Namaku Adista Octafiani, orang-orang biasa memanggil ku dengan sebutan Octa. Aku tidak suka keluar rumah dan aku juga suka menyendiri tetapi tidak ingin kesepian. Keseharian ku dirumah tidak jauh dari menonton anime, menggambar dan menulis, benar-benar memboringkan.
Sempat terbayang dibenaku bagaimana bahagianya mempunyai seseorang yang menganggap kita berharga tetapi, segera ku tepis itu semua setelah teringat tentang Dia.
Kita dekat karena hobi kita yang sama, iya sama-sama suka nonton anime dan menyukai 2d. Aku pikir Dia serius ingin dekat dengan ku dan menjadi bagian dari hal yang ku anggap istimewa. Karna aku yang terlalu tinggi berharap, akhirnya aku jatuh sendiri ke dalam jurang harapan yang aku bangun. Aku hanya sebagai taruhan yang dilakukan Dia bersama dengan teman-teman nya. Aku ketawa kecut menyadari itu semua. Ini aku emang harusnya gak usah terlalu baper atau Dia yang emang sejahat itu jadiin hati orang taruhan?. Setelah kejadian itu, aku selalu menutup diri pada laki-laki yang ingin dekat dengan ku.
Terus terang aja ternyata perempuan yang sebenarnya dia taksir lebih cantik, lebih lucu pokoknya aku kalah telak dari dia soal fisik. Aku akui itu ya mungkin selera Dia yang begituan.
Disaat aku benar-benar berhati batu pada cinta, Ano datang dengan berbagai usaha untuk mendekati ku. Aku dan Ano memiliki sifat dan kebiasaan yang bertolak belakang. Ano sangat suka bepergian sedangkan aku lebih suka berdiam diri dirumah.
Ano menghargai ku sebagai seorang anime lovers dan malah mendukung ku untuk melakukan hal yang aku sukai. Ini lah cerita ku dengan Ano dimulai.
Sore hari setelah pulang sekolah, aku mengambil motorku di parkiran. Saat itu suasana parkiran memang sudah sepi karna aku memang menunggu waktu sepi untuk mengambil motor. Saat aku baru saja memakai jaket, terdengar suara motor jatuh dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Ano tertimpa motor besar nya.
Dengan kunci yang masih menempel di motor, aku berlari menolong Ano yang seperti membutuhkan bantuan. Aku menarik motornya hati-hati dan membantunya berdiri. Aku membersihkan bajunya yang sedikit kotor terkena debu.
"Kok bisa jatuh sih?" Reflek aku bertanya padanya karna penasaran
"Aku juga ga tau tiba-tiba kakiku ga kuat terus langsung jatuh aja" Ano menjelaskan dengan rasa malu karna terlihat membuang muka dariku.
"Oalah, lain kali hati-hati, duluan ya" Aku mengakhiri pembicaraan dan bergegas pulang karna hari memang sudah sore.
Keesokan harinya ketika jam istirahat pertama, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Ano. Aku hanya membiarkan nya lewat begitu saja dan Ano pun juga demikian. Itu wajar dia berpura-pura tidak mengenali ku di sekolah ketika dia sudah melakukan hal yang baginya memalukan.
Pada Istirahat kedua ketika aku selesai wudhu, ternyata Ano pada saat itu juga selesai wudhu. Mata kami tanpa sengaja bertemu, segera aku buang muka karna melihat wajah nya tanpa masker yang bagiku cukup tampan. Entah kenapa sebelum kejadian motor Ano jatuh, aku tidak pernah melihatnya di sekolah, tetapi sekarang kami bahkan sering bertemu tanpa sengaja.
Saat pulang sekolah, aku tidak melihat motor Ano terparkir yang berarti dia memang sudah pulang lebih dulu. Ketika aku melewati angkringan belakang sekolah, aku melihat Ano sedang bercanda ria bersama teman-temannya. Ano ternyata adalah orang yang memiliki hubungan baik dengan sekelilingnya, tidak seperti ku.
Keesokannya ketika istirahat kedua, Ano mendatangi ku yang sedang memakan bekal dikelas. Ano dengan berani meminta nomor ku dihadapan teman kelasku. Dengan ragu aku memberikan nomor ku padanya dan dia berterima kasih dengan senyum yang melekat di wajahnya. Tak lama notifikasi chat masuk dari nomor Ano.
Setelah berkenalan melalui chat, aku dan Ano semakin menjadi lebih dekat. Dia sering mengajak ku keluar untuk bermain tetapi selalu ku tolak karna kegiatan osis yang padat dan jadwal lain yang bertabrakan. Jujur aku sendiri masih takut keluar berdua dengan laki-laki meski itu Ano sekalipun.
Tanpa diduga, Ano mengajak ku untuk mendatangi event cosplay yang waktu itu tinggal 2 hari lagi. Kata Ano dia sudah memesan 2 tiket jauh-jauh hari. Aku tidak enak hati menolak Ano, ya sedikit rasa aku juga ingin pergi kesana.
"Besok minggu mau aku jemput dimana?" Tanya Ano di parkiran setelah kami memutuskan untuk membicarakan secara langsung hal ini di chat
"Ehh, ga bawa motor sendiri-sendiri aja?" Aku terkejut mendengar Ano yang ingin menjemput ku
"Ya engga dong, kamu mau berangkat sendiri?"
Aku mengangguk pelan
"Tapi aku ga mau!" Tolak Ano sedikit mengejek
"Boleh jemput asal jangan di depan rumah" Tawarku
"Iyaa nanti sharelock aja terus kamu arahin aja aku suruh tunggu dimana, oke?"
"Oke"
Aku dan Ano keluar parkiran menggunakan motor kami masing-masing. Seperti biasa Ano menuju angkringan belakang sekolah dan aku langsung pulang ke rumah.
Semalaman aku dan Ano terus membahas tentang rencana kita yang ingin ke event cosplay bersama. Aku bertanya pada Ano bagaimana dia tau bahwa aku menyukai hal seperti itu, Ano menjawab dari foto profil whatsapp dan username instagram kedua ku.
Tak terasa hari minggu tiba. Minggu pagi aku menyiapkan baju yang akan aku pakai untuk nanti siang. Setelah lama memilih, aku memutuskan untuk memakai setelan jas lama ayah ku. Aku juga membutuhkan waktu 30 menit untuk merias diri.
Tepat pukul setengah 2, Ano menelepon ku untuk memberi kabar bahwa dia sudah berada di tempat yang aku suruh. Aku pun bergegas mendatangi nya.
Kami berangkat menuju lokasi menggunakan motor Ano. Sepanjang perjalanan, aku dan Ano mengobrol tentang hal random yang kita sukai. Ano ternyata sangat suka mendaki gunung dan melukis. Aku yang notabene nya anak rumahan, gimana ga terkejut mendengar hobi Ano yang bertolak belakang dengan hobi ku.
Sesampainya di lokasi acara, aku terus meminta Ano untuk memotretku dengan karakter yang ada disana. Ano nampak tidak keberatan menjadi fotografer pribadi ku dalam sehari toh dia sendiri juga yang mengajak ku kesini.
"Kamu kenal sama semua karakter cosplay yang kamu ajak foto?" Tanya Ano penasaran
"Kenal dong, untuk apa aku ajak foto kalau aku ga kenal" Jawab ku bangga
"Maaf ya aku ga tau yang begituan"
Mata ku membulat mendengar perkataan Ano yang tampak menyesal
"Kamu kenapa minta maaf? Justru aku terima kasih banyak sama kamu udah ajak aku kesini" Aku menepis hal itu karna memang tidak enak pada Ano
"Iya sama-sama, kalo kamu suka aku juga ikut suka" Mata Ano menyipit disaat dia menarik pinggir bibir nya. Ano tersenyum pada ku dan menepuk pelan bahuku.
Setelah acara berakhir, Ano mengajak ku makan malam bersama. Aku kira itu makan malam biasa karna lapar ternyata, pada malam itu Ano menyatakan perasaan nya padaku. Aku tidak langsung menjawab nya dan meminta sedikit waktu untuk berfikir.
Malam harinya aku cerita bagaimana Ano mengungkapkan perasaan nya padaku ke grub chat yang berisi teman-teman ku. Mereka menyuruh ku untuk menerima Ano dan melupakan Dia. Aku sedikit bingung dan ragu, bukan pantas kah Ano untukku tetapi, pantas kah aku untuk Ano. Setelah membulatkan jawaban, aku menghubungi Ano dan memintanya untuk menunggu seperti biasa di parkiran.
Di kelas aku terus membicarakan hal ini pada teman sebangku ku bernama Reta.
"Ret, yakin nih aku harus terima Ano? Aku takut ga pantas buat Ano" Keluh ku pada Reta lirih
"Kenapa engga? Ano pasti udah pertimbangin dulu sebelumnya, kamu pasti masuk kriteria nya dia lah" Jelas Reta
"Masa sih?"
"Yakin deh, Ano pasti ga bercandaain kamu, dia juga keliatan cowok baik-baik" Terang Reta
Saat pulang sekolah benar saja Ano menunggu ku di parkiran. Motor kami sebelumnya tidak bersebelahan tetapi Ano memindahkan motornya di dekat motorku. Aku mendekati Ano pelan-pelan karna gugup.
"Hai" Sapa ku
"Halo"
"Sebelum aku jawab pernyataan cinta mu kemarin, aku mau nanya. Kenapa kamu bisa suka sama aku?" Tanya ku berani karna penasaran darimana dia melihat ku, kenapa dia bisa suka sama aku sementara yang lain suka mempermainkanku.
"Simpel aja, pandangan pertama"
"Hah? Waktu motor kamu itu jatuh ya?"
"Bukan, sebelumnya aku emang udah kenal kamu. Kenal dalam artian sering lihat kamu disekolah. Motorku jatuh itu kebetulan aja dan mungkin juga berkah, hehe" Jelas Ano
Aku berusaha memahami perkataan Ano. Jadi selama ini Ano sudah mengetahui keberadaan ku di sekolah tapi aku ga menyadari dia.
"Tapi aku bukan jadi bahan taruhan kamu sama temen-temen mu kan?" Tegas ku
"Eh ya enggak lah, aku ga mungkin sejahat itu sama kamu!" Ucap Ano kaget
Aku menghela nafas pelan dan menatap Ano dengan yakin.
"Aku terima cinta mu"
Wajah Ano seketika memerah dan terjadi lah pelukan diantara kami berdua, namun karna masih berada di lingkungan sekolah segera Ano melepas pelukannya.
"Makasih banyak cantik"
Tepat tanggal 12 Maret aku Adista Octafiani akan mengukir hari-hari indah dan menyenangkan bersama Ano (anonim)