Belajar perlahan mencintaimu dengan tulus adalah kebohongan yang tulusku buat untuk menghiburmu, menutupi rasa penyesalan dan kekecewaan yang perlahan menumpuk.
Aku terlanjur mencitai diriku sendiri lebih dari apapun,kebaikan,perhatian dan kasih sayang yang ku tunjukan adalah sebagian dari pertunjukan panggungku.
Selalu ku pasang topeng kebahagian untuk bertahan hidup bersamamu,menjalani hidup layaknya pasang lain yang saling mencitai dan kau percaya dengan segala kasih sayang yang kubuatkan bagaikan madu yang bercampur racun.
Entah sampai kapan aku harus bertahan dengan topeng kebahagiaan yang kubuat untuk mu, entah berapa lama topeng ini akan bertahan melekat pada wajah ku ini.
Dan saat ini kau bisa tertawa lepas merasa bahagia dengan kehidupan yang kau jalani bersamaku,dan aku akan memasang topeng kebahagianku untuk mu.
Sudah terlalu mati rasa bagiku untuk hidup bahagia bersamamu.
Kebahagiaan yang kau impikan menjalani kehidupan sampai kita menua melihat kebahagian anak,cucu kita tumbuh berkembang.
Saat itu aku mengidamkan hal yang sama saat ini kau rasakan, tapi itu perasaan saat itu bukan persaan saat ini.
Dan perasaan ku saat ini hanya perlu mencintai diri sendiri,menghargai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.
Dan seharusnya aku bisa memberikan nasehat itu kepada mu, kau terlalu mengumbar cintamu untuk ku yang bahkan aku tidak bisa merasakannya.
Yang berujung sebuah kesia-siaan saja.
seperti hujan yang meninggalkan bumi, tidak berbekas sama sekali hal itu lah yang kurasakan, sebuah hubungan yang dilalu dengan kehampaan.
Bagaikan orang yang kehilangan satu kakinya namun dia tidak sadar dan terus mencoba berjalan, sekalipun dia tau pada akhirnya dia akan jatuh dan merasakan sakitnya terjatuh.
Aku minta maaf jika terlalu baik memerankan peranku,sampai kau lupa diri bahwa aku yang dulu tidak pernah berubah sama sekali,fakta tidak sesui dengan kenyataannya.
Kau merasa bahagia dengan kondisi yang sekarang dan aku hanya bisa memainkan perananku menjadi suami yang baik dan penyang,untuk istri dan putra semata wayangmu.
Aku tidak bisa menyebutnya putra semata wayang kita karna dia bukan putraku dan aku hanya bermain peranku sebagai ayah yang baik karna yang dia tau aku adalah ayahnya.
Ya kehidupan yang pahit selalu ku hadapi dengan topeng kebahagian milikku,aku tidak menyalahkan perselingkuhanmu.
Karna pada dasarnya itu adil untukku yang pura-pura mencintaimu dan menganggapnya hal biasa.
Dan aku mulai menemukan kebahagianku sendiri yaitu menutup mata dan mulai mencintai diri sendiri.
Menghargai kehidupan ku yang dulu kubuang untuk memperjuakan cintamu, yang hanya dibalas dengan penghianatan yang manis dan mengatakan bahwa kau mengandung buah hati kita.
Aku hanya tersenyum dan selalu mengiyakan kehendakmu seperti saat ini.
Kau mengadakan party untuk merayakan kelahiran putramu yang ke lima tahunnya,dengan mengadakan semua kemewahan yang kau rencanakan aku hanya mengiyakan tanpa bertanya banyak hal, bagiku uang bukan hal penting dalam kehidupanku saat ini.
Kau selalu tersenyum ke arahku layaknya istri yang sangat bahagia dengan keluarga yang harmonis dimata mu, dan aku ikut tersenyum bahagia layaknya ayah yang sangat menyayangi putra dan istrinya dan itu adalah senyum palsu yang selalu ku buat untuk menutupi rasa pahit dalam hatiku.
Bahkan aku sekarang tidak tau apa hatiku masih bisa merasakan sakitnya di dihianati atau di sakiti.
Ya terseyum dalam topeng ke bahagian adalah keahlianku selain mencari uang, dan kau hanyut didalamnya.
Aku merasa senang saat kau bahagia dengan kehidupan yang ku buatkan untukmu da saat di puncaknya akan ku buat kau merasakan jatuhnya saat ini lebih menyakitkan di bandingkan aku saat itu.
Ya, bisa dikatakan aku orang pendendam,terserah apa katamu dan ku pikir itu sepadan.
" Angga,bisa kau bantu aku menggedong Leo sebentar,aku harus mengganti pakaian ku dulu" Lia istri angga tersenyum manis pada suaminya.
" Bukan masalah besar kau bisa istrahat sebentar juga tidak masalah,kau terlihat lelah" Angga tersenyum manis dan mengambil Leo dari gendongan Lia.
"Wah,putra ayah semakin berat saja" Angga lalu menurunkannya dari gendongan ibunya.
" Ayah,aku masih ingin di gendong ibu,tidak bolehkah" Leo melihat ke arah Angga.
" Boy, apa kau tidak melihat ibu terlihat lelah" Angga mengelus rambut putranya.
" Ini bukan mau ku,aku hanya ingin pesta sederhana bersama teman sekolahku" Leo terlihat bergelayut manja di lengan Angga.
" Berterima kasihlah kepada ibu mu,dia mau membuatkan acara mewah untuk mu" tersenyum manis dan mencoba menenangkan putranya.
" Aku tinggal sebenta,jangan menyusahkan ayahmu" Lia mewanti-wanti putranya.
" Dia tidak akan menyusahkan ayahnya,pergilah aku akan menunggu mu disini" mengelur punggung Lia dengan kelembutan.
Ya, seperti ini lah kelebutan,perhatian,pengertian yang di inginkan dia dan aku akan memainkan dengan baik perananku,seorang suami yang hangat dan penuh kasih sayang.
Menatap punggung Lia pergi ke arah laintai atas rumah mereka.
Kau belum membuka matamu dan masih sibuk dengan dunia mimpi milikmu,dulu aku meyakini bahwa aku mencintaimu,namun seiring berjalannya waktu aku terlau mencintai diriku sendiri.
Bukan salahmu mencintai ku dan buakan salah ku tidak mencintaimu lagi,salahnya cinta tidak singgah di tempat,waktu yang tepat dan seperti ini lah yang terjadi antara hubungan kita yang kau anggap baik-baik saja.
" Ayah,apa ayah mencintai ibu" Leo duduk dan mulai menyendok pudding yang tersedia di meja mereka.
" Apa aku terlihat mencintainya" jawab Angga dan ikut duduk di samping anak tersebut.
" Kata ibu, ayah sangat mencintainya" Jawab anak yang masih berumur lima tahun itu sambil tersenyum manis.
"Aku tidak mencintainya" tersenyum manis memandang putranya.
"Menang cinta itu apa ayah" Leo kembali bertanya.
" Sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh ibumu dan aku" masih memandang putranya asik dengan puddingnya.
Lia yang ada dibelakan mereka berdua terhenyak dan berdiri mematung, Angga tau istrinya ada di belakang mereka dan memang sengaja mengatakannya.
Dia merasa ini saatnya dia melepas topeng kebohongannya dan mencari kebahagian miliknya sendiri.
"Itu ibu" Leo tersenyum melihat ibunya di belakang mereka.
" Oh.....Kau kembali,duduklah" Angga tersenyum hangat dan menarik tangan istrinya dan mendudukkan di kursi.
" Apa maksut perkataanmu" Lia kembali ke alam sadarnya.
" Kau hanya bercanda bukan" Lia terlihat menahan air matanya.
" Leo apa kau bisa bermain sebentar dengan temanmu" Angga menyuruh pergi putranya dan hanya di jawab oleh angukan dan pergi meningalkan kedua orang tuanya.
" Aku ada kejutam untuk mu" Angga terlihat mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jas miliknya.
" Kau hanya bercanda bukan, kau masih mencintaiku kan" Lia mencoba meraih secarik kertas yang diletakan di atas meja.
" Pernahkah aku menyatakannya, aku mencitaimu" Angga tersenyum manis dengan memainkan gelas wine miliknya.
" Tidak mungkin,kau hanya bercandakan,ini bukan sungguhan kan,katakan pada ku Angga kau bercanda kan" Lia meneteskan air matanya saat membuka dan membaca isi dari kertas tersebut.
" Bagunlah dari mimpi indahmu Lia, ini sudah saatnya aku mencari kebahagain milikku" Angga berdiri dari duduknya.
" Tapi aku sangat mencintai mu dan kau tega melakukan ini padaku" Lia menangis sejadinya.
" Iyu belum sepadan dengan apa yang kau lakalukan pada ku" Angga berlalu meninggalkan keramaina party yang di buat oleh mantan istrinya.
" Angga, dengarkan aku semua orang dewasa pernah melakuakan kesalahan begitupun aku, apa kau tidak bisa memaafkannya" Lia menangis sambil berlari mengejar Angga dan meraih lengannya untuk memberikan penjelasannya.
" Lia jangan seperti ini kau terlihat murahan,sama seperti lima tahun yang lalu, hati ku sudah mati rasa selama ini, yang aku perlukan aku cukup mencintai diriku sendiri yang berharga" melepas genggaman tangan Lia dan meninggalkan Lia yang terduduk lemas di lantai sambi menangis sejadi-jadinya.
~tamat~