Damasya ialah seorang peri cantik yang sangat baik hati, setiap hari ia tak pernah absen untuk berpetualang ke berbagai tempat yang menurutnya menantang hingga memberikannya pengalaman baru.
Selama perjalanan ia banyak berjumpa dengan berbagai peri lainnya seperti peri gurun, peri hujan bahkan peri es.
Tapi kini ia mencoba berpetualang ke tempat yang lebih menantang. Ia akan pergi ke dunia manusia yang tak pernah di kunjungi oleh peri manapun.
Ditengah perjalanan ia tak sengaja melihat seorang gadis kecil yang terduduk memeluk lutut di bawah pohon.
Tubuhnya tak berhenti bergetar, dan sepertinya air matanya juga sudah mengalir dari pipinya dengan dahi yang mencium lutut.
Damasya sebenarnya sangat ingin membantunya, tapi ia masih takut karna ia belum pernah bertatap langsung dengan manusia sebelumnya.
Lama ia berdiri untuk berpikir, dan karna tak ingin membuang - buang waktu akibat dorongan hatinya yang begitu kuat ia pun terbang perlahan - lahan ke arah gadis kecil itu.
Ketika ia sudah sampai di hadapannya, gadis kecil itu baru saja mengangkat wajahnya hingga mata mereka jadi saling bertemu.
"Aaaa... Hantu kecil!!!" pekiknya tak berhenti menunjuk ke arahnya.
Damasya yang tak terima jika ia di katai hantu kecil jadi melipat kedua tangannya di bawah dada dengan pipi yang sudah di gembungkan.
"Huh! berani - beraninya kamu mengataiku hantu kecil! aku ini peri cantik tau," dengusnya sambil menatapnya tajam.
Gadis kecil itu masih mematung tak percaya dengan tatapan mata yang tak berpaling sedikit pun darinya.
Jari tunjuknya bergerak hendak menoel hidung peri itu.
"Heh! kamu mau ngapain? tanganmu kotor tau itu kena tanah," omelnya.
"Eh! tenyata kamu bisa bicara ya," ucap gadis itu sambil terkekeh pelan.
"Dasar gadis kecil! memangnya sejak tadi ucapanku itu kamu anggap apa hah? nyinyiran nyamuk? yang benar saja," geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya hendak menunjuk gadis itu.
"Essstt... Jangan marah - marah peri cantik... Maafkan aku, aku tadi benar - benar masih bengong karna belum bisa percaya dengan makhluk sebesar boneka Barbie sepertimu ini." responnya menenangkan.
"Ku kira kalian hanya ada di kisah dongeng! ternyata kalian nyata ya," sambungnya sambil tersenyum dan tak lagi menangis.
"Kamu cepat banget ya merubah perasaan kamu, padahal tadi kamu baru saja menangis." herannya.
"Ya karna aku udah merasa terhibur dengan adanya kamu, tadi aku takut karna aku sendirian... Tapi sekarang kan gak lagi," jelasnya.
Peri cantik itu hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti lalu mencoba bertanya bagaimana dia bisa tertinggal sendiri.
Gadis itu mulai bercerita bahwa ia sedang ikut piknik dengan orang tuanya di hutan, tapi saat malam hari tiba orang tua membangun tenda untuk mereka beristirahat.
Sedangkan ia hanya duduk di batang kayu yang sudah tumbang sambil menatap bosan kegiatan mama dan papanya yang sangat suka mendaki gunung untuk refreshing.
Matanya yang tak sengaja melirik seekor kunang - kunang yang bercahaya indah di atas semak - semak berniat untuk menangkapnya.
Sayangnya kunang - kunang yang sempat berhasil di tangkap olehnya jadi terlepas kembali hingga ia tanpa sadar malah mengejarnya hingga jauh masuk kedalam hutan.
"Hei kunang - kunang! jangan terbang jauh - jauh... Aku kan jadi sulit menangkap mu," keluhnya tak berhenti melompat beberapa kali saat si kunang - kunang sudah ada di atas kepalanya.
Hingga akhirnya ia baru sadar jika ia sudah tidak berada di dekat mama dan papanya lagi ketika si kunang - kunang tiba - tiba saja menghilangkan.
Peri Damasya yang mendengarkan ceritanya jadi mengangguk mengerti.
Ia pun menawarkan bantuan untuk menolongnya hingga dapat kembali pada orang tuanya.
Awalnya gadis itu sempat bertanya, apakah itu keberatan baginya. Namun, peri itu hanya menggeleng.
"Aku gak keberatan sama sekali kok! kan ini bakal jadi petualangan baruku juga, jika dapat mengantar manusia." jelasnya.
"Makasih peri cantik... Ngomong - ngomong nama peri siapa?" tanyanya mulai mendekatkan wajahnya ke arah si peri.
"Namaku Damasya! panggil aja aku Dama," jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah peri Dama," responnya balas tersenyum.
"Kalau namamu Starcia! Kaka bisa panggil aku Star," sambungnya.
"Senang bisa mengenalmu Star," ucapnya.
"Star juga senang bisa mengenal peri!" serunya sedikit melompat - lompat.
"Oh iya! karna kamu sangat besar, bagaimana kalau kamu aku ubah jadi peri untuk sementara." usulnya.
"Wah... Benarkah? mau banget Peri Dama," girangnya.
Karna mendapat persetujuan darinya ia pun mulai mengucapkan mantra untuk mengubah gadis tersebut.
Ia jadi berubah menjadi peri kecil berwarna biru Dongker dengan sayang biru donker juga.
Tubuhnya juga ikut mengecil sebesar peri tersebut, bahkan kini ia yang tempak lebih kecil.
"Mari! kita cari jalan agar kamu bisa pulang kembali," ucapnya sambil mengulurkan satu tangannya dan Star menyebutnya.
Kini mereka sudah terbang dalam keadaan hutan yang lumayan gelap, tapi karna tubuh peri Damasya bercahaya sedikit memudahkan mereka untuk mencari jalan.
"Kamu beruntung Star! lihatlah, jejak kakimu masih terlihat jelas di tanah basah ini," tunjuk sang peri.
"Iya Kaka benar! akhirnya aku bisa kembali juga," syukurnya.
Tiba - tiba saat mereka hampir saja tiba di dekat tenda orang tua Star, terdengarkah suara rintihan meminta tolong di balik semak - semak.
Peri yang hendak terbang ke arah semak - semak jadi tertahan karna di tahan oleh Star.
"Peri Dama! peri jangan kesana, kalau sampai peri kenapa - kenapa gimana?" ucap Star khawatir.
"Tidak bisa begitu Star! kita harus menolong si pemilik suara itu, selagi kita bisa. Jika memang sangat berbahaya kita harus tetap berusaha! karna setiap ada keinginan pasti ada saja jalannya! jangan takut! cobalah untuk berani," responnya tetap kekeh untuk menuju kesana.
Ternyata di balik semak - semak itu ada seekor merpati yang sudah berdarah - darah di beberapa bagian tubuhnya karna di pacok sang ular.
Peri Damasya yang merasa kasian dengan kondisi burung Dara itu mulai menyerang sang ular dengan seluruh kekuatannya hingga akhirnya ular itu pun mati dan terhempas jauh entah kemana.
"Kamu gak papa kan Dara?" tanyanya pada burung tersebut.
"Tubuhku sakit sekali," rintihnya.
Tanpa pikir panjang peri Damasya mencoba menyembuhkan burung tersebut dengan sisa kekuatannya akibat habis terkuras ketika melawan sang ular.
Wajah peri sudah tanpak begitu pucat, tapi ia berhasil menyembuhkan semua luka burung Dara.
"Terima kasih peri baik, berkatmu lukaku jadi sembuh kembali. Aku berhutang nyawa padamu! oleh sebab itu tolong izinkan aku untuk menjadi pengikutmu, aku janji akan setia menemanimu kemana pun kau pergi!" tawarnya sedikit merendahkan kepalanya.
"Jika itu berat bagimu aku tidak akan memaksamu, karna aku membantumu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun!" responnya.
"Terima kasih peri! saya memang memiliki keluarga di hutan seberang! jadi saya harus tergesa - gesa untuk pulang, karna istri saja dikabarkan telah meneteskan telur - telur kami." jelasnya.
"Wah... Selamat ya burung Dara! kamu pasti sudah menjadi ayah," ucap Star.
"Terima kasih! kalau begitu aku izin pamit untuk melihat anak - anakku, sekali lagi terima kasih peri baik." responnya lalu terbang dan hilang setelah masuk kedalam daun pepohonan.
Star sangat bangga dengan peri Damasya! ia adalah seorang peri yang sangat baik juga pemberani dalam menolong makhluk lain tanpa memikirkan nasibnya sendiri, dan yang lebih hebatnya ia tidak pernah mengharapkan imbalan apa pun dari makhluk yang telah di tolong olehnya.
Star jadi merasa malu sendiri karna sempat menahan gerakannya tadi, seandainya peri itu mendengarkan apa yang ia katakan sudah tentu burung itu akan mati dan tak dapat melihat anaknya yang baru menetas.
Matanya tak sengaja melihat ke arah langit jadi berdecak kagum saat melihat banyak cahaya bintang yang jatuh hingga memperlihatkan garis keindahan yang luar biasa.
Ia pun jadi teringat, katanya jika kita meminta harapan saat bintang terjatuh maka harapannya akan terkabul dan ia melakukannya.
"Star harap peri Damasya bisa segera membaik kembali," harapnya.
Tiba - tiba salah satu bintang yang sedang jatuh mengarah ke peri Damasya hingga tubuhnya bercahaya begitu terang lalu mengubah ia menjadi peri bergaun hijau yang begitu cantik.
Warna yang sangat sejuk ketika di pandang, sesejuk hati yang menerimanya.
"Peri Damasya! peri sangat cantik," ucapku kagum sambil menatap tak berkedip padanya dan gaun hijau indah itu.
Rambut panjangnya yang terurai sudah di hiasasi dengan sedikit manik - manik yang begitu berkerlap - kerlip di bawah sinar sang bintang kecil tanpa hadirnya rembulan dan yang kini menggantikan cahaya bulan yang terang itu adalah peri itu sendiri.
"Ini pasti karna doamu," ucapnya lalu terbang memelukku.
"Makasih banyak Star," ucapnya terharu.
"Sama - sama peri baik... Peri yang baik pasti harus mendapatkan hadiah yang baik juga..." responnya.
Lalu pelukan itu merenggang dan terlepas.
Dari situ Star dapat mendengar teriakan mama dan papanya yang sudah panik ketika mengetahui ia sudah tidak ada lagi di sana akibat tak kunjung terlihat.
"Star! berlari saja lurus ke jalan itu, nanti kau pasti akan menemukan orang tuamu." unjuknya kemudian mengubah gadis itu kembali ke ukuran semula.
Star sebenarnya masih ingin menjadi peri, tapi ia harus ingat orang tuanya.
"Apanya kita masih bisa bertamu lagi peri cantik?" tanyanya yang enggan untuk berpisah.
"Semoga saja ya! kalau masih di izinkan kita pasti akan bertemu lagi, sekarang cepat kembali! kamu gak mau kan membuat orang tuamu menunggu lama?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Baiklah peri! terima kasih untuk semua pelajaran yang udah peri ajarkan pada Star malam hari ini, star akan selalu ingin dan akan mencoba bersikap baik seperti peri." tekatnya.
"Gadis pintar! oke," responnya sambil menyipitkan satu matanya.
Lalu Star pun segera berlari meninggalkannya.
"Selamat tinggal peri Damasya cantik! selamat berpetualang kembali ya... Suatu hari semoga Star juga bisa menjadi sebaik peri yang baik hati," serunya lalu sampailah ia di tenda orang tuanya.
Orang tuanya yang melihat ke arahnya merasa sangat senang lalu setengah berlari memeluknya.
"Ya ampun... Putri papa! kamu kemana aja sayang? papa sama mama udah cemas banget lihat kamu gak ada lagi," resahnya sambil menghembuskan napas panjang.
"Star abis berpetualang sama peri baik pa," beritahunya.
"Kamu ini ada - ada saja sayang, mana mungkin di dunia ini ada peri!" respon sang mama.
"Iya mama... Star gak bohong... Perinya sebesar Barbie dan cantik banget! juga sangat baik hati," jelasnya.
"Ini sudah malam! kamu mungkin terlalu banyak menghalu! lebih baik ayo tidur sama papa sama mama," putus papanya.
"Isss... Papa sama mama pasti gak percaya," ambek Star.
"Iya percaya kok sayang... Yaudah ayo kita tidur aja," ucap sang mama yang hanya di angguki oleh Star pasrah.
Mereka pun masuk ke tenda dan tidur dengan nyenyak. Sedangkan Star masih tak berganti tersenyum dalam tidurnya, ia berharap ia bisa memimpikan peri tersebut kembali.
🍃 The And 🍃
Pelajaran :
Selagi masih bisa maka bantulah orang yang membutuhkan bantuan mu, mungkin tanpa kita sadari sedikit bantuan yang kita berikan mampu menyelamatkan hidup seseorang tersebut. Karna sesuatu yang baik, pasti akan di balas dengan hal baik pula.