Ada sebuah mitos mengatakan, saat sepasang pengantin melemparkan bunganya maka orang yang berhasil menangkap bunga itu akan menikah tak lama kemudian.
Mitos yang begitu di percaya oleh Yaren membuatnya semangat menghadiri pernikahan teman masa kecilnya, dengan tak sabar ia masuk ke ruang make up untuk menjemput sang mempelai wanita yakni temannya.
Tapi di tempat itu rupanya seorang pria sudah sejak tadi berada di sana, tengah memeluk temannya dengan begitu erat.
"Nara!" panggilnya.
Pelukan itu dengan cepat terlepas, bersamaan dengan Nara yang memandang ke arahnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Yaren sambil mendekat.
Sejenak mereka terdiam, sementara Yaren menatap pria yang berdiri tepat di hadapan Nara.
"Aku mengenal mu" ucapnya.
"Bukankah kau pria yang bekerja di toko hewan?" lanjutnya setelah berhasil mengingat.
Nara dan pria itu saling menatap, sementara Yaren kembali meneliti. Tak butuh waktu lama baginya untuk memahami keadaan, dari makeup yang berantakan akibat tangis dan pelukan erat yang telah ia lihat menjelaskan semuanya.
"Nara... jangan katakan apa yang ada dalam pikiran ku" pintanya dengan cemas.
Tapi raut wajah Nara tak memungkirinya, ia meraih tangan Yaren dan menggengamnya erat.
"Kita sudah berteman sejak kecil, tidak ada satu pun hal yang aku sembunyikan dari mu dan tidak ada yang tidak ku berikan padamu. Kali ini saja, tolong bantu aku" rintihnya.
"Apa maksud mu?" teriak Yaren melepaskan tangannya.
"Aku mohon, kami saling mencintai dan tak bisa hidup terpisah" ujar pria itu.
"Nara... kau tidak bisa lakukan ini, kau bilang tidak ada yang kau sembunyikan dariku tapi diam-diam kau berhubungan dengan pria ini"
"Itu karena orang tua ku terus mengawasi, bahkan mereka juga mengawasi mu. Aku tidak bisa menahannya lagi Yaren, aku tidak bisa menikahi pria yang tidak ku cintai"
"Apa kau gila? orangtua mu pasti akan membunuh mu jika kau batalkan pernikahan ini" ujar Yaren mencoba mengingatkan.
"Biarkan itu terjadi, setidaknya tidak ada pria lain yang akan menyentuh ku" jawab Nara dengan tegas.
Melihat mata basah yang di penuhi tekad itu akhirnya Yaren mengajukan sebuah pertanyaan yang sejak tadi di tunggu Nara.
"Apa yang ingin kau aku lakukan?"
"Beri kami waktu untuk meninggalkan gedung ini" jawab Nara.
Yaren mengangguk pelan, ia duduk di kursi rias sementara Nara mengganti pakaian dengan cepat. Begitu juga saat Nara dan pria itu mengucapkan terimakasih sebelum pergi, rasa penyesalan telah memakunya pada kursi hingga tak bergerak sedikit pun sampai seseorang datang ke ruangan itu.
"Dimana nona muda?" tanya seorang pengawal yang Yaren kenal dari keluarga Nara.
"Di toilet, kau tahu beberapa mempelai akan mengalami gugup yang membuatnya terus bulak balik ke toilet" sahutnya tanpa bergeming.
Pengawal itu pun diam, menunggu pintu toilet terbuka. Namun lima belas menit berlalu mengundang kecurigaan, ia bergegas mengetuk pintu toilet sambil memanggil nona mudanya.
Tak ada jawaban, beberapa percobaan dan tetap tak ada jawaban sampai instingnya mengatakan untuk mendobrak pintu itu.
"Sial! nona muda telah kabur!" teriaknya panik.
Kegaduhan kecil tak dapat terelakkan, orangtua Nara dan semua pengawal segera mencari ke semua tempat. Dan saat pencarian mereka nihil maka mereka pun berkumpul di ruang ganti, tempat dimana Yaren masih duduk.
"Katakan padaku dimana Nara?!" perintah ayah Nara.
"Nara tidak akan bahagia dengan pernikahan ini paman, dia tidak akan pernah bahagia" jawab Yaren pelan.
"Apa kau sudah menjual otak mu sehingga tak bisa berfikir? pemuda yang akan Nara nikahi adalah Nartan Emerkant, dia bukan hanya terkenal kaya tapi pengaruhnya dapat menghancurkan apa pun yang tidak ia sukai. Dan kau baru saja membuat tiket untuk kematian kita semua!" teriaknya dengan penuh amarah.
"Maafkan aku paman.. " sahutnya penuh penyesalan.
"Oh... jantung ku... " rintih ayah Nara sambil memegang dadanya.
Sontak semua orang mengerubunginya, termasuk istrinya yang mulai panik.
"Suamiku bertahanlah.. ingat akan kesehatan jantung mu"
"Apa yang harus aku lakukan?.. Ini semua membuat kepalaku akan meledak" tukasnya.
"Ada satu cara!" jawabnya tiba-tiba.
Perlahan ibu Nara menatap ke depan, memaku pandangannya pada Yaren yang berdiri bak patung.
"Nartan dan Nara tidak pernah bertemu, kita hanya perlu memakaikan Yaren gaun dan membuatnya berdiri di samping Nartan menggantikan Nara"
"Apa?" teriak Yaren kaget.
"Kau benar, kita masih punya jalan" sahut ayah Nara setuju.
"Ta-tapi paman, bibi... bagaimana jika dia tahu kalau aku bukan Nara? bisa-bisa aku yang di bunuh" ujar Yaren khawatir.
"Sudah ku bilang Nartan tidak pernah bertemu dengan Nara, dia tidak akan tahu kalau kau adalah Nara. Lagi pula kau harus membayar akibat perbuatan mu, jika kau menolak maka aku tidak akan menjamin keselamatan ayah mu" ancam ibu Yaren.
Jika sudah menyangkut tentang ayahnya maka Yaren tidak bisa berkutik, sekali pun tak ada yang mengikatnya ia akan memilih untuk diam.
"Baiklah Yaren, mulai saat ini aku angkat kau sebagai putriku. Kini nama mu adalah Yaren Dumurath" ujar ayah Nara lantang.
Beberapa orang di panggil untuk membantu Yaren bersiap, mengenakan make up di wajah kakunya yang selama dua puluh tiga tahun selalu ceria.
Rupanya hanya butuh waktu satu detik untuk menghilangkan senyum di wajahnya, senyum yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi.
Sementara bersiap tiba-tiba benaknya mengingat sebuah cerita kuno, itu adalah dongeng yang selalu ayahnya ceritakan di masa kecil sebelum tidur.
Tentang seorang pria yang menolong pria lain, kebaikannya telah mendatangkan berkah hingga dalam masa kesulitan dia di beri pekerjaan oleh pria yang di tolongnya.
Waktu berlalu, pria itu menikah begitu juga dengan pria yang dia tolong. Istri meraka hamil dengan jarak yang dekat dan melahirkan di rumah sakit yang sama. Sayangnya istrinya meninggal begitu selesai melahirkan, namun berkah tak pernah habis datang padanya.
Dia dan putri yang baru lahir itu di ajak tinggal bersama di rumah pria yang dia tolong, putri mereka pun berteman sejak kecil hingga saat ini.
Setelah besar Yaren baru mengetahui bahwa itu adalah dongeng tentang ayahnya dan keluarga Dumurath atau ayah Nara, dan setiap waktu ayahnya selalu mengingatkannya untuk membalas budi kepada keluarga Dumurath yang selalu berbaik hati padanya.
Akhirnya dengan satu kesalahan Yaren akan membalas kebaikan Dumurath dengan mengorbankan mimpinya, mimpi setiap gadis yang pada akhirnya berubah menjadi seorang wanita dewasa.
Pak Dumurath atau ayah Nara menggandeng tangan Yaren saat mereka berjalan menuju altar, menggantikan posisi ayahnya padahal itu adalah mimpi paling besar yang diinginkannya.
Dan saat pria bernama Nartan meraih tangannya maka saat itulah hatinya hancur berkeping-keping, upacara yang berjalan dengan cepat itu terasa sangat lambat bahkan memuakkan.
Hingga tiba saatnya bagi meraka untuk berpisah dengan yang lain, air mata yang tak dapat terbendung itu tumpah seketika saat Yaren menatap wajah ayahnya yang kebingungan.
Tak peduli pada apa pun kakinya dengan cepat melangkah pergi, berlari untuk jatuh dalam pelukan sang ayah.
Nartan yang melihat itu tentu kebingungan, sementara Pak Dumurath segera memberi sebuah kebohongan.
"Itu adalah pamannya, aku selalu sibuk bekerja hingga putriku merasa asing padaku dan menganggap pamannya sebagai ayah. Kadang itu menyakitkan tapi aku tidak keberatan sebab ini salah ku juga"
"Aku mengerti" jawab Nartan singkat.
Tak bisa berlama-lama mau tidak mau Yaren harus melepaskan pelukannya, dengan rasa bersalah ia berkata.
"Maafkan aku ayah, biar paman yang menjelaskan semuanya. Aku hanya berharap kau dapat mengerti"
"Ayah mengetahui hubungan Nara dengan seorang pria, sekarang melihat mu menikah maka tidak perlu penjelasan dari siapa pun. Ayah mengerti, ayah hanya berharap kau ikhlas menjalani ini semua" sahutnya.
Cukup mengejutkan mendengar ayahnya mengetahui hubungan terlarang Nara, tapi mengingat bahwa Nara lebih dekat dengan ayahnya dari siapa pun maka ia bisa memahaminya.
Menghapus air mata Yaren pun melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, mengambil duduk tepat di samping pria asing ia menyiapkan hati untuk melalui hidup bak kotak misteri.
Beberapa jam berlalu mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah rumah di pinggiran kota, rumah mewah yang Yaren anggap sebagai istana saking besarnya.
Saat kakinya melangkah keluar mobil semua pelayan dan pengawal yang bekerja untuk Emerkant menyambut kedatangan mereka dengan membungkukkan badan.
"Antar dia ke kamarnya, biarkan dia istirahat sampai makan malam tiba" ucap Nartan meninggalkan Yaren sendiri smentara ia berjalan masuk ke dalam.
"Selamat datang nona, silahkan ikuti saya" ujar seorang pelayan.
Yaren tak mau ambil pusing, ia mematuhi perintah pelayan dan membiarkan mereka melakukan pekerjaannya.
Hingga waktu makan malam tiba dimana seorang pelayan menjemputnya, di sebuah ruang makan yang besar dan mewah seorang pelayan sudah menyiapkan tempat duduknya yang tepat berada di depan Nartan.
Sungguh ironis, semua mimpi tentang pernikahan dan kehidupan berumah tangga hancur seketika karena seorang pria yang baru ia nikahi.
Tak ada kata-kata romantis, lilin atau pun senyum. Bahkan jarak mereka duduk meski berhadapan sangatlah jauh baginya, namun Yaren tak begitu peduli sebab ini salahnya sendiri karena membiarkan Nara kawin lari.
Selesai makan malam pelayan kembali membimbingnya ke kamar, menyuruhnya untuk mandi air hangat.
"Nona, setelah selesai mandi silahkan pakai ini" ujar seorang pelayan sambil memberikan baju tidur yang telah di siapkan.
"Apa? tapi... itu... terlalu... " ujar Yaren yang tak yakin.
"Nona, inikan malam pertama untuk kalian. Jadi ini adalah baju yang sesuai, saya yakin tuan Nartan akan menyukainya"
'Yang benar saja, siapa yang mau mengesankan pria itu?' batin Yaren menatap piyamanya.
"Baiklah.. " ujarnya tak bisa membantah.
Selesai mandi Yaren mengenakan baju itu meski merasa tak nyaman, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan gusar ia berbaring di balik selimut.
Ceklek
Pintu yang terbuka itu membuatnya kaget, melihat Nartan masuk ke dalam reflek ia menarik selimut hingga ke dagu.
"Maaf, seharusnya kita pergi ke Brazil untuk berbulan madu. Tapi tiba-tiba ada sebuah pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan, aku juga belum bisa membawamu ke rumah yang baru saja aku beli sebagai hadiah"
"Tidak... masalah.. " sahut Yaren pelan.
"Bagus" balas Nartan.
Ia pun peri ke kamar mandi dalam waktu yang cukup lama, saat kembali Yaren menatap Nartan setelah telanjang dengan handuk yang tersemat dari pinggangnya hingga ke kaki.
Hampir ia berteriak, dengan cepat ia menutup wajah dengan selimut. Namun Nartan malah membuka selimut itu dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang di penuhi otot.
"Kenapa kau bersembunyi?" tanyanya.
Yaren tak bisa menjawab, ia terlalu takut dan gugup hingga mulutnya seolah terkunci. Mata Nartan yang begitu tajam menatapnya dengan lekat, membiarkan air menetes dari rambutnya mengenai pipi Yaren.
"Apa ini kali pertama kau melihat pria telanjang?" tanyanya lagi.
Tentu itu pertanyaan bodoh, Yaren selalu melihat pria telanjang dada saat pergi ke pantai. Satu-satunya yang membuatnya gugup adalah mengingat bahwa mereka telah menikah, kegugupan Yaren rupanya membuat Nartan senang.
Dengan sengaja ia mendekatkan diri hingga ia bisa mendengar degup jantung Yaren yang teramat kencang.
Dooorrrr...
Sebuah suara tiba-tiba menggema, sadar apa yang terjadi Nartan segera mengambil celana untuk ia pakai.
"Tetap di sini dan jangan keluar apa pun yang terjadi" perintahnya sebelum pergi keluar.
"Nona! nona tidak apa-apa kan?" teriak beberapa pelayan yang segera datang menghampiri setelah kepergian Nartan.
Yaren hanya menggeleng, dalam kebingungan ia diam bahkan saat seorang pengawal masuk untuk berjaga di depan jendela.
Entah sudah berapa lama Nartan pergi, yang jelas cukup lama sampai membuatnya hampir tertidur karena ngantuk.
"Tuan... " sapa seorang pelayan melihat Nartan akhirnya masuk ke kamar itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Nartan kepada Yaren.
"Pelipis mu berdarah, apa yang telah terjadi?" balas Yaren.
"Tidak apa-apa"
"Apa maksud mu kau berdarah!" teriak Yaren yang membuat semua orang kaget.
"Bawakan aku kotak obat, cepat!" ujarnya kepada pelayan.
Tersadar dari lamunan pelayan itu bergegas pergi dan segera kembali dengan sebuah kotak obat, dengan cekatan Yaren mengobati luka di pelipis Nartan.
Melihat raut wajah cemas Yaren membuat Nartan kembali tertarik pada gadis itu, dengan satu isyarat ia memerintahkan semua orang untuk pergi sementara Yaren sibuk mengobatinya.
"Sudah selesai" ujar Yaren.
"Kau mengkhawatirkan aku?" tanya Nartan tiba-tiba.
"Apa?" sahut Yaren seolah ia salah dengar.
"Rumah ini sudah tidak aman, besok kita akan pergi jadi sebaiknya sekarang kau istirahat" ujar Nartan sambil tersenyum kecil.
Yaren masih terdiam kebingungan saat Nartan pergi meninggalkannya, begitu juga esok harinya saat mereka pergi ke sebuah rumah dengan penjagaan yang sangat ketat.
Di rumah baru itu Yaren di temani dengan beberapa pelayan yang akan memenuhi kebutuhannya, sementara Nartan pergi untuk sementara waktu.
Selama kepergian Nartan ia menggali informasi tentang keluarga Emerkant, terlebih lagi tentang Nartan. Dan saat ia mengetahui bahwa pria yang ia nikahi adalah seorang mafia penyesalan pun menjadi rantai yang mencambuknya setiap saat.
Ia memang ingin segera menikah, tapi bukan dengan seorang mafia yang hidupnya penuh dengan bahaya. Jangankan bahagia, bahkan hingga saat ini Yaren merasa dirinya hanya barang pajangan yang di perjual belikan.
Seolah tak cukup, saat pulang Nartan akan membawa sebuah luka baru di tubuhnya. Yaren yang sempat ikut menjadi relawan untuk korban bencana akan selalu cemas melihat sebuah luka walau pun kecil, dengan hati-hati ia akan mengobati luka itu.
Pekerjaan itu akhirnya menjadi sebuah rutinitas, Nartan akan pergi selama beberapa minggu dan kembali membawa luka baru ditubuhnya. Awalnya Yaren cukup muak tapi akhirnya ia terbiasa juga melakukannya, bahkan kini Yaren sudah tidak bertanya lagi kemana Nartan pergi atau apa yang dia lakukan.
"Berapa lama aku pergi?" tanya Nartan suatu hari saat ia baru pulang dengan luka di punggungnya.
"Tiga minggu, satu hari, enam jam, sepuluh menit" jawab Yaren.
"Kau menghitung lama aku pergi?" tanya Nartan kagum akan jawaban itu.
"Itu satu-satunya pekerjaan yang membuat ku sibuk" sahut Yaren.
Nartan tersenyum kecil, selesai di obati ia berbalik untuk menatap Yaren.
"Yaren Araund, maukah kau menikah dengan ku?" ucap Nartan tiba-tiba sambil memperlihatkan sebuah cincin di tangannya.
Yaren membeku, bukan karena lamaran yang baru saja Nartan lontarkan tapi karena nama belakangnya yang asli.
"Kau... tau dari mana nama itu?" tanyanya pelan.
"Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku" sahut Nartan.
Dengan susah payah Yaren menelan ludah, tangannya mulai gemetar karena ketakutan. Tapi apa yang kemudian ia dengar membuatnya seakan bermimpi.
Sebuah tembakan yang mereka dengar di rumah Nartan adalah ulah musuh Nartan, ia sengaja membuat keributan untuk memancing Nartan keluar.
Rupanya hal itu di lakukan hanya untuk menyampaikan bahwa Yaren bukanlah putri Dumurath, ia membocorkan rahasia itu untuk membuat keluarga Dumurath hancur sekaligus menyingkirkan Nartan.
Setelah memindahkan Yaren ke rumah baru Nartan pun mulai menyelidiki hal itu dan menemukan semua kebenarannya, itulah alasan mengapa Nartan pergi untuk waktu yang cukup lama.
"Ah.... Nartan" panggil Yaren melihat sebuah senjata yang di todongkan kepadanya.
"Aku tidak bisa menerima kebohongan" ujarnya.
Yaren tahu sepandai apa pun ia menyembunyikan bangkai baunya akan tercium juga, karena itu dengan pasrah ia menundukkan kepala.
"Kau belum menjawab ku" ujar Nartan.
"Apa?" tanya Yaren bingung.
"Maukah kau menikah dengan ku?" ulang Nartan.
"Apa maksud mu? kau menodongkan pistol dan cincin secara bersamaan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Yaren kini dengan kesal.
Tak di sangka wajah kesal Yaren teramat lucu hingga membuat Nartan sedikit tertawa, tingkahnya itu membuat Yaren merasa tersinggung.
"Mana yang kau pilih?" tanya Nartan.
"Tentu saja aku ingin hidup" jawab Yaren sambil mendengus.
"Kalau begitu kau mau menikah dengan ku?"
"Itu.... " Yaren tak tahu harus menjawab apa.
"Selama ini aku pergi untuk membereskan masalahnya, keluarga Dumurath mengganti rugi atas kebohongan mereka dengan menyetujui beberapa syarat yang aku ajukan. Salah satunya adalah dengan mengangkat ayah mu sebagai kepala bagian divisi lima, tapi karena aku pikir kau tidak akan suka akhirnya aku memindahkannya ke perusahaan properti ku. Itu bisnis legal jadi kau tidak perlu khawatir" jelas Nartan.
"Kau... sudah bicara dengan ayahku?"
"Aku juga sudah meminta restunya, kita akan menikah besok jika kau menerima lamaran ku"
"Kenapa?" tanya Yaren heran.
"Karena aku jatuh cinta padamu" sebuah jawaban yang tak pernah Yaren duga.
"Cinta yang bahkan membuatku tahu bahwa kau sangat menyayangi Nara hingga rela menggantikan posisinya, berkat cinta itu sekarang Nara hidup bahagia dengan restu orangtuanya"
"Sungguh?" tanya Yaren lagi kini lebih terkejut.
"Kepergian ku hanya untuk membereskan semua masalah akibat kesalahan mu, butuh waktu lama dan beberapa luka untuk membereskannya"
"Maafkan aku" sahut Yaren menyesal.
"Sudahlah, lagi pula aku senang saat kau mengobati luka ku. Jadi... karena kau memilih hidup itu artinya kau mau menikah dengan ku?" tanya Nartan untuk yang terakhir kalinya.
Yaren tersenyum, entah mengapa pria asing yang membuat dirinya merasa dalam jeruji besi tiba-tiba terlihat tampan dengan senyum yang menawan. Dengan malu Yaren menganggukan kepalanya, membiarkan Nartan menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Sesuai janji Nartan menggelar upacara pernikahan secara tertutup, hanya di hadiri oleh keluarga Dumurath dan Nara yang sudah hidup bahagia. Kini mimpinya berhasil terwujud, ia menggandeng lengan ayahnya saat berjalan menuju altar.
Tempat dimana Nartan menunggunya untuk sebuah sumpah pernikahan, karena masalah telah selesai Nartan benar-benar mengajak Yaren ke Brazil untuk berbulan madu.
Menyuapinya saat makan malam, mengajaknya bicara hingga selalu tersenyum setiap saat. Tidak ada yang tidak Nartan berikan untuknya, begitu juga dengan Yaren yang akhirnya menerima Nartan dengan sepenuh hati.
Sebagai hadiah dari cinta itu Yaren memberikan seorang putra yang gagah dan tampan, membuat keluarga kecil mereka sempurna.