"Dasar Wanita hina, tidak tau diuntung. Kurang apa aku ha? Tega sekali kamu khianati ketulusan cintaku. Kurang baik apa aku padamu?" Perkataan mas Bayu itu selalu teriang ditelingaku.
Waktu itu aku dan mas Bayu masih menjalin cinta. Awalnya kami saling mencintai dan menyayangi. Dia selalu ada untukku. Aku sering diajak nonton bahkan tidak tanggung-tanggung mas Bayu membelanjakan aku pakaian, mas Bayu memang orangnya sangat royal untukku.
Namun, tanpa aku sadari ternyata sahabatku Anjar juga menyukai mas Bayu. Dia mulai tergoda dan menjelekkan aku dihadapan mas Bayu. Tapi, usahanya selalu gagal karena mas Bayu tidak pernah percaya dengan semua kata-katanya, jika dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Aku salut dengan prinsip mas Bayu itu, setidaknya dia tidak menelan karangan palsu sahabatku itu.
Hari ini, aku sedang duduk didepan teras rumahku.Tiba-tiba Anjar datang dia mengajak aku ke kosan barunya.
"Ayo Ir masuk!" ajaknya.
Aku pun mengangguk 'iya.'
Kita berdua masuk ke kosannya. Aku sempat kaget ketika mataku menatap dinding ruang tamu tertempel gambar cewe tanpa busana. aku mengernyit.
"Maaf Ir, gambar-gambar itu dulu punya penghuni kos yang lama.Aku belum sempat copot itu semua.Kamu pasti risih ya?" jelas Anjar yang melihat aku termenung dengan gambar-gambar itu.Dia seakan paham dengan kegelisahan hatiku.
"Oh gitu? Nggak apa-apa santai aja," elakku dengan sedikit tidak nyaman.
"Yuk duduk dulu Ir! Mau minum apa?" tanya Anjar dia mengagetkanku dari lamunan aku.
"Mau yang anget-anget aja deh, menyesuaikan hawa. Dingin banget abis hujan," jawabku, dengan gerakan tubuh yang dingin.
Aku belum jawab Anjarnya sudah pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa minuman sudah tersusun rapi diatas napan dua gelas teh hangat dan camilan.
"Ini Ir, silakan diminum dulu mumpung masih hangat," titahnya begitu ramah. Seraya meletakkan gelas diatas meja depanku.
"Makasih, Anjar. Sudah merepotkan kamu," Akupun meraih cangkir berisi teh hangat itu lalu menyesapnya tanpa ada rasa curiga sama sekali. Kemudian, aku meletakkan lagi diatas meja.
"Gimana rasanya? Manisnya pas?" tanya Anjar.
"Nggak, udah pas," jawabku sembari tersenyum.
"Oh ya udah, soalnya aku sering bikin kadang kurang manis. Yuk dilanjut lagi minumnya nanggung masih ada dicangkirnya," titah Anjar lagi.
"Baiklah," sahutku. Aku pun langsung meneguknya hingga tandas. lalu meletakkan cangkir kosong diatas meja.
Anjar mengajakku terus bicara nggak jelas hingga tak terasa sudah dua puluh menit lamanya. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing, tubuhku gerah, aku juga mulai merasa ngantuk. Aku gelisah.
"Njar istirahat yuk. Aku seperti kurang enak badan kepalaku pusing mana gerah lagi," keluhku. tanpa malu.
"Kamu kenapa, Itu? Sakit?" tanyanya.
Dia menempelkan tanganya dikeningku, " Ya ampun Ir, badanmu panas bangat," tambahnya panik.
"Iya badanku tiba-tiba nggak enak, pusing bangat," aku memijit keningku sendiri. Ya aku butuh tidur.
Anjar memapahku ke kamarnya, "Udah kamu tidur ngeh," suruh Anjar.
Akupun naik diatas ranjang dan berbaring. Anjar membantuku, diapun menutup tubuhku dengan selimut miliknya.
"Ya udah kamu tidur. Aku ke kamar mandi bentar mules bangat perutku," ucapnya padaku.
Aku yang udah ngantuk banget hanya mengangguk. Namun, lima belas menit sudah berlalu Anjar tak kunjung datang. Kepalaku semakin pusing, tubuhku semakin panas tak terkendali. Selimut yang tadi menutup tubuhku entah ke mana aku tidak tau. Namun, aku masih merasakan panas. Aku mendengar pintu kamar berbunyi.
Ceklek...
Suara langkah kaki pun mendekat.Dalam hati aku pikir Anjar. Sialnya bukan Anjar melainkan seorang pemuda, aku terperanjat.
"Siapa kamu? Jangan mendekat! Mau apa kamu? Aku bilang jangan mendekat!" bentakku, suaraku makin melemah karena kepalaku yang semakin pusing.
Pria itu tidak menjawab, dia semakin mendekati aku.Dia juga melepas kaos yang dikenakan, kini tubuh bagian atasnya sudah terekspos.
Aku panik.
Aku menggeserkan tubuhku mundur diatas ranjang hingga tubuhku menempel ditembok.
"Jangan mendekat!" pintaku lagi. Tapi, pemuda itu tidak menggubrisnya dia mulai menaikkan kakinya diatas ranjang. Aku takut, kutekukkan kedua kakiku dan kupeluk dengan erat. Aku tidak ingin pemuda itu menyentuhku.
"Aku mohon jangan mendekat! Jangan sakiti aku." Aku mengiba sembari menangis memohon dikasihi.
Namun...
"Maafkan aku. Aku disuruh, kamu cukup menurut aku janji aku tidak akan menyakiti kamu," jawabnya pelan, dia semakin mendekat. Tangannya langsung menarik kakiku dan menindihku, dia menciumku dengan paksa dan kasar. Aku memberontak tapi tenaga aku kalah dengan tenaga dia. Sialnya...hawa panas ditubuhku mulai menikmati sentuhan itu.
"Astaga Ira!!" pekikan itu berasal dari depan pintu kamar, kaget.
Aku dan pemuda itu menoleh. Lebih kaget lagi Najar tidak sendiri, dia datang dengan mas Bayu. Kekasihku itu menatap tajam ku dengan sorot mata yang sulit kumengerti.
Aku mendorong pemuda itu menjauh dari tubuhku, dengan segera aku berlari mendekati mas Bayu sembari menangis. Tanganku peluk kedua kakinya.
Seketika tubuhku yang panas bergejolak dalam diriku tiba-tiba hilang seketika, hanya kepalaku yang masih sedikit pusing.
"Apa yang kamu lakukan Ira? Ternyata seperti ini kelakuan kamu dibelakang ku, Ir. Aku bodoh tidak mendengarkan semua perkataan Anjar selama ini. Dasar hina! kamu rela tubuhmu dijamah pria yang bukan suamimu? kamu juga tega mengkhianati ketulusan cintaku padamu, aku menjaga kamu tapi apa balasanmu? Dasar wanita murahan!" Mas Bayu memakiku dengan kata-kata kasar. Layak aku terima namun ini bukan salahku.
Aku semakin mengeratkan pelukan di kakinya menggeleng," Ti... tidak mas! Aku tidak melakukan hal hina itu, aku dijebak mas tolong percaya aku, aku mohon." Air mataku berderai ku harap mas Bayu masih percaya aku.
"Keadaanmu seperti ini kamu masih mengelak? Meminta aku percaya kamu? kamu pikir aku buta? Tidak melihat semua yang tadi kamu lakukan dengan pemuda itu diatas ranjang? Maaf Ir, aku tidak bodoh, sekarang kita PUTUS!!!" Aku seperti tersebar petir disiang bolong. Sakit hatiku seperti tersayat sembiluh.
"Tidak!!! Mas aku mohon jangan putusin aku. Dengarin dulu penjelasanku, aku mohon," Kutatap matanya, aku mengiba bodoh amat mau dibilang mengemis cinta tapi aku harus menjelaskan semua ini aku dijebak. Aku semakin mengeratkan pelukan ku namun dengan kasar mas Bayu melepaskan tanganku dengan kasar.
"Lepaskan tanganmu dari kakiku, jangan kau sentuh aku dengan tangan kotormu, menjijikkan perempuan sepertimu ini." Makian trus terlontar dari mulutnya tapi aku tidak peduli.
"Tidak mas, aku mohon." Aku menggeleng tanganku kucoba lebih eratkan lagi dikakinya. Namun, tenagaku kalah kuat dengan tenaga mas Bayu dengan bantuan Anjar mereka berdua melepaskan tanganku dari kaki mas Bayu.
"Apa kamu tidak dengar perkataan mas Bayu, Ira? Lepaskan tanganmu. Dasar tukang selingkuh!" Tanganku dilepas dengan kasar .Aku terkapar dilantai pintu.
"Tidak Anjar, dasar penipu. Jahat kamu, kau manipulasi semuanya seolah aku yang bersalah. Kau itu yang penjahat sesungguhnya, BIADAB kamu Anjar!" Aku memaki Anjar didepan mas Bayu, harapanku mas Bayu menimbang lagi keputusan dia itu. Namun, Mas Bayu sudah pergi meninggalkan aku seorang diri didepan pintu kamar Anjar. Menyebalkan lagi, Anjar berlari mengejar mas Bayu dari belakang dengan tersenyum mengejek aku.
"Kamu jahat, Anjar! Ingat kamu akan mendapatkan karmamu sendiri," teriakku.
Aku masih terus menangis meratapi nasibku yang dicampakkan pacarku karena pengkhianatan dari sahabatku. Aku berdiri dan pergi meninggalkan kos terkutuk itu.