?", terus terang Duta bingung dengan perkataan Keira barusan.
"Ekhm, kalian berdua masih mau bertengkar mengenai masalah yang tidak jelas begini, mau Bapak hukum karena menghalangi jalan Bapak ke kelas?", kata Pak Sahid sambil memandang kedua muridnya secara bergantian.
Keira dan Duta baru menyadari bahwa sedari tadi Pak Sahid menyaksikan keributan mereka berdua.
"Maaf Pak, Bapak silahkan lewat, selamat mengajar ya Pak, semangat", kata Keira dengan wajah tanpa dosanya.
Pak Sahid tersenyum dan menjawab," iya, terima kasih", eh kok....?, ketika ia membalikkan badan, Keira dan Duta sudah berlari menjauh.
Ketika memasuki kelas, Nadia, Susan dan Agatha menatap heran melihat wajah imut Keira yang memerah.
Mereka serentak bertanya tentang apa yang sudah Keira hadapi. Keira tidak memperdulikan pertanyaan sahabat-sahabatnya itu, ia sibuk mengatur nafasnya, ia sengaja tidak menceritakan apa yang telah terjadi, bisa jadi bahan gosip seantero sekolah, dan ia sangat tidak suka akan hal yang berbau gosip.
Duta kemudian masuk dan duduk di kursi sekolah yang terpisah sekitar dua meja dari kursi Keira dan para sahabatnya. Seperti halnya Keira ia juga punya sahabat yang bernama Randi, Brian dan juga Dewo. Hanya saja sahabat Duta tidaklah seramai sahabat Keira yang cenderung cerewet dan seru, mereka lebih cenderung diam dan suka memperhatikan.
Keira sedang memikirkan apa yang menjadi misinya hari ini, ia ingat, ketika ia baru saja akan membuka mulutnya, Bu Guru Sinta datang membawa setumpuk kertas dan bisa di tebak kertas apa itu, itu adalah kertas ulangan. Seketika ruang kelas gaduh, ulangan dadakan, suatu hal yang paling ditakuti oleh anak-anak yang tidak belajar.
Lagi-lagi misi Keira gagal kali ini." Biarkan saja, pulang sekolah juga bisa", pikirnya.
Sepulang sekolah Keira langsung bertanya kepada Nadia," Nadia, ada yang ingin aku tanyakan".
Nadia menghentikan langkahnya begitu juga sahabat lainnya ketika hendak keluar kelas.
"Apa tuh?", tanya Nadia lagi.
"Sebenarnya hubunganmu dengan Elang itu pacaran atau teman dekat?, terus bedanya apa antara pacaran dan teman dekat", tanya Keira.
"Aku dan Elang hanya teman dekat, bukan pacaran, bedanya adalah kalo pacaran udah ada pernyataan rasa cinta didalamnya, kalau teman dekat tidak ada, memangnya kenapa?", Nadia memandang Keira dengan wajah heran.
"Baguslah kalo begitu, soalnya aku kemarin melihat Elang bergandengan tangan dengan cewek lain, mesra banget, dengan begini aku kan tidak khawatir kamu akan sakit hati apabila mendengarkannya", jawab Keira dengan santai.
Deg, ada rasa nyeri di hati Nadia mendengarkan perkataan Keira, Agatha menyadari perubahan wajah Nadia, ia mengerti Nadia telah menaruh rasa yang dalam kepada Elang. Ia melotot menatap Keira memohon kepada Keira untuk tidak meneruskan ceritanya. Tapi saat itu juga Susan bertanya kepada Keira," memangnya kamu ketemu dimana Kei?". Agatha langsung memberi kode kepada Keira dengan mengedipkan matanya.
"Matamu kenapa Tha, sakit ya, kemasukan bulu mata ya, sini aku tiup", ujar Keira sambil mendekati Agatha sambil bersiap-siap untuk meniup.
"Ga, mataku ga kenapa-kenapa", lalu dengan setengah berbisik Agatha berkata," sst jangan diteruskan, kamu apa ga lihat pandangan mata Nadia?".
"Eh", Keira menatap Nadia yang berjalan sambil menunduk.
Susan yang sedari tadi menunggu jawaban Keira berkata," hei, Keira, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi". Dengan cepat Keira menjawab," teman-teman aku duluan ya, aku lupa harus membeli makanan kucing dulu", dan berlari meninggalkan ketiga sahabatnya itu.
"Makanan kucing?, sejak kapan Keira punya kucing?, bukannya dia itu alergi bulu kucing ya?", tanya Susan sambil menatap Agatha.
"Sudah sembuh barangkali alerginya", jawab Agatha asal.
🌾🌾
Sementara itu di jalan.
"Aduh, mati aku, aku sudah membuat Nadia sedih, bagaimana cara memperbaiki semua ini ya?", diperjalanan pulang sekolah Keira memikirkan semua ini.
"Sebaiknya aku beli es krim dulu, biar otakku dingin sedikit", katanya sambil menuju ke sebuah supermarket.
Di sana ia bertemu lagi dengan Elang, dan kali ini sedang sendiri.
"Kei, hai, ngapain kamu disini", sapa Elang.
"Mau beli es", jawab Keira dingin.
"Oh, Nadia mana?", tanya Elang lagi.
"Kalau menurut perkiraan ku apabila dilihat dari jarak dan waktu perjalanannya dari sekolah ke rumahnya, sepertinya dia masih di jalan, apalagi kalo dia mampir dulu ke suatu tempat untuk bertemu seseorang", jawab Keira.
"Seseorang?, apa Nadia udah punya pacar sekarang?", tanya Elang lagi.
"Aku kan ga bilang kalo seseorang itu pacarnya Nadia, seseorang itu bisa saja tukang cilok atau tukang jualan lotek makanan kesukaan Nadia kan, lagian kalaupun ia ketemu pacar, apa urusannya sama kamu", jawab Keira sambil membayar es krim kesukaannya.
"Maksud kamu apa Kei?", tanya Elang lagi dengan wajah yang pucat, hatinya terasa sakit mendengar kalimat Keira yang terakhir tadi.
"Kamu itu kan cuma teman dekat Nadia, bukan pacar, jadi ya, ga ada salahnya Nadia punya pacar", dengan wajah polosnya Keira menatap Elang.
Deg, lagi-lagi rasa sakit mendera dada Elang. "Nadia punya pacar?, ga, ini ga boleh dibiarkan, aku kemarin sudah mencoba berjalan dengan Gladys, tapi mengapa aku tidak merasakan kenyamanan seperti saat berjalan dengan Nadia", Elang berjalan meninggalkan Keira sambil mengetikkan sesuatu di layar hpnya.
"He..he", Keira berlalu sambil tersenyum lebar.
"Nadia, tunggu kejutan dariku", Keira bahagia sekali saat ini, " besok aku akan beli es krim ini dalam jumlah banyak buat disimpan di kulkas".
Keira tidak menyadari empat pasang mata sedang memperhatikan dirinya dari jauh, keduanya sama-sama mengepalkan tangannya, siapa mereka?, mereka adalah Duta dan Brian.
Mengapa mereka mengepalkan tangannya?, itu dikarenakan mereka sedang melatih otot tangan. Ya mana penulis tau, penulis kan hanya meniru cerita-cerita di novel atau komik MangaToon.
Lanjut..
Duta dan Brian saling bertatapan, seketika listrik arus pendek mengalir di antara kedua tatapan mata mereka. (silahkan bayangkan sendiri).
Pagi hari yang cerah, secerah wajah Nadia, hatinya sedang berbunga-bunga, semalam Elang menyatakan isi hatinya kepada Nadia, teman dekat sudah berganti profesi menjadi pacar, dan semoga nantinya menjadi teman hidup. (Ciee, ditambahin sedikit biar lebih cetar membahana).
Sedangkan Duta dan Brian sedang memasang wajah serius, entah apa yang ada di pikiran mereka. Yang jelas hanya mereka dan penulis yang tahu.
"Keira!", teriak Nadia.
"Ya", jawab Keira sambil mengelap hidungnya, ia terkena flu, efek makan es krim yang cuma satu. Gitu ceritanya mau borong es krim yang banyak.
Brian dan Duta memutar badan menatap wajah Keira dengan puncak hidung yang memerah.
"Lucunya", batin mereka.
Keira yang anti cowok ganteng, melotot ke arah mereka berdua sambil berkata," apa lihat-lihat".
"Aish..ini sih bukan lucu lagi...imut", batin mereka lagi.
Stop..
Akan penulis jelaskan mengapa Keira ga suka sama cowok ganteng, karena ia pernah mengalami satu kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan hal ini, salah satu penggemar itu cowok marah-marah di depan orang banyak, mengeluarkan kata-kata seolah-olah dirinya itu adalah pepacor (perebut pacar orang). Dan itu membuatnya kesal. Semenjak itu ia menghindar dari yang namanya cowok ganteng, karena baginya mereka itu hanyalah pembuat masalah di kehidupannya yang damai.
Tanpa ia sadari karena prinsipnya itu banyak cowok yang penasaran ingin menaklukan hatinya. (Ciee, apa sih yang enggak buat Keira).
Singkat cerita Nadia menceritakan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya, bahwa ia sudah resmi berpacaran dengan Elang. Tentu saja pulang sekolah nanti Nadia akan mentraktir mereka makan mie ayam terlezat di kota itu.
Bagaimana dengan Duta and the gang?, mereka di undang juga karena secara diam-diam Agatha sudah jadian dengan Dewo. Terus Randi dengan siapa?, udah deh pembaca, ga usah harus pasangan semuanya juga kali..slow aja..
🌾Tamat🌾
Ceritanya kok tamat?, siapa yang akan di pilih Keira?, Duta atau Brian, ataukah ada yang lain?, yang jelas ceritanya udah tamat. Ini juga penulis sedang bingung mikirin judul..😂😂