Apa yang ada didalam benak kalian tentang seorang anak?
Ya... anak adalah anugrah yang paling terindah dari Tuhan yang Esa. setelah menikah pasti kita semua menginginkan cepat hamil dan segera memiliki seorang anak bukan.
Tapi bagaimana jika kehamilan yang kita tunggu-tunggu malah menjadi petaka bagi rumah tangga kita, bagaimana kehamilan yang selalu kita nantikan malah menjadi bencana besar bagi rumah tangga kita, bagaimana kehamilan ini malah membuat orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita.
Akankah kita masih akan tetap mempertahankan kehamilan itu, akan tetap membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang walau di dampingi seorang suami, akankah kita bisa menjalani hidup sebagai ibu dan ayah sekaligus.
Aku menjawabnya, ya aku akan tetap mencintai anakku, menyayanginya dan memberi yang terbaik bagi dirinya walau apapun yang terjadi, walau aku hanya seorang diri membesarkannya, walau aku harus kehilangan suamiku, dan walau aku harus mencari ayah pengganti untuk nya, apapun itu asal dia bahagia.
Anak! tetap lah anak, tidak ada yang namanya mantan anak, kasih ibu sepanjang masa itu yang pernah aku dengar, dari sana aku belajar tetap membesarkan anakku walau aku harus berjuang seorang diri, tetap membesarkan anak walau tidak ada yang mensupport kita, karena aku seorang ibu.
Menikah dan di beri kepercayaan untuk hamil dengan cepat itulah takdirku, awal kehamilanku bisa dikatakan sangat sulit, dari mulai mual-mual yang cukup parah, bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan tidak bisa melakukan layaknya sebagai seorang istri, aku berharap suamiku bisa ada sampingku dan bersabar serta selalu ada untuk menemani aku melewati semuanya.
Tetapi itu hanya sebuah harapan saja, ya... harapan akan tetap terus menjadi sebuah harapan, dan harapan itu akan pupus dengan sendirinya ketika kita telah capek untuk berharap.
Usia kandunganku sekitar 3 bulan, dan dia sudah tidak berada dirumah ini, dia pergi dari semalam hingga kini tidak pernah kembali lagi.
Sekarang usianya 7 bulan, dia semakin aktif setiap hari, aku bahagia walau aku seorang diri sekarang, tetapi aku tidak akan membiarkan anakku sendirian, aku akan selalu ada buat anakku.
Aku ibu dan ayah baginya, dan anakku adalah segalanya bagiku, cukup pernikahan ku saja yang kandas, cukup aku gagal menjadi seorang istri, aku tidak akan membiarkan diriku gagal menjadi seorang ibu.
Saat dia lahir kedunia ini, aku sangat bahagia... aku tidak tau kamu dimana mas, bahkan kamu tidak pernah mengirimkan pesan padaku, kau hanya mengirimkan 1pesan saja, yaitu pesan dari pengadilan.
Aku bahagia anakku lahir, dia seorang laki-laki, tapi siapa! siapa yang mengazankannya, dari siapa dia akan mendengar kalimat Allah untuk pertama kalinya.
Aku menangis... Isak tangisku membasahi wajahku di ruang operasi saat membayangkan anakku tidak akan di azankan.
Ya Tuhan, kenapa ini terjadi... sungguh malang nasibmu nak... tapi, untung ada orang baik yang ingin mengazankan dirimu, terimakasih banyak.
Hari ini dia kubawa pulang kerumah, aku tersenyum melihat wajah mungilnya, aku sangat bersyukur Tuhan memberi aku anugrah seindah ini, Tuhan telah mengabulkan doaku dengan menghadiahkan bayi laki-laki yang sangat tampan.
Hai anakku, aku adalah ibumu! kita harus kuat ya nak, kamu jangan cengeng, ibu tau kamu bisa merasakan jika ibu menangis, kamu bisa rasakan jika ibu bersedih, tapi ibu berjanji ibu tidak bersedih lagi, ibu akan selalu bahagia untuk dirimu.
Usiamu sudah 6 bulan, kau sungguh pintar, tidak pernah merepotkan sama sekali dan juga tidak rewel, hari ini pertama kali kamu MPASI ya nak, banyak makan ya nak, biar kamu menjadi kuat dan sehat, ibu harap kamu menjadi anak yang Sholeh.
Setahun ini kita bisa melewati segalanya, kamu sudah memanggil ku ibu dari mulutmu sendiri, dan sudah ada 4 gigi yang tumbuh, tapi jangan khawatir ya sayang, cepat atau lambat kaki mu akan kuat untuk menopang tubuhmu berjalan.
Begitu banyak seorang pria yang ingin mendekatiku, ya maklum saja aku seorang janda, tapi bagiku anakku yang paling penting.
Sekarang bukan tentang aku lagi, tetapi semua ini tentang anakku, buah hatiku, aku ingin dia selalu bahagia, aku ingin dia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
Ya Tuhan, jika aku masih memiliki seorang jodoh maka Carikan aku seseorang yang bisa mencintai anakku seperti anaknya sendiri, Carikan Ayah buat anakku, itu doaku.
Semakin hari kau semakin pintar sayang, kaki kecilmu sudah bisa berlari sekarang, kau sudah bisa memakai sendal kesayangan mu berwarna merah, memakai tali dan ada lampunya.
Ulang tahunmu sangat sepesial hari ini, usia mu 3 tahun kau tumbuh sangat cepat, makan mu juga banyak, bahkan kau sangat cerewet sekarang.
Ada seorang pria yang datang untuk melamar menjadi ayah dari anakku, aku terkejut, dia begitu percaya diri sekali, aku tidak tau harus jawab apa, aku takut jika dia meninggal kan kami, tapi anakku sudah bisa mengucapkan kata ayah.
Doa ku di sepertiga malam, Tuhan jika benar dia ingin menjadi ayah bagi anakku, maka mudahkan segalanya, tetapi jika dia hanya ingin meninggalkan kami, maka jauhkan saja dari sekarang.
Jujur jika aku sangat masih trauma dengan kepergian suami ku dulu, tetapi walau aku mengatakan bisa menjadi ayah dan ibu bagi putraku, tetap saja dia menangis mengatakan dimana ayahku, ibu.
Aku melihat kedekatan anakku dengan seorang pria yang ingin menjadi ayahnya, aku bisa melihat jika dari matanya dia sangat bahagia, dia sangat ingin selalu bersama dengan laki-laki itu.
Ibu aku menginginkan seorang ayah! kalimat itu keluar dari mulut kecilnya, Ya Tuhan apa keputusanmu, apa yang harus aku lakukan, apa aku harus dengan pendirian ku, atau aku harus menurun kan ego ku, dan mengabulkan permintaan anakku.
Pria itu selalu datang memberi mainan dan kasih sayang untuk putraku, mereka seperti ayah dan anak selalu bermain bersama, setiap hari.
Bahkan dia sangat lembut, dia sangat sabar sekali, aku bertambah bingung dan semakin takut untuk kecewa kedua kalinya.
Mas... kamu tidak boleh untuk selalu datang kesini, itu sangat tidak baik, bagi ku, bagi putraku, tetangga akan berkata lain nantinya. nanti bisa terjadi fitnah... ucapku menolaknya secara halus.
Jika kamu takut akan ucapan Tetangga, kita menikah saja, aku bahagia disini, aku sangat menyayangi putra mu sebagai anakku sendiri, aku juga yakin bahwa dia juga inginkan aku untuk menjadi ayahnya.
Plaakkk... seperti di tampar aku mendengar kalimatnya, yang tiba-tiba melamar ku, bukannya dia tadi itu aku usir, tetapi kenapa aku yang malah terpojok sekarang.
Aku berdoa lagi, meminta kepada Tuhan, apakah dia sungguh-sungguh mengatakan itu atau tidak, aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena terburu-buru mengambil keputusan.
Kau semakin besar sayang, ucapan mu semakin jelas, semakin aku melarang untuk menemui laki-laki itu kau semakin menagis, sepertinya kamu sudah terbiasa dengan nya.
Ulang tahun yang ke empat kita rayakan sederhana saja ya sayang, kita tiup lilin dirumah sambil makan kue kesukaan mu, aku bahagia dia begitu cepat tumbuh besar.
Ya aku memutuskan untuk menikah demi anakku, lagi pula aku melihat pria ini sangat baik dan anakku juga sangat menyukai nya.
Akhirnya kami menikah dengan sederhana, betapa senang nya anakku, sekarang untuk pertama kalinya dia memanggil Ayah. terimakasih atas kamu yang bersedia menjadi kan dirimu ayah bagi putraku.
Ya... kami sudah lengkap, ada ibu putra dan sekarang ada ayah, aku bahagia bisa memberi ayah buat anakku.
Kehidupan kami terasa lengkap, begini rasanya merawat anak bersama seorang suami, begini rasanya menyuapi anak bersama suami, begini rasanya ketika anak menyebutkan nama ayah.
Ayah... aku ingin Mainan itu, ayah aku ingin ice cream, ayah aku ingin selalu bersama dengan ayah, aku ingin memanggil mu ayah, terimakasih sudah menjadi ayahku.
Kebahagian itu seketika hilang begitu saja, ketika seorang pria yang telah mengirimkan pesan dari pengadilan datang, dia berkata jika dia ayahnya.
Aku sangat tidak bisa percaya itu, kenapa ada orang seperti itu, kenapa dia pergi dan datang seenaknya saja, aku bukan tempat pelampiasannya.
Mungkin ini adalah anaknya,tapi aku yang mengandungnya, aku yang melahirkan nya, bahkan orang asing yang telah mengazankannya.
Kau dimana, kau dimana saat dia mulai bergerak di rahim ku, kau dimna saat dia lahir, kau dimana saat dia butuh di azankan, kau dimana saat dia membutuhkan seorang pria untuk di panggil Ayah, dimana kau, kau tidak disini, kau entah dimana, aku yang melakukannya sendiri.
Tidak ada yang membantuku, dan lihatlah dia hanya orang lain masih berbesar hati untuk mengizinkan anak kecil ini memanggil nya Ayah.
Dia orang pertama yang ada saat putra sakit, dia orang pertama yang ada saat putra ingin main, dia orang pertama saat putra sudah mulai bisa memanggil ayah.
Dia adalah ayahnya, walau dia orang asing tapi dia sudah sah menjadi ayahnya, tetapi kau, kau hanya seorang ayah yang tidak sah!!
Aku menangis, menangis, menangis, aku tidak mau dia selalu mempermainkan perasaanku, sudah cukup, sekarang pergilah jangan datang lagi, aku mohon dengan sangat, aku mohon.
Aku sangat memohon padanya jangan ganggu putraku, seorang pria tidak bisa dikatakan menjadi seorang ayah, hanya karena setetes darah dari tubuhnya.
Ya... aku marah, aku sangat marah dia datang dan pergi seenaknya, tanpa memikirkan keadaanku, tanpa memperdulikan diriku dan cabang bayi ini, dan sekarang dia datang dan mengatakan jika dia adalah ayahnya, itu sangat mustahil.
Isak tangis ku tidak bisa berhenti membasahi wajahku, bahkan hingga mataku bengkak, aku sangat tidak perduli.
Aku hanya memperjuangkan anak yang aku lahirkan dan aku besarkan dengan kedua tanganku sendiri.
kau lihat tangan inilah yang menggendongnya untuk pertama kali, kau lihat tangan inilah yang memberi kehangatan untuk pertama kali, kau tidak pantas di sebut seorang ayah, bagi siapa pun!
Kalian harus tau, ibu mampu memberi segalanya untuk buah hatinya, ibu mampu menciptakan apapun untuk putra nya, ibu mampu menjadi apapun untuk kebahagiaan anaknya.
Saat menikah usiaku masih 20 tahun, aku tidak menyangka jika Tuhan menitipkan anak ini begitu cepat di rahim ku, sebulan menikah aku hamil, tapi entah setan mana yang meresukinya dia pergi tanpa kabar apapun dan sekarang dia datang tanpa kabar juga.
jadi dimana anaknya, dimana anak yang dia bilang sebagai anaknya, seenak dia mengatakan jika dia adalah ayah dari anakku, asal dia tau anaknya telah tiada sesaat dia pergi dari rumah waktu itu.
Aku marah, kesal dan murka saat itu, bahkan aku tidak memberi nya kesempatan untuk menemui putraku, hingga sekarang .
putra sudah berusia 7tahun, dan kami bahagia tanpa seorang ayah diantara kami, aku sadar bahwa anakku sungguh membutuhkan seorang ayah di hidup nya.
Dan inilah ayahnya, dia mendapatkan seorang ayah dari Tuhan atas kesabaran nya selama ini, dan dia diberi kesempatan dari Tuhan untuk merasakannya Memiliki ayah walau hanya ayah sambung, tapi rasanya jauh lebih baik dari pada ayah kandung.
Aku berharap untuk putra ku, semoga dia selalu bahagia, walau banyak yang dialaminya, dari mulai dia tumbuh di rahimku hingga saat ini, sudah banyak hal yang dilaluinya.
Sekarang dia kelas 1SD aku bersyukur ayahnya yang ini tidak meninggalkan, dia selalu ada untuk putra, dimana dan kapanpun, bagaimana pun keadaannya dia berusaha memberi yang putra mau , memberi selalu kebahagiaan itu.
Dan sekarang aku hamil lagi, tapi aku bahagia, dia ada untukku, selalu ada! dan dia juga tidak berubah sama sekali dengan putra anak pertama ku, dia masih tetap menyayangi nya dari dulu hingga sekarang.
Begini ya rasanya jika kita hamil ada suami, begini ya rasanya jika hamil di manja suami, begini ya rasanya jika kita ngidam ada yang penuhi.
Aku menangis lagi dan lagi, tapi kali ini aku menangis bahagia, ya... tangisan bahagia, suami ku selalu ada untuk ku dan juga untuk putra, selalu setiap hari dimana dan kapan pun, terimakasih.
Putra begitu pinta sekali, dia cepat belajar bahkan dia sudah bisa membaca, menulis, berhitung dan mengaji, Alhamdulillah ya Allah kau jadikan dia menjadi anak Sholeh.
Kalian tau perutku sudah sangat besar, bahkan aku hampir tidak sanggup membawanya lagi, kaki ku sangat bengkak, kehamilan ini membuat berat badanku menjadi naik dua kali lipat.
Tapi aku salut pada suamiku, aku pernah bertanya padanya, "mas jika aku gendut kamu bisa memintaku untuk diet kembali,"
" kamu tidak perlu diet dek, mas suka kamu apa adanya, mau gendut atau langsing mas tetap sayang sama kamu, dan yang terpenting kamu dan bayi kita sehat."
Ya itu jawabannya, itu yang selalu membuat aku jatuh cinta setiap hari, sampai hingga bayi kami lahir, seorang putri... sangat cantik dan manis.
Sayang kamu sangat beruntung, mendapatkan segalanya, terpenuhi semuanya.
Kalian putra dan putri ku sangat beruntung, kalian berdua sangat hebat, aku bersyukur bisa memiliki kalian semua didalam hidupku. dan aku sangat beruntung bisa menjadi istri mu mas.
Terimakasih atas kalian sudah membaca cerita pendekku, terimakasih kasih karena sudah mau menerima tulisanku.
Semoga kalian selalu bahagia selamanya.😊