#Dengan cepat Lora berlari memasuki gerbong yang telah di pesanNya.
"Rasanya aku sudah tidak sanggup untuk menahan air mata ini." keluhnya dengan mencoba terus menyeka buliran itu jatuh.
"Anda baik-baik saja? anda kurang enak badan?" tanya pria di depanNya yang sedikit kuatir.
"Sudah anda diam saja tuan, ! anda tidak akan mengerti perasaan saya." Jawab Lora sedikit ketus.
Suara kereta yang mendecit beralun membawa Lora menuju ke alam mimpi, sudah hampir dua jam laki-laki itu hanya diam tidak bersuara sambil sesekali melirik wanita di depanNya.
"Apa dia menangis karena seorang laki-laki yang dari tadi muncul di layar video call Handphone yang digengamnya, ? kalau pun iya kenapa dia memilih menangis dan men_silent_, kenapa tidak sekalian diblokir saja. Dasar wanita itu sulit dinasehati dan dimengerti." Entah kenapa pikiranNya malah sibuk menerka wanita yang ada di depan bangku miliknya.
Lora terbangun dari tidurnya yang terlihat matanya sedikit bengkak. Dan berusaha berpikir jernih dengan apa yang telah terjadi ketika marah bercampur sedih.
"maafkan aku tuan aku tidaklah bermaksud berkata kasar. " Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak masalah, terkadang memang emosi membuat orang kalut apalagi bercampur kesedihan bisa2 apapun hal bisa ditelan termasuk perasaan. " Tuturnya.
"Oh ya..perkenalkan namaku Dion, kamu? " UcapNya.
"Aku Lora, apa kamu orang Jawa? " Tanyanya sambil menebak dari logat.
"Ya betul, kamu juga asalnya Jawa toh? " Dion melempar pertanyaan.
Lora mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya merasa tenang mendapati pria selembut itu, apalagi setelah perlakuan mantan kekasihnya yang telah menghianati dia lalu melempar kesalahan seakan Lora yang tidak pernah pengertian dan terlalu manja ketika LDR.
"Apa kau memiliki kekasih?" Tanya Lora asal.
"Aku sudah pernah menikah sebelumnya, namun pernikahan kami tidak bertahan lama. "
"Maafkanku aku tidak bermaksud membuatmu sedih! " Tutur Lora merasa bersalah.
"Aku tidak pernah sedih apalagi menyesal, aku hanya tidak habis pikir dia meninggalkanku hanya karena materi ku tidaklah cukup memenuhi gaya hidupnya." Jelas Dion.
"Tiap orang memiliki ujian masing-masing dan takdir yang tidak tau membawa kita kemana dan dengan siapa." Tambah Lora
"Sakit Hati adalah keinginan yang disengaja" Banyak sekali penghinaan, penghianatan, caci- maki. Selama itu tidak dari orang yang berarti atau sayang bukanlah masalah besar. Jadi pada dasarnya sakit hati timbul karena kesengajaan kita menangkapnya dan menempatnya.
"Maaf ya aku terlalu banyak bicara denganmu? " Dion mencoba memecah suasana menjadi tidak terlalu serius.
"it's Ok tidak masalah, sepertinya setelah ini aku turun. terimakasih atas pertemuan ini. " Ucap Lora sambil mengecek barang bawaan.
"Tunggu, Berikan nomor ponselmu jika berkenan! " Ucap Dion sambil menarik sedikit ujung tas milik Lora.
"08*******9 oke ini nomerku save ajh." Ucap sembari terburu-buru keluar dari gerbong menuju pintu keluar stasiun.
#Kampus dengan berbagai aktivitasnya#
Memulai hal baru memang tak semudah yang orang lain kira, apalagi kita terbiasa berkomunikasi dengan orang tersebut. Rasa hampa tidak bisa dijelaskan dengan satu indra saja.
"Yuk temenin gue ke perpus. Udah jangan kusut gitu ntar cantiknya ilang bebi! " Goda Arlita
"loe bisa aja ta, yuk deh! " Sahutnya sambil menarik lengan sahabatnya.
#Berjalan melewati koridor kampus yang tidak begitu jauh dari perpus, namun terasa melelahkan untuk hati yang begitu patah. Tiba-tiba ada seseorang membawa papper bag menuju ke Lora.
"Ra,.. tunggu! Aku dapat titipan dari Daniel, katanya suruh kasih kamu nih! " Jelas salah satu teman beda prodi denganNya.
"Daniel ada acara apa kasih ini,? sampaikan makasi banyak ya! " Tutur Lora sedikit bingung.
"Haha kayaknya sekampus pada tau loe jomblo mangkanya pada Cepe - cepe, wkwkkw. " ejek Lita.
#Hampir Satu jam mereka membaca buku teori Manajemen Bisnis dan meminjam beberapa novel untuk dibaca di Kos.
~Drrrt,. drrrtt notif Whatsapp dari no 081xxxxx
• "siang maaf menggangu, bagaimna kabarnya?" Dion
• " Baik, kabar mas sendiri gimana ?" Lora
• "Aku rencana mau ke kota M, gimana kalau kita sharing n ngobrol sebentar. Soalnya aku juga bakal sering ke kotamu untuk urusan kerja. " Ajak Dion
• "Tidak masalah mas, toh juga kota mas ndak jauh sama kotaku! " Tuturnya sembari tersenyum mengingat wajah penuh kharismatik saat di kereta.
"Kenapa loe senyum-senyum?! jangan bilang balikan sama mantan? " Tebak Lita
"Su udzon ente, siapa coba mau balik ke kadang buaya No, no! " celetuknya penuh ke illfeel an.
"Terus senyumin apa? jangan gitu deh gue takut! " Penuh kuatir dengan Lora.
"Gue lagi kagum sama seseorang, tapi keluarga gue ga bakal setuju andai gue sama dia. " Wajah Lora berubah pesimis.
"Emang kenapa seseorang itu? " Tanya penuh ke Keppoan.
"Dia udah pernah nikah, jadi loe tau kan statusnya sekarang? " Jelas Lora.
"What Loe suka sama duda?? loe yakin?! gue saranin ga usah lanjut apalagi kalau cerai hidup punya anak lagi. " Lita yang sedikit tidak Terima sahabatnya menyukai Tuan Duda.
"Gue juga mikir gitu, tapi kan orang bisa belajar dari dari kejadian sebelumnya. Tapi gue cuman kagum ga lebih. " Lora mencoba menjelaskan argumen yang dipikiranNya.