Satu bulan sebelum negara-negara di belahan bumi ini digegerkan dengan merebaknya serdadu virus yang berbahaya, Jhony kebingungan mendapati jasadnya tergeletak tidak jauh dari pangkalan ojek. Almarhum melayang-layang mengitari jasadnya yang terbujur kaku. Bekas luka yang masih menganga di lengan kiri membuat siapapun yang melihat jasad itu bergidik ngeri. Luka itu seolah menjadi bukti kewajaran akhir riwayat kehidupan seorang preman. Ya, kematian yang cukup wajar bagi seorang preman. Kematian yang dianggap konyol bagi kebanyakan orang. Kalau tidak mati karena berkelahi, mungkin saja over dosis atau kecelakaan. Ya, tidak jauh-jauh dari situ.
Tak lama kemudian warga tampak berkerumun. Berhimpit-himpitan menyaksikan jasad nahas itu. Salah satu dari mereka merogoh kantong celana. Berharap segera menemukan dompet atau benda apapun untuk petunjuk menyingkap identitas jasad. Jhony semakin bingung karena semua terjadi begitu singkat. Ia telah berupaya teriak berulang kali. Namun, teriakannya sama sekali tidak didengar oleh siapapun. Ia kelimpungan mencari cara untuk memberitahukan kepada warga bahwa dirinya adalah preman kampung yang sudah 2 tahun belakangan ini menguasai lahan parkir di area pasar tradisional setempat. Sangat tidak wajarkah keamatiannya sehingga warga tidak mengenalinya lagi?
Jhony sedikit semringah ketika salah satu warga ada berhasil mengenalinya. “Astaga! Inikan Jhony. Iya benar, ini Bang Jhony!” seru seorang warga.
“Dari mana kau bisa mengenalinya?” tanya seseorang yang ada di sampingnya. Jhony tersenyum menyaksikan keduanya mulai berdialog. Setidaknya dari mereka itulah Jhony punya harapan nanti jasadnya bisa segera diurus dengan selayaknya.
Namun, kelanjutan dari percakapan antar warga tersebut pada akhirnya malah membuat aibnya terbongkar. “Brengsek! Ni orang udah mati aja. Mau gue tagih kemana utang-utangnya!” ujar pria bertubuh kekar dengan gaya rambut semi pirang. Di lehernya melilit sebuah kalung rantai yang membuat dirinya terlihat begitu garang. Setelahnya, hujatan demi hujatan lainnya menghujam tak terbendung. Beberapa warga melontarkannya setengah berbisik. Betapa di mata sebagian warga, status sosial Jhony semasa ia masih hidup mendapat penilaian yang buruk.
Jhony berjalan gontai meninggalkan jasadnya yang tak kunjung diurus. Malam itu sungguh mencekam baginya. Rasa sakit yang dideritanya semasa hidup dibawanya sampai ia mati. Jhony tak cukup berani menghadap tuhan karena bekal amal yang dimilikinya belumlah seberapa. Lalu bergentayanglah Jhony – tak tentu arah. Ia datangi satu persatu rekan seprofesinya dengan ragu-ragu. Jhony mengibas-ibaskan tangannya berharap rekan seprofesiya bisa melihatnya. Hasilnya pun nihil. Ia datangi pula seseorang yang dulu pernah menato gambar ular cobra di punggungnya, tetap tak ada respon. Justru karena tingkahnya itu, ia ditertawakan oleh kawanan ‘anak kecil’ yang sedang asyik bercengkrama di bawah beringin seberang jalan. Ah, tidak mungkin aku berkawan dengan anak-anak itu, batin Jhony.
Sulit bagi Jhony untuk meyakini dengan sepenuhnya bahwa dunia bukan lagi tempat bermainnya. Perlu waktu lama baginya untuk meyakini dan mengikhlaskan semua itu. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan rekan seumuran, tentu dari alam yang sama.
“Apa penyebab kematianmu?” Jhony bertanya tanpa banyak basa-basi kepada arwah yang baru saja ditemuinya. Ia sudah cukup lelah bergentayangan sendirian. Arwah yang ia tanya itu baru saja tercabut dari jasad seorang manusia bernama Boby. Jhony menemuinya di sekitar area rumah sakit, tempat di mana dulu jasadnya juga sempat diautopsi. Ada perbedaan yang mencolok dengan kematiannya. Jika kematian yang dialaminya dulu banyak dikerumuni orang, akan tetapi tidak demikian dengan kematian Boby.
“Seingatku hanya demam biasa. Napasku sedikit sesak. Aku mengalami flu cukup lama dan tenggorokanku terasa sakit sekali,” Boby menjawab sekenanya. Mendengar jawaban itu Jhony sontak tertawa dan berkata, “Memalukan sekali cara matimu, kawan!”
“Ini semua ulah virus. Virus Corona orang-orang sering menyebutnya. Ribuan nyawa manusia melayang akibat ulahnya,” terang Boby.
Sepanjang yang diketahui, kepada Jhony, Boby berbagi cerita bagaimana awal mula virus itu menyebar dan pada akhirnya berhasil membuat gaduh isi dunia karena serangannya. Perubahan besar pada tatanan kehidupan masyarakat sehari-hari sangat terasa. Orang-orang yang dinyatakan terinveksi virus tersebut meningkat begitu cepat. Pasien-pasien yang positif terpapar virus dirujuk ke rumah sakit rujukan yang telah ditunjuk pemerintah. Bagi warga yang baru saja mengunjungi negara atau daerah yang rawan virus corona dianjurkan untuk mengisolasi diri.
Untuk Boby sendiri, kasusnya terdengar sepele. Saat mengantre di bandara sepulang dari luar negeri, Boby diduga tercemar droplet penderita Covid-19 usai memegang barang yang bukan miliknya. Entah bagaimana detail cara kerjanya, masuklah virus itu ke dalam tubuh Boby. Lalu menyerang seluruh sistem pernapasannya. Sesaat setelah virus tersebut mengusik sistem pernapasannya, Boby mulai mengeluh sakit kepala, demam, dan merasa tak enak badan.
Sebelum dinyatakan positif terpapar virus Corona, Boby telah berikhtiar untuk kesembuhan sakitnya itu. Banyak sudah ia mengonsumsi obat dari apotek, akan tetap keluhan sakitnya tak kunjung membaik. Dari situlah akhirnya Boby mulai menyadari bahwa demam yang dideritanya bukanlah demam biasa. Datanglah Boby ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Mula-mula dokter melakukan wawancara medis menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami Boby. Selain itu, Boby juga menjalani serangkaian pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan fisik, darah, hingga tes dahak. Belum sempat ia terima diagnosisnya, virus tersebut sudah selangkah lebih cepat menyerang organ saluran pernapasannya. Seketika Boby tak sadarkan diri, napasnya terdengar begitu berat. Kondisi kesehatannya makin hari makin menurun. Raganya terbaring lemah di sebuah ruangan bersama puluhan pasien pengidap Virus Corona lainnya. Virus tersebut telah menempel dan merusak paru-parunya. Boby merasakan peradangan yang begitu hebat hingga akhirnya ia menyerah dan tak kuat lagi melawan rasa yang teramat sakit. Ia mengembuskan napas terakhir di ranjang rumah sakit seorang diri, satupun sanak familinya tidak ada yang mendampingi.
Sebenarnya Boby ingin menjelaskan lebih dari itu. Betapa virus yang awalnya diperkirakan hanya akan berkecamuk di Wuhan, China, tidak tahunya dalam tempo yang tidak cukup lama juga menyebar ke berbagai negara. Khususnya di Indonesia, dampak penyebaran virus itu mampu melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat sehari-hari. Orang-orang diimbau untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah saja.
Suasana kian mencekam ketika angka kematian terus bertambah. Roda perokonomian mengalami kemacetan. Berbagai sendi kehidupan manusia mengalami dampak dari merebaknya virus ini. Sekolah diliburkan, terjadi PHK besar-besaran, industri-industri banyak yang lumpuh, daya beli menurun drastis dan masih banyak lagi kegaduhan lainnya. Ditambah lagi kehadiran virus ini disambut oleh kaum milenial yang sudah terbiasa ‘melipat dunia’ dengan kemajuan teknologi. Hantaman berita-berita hoax terkait mencuatnya wabah ini seperti seiring sejalan. Menambah warna suram fenomena ini. Kian mencekam dan memperkeruh suasana. Di era modernitas seperti saat ini, acapkali netizen dengan mudah membagikan informasi dari sumber-sumber yang tidak terpercaya. Belum lagi teori konspirasi yang belakangan ini kembali mencuat.
Sejak perjumpaan itu Jhony mengajak Boby untuk turun ke bumi untuk melihat langsung situasi terkini. Terlalu banyak cerita mencekam yang tersaji dampak dari munculnya wabah itu. Jhony ingin melihat langsung bagaimana sistem pembelajaran yang diterapkan kepada para pelajar di masa darurat covid-19 ini. Jhony ingin melihat langsung siapa-siapa yang berada di zona aman dan tidak aman saat pandemi ini menyerbu. Jhony ingin melihat langsung apa yang dilakuan tukang ojek saat sepi order. Mungkinkah mereka banting setir menjadi penjual masker atau handsanitizer? Jhony juga ingin melihat langsung aktivitas apa yang dilakukan orang-orang saat menjalani karantina mandiri. Dan, masih banyak lagi.
Dari keinginan itu semua, tempat pertama yang Jhony kunjungi bersama Boby ialah kompleks pemakaman. “Mengapa kau mengajakku ke sini?” tanya Jhony.
“Lihatlah, mayat-mayat itu seperti yatim piatu. Bukankah itu pemandangan yang menyakitkan?” Boby menjelaskan betapa mati dalam keadaan terpapar virus Corona adalah kematian yang menyakitkan. Korban harus dikebumikan sesuai protokol dan standar kesehatan yang sudah ditetapkan. Tak ada keluarga yang mendampingi pada detik-detik terakhirnya. Semuanya takut ketularan.
Tempat selanjutnya yang mereka datangi ialah rumah sakit. Boby meminta kepada Jhony untuk melihat raga-raga letih yang siang malam berjibaku melawan virus ganas itu. Ya, siapa lagi kalau bukan tenaga medis. Mereka bekerja seperti tak kenal waktu. Keluarga mereka tinggalkan, keselamatan diri sendiri kadang terabaikan. Keganasan virus terus menghantui mereka setiap waktu. Mereka menjadi garda terdepan, tapi nyawa sebagai taruhan.
Tidak sedikit tenaga medis yang akhirnya mengembuskan napas terakhir karena terinveksi virus yang berasal dari pasien yang mereka tangani. Lebih tragis lagi jasad mereka dikabarkan mendapat penolakan untuk dimakamkan di daerah tertentu. Sampai-sampai mendadak viral di sosial media sebuah foto yang memperlihatkan sekelompok tenaga medis yang membawa pesan ‘KAMI BERIKAN JASA KAMI, JANGAN TOLAK JASAD KAMI. Sungguh kasus-kasus semacam itu menjadi catatan kelam sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Jhony mulai menyadari bahwa ini bukanlah musibah yang sepele. Ia merasa bersalah kepada Boby karena telah menertawakan sebab kematiannya. “Bob, mau kemana lagi kita? Dunia saat ini benar-benar sedang lumpuh. Rasa-rasanya aku sudah tidak sanggup lagi melihatnya?” kata Jhony.
“Santai, Bro! Ini Indonesia, kita negara kuat, “ ujar Boby.
Bersama Boby, Jhony telah menemui banyak arwah yang yang melayang akibat ulah makhluk kecil yang kata para ahli sangat cepat bermutasi itu. Dari arwah-arwah itu, Jhony banyak menggali informasi. Termasuk upaya apa yang dilakukan pemerintah pusat hingga daerah dalam penanganan musibah itu. Mengapa korban-korban terus berjatuhan?
Boby menjelaskan kepada Jhony bahwa pemerintah telah cukup sigap menangani wabah itu. Imbauan social distancing, karantina mandiri, aktivitas di rumah saja, hingga PSBB semuanya sudah diinstruksikan. Termasuk larangan mudik karena pandemi ini masih merajalela sampai memasuki bulan ramadan dan diperkirakan belum usai hingga lebaran tiba.
Namun, apa yang terjadi? banyak orang yang meremehkan imbauan tersebut. Padahal pemerintah mengeluarkan protokol kesehatan untuk dipatuhi, bukan dilanggar. PSBB dan imbauan-imbauan lainnya sudah cukup garang di dokumen, oknum-oknum tertentulah yang membuatnya loyo pada pelaksanaan.
Sikap kooperatif sebagian masyarakat belum sepenuhnya diterapkan. Orang-orang masih saja malas pakai masker saat bepergian, malas jaga jarak, nekat melaksanakan resepsi pernikahan adalah sebagian kecil contohnya. Lebih menggeramkan lagi beredarnya unggahan foto yang memperlihatkan warga di salah satu kota sedang berkerumun merayakan sebuah acara. Contoh lainnya seperti; kasus pasien yang terindikasi namun tidak kooperatif, bantuan yang diselewengkan, masyarakat yang memaksa mudik dengan cara yang tak lazim, kucing-kucingan dengan petugas polisi, nekat mengelabuhi petugas polisi dengan menumpang pada kendaraan yang bermuatan barang, dan kelakuan konyol lainnya yang membuat geleng-geleng kepala.
“Bob, sekarang aku baru paham mengapa virus ini masih enggan pergi dari negara kita?”
“Mengapa?”
“Karena masih banyak orang yang lebih preman dibandingkan aku,” pungkasnya.
Jhony dan Boby lalu kembali melayang-layang di atas langit. Di sana terlihat banyak temannya yang sedang berkerumun dan tidak memakai masker – tapi tidak dilarang. Mungkin setahun atau dua tahun lagi mereka akan turun ke bumi Indonesia untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi setelah new normal diterapkan.
Segala sesuatu yang datang memiliki tujuan, jika tujuan itu sudah tercapai pasti ia akan pulang.