Wulandari merasa tubuhnya begitu ringan ketika melayang di udara.
"Apa-apaan ini?!" Jerit Wulandari ketika dia melihat dirinya tembus pandang.
Wulandari lebih terkejut lagi ketika melihat tubuhnya tergeletak kaku di atas tanah di tepi sebuah sungai. Sekelompok warga terlihat sedang mengerumuni tubuhnya yang terbujur kaku itu.
Tiba-tiba team Basarnas muncul membawa sebuah kantong jenazah. Sepertinya ada sebuah jenazah di sana.
"Tidaaakkkk!!!" Pekik Wulandari.
Wulandari tidak kuasa melihat sosok yang ada di dalam kantong jenazah tersebut. Ternyata itu adalah tubuh Rangga, putranya.
"Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?" Wulandari berteriak panik namun sepertinya tidak ada seorangpun yang dapat mendengar suaranya.
"Sepertinya keduanya ini hanyut di sungai..." Ujar seorang warga.
"Apakah mereka ibu dan anak?" Tanya warga lain.
"Mungkin saja. Tapi memang sebaiknya diserahkan dulu ke pihak berwenang. Siapa tahu ada pihak keluarga jenazah ini yang nanti datang melapor kehilangan." Saran seorang warga yang terlihat sudah agak tua.
Wulandari terkesiap. Kini pelan-pelan memori itu hadir kembali. Dia mendadak sadar bahwa dia telah mati. Kedua tubuh kaku itu adalah tubuhnya dan tubuh anaknya.
"Tidak! Kami tidak tenggelam, kami dibunuh!" Jerit Wulandari histeris.
"Tolong! Siapapun, tolong dengarkan aku! Kami dibunuh! Suamiku pembunuhnya!" Teriak Wulandari tanpa suara.
Wulandari menangis terisak. Tubuhnya terasa semakin ringan, bergerak menjauh dari tepi sungai. Tiba-tiba Wulandari melihat semuanya berputar-putar. Ia merasa mual ketika terhempas di sebuah benda. Bukan! Ini bukan benda, ini sebuah raga. Raga seorang wanita yang tidak dikenalinya.
"Nirmala..." Lirih suara seorang pria terdengar di telinganya.
Wulandari melirik ke arah pemilik suara tersebut. Seorang pria yang tampan dan berwibawa duduk di tepi ranjang tempat dia terbaring lemah.
"Dimana aku?" Tanya Wulandari dengan suara lemah.
"Kamu di rumah sayang, tadi kamu tiba-tiba pingsan di taman." Sahut pria tampan itu.
Wulandari mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh pria asing yang ada di dekatnya itu. Namun tetap saja dia belum memahami apa yang terjadi. Ia menatap langit-langit kamar, dia tidak mengenali sama sekali ruangan itu.
"Ini tempat yang asing..." Wulandari membatin sendiri.
Seorang dokter masuk ditemani seorang perawat muda.
"Syukurlah, ibu Nirmala. Anda telah sadar kembali." Ucap sang dokter ramah.
Perawat muda di samping dokter itu memeriksa suhu tubuh Wulandari dan kemudian memeriksa tekanan darahnya.
"Hemmm... Semuanya sudah membaik." Ucap dokter ketika melihat laporan sang perawat muda.
"Terima kasih, dok." Ucap pria tampan itu.
"Saya akan memberikan vitamin tambahan untuk ibu Nirmala dan calon bayinya." Ujar sang dokter sambil tersenyum.
"Oh! Ini kabar yang sangat baik, dok. Benarkah?" Tanya pria tampan itu seolah tak percaya dengan ucapan sang dokter.
Dokter mengangguk dan tersenyum. Pria tampan itu terlihat begitu bahagia.
"Ibu Nirmala hanya agak kelelahan sehingga pingsan. Tapi semuanya baik-baik saja kok." Jelas sang dokter.
"Terima kasih, dok." Ucap pria tampan itu.
Wulandari merasa aneh mendengar percakapan pria asing dengan dokter yang tidak dikenalinya itu.
Wulandari bertanya-tanya apakah dia terlahir kembali melalui raga wanita yang bernama Nirmala ini. Ia kemudian berusaha bangkit untuk duduk ketika dokter dan perawat muda tadi meninggalkan ruangan tempat dia terbaring.
"Terima kasih, sayang. Bukankah ini hadiah yang indah untuk pernikahan kita?" Tanya pria tampan itu.
Wulandari hanya menatap wajah pria tampan itu tanpa ekspresi. Dia bingung harus bersikap bagaimana.
"Aku bukan Nirmala. Aku adalah Wulandari." Wulandari berteriak dalam hati.
Hari demi hari berlalu. Wulandari mulai membiasakan diri menjalani aktivitasnya sebagai Nirmala, istri Pangestu, seorang pengacara yang tampan dan kaya.
Mereka berdua sedang menikmati waktu istirahat sore di teras depan ketika Pangestu mengucapkan sesuatu.
"Hemmm... Sepertinya ini adalah sebuah kasus pembunuhan..." Pangestu mulai berceloteh sendiri.
"Berita apa itu?" Tanya Wulandari penasaran.
Pangestu memperlihatkan potongan video berita yang baru saja ditontonnya kepada Nirmala.
Wulandari kaget setengah mati melihat berita itu. Itu adalah berita tentang dirinya dan putranya.
"Polisi menduga kedua korban yang ditemukan itu tidak tenggelam begitu saja karena ada tanda-tanda kekerasan di tubuh mereka." Ujar Pangestu.
"Benar, mereka tidak tenggelam. Mereka dibunuh." Ucap Wulandari spontan.
"Apa maksudmu, sayang? Kita tidak boleh menyatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya." Pangestu mencoba mengingatkan istrinya.
"Hemmm... Iya sih... Kenapa kamu ga coba menangani kasus itu, sayang?" Wulandari tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang.
"Mungkin pihak keluarga mereka butuh pengacara. Menurutku, kamu orang yang tepat!" Ucap Wulandari.
"Begitukah? Baiklah jika kamu berfikiran begitu. Aku akan coba tangani kasus itu." Ucap Pangestu sambil memeluk mesra istrinya.
Wulandari terdiam dalam pelukan Pangestu. Dia kembali terkenang kenangan bersama suaminya yang dulu. Suaminya tidak pernah bersikap seromantis itu dengan dirinya setelah menikah.
Romantisme mereka hanya ada ketika mereka berpacaran. Setelah menikah, semua sifat buruk suaminya diketahui oleh Wulandari. Suami Wulandari gemar berjudi dan minum minuman keras.
Lalu hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga mereka semakin memperparah keadaan.
Suami Wulandari ketahuan berselingkuh dengan seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah teman masa kecil Wulandari.
Perselisihan mulai terjadi, setiap perdebatan berujung cek-cok dan kekerasan. Hingga pada suatu hari, suami Wulandari bertekad menghabisi nyawa istri dan anaknya agar dia dapat menjalin hubungan dengan selingkuhannya itu.
Wulandari merasa dadanya sesak setiap kali mengingat kejadian itu.
"Demi jasad anakku, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang! Kau harus menerima hukuman yang setimpal!" Wulandari bersumpah dalam hati.
Terlahir kembali dalam tubuh Nirmala, istri seorang pengacara, tentu merupakan kesempatan terbaik untuk membalas dendam pada pembunuh itu!
"Kau akan menerima balasan setimpal..." Wulandari bersumpah di dalam hati.
***TAMAT***