Jakarta, 13 mei 2022. Aku membuka akun Facebook ku yang sudah lama tidak kubuka. Aku melihat permintaan pertemanan, satu persatu kulihat profil yang mengajak ku berteman. Jika tidak ada yang aneh aku terima untuk berteman. Kuhabiskan waktu hampir satu jam membaca artikel di halaman Facebook. Tiba-tiba sebuah notifikasi mesengger mengagetkanku.
Tring.
'Hi. Apa boleh aku mengenalmu?'
Aku membukanya , bingung antara membalasnya atau mengabaikannya. Ku buka profilnya, anehnya pria ini tidak mengajak untuk berteman. Pria muda dengan senyum simpul, memakai kaos putih dan jacket putih. Sekilas tampak menarik. Tidak buru-buru ku jawab pesannya. Dan lagi notifikasi mesengger berbunyi.
Tring
' apa aku mengganggumu?'
' maafkan aku jika mengganggu mu'
Kuabaikan pesannya dan kembali berselancar didunia maya. Tidak lama kudengar lagi bunyi notifikasi mesengger.
Tring
' aku tidak akan mengganggumu lagi'
Hening. Detik jam terdengar ditelingaku, kamarku selalu hening. Sesepi hidupku. Aku seorang wanita yang pernah gagal dalam pernikahan. Hatiku pun enggan menerima cinta lagi. Meski banyak pria menawarkan kehidupan yang lebih baik. Tapi aku memilih sendiri setalah 2tahun lalu aku memutuskan berpisah.
Tiba-tiba aku teringat pria muda yang tadi mengirimkan pesan di mesengger. Ku buka mesengger dan kubaca lagi. Pria muda yang tidak mengunci profilnya ini bisa kulihat fotonya, tidak ada yang aneh di dalamnya. Tanganku tiba-tiba mengetik balasan.
' Hi. '
Tidak perlu menunggu lama pria muda itu membalasnya
' Hi'
'Apa aku menganggumu?'
'Tidak sama sekali '
'Siapa namamu '
' Aku Ahmed, dari Algeria '
' Siapa namamu?'
'Aku Maya dari Indonesia '
' Berapa usiamu '
' aku 27 tahun, kamu?'
Seketika aku tersenyum, benar dugaan ku. Seketika jariku membalas pesan nya.
'Aku 37 tahun. Status ku Janda☺'
' Kamu terlihat muda di usiamu yang sekarang '
Aku tersenyum, pujian seorang Ahmed membuat tersenyum. Lucu memang tapi inilah yang kurasakan. Dan aku tidak memungkirinya. Kami berbicara lewat messenger hampir 2 jam. Aku tidak menyangka bisa dengan mudah berbicara dengannya.
Ahmed Amraoui pria muda asal Algeria, aku sedikit terkejut kalau dia seorang tentara militer, perkenalan kami pun sebuah ketidak sengajaan. Tapi kami merasa nyaman satu sama lain.
Jakarta 15 Mei 2022
Aku terbangun jam 02:00 aku duduk di tempat tidurku, kuambil ponselku lalu ku buka aplikasi messenger, entah mengapa setiap malam aku dihantui mimpi buruk. Dan terbangun dijam yang sama. Kupandangi foto Ahmed yang dia kirim padaku. Dadaku berdesir setiap melihat tatapannya. Apa aku jatuh cinta lagi? Atau hanya mengagumi sosok pria muda ini,bagiku dia berbeda. Ponselku berbunyi kali ini bukan sebuah pesan, tapi video call dari Ahmed.
"Hai" sapanya dengan seragam tentara lengkap, senyum indahnya mengembang dibibir tipisnya
"Hai, apa kabar?" Jawabku sedikit gugup
"Baik, kamu" Ahmad kembali tersenyum
"Baik, kamu sedang bertugas?"
"Iya, tapi sebentar lagi selesai. Apa aku mengganggu tidurmu?"
"Tidak sama sekali. Aku sedang membaca buku" jawab ku berbohong
"Buku apa?" Ahmad seakan tahu aku berbohong.
Aku mengambil asal buku yang ada dihadapanku.
"Kamu cantik sekali" ucap Ahmed, aku yang sedang gugup langsung menatap mata nya, dia pun memandangku dengan tatapan kagum.
"Jangan bercanda, aku sudah tua. Bagaimana mungkin masih terlihat cantik diusia ku"
Ahmed menghembuskan nafas nya kasar
"Aku tidak pernah bercanda untuk hal yang sudah terlihat jelas" sahut Ahmed kesal
Aku mengalihkan pandanganku kearah lain.
"Aku mencintaimu" ucapannya kali ini sukses membuatku henti bernafas, kutatap matanya yang tajam mencari kebohongan tapi aku merasakan ketulusan dari tatapan matanya.
"Aku tidak seperti pria kebanyakan yang akan menjanjikanmu pernikahan atau yang lainnya, aku seorang tentara yang tidak mungkin meninggalkan tugasku. Aku juga seorang anak tertua dikeluarga ku. Dan aku bertanggung jawab atas mereka. Tapi aku ingin melihat mu setiap hari dan tersenyum untukku" ucapnya Tegas
Aku tertegun dengan kejujuran nya, biasanya laki-laki mendekatiku dengan janji sebuah pernikahan. Tapi anak muda dihadapan ku ini berbeda dia bahkan mengatakan tidak bisa menikahiku walaupun dia mencintaiku.
Kutatap sekali lagi sorot mata tajamnya,
"Kenapa? Apa begitu arti cinta untukmu?" Tanya ku
"Karna laki-laki yang dipegang kata-katanya, dan aku tidak mengingkari perkataan ku. Jika aku berjanji dan aku tidak melakukannya itu bukan sikapku. Biarkan kita saling mencintai sampai Allah menentukan akan kearah mana cinta kita "
"Baiklah, menjadi tempat ternyaman mu adalah tujuanku. Kita memulai segalanya hari ini" jawabku tersenyum.
Hari ini 15 Mei 2022, kami terikat dalam satu ikatan cinta. Berharap Allah menentukan jalan terbaik bagi kami.
Hari hari berlalu begitu indah, kami tidak pernah melewatkan sehari pun tanpa bicara. Kami saling bercerita hari-hari kami. Betapa lelahnya dia bekerja, betapa kami saling merindu. Hingga hari itu tiba.
"Ada kabar buruk sayang" ucap Ahmed membuka pembicaraan video call kami
"Ada apa?" Tanyaku antusias
" Aku akan menjaga ditempat yang susah sinyal internet" jawabnya lesu
"Lalu bagaimana cara kita berbicara?" Tanyaku lagi
"Aku akan berusaha mengirim pesan untukmu" jawabnya dengan wajah frustasi.
" Baiklah, berhati-hatilah disana" ucapku sendu
" Hei, jangan bersedih seperti ini." Ucapnya menatapku
" Bagaimana aku tidak bersedih, kita selalu bersama setiap hari. Dan sekarang aku tidak bisa membayangkan jika hariku tanpamu" balasku merajuk
Ahmed tersenyum, senyum yang akan kurindukan 1 bulan kedepan.
" Kamu sangat mencintaiku? Iya kan?" Tanya nya antusias
" Iya " jawabku pelan.
Ahmed tertawa lepas, seakan melepas beban yang selama ini menderanya.
" Jika aku didekatmu, akan aku cubit pipi chubby mu. Kamu sangat menggemaskan" ucapnya
Akhirnya hari itu tiba, Ahmed mengirimkan pesan bahwa dia sudah berangkat pagi-pagi sekali. Aku terduduk lemas dikamarku. Seakan duniaku hilang. Baru kemarin kami berbicara, tertawa, bertengkar dan hari ini dia tidak dapat kuhubungi.
Hari pertama ku setelah dia berangkat bertugas, aku lalui dengan rasa rindu yang menyiksaku.
' selamat pagi sayang, bagaimana kabarmu? Aku merindukan mu'
Ketikku dan mengirimkan pesan berharap dia akan membacanya.
Aku melakukan aktifitas ku seperti biasanya, yang berbeda tidak ada telepon dan pesan dari Ahmed . Setiap hari aku mengirimkan pesan, berharap dia akan membacanya dan membalasnya.
Hari kelima , jam 5 pagi. Tiba-tiba notifikasi masenger berbunyi. Nama Ahmed muncul dilayar, aku hampir menangis melihatnya. Aku duduk diatas sajadahku membaca pesan yang dia kirim. Pesan pertama setelah 5 hari kami tidak bicara.
' salaam. Apa kabarmu?' pesan singkat Ahmed sukses membuatku tersenyum.
' Waalaikum salaam. Aku baik. Kamu?' dengan cepat aku membalas pesannya
5 menit
10 menit
30 menit
Akhirnya aku membuka Mukena yang kugunakan. Ku lipat dengan rapi. Sudah 1jam dan tidak ada balasan.
"Maya, ayo sarapan" panggil ibuku dari luar kamar
" Iya Bu" sahutku
Aku berjalan keluar kamar ku. Ibu memperhatikan ku.
"Ada apa nak? Sudah beberapa hari ini ibu lihat kamu gak semangat?" Tanya ibu membuka pembicaraan
" Bu, aku mau cerita boleh?" Kutatap wajah tua ibuku yang lembut
" Bicaralah nak, jika itu bisa meringankan beban mu" jawab ibu sambil menggenggam tanganku
" Beberapa bulan ini aku menjalin hubungan dengan seorang anak muda, dia seorang tentara, dan dia tidak tinggal disini. Aku awalnya tidak yakin dengan hubungan ini. Tapi, bersamanya aku merasa nyaman. Terkadang kita tertawa karna hal hal kecil, tidak jarang juga kita bertengkar Karna kesibukan kita masing-masing. Dan akhirnya aku merasa yakin mencintainya"
Aku menjeda ucapanku menunggu reaksi ibu, ibu mengangkat dagunya menyuruhku melanjutkan ceritanya.
" Ibu gak kaget?" Tanyaku pelan,
" Ibu tahu, beberapa bulan ini ibu melihat kamu bahagia. Itu sudah cukup buat ibu. Putri kesayangan ibu akhirnya bisa tersenyum lagi. Ibu bahagia. Apa pemuda itu tahu statusmu? Usiamu?" Ucap ibu
" Dia tahu statusku, dan usiaku lebih tua 10 tahun darinya, awalnya dia tidak menjanjikan pernikahan, Karna dia tidak yakin bisa bersamaku Karna jarak kami yang terlalu jauh dan pekerjaannya tidak memungkin untuk dia keluar dari negaranya. Tapi, seiring kedekatan kita dia bilang dia ingin aku ada disisinya selamanya." Ku hembuskan nafasku melepaskan beban yang menghimpit dadaku.
" Satu Minggu ini dia ditugaskan diperbatasan yang sulit jaringan internet, aku yang terbiasa setiap hari bicara dengannya merasa sedih sekali" aku menunduk tak tahan menahan airmataku.
Ibu memelukku hangat, ditepuknya punggungku pelan mencoba menenangkanku
" Jika dia memang jodohmu, dia akan kembali padamu . tapi jika dia bukan jodohmu sekuat apapun kamu memeluknya dia tetap akan pergi padamu" ucap ibu
Aku mencoba menjalani hidupku seperti biasa, dan aku tetap mengirimkan pesan padanya setiap hari. Tak pernah terlewat sehari pun tanpa mengirimkan pesan. Dan pesanku selalu dibaca tanpa balasan. Hingga pada hari ini tiba-tiba akun Facebook nya menghilang. Tidak ada jejak apapun. Ya Ahmed meninggalkan ku tanpa pesan. Duniaku seakan berhenti, cinta yang sudah tumbuh dan dipupuk olehnya harus terhempas begitu saja.
Aku terluka, hancur dan terpuruk. Pekerjaanku dan hidupku berantakan. Hingga ibu aku teringat ucapan ibu, ya dia bukan jodohku. Dia orang yang pernah singgah dan pergi setelahnya.
Aku bangkit, kumulai hidupku tanpa cinta lagi, tak mau kuingat apapun yang pernah aku lewati. Cukup bagiku terluka.
3 tahun aku berjuang, hidupku sudah lebih baik. Kesendirian mengajarkanku untuk tegar dan kuat. Diruangan kerjaku aku menatap laptop ku, ku buka aplikasi yang telah lama ku tinggalkan. Hari ini aku rindu dia, kerinduan yang kupendam selama 3 tahun. Kubaca pelan- pelan semua chat sampai tak terasa airmataku mengalir begitu saja. Aku menangis, tangisan pertamaku selama 3 tahun ini. Dadaku sesak menahan kerinduan.
Kulihat banyak permintaan pertemanan, ada satu nama yang membuat ku tertarik, Nabil Amraoui, aku menerimanya. Dan sebuah notifikasi messenger masuk ke ponselku.
'Salam, aku Nabil dari Algeria'
' aku Maya dari Indonesia '
' nama keluarga mu tidak asing. Apa kamu mengenal Ahmed?'
' tentu saja, dia anak pamanku, dan dia sepupuku. Kami sama-sama Amraoui '
'apa kamu mengenalnya?'
' ya dia mantan kekasihku, dan dia kenangan buruk bagiku'
'apa kalian pernah bertemu?'
'bagaimana mungkin dia pernah jadi kekasihmu?'
'kami tidak pernah bertemu'
'dia dengan tugasnya tidak memungkin untuk kesini'
'dan aku si bodoh yang mempercayainya'
'itulah Cinta, kita tidak pernah tau kapan dan bagaimana?'
'berapa lama kalian bersama?'
' beberapa bulan, dan itu 3tahun lalu'
' tidak ada lagi yang tersisa diantara kita'
'apa kamu berniat kesini?'
'untuk apa?'
'satu bulan lagi Ahmed akan menikah'
Aku menatap kalimat terakhir yang dikirim Nabil, ternyata dia hidup dengan baik. Aku menertawakan diriku. Dan aku terpuruk disini.
'apa kamu mau menjadi tour guide ku?'
'karna aku tidak tahu sama sekali tentang Algeria'
'Marhaban, aku akan menjadi tour guidemu'
Aku menutup aplikasi messenger ku. Kurapihkan berkas yang ada di mejaku. Dan mengambil tas ku
"Laras, mba hari ini pulang duluan. Ada urusan mendadak" ucapku pada Laras staf editor ku
"Mba Maya, mau kemana?' tanya Laras menaikkan kacamatanya
'"menyelesaikan masa lalu" ucapku sambil berjalan meninggalkan nya.
Dan aku disini dikedutaan Algeria, cukup lama aku duduk di dalam mobilku ragu. Apa aku harus pergi kesana atau mengikhlaskannya.
Tok-tok-tok
Seseorang mengetuk kaca mobilku.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya seorang security
" Eh itu, saya ingin mengajukan visa wisata, apa pelayanannya masih ada?" Jawabku.
" Oh masih buka Bu, ayo saya antar ke ruangan bapak Adrian" ucap security itu
Aku berjalan mengikuti security, sampai aku berdiri diruangan pak Adrian,
" Ibu silakan masuk, tadi saya sudah bicara dengan pak Adrian"
" Baik pak. Terimakasih " ucapku tersenyum.
Tok-tok-tok aku mengetuk pintu ruangan itu
"Silakan masuk" ucap seseorang dari dalam
Aku membuka pintu dan melihat seorang pria tinggi kurus dihadapan ku, dan mengapa wajahnya tidak asing bagiku, begitu pun pria itu dia terus menatapku.
"Mba Maya?" Ucap pria itu
"Adrian?" Ucapku mencoba mengingat, apa ini mantan adik ipar ku?
"Iya mba, ini aku Adrian. Apa kabar mba?" Adrian menjabat tanganku
" Aku baik, kamu gimana? Gak nyangka kita bakal ketemu disini " balasku menjabat tangan nya
" Ada keperluan apa mba?" Tanya Adrian sambil mempersilakan aku duduk di sofa
" Aku ingin jalan-jalan ke Algeria?apa kamu bisa membantuku?" Jawabku gugup
"Bisa mba, Algeria juga negara yang indah. Kapan mba perlu bisanya?"
" Bulan depan, saya perlu 3 Minggu tinggal disana"
Adrian menatap wajahku, ada pertanyaan menggantung dimatanya . Tapi sepertinya dia tidak enak menanyakan padaku.
"Masalah pribadi, dan aku tidak nyaman jika kamu bertanya" ucapku menunduk
" Disana mba rencana mau kemana?" Tanya Adrian
"Oran" jawabku singkat
"Ok, baiklah" Adrian berdiri dan mengambil beberapa berkas
" Mba bawa paspor kan?" Tanya Adrian
Aku mengeluarkan paspor dari dalam tasku .
Adrian mewawancarai ku , ada beberapa pertanyaan yang harus kujawab. Lalu aku dibawa keruangan konsulat, disana aku bertemu dengan orang Algeria dan memberiku beberapa pertanyaan yang sama yang Adrian berikan.
Aku berdiri didepan ruangan Adrian, memandang hampa kearah jendela. Entah ini benar atau salah. Tapi aku hanya ingin melihat Ahmed sekali saja dan melepaskan semua perasaanku padanya .
" Mba Maya, untuk tanggal sudah di tentukan dan visa akan selesai dalam satu Minggu" ucap Adrian menghentikan lamunanku
" Terimakasih banyak Adrian, mungkin kalau kamu tidak membantu prosesnya akan sulit" balasku
Aku kembali ke kantor penerbit dan mengajukan ijin cutiku. 3 tahun ini aku tidak mengambil cutiku, dan sekarang lah saatnya. Aku bersyukur semua dipermudah tidak ada yang nenyukitkanku. Tinggal ijin ibu yang harus kudapatkan.
Aku berjalan ke meja makan ibu sudah menungguku, senyum ibu yang selama ini menguatkan ku. Senyum ibu yang membuat ku melangkah sejauh ini
" Bu, bulan depan aku mengajukan cuti 1 bulan" ucapku membuka pembicaraan
" Ada rencana apa sampai 1 bulan cuti?" Tanya Ibu sambil menyendokkam nasi kedalam piring ku
" Aku mau ke Algeria, aku ingin bertemu Ahmed untuk yang terakhir kalinya ", ibu menatapku
tatapan hangatnya tidak menghakimiku. Tapi aku tahu ada beribu pertanyaan di benaknya.
" Aku hanya ingin melepaskan semua rasaku. Dan setelah itu aku akan menata hatiku" ucapku menggenggam tangan ibu. Ibu mengangguk dan tersenyum.
"Lakukan nak, jangan biarkan penyesalan menyiksamu. Sampaikan salam ibu buat Ahmed, bilang padanya, terimakasih pernah hadir dihidup putriku. Terimakasih sudah membuat putriku memiliki rasa cinta dan setia" ucap ibu memelukku.
Akhirnya hari ini tiba, aku berangkat ke bandara diantar ibu. Ibu memelukku erat, airmatanya membasahi pipinya yang menua. Tidak ada kata terucap. Ku kecup kening ibu.
"Sudah Bu jangan nangis, aku berjanji setelah ini tidak akan ada airmata lagi" ucapku
"Tinggalkan semua rasamu pada Ahmed di sana, jangan membawanya lagi ke sini. Demi Allah ibu tidak rela kamu terluka lagi" terdengar Isak tangis ibu.
"Assalamualaikum " suara Adrian menyapaku dan ibu
"Loh nak Adrian, ada apa disini?" Tanya ibu bingung
"Waalaikum salaam " sahutku mencolek lengan ibu
" Oiya, waalaikum salaam. Tapi kebetulan sekali kita bertemu disini. Apa kamu mo pergi juga ke luar negeri" tanya ibu sekali lagi.
"Aku ikut Mba Maya ke Algeria Bu" jawab Adrian sambil menggaruk kepalanya
Aku menoleh padanya terkejut, ikut aku? Buat apa? Tanya ku dalam hati, aku merasa seperti ada yang aneh disini.
" Mas Satria yang nyuruh?" Tanyaku hati-hati
Adrian menggeleng cepat,
" Ibu, maaf dulu mas Satria pernah menyakiti mba Maya. Lama aku mencari mba Maya. Setelah pulang dari Australia aku datang ke rumah kalian yang lama. Tapi kalian sudah pindah. Aku terus mencari kalian, tapi tidak ada hasilnya. Hingga 1 bulan yang lalu mba Maya datang ke kedutaan, di hari itu aku berjanji tidak akan melepaskan mba Maya lagi. Ibu, aku sudah mencintai mba Maya sebelum dia menikah dengan mas Satria, saat itu aku hanya remaja dengan seragam putih abu, tidak mungkin aku mendapatkan mba Maya. Dunia ku berantakan di hari pernikahan mas Satria, wanita dewasa yang aku Cintai menikah dengan Abang kandungku, aku akhirnya meninggalkan Indonesia, aku tidak sanggup melihat mereka bahagia . Tapi kabar perceraian mereka membuatku membulatkan tekad untuk mendapatkan hati mba Maya." ucap Adrian yakin, di menghela nafasnya perlahan.
"Tapi ternyata aku kalah lagi dengan pria Algeria, dia mendapatkan hati mba Maya, tapi dia telah menyia-nyiakan hati wanita yang lembut ini. Ibu, ijinkan aku menjaganya selama disana. Aku tidak mengharapkan mba Maya membalas cintaku. Aku hanya tidak ingin dia terluka sendirian di negara yang dia tidak kenal" Ibu menangis memeluk Adrian.
" Ibu tidak tahu jika ada yang mencintai putri ibu sedalam cintamu padanya. Jaga Maya dengan baik. Ibu percayakan Maya padamu" ucap ibu
Perjalanan selama 24jam akhirnya selesai, aku menginjakan kaki ku di bandara Ahmed Ben bella, badanku yang lelah semua terobati dengan aku melihat sendiri tanah kelahiran orang masih kucintai 3 tahun ini.
" Mba Maya, aku sudah booking hotel di dekat sini" ajak Adrian
" Aku, sudah ada yang jemput" tolakku halus
" Siapa mba?" Tanya Adrian penasaran .
" Maya?" Panggil seseorang dibelakang Adrian
" Nabil?" Sapaku meyakinkan
" Aku Nabil Amraoui , bagaimana kabarmu?" Nabil menjabat tanganku.
" Aku Maya, Alhamdulillah aku baik" sahut ku sambil membalas jabatan tangannya.
" Perkenalkan ini adik mantan suamiku, Adrian" ucapku mengenalkan Adrian pada Nabil
Nabil mengernyitkan dahinya, tapi tetap menjulurkan tangannya untuk bersalaman, begitu pun dengan Adrian mereka bersalaman dengan tatapan permusuhan.
"Aku hanya menyiapkan satu buah kamar dirumahku, aku tidak tahu kamu akan membawa kerabatmu" ucap Nabil sambil menarik koperku
"Apa ada penginapan didekat rumahmu?" Tanya Adrian
" Tentu saja ada, tapi tidak sebagus hotel dikota, apa kamu tidak masalah?" Jawab Nabil
"Aku tidak masalah sama sekali" jawab Adrian santai
Akhirnya aku tiba di rumah Nabil di pinggiran kota Oran. Di rumah itu aku diperkenalkan sebagai sahabat dari Nabil, dan mereka menyambutmu dengan bahagia. Aku merasakan kehangatan dirumah Nabil, Adrian masih menemaniku, dia tidak membiarkanku sendiri di situasi seperti ini. Beruntungnya Adrian yang mudah bergaul bisa mencairkan suasana. Sedang aku masih berkutat dengan pikiranku tentang Ahmed.
Aku berjalan keluar rumah mengantar Adrian ke penginapan yang diberi tahu Nabil,
"Kamu istirahatlah mba, mereka keluarga yang baik dan aku tidak akan khawatir" Adrian menepuk bahuku pelan,
" Jaga dia sementara aku istirahat di penginapan" ucap Adrian pada Nabil, Nabil mengangguk yakin.
Aku menatap kepergian Adrian dengan tatapan kosong, pandanganku tertuju pada rumah ketiga disebelah rumah Nabil. Tampak hiasan pernikahan sudah terhias rapi dan indah.
"Itu rumah keluarga Ahmed, mereka sedang bersiap menyambut kedatangan Ahmed pulang dari barak militer, dia akan tiba sore nanti" ucap Nabil.
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanyaku pelan
"Aku akan mengaturnya, sekarang istirahat lah. Kita akan berkunjung kerumah Ahmed sore hari" ucap Nabil
Aku gelisah menunggu sore hari, aku menggunakan dress biru muda dan hijab panjangku, ku pandangi diriku dicermin besar dihadapan ku.
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunanku, aku berjalan kearah pintudan membukanya perlahan
"Kamu sudah siap?" Tanya Nabil, dia menatap ku kagum.
"Sudah" jawabku yakin.
"Masha Allah kamu cantik sekali kak" ucap adik perempuan Nabil,
Aku hanya tersenyum menjawab sanjungan demi sanjungan yang terlontar dari mulut keluarga Nabil. Adrian yang sedang duduk diruang tamu berdiri memandangiku.
" Bagiku kamu tidak pernah berubah, kamu masih Maya 15 tahun lalu yang memikat hatiku" ucap Adrian begitu aku disampingnya.
Nabil membawaku kerumah keluarga Ahmed, aku gugup. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak bisa bergerak maju. Bahkan kakiku berat melangkah.
"Assalamualaikum bibi paman" Nabil mengucapkan salam
"Waalaikumsalam, Nabil. Masuk sini nak" jawab seorang wanita yang tidak terlalu tua, yang kuyakini itu ibu dari Ahmed
" Masha Allah, cantik sekali wanita ini. Apa ini calon pengantinmu Nabil?" Tanya wanita itu
" Bukan Bi, ini temanku dari Indonesia. Dia kebetulan sedang berlibur disini. Dan ingin melihat Acara pernikahan Adat kita" jawab Nabil
"Maya, kenalkan ini ibu dari Ahmed dan ini Ayahnya" Nabil memperkenalkanku pada mereka.
"Dan ini adiknya Adrian" sambung Nabil.
Kami bersalaman, aku mencium punggung tangan ibu dan ayah Ahmed, mereka menyambutmu dengan baik. Kami duduk diruang tamu berbincang tentang tentang persahabatan aku dan Nabil, mereka bahkan tidak percaya umurku 40 tahun. Kami tertawa dan berbicara hal-hal ringan. Hingga sebuah mobil terparkir dihalaman rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap seseorang dari luar dan aku mengenal suarany, suara yang beberapa tahun lalu menjadi penghantar tidurku. Suara yang kurindukan 3tahun ini.
Semua berhambur menyambut Ahmed, kulihat dari kejauhan dia tersenyum bahagia memeluk satu persatu kerabatnya, tiba-tiba matanya menangkap keberadaan ku. Senyumnya menghilangkan menatapku tajam aku menunduk. Nabil yang menyadarinya menggenggam tanganku seolah memberi ku kekuatan. Nabil melepaskan genggaman tangannya dan memeluk nya
"Selamat saudaraku, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami" ucap Nabil menepuk-nepuk punggung Ahmed.
" Perkenalkan ini sahabatku Maya dan ini adiknya dari Indonesia, dia sedang berlibur dan ingin melihat pernikahan adat Algeria" Nabil menarik tanganku untuk mendekat,.
" Salaam" ucapku pelan, tak ada jawaban dari mulut Ahmed. Dia hanya memandangiku.
" Hei ingat, besok kamu akan menikah. Jangan tergoda wanita lain" celetuk seseorang dari arah belakang. Dan mereka semua tertawa. Ahmed pun ikut tersenyum kali ini. Dan terlihat dipaksakan.
Aku masih duduk diantara para wanita, berbincang tentang keindahan Alam Algeria, bahkan ada yang mempromosikan putranya untukku, aku hanya tersenyum mendengarnya.
" Ngomong-ngomong apa kamu menikah? Usia mu tidak lagi muda" tanya ibunya Ahmed
" Aku pernah menikah dan akhirnya bercerai diusia pernikahanku yang kelima" jawabku
" Kenapa bercerai nak?" Tanya wanita lain penasaran
" Mantan suamiku sering memukulku" jawabku pelan, Karna malu atas apa yang menimpaku.
" Astagfirullah, sungguh tercela perbuatan nya, seburuk-buruk nya istrimu jangan pernah sekalipun kamu memukulnya. Apalagi kamu sangat cantik dan baik" ibu Ahmed memegang kedua tanganku.
Ahmed menatapku dari kejauhan. Dia kelihatan sedikit frustasi beberapa kali dia mengusap wajahnya kasar.
Aku berjalan ke dapur untuk meletakkan piring kotor, setelah meletakkan nya, tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Dia membekap mulutku, kami saling menatap, hembusan nafasnya menyapa kulit wajahku
" Kita bertemu ditaman, minta antar Nabil. Dia tahu dimana tempatnya" ucap Ahmed
Ahmed meninggalkan ku, aku terduduk lemas.
"Kamu darimana kenapa lama sekali didapur?" Tanya Adrian padaku
" Aku bertemu Ahmed dan dia memintaku bertemu di taman. Dia menyuruh Nabil untuk mengantarkan ku" Aku yang masih gemetaran bahkan sampai harus dipapah oleh Adrian
Nabil kaget melihatku kondisiku sekarang. Dia langsung memegang tanganku
"Ada apa denganmu?" Tanya Nabil
" Dia baru saja bertemu dengan iblis" jawab Adrian menatap wajah Ahmed kesal.
" Paman bibi aku pamit, tiba-tiba aku sakit kepala." Ucapku pada Ayah dan ibu Ahmed
"Kamu kenapa nak? Kenapa kamu sampai pucat seperti ini?" Tanya ibu nya Ahmed
"Aku baik-baik saja, hanya kelelahan akibat perjalanan." Jawabku pelan.
Aku melihat Nabil bolak balik didepan kamarku sambil berbicara di ponselnya. Sesekali dia melirikku. Tampak raut kegelisahan di wajahnya, akhirnya aku bangun dari tempat tidurku.
"Ada apa?" Tanyaku
" Tidurlah, kondisimu lemah sekali. Urusan Ahmed biar nanti aku yang selesai kan" ucap Nabil menuntunku ke tempat tidur
"Katakan ada apa?" Tanyaku lagi
" Ahmed menunggumu di taman, aku sudah katakan padanya, kamu sakit. Dia bilang jika kamu tidak kesana dia yang akan kesini" jawab Nabil ragu
"Antarkan aku kesana, aku juga ingin bertemu dengannya" pintaku yakin.
"Tidak, kita tidak bisa kesana dengan kondisimu yang seperti ini!" Tiba-tiba Adrian datang
" Kalian percayalah padaku, ini terakhir kalinya aku berbicara padanya. Setelah itu aku akan pergi dari hidupnya. Aku janji" ucapku meyakinkan dua pria dihadapanku.
Jam menunjukan jam 10 malam, udara dingin menusuk kulitku setelah aku turun dari mobil. Kulihat Ahmed berdiri menungguku, dia mendekatiku. Aku menoleh ke arah Nabil dan Adrian.
" Tinggalkan kami berdua, ada yang harus kami selesaikan" ucapku.
Aku melangkah mendekati Ahmed, semakin dekat. Tatapan kami bertemu, tidak ada tatapan tajam seperti tadi sore, kulihat tatapan matanya sendu.
" Apa kabarmu? Aku bahkan tidak sempat menanyakan nya didepanmu tadi" ucapku membuka pembicaraan
" Kenapa kamu kesini?" Ahmed malah balik bertanya padaku
" Aku hanya ingin meninggalkan perasaanku disini. Pada orang yang pernah bilang cinta dan sayang padaku. Aku tidak ingin mati penasaran." Jawabku tersenyum.
" Maaf" satu kata keluar dari bibirnya, kata yang tidak pernah sekalipun dia ucapkan saat bersamaku. Tiba-tiba bahunya bergetar, Ahmed menangis dalam heningnya malam.
" Untuk apa? Kamu tidak pernah bersalah. Akulah yang bersalah disini terbuai kata-kata indah dan pujianmu. Aku lah yang menaru harapan padamu. Kamu bahkan pernah berkata tidak menjanjikan pernikahan. Tapi aku mengharapkan hal lebih" aku menatap lurus kedepan. Tidak setetes pun air mata keluar, mungkin sudah kering Karna terlalu sering menangis di malam hari sebelum bertemu dengannya
" Maya, berbahagialah dengan hidupmu. Lupakanlah aku." Ucap Ahmed lagi
Aku tersenyum menatap matanya yang sendu, untuk pertama kalinya aku menghapus airmatanya, mengusap pipinya yang selama ini hanya kulihat di layar ponsel.
" Pasti, aku pasti akan bahagia jika kamu bahagia. Untuk itu berbahagialah. Jangan pernah menangis, terimakasih untuk cinta yang kamu berikan my lion" ucapku
Aku menatap dalam matanya dan Ahmed mengecup bibirku. Aku terdiam.
" Terimakasih untuk cinta yang kamu berikan. Lanjutkan lah hidupmu. Kisah kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu" ku peluk Ahmed erat. Dan Ahmed pun membalas pelukanku. Untuk sesaat kami saling meluapkan rindu meski lewat pelukan. Tak ada airmata hanya saling memeluk.
" Berapa jam lagi kamu akan menjadi milik orang lain?" Tanya ku melepaskan pelukannya.
Ahmed melihat jam tangannya,
"Sekarang jam 11 malam, aku menikah jam 9 pagi. Berarti masih ada 10jam lagi. Ada apa?"
"Maukah kamu berkencan denganku selama 2 jam saja. Setelah itu selesai" pintaku
Ahmed mengambil jaket yang dia letakkan di bangku taman dan memakaikan padaku.
"Tidak masalah jika pakai motor?" Tanya nya
" Tidak masalah" jawabku
Adrian dan Nabil menatap ku bingung
"Kalian pulanglah. Aku akan kembali setelah 2 jam. Jangan khawatir, aku Baik-baik saja" ucapku
Tidak ada percakapan selama perjalanan. Aku menyandarkan kepalaku dipunggung Ahmed memeluk pinggangnya erat. Sesekali Ahmed menepuk nepuk tanganku lembut, dan menoleh kebelakang. Kami berhenti di pantai yang sangat indah.
Kususuri pantai itu. Ahmed mengikuti langkahku dibelakang. Aku menoleh padanya
" Ibu titip pesan, katanya terimakasih sudah hadir dalam hidupku, mengajarkanku mencintai dan setia" ucapku, ku tatap laut malam Algeria.
" Ternyata memang benar kamu sependek ini" ucap Ahmed memelukku dari belakang
Aku terkejut, tapi tetap membiarkan nya memelukku. Ahmed meletakkan dagunya di kepala ku.
" Aku bukan pendek tapi mungil" ucapku membantah.
" Bagaimana kamu bisa berteman dengan Nabil?" Tanyanya tanpa melepaskan pelukannya.
" Sama seperti mu kami bertemu di Facebook" jawabku
" Kamu tahu dia sudah menikah?" Tanya Ahmed lagi
" Tahu, Karna yang dia tawarkan adalah persahabatan bukan cinta" jawabku .Ahmed melepaskan pelukannya. Ada sedikit amarah dimatanya
" Kenapa?" Tanyaku ragu
" Aku tidak suka kamu dekat dengannya" jawab Ahmed duduk di pasir pantai
" Hei ingat, kamu calon suami wanita lain" ucapku mencolek hidung mancungnya. Ahmed menghembuskan nafasnya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah melihat pernikahan ku?" Tanya Ahmed
" Berkeliling Algeria, dan melanjutkan hidup" jawabku ringan, Karna aku juga tidak mungkin terjebak dengan masalalu.
"Adrian? Dia bukan adikmu. Kenapa dia ikut bersamamu?" Tanya Ahmed memandang wajahku
" Dia adik mantan suamiku, dan dia juga mencintai ku"
" Lalu kamu?"
" Tidak ada perasaan apa pun. Mungkin tidak ada lagi cinta. Sudah diborong semua oleh pria Algeria yang melarikan diri dariku" ucapku tertawa. Ahmed tertunduk lesu.
" Ahmed, selamat untuk pernikahanmu. Semoga kamu bahagia" ucapku tulus
" Maafkan aku, yang begitu pengecut. Yang tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padamu" balas Ahmed.
" Tidak ada yang perlu dimaafkan, cinta memang seperti ini dan ini adalah fase yang ditentukan Tuhan, bahwa kita tidak bisa bersama" ucapku menatap wajah Ahmed, wajah yang akan aku lupakan selamanya.
Jam 7 pagi, kediaman keluarga Ahmed sudah ramai dengan kerabat, aku pun berbaur dengan para wanita, sesekali kami tertawa. Semua orang bahagia, tapi tidak dengan ku. Hari ini aku benar-benar harus melepas kan cintaku. Aku harus merelakan orang yang ada di hatiku bersanding dengan wanita lain.
" Maafkan putraku, mungkin dia menyakitimu" tiba-tiba ibu Ahmed memelukku, aku terkejut tapi juga terharu.
"Bagaimana bibi tahu?" Tanyaku, ibu Ahmed membawaku ke kamarnya. Ditutup nya pintu kamar dan menyuruhku diduduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Semalam ibu melihat Ahmed mencium keningmu" ucap ibu Ahmed.
" Bibi, maafkan aku. Sungguh aku tidak berniat untuk menggagalkan pernikahan Ahmed.Aku hanya ingin menyelesaikan masa lalu ku dengan Ahmed. Setelah ini aku akan pergi dari hidup Ahmed selamanya" ucapku memegang tangan ibu Ahmed.
" Tidak nak, Ahmed bercerita semalam. Jika dia yang meninggalkanmu tanpa berkata apa pun. Dia terlalu pengecut untuk mengucapkan selamat tinggal" ucap ibu Ahmed memelukku. Aku menangis di pelukannya. Tidak ada yang dapat aku ucapkan, airmataku tumpah di pelukannya. Airmata yang kutahan selama ini akhirnya mengalir juga.
"Maafkan aku bi, haruskah aku pergi sekarang. Aku tidak ingin Ahmed merasa terbebani Karna kehadiran ku" ucapku menghapus air mataku
" Jangan nak, jadilah bagian dari keluarga kami" ucap ibu Ahmed mengecup pipiku lembut.
" Bu, ibu.. ayo kita harus berangkat sekarang" ucap Abed masuk kedalam kamar ibu Ahmed. Aku menyeka air mataku, tidak mau terlihat buruk dihadapan adik Ahmed
"Kamu?" Abed menunjukku kaget
" Kamu mengenal Maya nak?" Tanya ibu Ahmed pada Abed
" Dia, dia, dia mantan kekasih Abang Bu" jawab Abed gugup
" Kenapa tidak ada satupun yang memberi tahu ibu. " Sungut ibu Ahmed kesal. Aku menggenggam tangan ibu Ahmed dan menggeleng cepat
" Tidak perlu menyalahkan siapa pun Bu, seharusnya aku yang tidak ada disini" ucapku.
Kami keluar dari kamar ibu Ahmed, Ahmed memperhatikanku. Tatapan nya tajam, seakan bertanya , apa yang sudah terjadi. Aku kembali bersama para wanita, duduk dan berbincang. Tapi hatiku rasanya tak menentu. Haruskah aku tetap disini atau pergi? Saat aku sedang berkecamuk dengan pikiranku ibu Ahmed menepuk bahu ku lembut.
"Ayo nak, kita berangkat kerumah mempelai wanita" ajak ibu Ahmed, aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Aku duduk didalam mobil disamping ibu Ahmed, sedang Ahmed duduk di kursi depan bersama Abed yang mengendarai mobil.
Ahmed duduk dihadapan penghulu, aku melihatnya, ya aku melihat dia begitu gagah. Tak terasa airmata ini mengalir, ibu Ahmed menggenggam tanganku erat seakan menguatkan ku. Aku tak kuasa menahannya, dadaku terasa sesak. Inilah akhir dari kisah cintaku. Cinta yang ku biarkan tumbuh dan kujaga selama 3 tahun. Aku yang begitu mencintainya ternyata hanya sebuah persinggahan. Karna pada akhirnya aku bukan tempat dia berlabuh.
Ku tutup rapat mataku menghentikan Airmataku, terimakasih untuk cinta yang pernah tercurah untukku. Kamu lah kenangan terindah dan terburuk bagiku.
----- TAMAT----