___Malam Pergantian Tahun___
Latihan tampaknya sudah dimulai.
Pintu ruangan tertutup.
Sayup-sayup aku mendengar suara itu. Suara sopran yang diiringi musik berdentum .
Komposisi musik dan vokalnya sedikit aneh. Aku dan Andhika berpandangan.
Andhika mendorong pintu.
Aku tertegun melihat sesosok yang mencolok diantara peralatan musik.
Cewek semampai dengan rambut panjang berkilau.
Rayyan cuma mendongak ketika kami masuk lalu kembali mengutak-atik senar bass.
"Dari luar kedengaran asyik nggak, Tan? " suara Arman memecah ketegangan yang tiba-tiba saja menggantung di studio saat itu.
Sebelum komentar aku meluncur, Andhika sudah menyelah
"Kedengaran sedikit aneh. Musiknya ke mana, vokalnya kemana. Kamu nggak merasa begitu, No? "
Seperti biasa Rino yang tidak banyak bicara cuma mengangguk.
"Mungkin karena kita terbiasa mendengar suara alto Titan. Nanti kalau sudah terbiasa pasti enak juga di telinga. " kata Arman sambil mencoba posisi drum.
Tiba-tiba saja aku merasa ada kabut tipis yang membuat suasana menjadi tidak selumer biasanya .
Entah kenapa Rayyan bersikap aneh.
Kalau dia cuek sih memang itu sifatnya tetapi kalau masih ditambah dengan pura-pura membetulkan senar gitar yang sudah beres, pasti ada apa-apanya.
Kulihat cewek itu juga cuek di samping Rayyan.
Dia membungkuk begitu dekat sambil menunjuk-nunjuk senar gitar.
Rayyan sendiri tampak jengah tetapi tidak menunjukkan sikap menjauh.
"San, kenalan dulu. Itu Andhika yang pegang keyboard dan yang itu Titan, vokalis. "
Rayyan sepertinya sedang memperkenalkan aku dan Andhika pada penyanyi baru itu.
Kukatakan 'sepertinya' karena sambil bicara begitu, dia masih sibuk mengutak-atik senar bass.
Ketika aku menoleh, astaga...cantik benar anak ini. Kujabat erat tangannya yang halus. Aku menjadi malu sendiri karena tanganku kasar.
"Santy."
Duh lembut sekali suara itu .
Tidak akan ada yang menyangka kalau suara selembut itu bisa berubah menjadi sopran melengking seperti tadi.
"Titan." jawabku singkat.
"Kata Rayyan kamu sudah lama sendirian menjadi vokalis di sini. Pasti berat ya, kalau nggak ada vokalis pengganti . "
Suara Santy terdengar penuh simpati tetapi bagiku justru menjadi tusukkan yang tiba-tiba membuat dadaku terasa nyeri.
"Ah biasa saja. Yang lain juga enggak pernah ada penggantinya. Hmmm, suara sopran ya? Sering tampil? "
Sebelum Santy menjawab, Rayyan sudah memotong.
"Santy sering nyanyi di kafe Alex. Suaranya memang tinggi, jadi kamu bisa ambil suara berbeda, Tan. "
Rayyan mendekati kami. Dia memandang lurus ke arah mataku.
"Kamu harus membiasakan diri berbagi peran. Di atas panggung nanti bukan cuma kamu vokalisnya, nanti ada Santy juga. Soal teknik tampil, nanti saja kita bahas. Sekarang kompakin suara sama musik dulu. Arman punya lagu baru yang harus dicoba. "
Sikap Rayyan membuat aku merasa tidak enak hati pada Santy. Aku cuma sekedar ingin tahu dan bukan mau menginterogasi. Lagi pula, aku tidak keberatan dengan vokalis baru karena beberapa kali juga aku tampil bareng vokalis lain di panggung. Tidak masalah.
Andhika mengedipkan mata memberi isyarat supaya aku tidak melanjutkan pembicaraan.
Rino yang tadi diam sambil memeluk gitar, sekarang mulai berdiri. Arman juga sudah gelisah dengan sticknya.
Pada latihan hari ini semua bersemangat karena ada Santy.
Andhika berkali-kali mengacungkan jempol saat Santy menyanyi.
Santy pun tampak menikmati perhatian yang tertumpah kepadanya. Lagu baru Armand tampaknya memang sengaja dibuat untuk vokal sekelas Santy.
"Ulang bagian bawahnya dong. Kok rasanya aku nggak pas deh masuknya tadi. " bujuk Santy dengan lembut.
Oho... tak ada yang menolak.
Lagu baru Armand dimainkan sampai enam kali.
Setelah itu giliran aku. Aku segera mengambil posisi.
"Eh bisa nggak ya, kalau aku diantar pulang dulu. Habis ini kan tidak ada lagi yang harus aku nyanyiin. " potong Santy tiba-tiba.
Aku, Andhika dan Arman melongo.
Mana bisa mengantarnya pulang dulu saat latihan belum selesai? Lagi pula siapa yang akan mengantarnya? Kalau salah satu harus keluar studio, otomatis latihan berhenti juga.
"Iya, tapi kan ada satu lagu yang harus kamu nyanyikan bareng Titan . " kata Andhika.
"Ah, itu bisa minggu depan. Lagi pula lagunya gampang kok. Ya kan, Tan? Kamu coba dulu sendirian nanti aku melengkapi. Yang menjadi fokus kan suara aku. Bisa kok aku latihan sendiri di rumah, minggu depan tinggal digabungkan. " kata Santy enteng.
Akhirnya aku mengangguk saja. Habis mau bilang apa. Santy tersenyum senang.
"Kalau begitu antarkan aku dulu ya, Ray. "
Tanpa menunggu jawaban Rayyan, Santy menenteng tas imutnya keluar.
Blam...!
Kami berpandangan .
Tidak ada kebiasaan mengantar jemput kalau tidak ada jadwal manggung. Kami memandang Rayyan dan menunggu reaksinya.
Diluar dugaan, Rayyan meletakkan gitar dan...
"Ayo dong, Ray. Lama amat sih! " seru Santy sambil melonggok dari pintu.
Blam...!
Rayyan tidak bicara apa-apa lalu menyusul Santy.
Aku melongo. Andhika membuang muka. Arman dan Rino memandang pintu dengan bingung. Tanpa Rayyan mana mungkin bisa latihan dengan enak.
"Sudah deh, latihan tanpa Rayyan dulu yuk! " kataku pasrah.
*** *** ***
Penampilan band kami malam ini benar-benar lain.
Biasanya aroma yang ditebarkan adalah aroma dinamis, kali ini kami tampil sangat girly. Mungkin karena kostum yang dikenakan Santy dan penampilannya sangat feminim. Mungkin juga karena lagu-lagu yang dipilih bernuansa sama.
Penonton yang semula hanya melongo melihat penampilan kami yang lain dari biasanya, akhirnya bersuit-suit ketika Santy tampil.
Kecantikan Santy memang sanggup membuat penonton terpesona sebelum dia unjuk suara.
Penampilan pemikat bagi vokalis memang menjadi poin penting.
Dan penampilan girly kami ini langsung menjadi bahan obrolan keesokan harinya.
"Kalian memang mau berubah menjadi band girly ya, Tan? " tanya Tony yang selalu memonitor permainan band kami.
"Nggak juga. Mungkin semalam itu karena suasananya begitu. Jadi ya, kelihatannya lebih cewek. " jawabku.
"Asyik juga Tan, kalau bisa ganti imej. Biar orang tahu kalau kalian bisa mainin lagu apa saja. " sahut Alisa.
"Tetapi aku lebih suka penampilan kalian sebelumnya. Dinamis dan ngeband banget. " ujar Toni.
"Ah, perubahan kan perlu juga. Apalagi ada vokalis baru yang cantik banget. Kalau nggak salah namanya Santy ya, Tan? " sanggah Alisa.
"Iya. Dia kan dulu jadi finalis adu nyanyi di televisi. Pada minggu ke lim dia tereliminasi. " sambar Tony penuh semangat.
Jleb...
Aku baru tahu kalau Santy pernah ikut acara begitu. Diam -diam aku merasa tersisih.
Dan bukan hanya penonton yang menilai pesona Santy yang memabukkan, tapi Rayyan juga.
Hal ini membuat latihan semakin keteteran, padahal dua bulan lagi band akan tampil pada acara malam
pergantian tahun.
Rayyan dengan setia mengantar dan menjemput Santy ke studio.
Bahkan cowok cuek itu mau-maunya mengantar Santy ketika latihan belum selesai.
Padahal aturan band ini adalah tidak meninggalkan studio sebelum latihan selesai kecuali untuk keperluan mendadak dan sangat penting.
Kalau sekedar pusing, ke ulang tahun teman, atau jalan ke mall, jangan harap bisa keluar studio. Rayyan pasti meledak-ledak marahnya.
Tapi sekarang???
Rayyan seperti menjilat ludahnya sendiri, dan tentu saja kami tidak terima . Apalagi latihan menjadi benar-benar berantakan.
"Ray, nanti aku pulang jam tiga ya. Rambutku sudah terlalu panjang. Aku mau ke salon. Antar ya? "
Suara manja Santy membuat kami saling lirik dan menunggu reaksi Rayyan.
Rayyan pasti tahu kalau kami sedang menunggu jawabannya dan dia dengan enteng mengangguk.
Jadilah latihan yang bisanya sampai jam empat sore sudah bubar satu jam sebelumnya.
Rino yang biasanya diam kali ini tidak bisa menahan jengkel. Dia langsung keluar studio mendahului Rayyan dan Santy. Rino tidak pernah marah sambil mengumpat.
Gaya marahnya kadang-kadang membuat orang lain tidak sadar kalau dia sedang marah.
Rayyan terperangah melihat kepergian Rino, tetapi sesaat kemudian kembali cuek ketika tangan Santy menggamit lengannya.
Aku merasa seperti sedang diterjang gelombang ombak besar di muka ku. Sakit sekali. Di mataku terus terbayang tangan Santy yang bergelayut manja pada lengan Rayyan, walaupun sosok keduanya sudah menghilang dari pandangan kami.
"Tan...! "
Aku terlonjak saat Arman mencolek lenganku.
Arman memandang aku seperti minta maaf.
"Sorry bikin kamu kaget. Kamu pulang sama siapa? Jam segini mobil yang menjemput kamu pasti belum datang. Kuantar pulang ya? "
Aku menggeleng.
Lebih baik menunggu jemputan di studio daripada pulang lebih awal dan bengong di rumah. Akhirnya Armand harus pulang duluan.
**** **** ****
"Tan, kok belum pulang? "
Suara Rayyan! Ups...ternyata aku tertidur di teras studio.
Matahari sudah menggelinding ke barat.
Sisa sinarnya menyiratkan warna orange. Astaga, sudah jam setengah enam sore. Aduhai, baterai HP-ku drop. Kenapa Pak Herman belum juga menjemput.
"Masuk ke dalam. Masa tidur di teras? "
Aku menggeleng.
"Makasih. Aku menunggu Pak Herman di sini. "
"Belum dijemput? " tanya Rayyan kaget.
Aku menggeleng, "Mungkin mobilnya rewel. Baterai HP-ku drop. Mungkin Mama sudah berusaha menghubungi aku. "
Rayyan masuk ke rumah utama. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sebotol air putih. Diangsurkan botol tanpa gelas itu kepadaku.
Dengan penuh terima kasih kuterima botol itu dan ku teguk isinya dengan perlahan.
"Aku sudah menelepon ke rumah kamu. Kata Mamamu mobil kamu rusak dan masuk bengkel. Kamu ditelepon berkali-kali tapi nggak nyambung. Sekarang mau ku antar pulang? "
Diantar? Alangkah nyaman kalau bisa segera sampai rumah dan melanjutkan tidur.
Ketika mengembalikan botol air, mataku menatap lengan Rayyan.
Di lengan itu tadi Santy bergelayut manja.
"Eh, makasih. Aku bisa pulang naik ojek. "
Rayyan menahan tanganku.
"Aku yang mengantar. Tadi aku sudah janji sama Mamamu untuk mengantar kamu. "
Tak ada pilihan lain selain menerima tawaran Rayyan.
Kami lalu bergegas masuk ke dalam mobil Rayyan. Aku duduk di samping Rayyan . Sikapnya aneh. Kurasa sikapku juga aneh.
Biasanya kami bicara bebas tentang apa saja . Rayyan memang orangnya cuek tapi pada orang yang dianggap sudah dekat, dia banyak bicara.
"Eh, gimana tadi? " tanyaku basa-basi.
"Tadi? Tadi yang mana? " kening Rayyan berkerut .
Wah aku kelepasan bicara. Jangan-jangan aku dianggap mau tahu urusan dia sama Santy.
"Yang sama Santy? Biasalah, cewek kalau sudah mau tampil keren apa pun dilakukan. Masa potong rambut nggak sampai lima senti tapi konsultasi sampai satu jam. " jawab Rayyan sambil terus fokus pada jalanan.
"Tapi hasilnya bagus kan? Santy tambah cantik kan? " lanjutku penuh hati-hati. Dengan susah payah kutahan suaraku agar tak bergetar.
Rayyan memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Lalu pelan dia mengangguk.
"Ya, dia cantik sekali. "
Untuk kesekian kalinya dadaku berdesir oleh rasa pedih.
Mungkin kah ini rasa pedih karena cemburu? Ah, kenapa aku harus cemburu? Hati kecilku berusaha menentramkan diri dengan mengatakan kalau ini hanya perasaan khawatir tersisih dari posisi vokalis, bukan karena ada apanya .
Rayyan kembali memandang aku.
"Dia cantik sekali, bisa menjadi pemikat untuk penampilan kita nanti waktu malam pergantian tahun. "
Seketika aku merasa dihempaskan ke dalam ruang luas yang gelap. Tidak ada siapa pun dalam ruangan itu.
Perlahan ingatkan aku kembali saat pertama kali masuk band ini.
Andhika yang mengajakku ikut bergabung dengan band-nya.
Kata Rayyan aku tidak perlu harus ikut tes karena timbre suaraku cocok dengan band-nya.
Begitu bertemu Rayyan, entah kenapa cowok yang jarang tersenyum itu membuatku berdebar-debar.
Senyum tipisnya hanya muncul ketika aku bisa menyelesaikan satu lagi tanpa cela.
Itu merupakan satu pujian untukku.
Sesekali dengan ujung mataku, kutangkap mata Rayyan yang sedang memandangku.
Mengingat semuanya itu, hatiku bergetar.
Mungkinkah aku bisa menikmati senyum tipisnya yang sangat mahal itu?
Mungkinkah aku bisa menangkap basah mata Rayyan yang mencuri pandang ke arahku?
HP Rayyan berdering, membuyarkan lamunanku .
Rayyan lalu mengangkat teleponnya.
"Oh, sorry aku nggak bisa. Ini masih antar Titan pulang. "
Aku melirik Rayyan sejenak karena mendengar namaku disebut.
Tak kuperhatikan pembicaraannya.
"Dari Santy, Tan. " lapor Rayyan setelah menutup pembicaraan di teleponnya.
Dalam hati aku merasa geli mendengar Rayyan memberi tahu siapa yang menelpon. Demi kesopanan aku menjawab.
"Hmmm, dia ingin ketemu lagi mungkin? Tadi kan sudah berlama-lama. "
"Dia minta tolong diantar ke kafe, Tan. "
Aku memandang Rayyan dengan heran.
"Kayaknya kamu sekarang sudah menjadi sopir Santy. "
Rayyan membuang muka.
"Apa bedanya sama Pak Herman yang kunantikan sekarang? Apa karena diantar pengganti Pak Herman, kamu jadi enggan bicara? "
Aku terperangah, "Hei, bukan begitu. Iya deh, sekarang kita ngobrol. "
Tiba-tiba Rayyan tertawa.
Tawanya terdengar aneh di telinga karena dia memang jarang tertawa.
Sesampainya di depan rumah, Rayyan memegang tanganku dengan lembut.
"Lusa latihan kan, Tan?"
Aku mengangguk walaupun kesal karena wajah Santy terbayang di benakku.
"Pasti. Asal kamu mau ikut latihan dari awal sampai selesai. " jawabku pasti.
Rayyan tersenyum tipis.
*** *** ***
Entah kenapa siang ini aku suntuk betul.
Selama perjalanan ke studio aku sedikit merasa sebal.
Sepertinya Andhika juga sama.
Dia menyetir tanpa bicara.
Padahal biasanya mulutnya terus menyerocos tentang malam minggunya yang hebat. Aku bisa memutar otak kalau Andhika bercerita kalau dia baru saja jalan sama Arini, Dewi atau Amanda.
Biasanya aku suka mendengarkan siasat cowo bandel itu.
Tapi siang ini kami sama- sama diam
Di halaman tampak mobil Rayyan diparkir.
Andhika menunjuk dengan dagunya.
" Jam segini Rayyan sudah menjemput Santy. Manja betul tuh anak."
Aku cuma diam.
Aku takut suara ku bergetar menahan sedih.
Hari ini Santy kumat manjanya.
Di mataku dia sangat keterlaluan.
Masa mengambil air putih saja menyuruh Rayyan.
Herannya, Rayyan menurut saja.
Suara Santy yang sering meliuk tidak pas dengan musik, hanya mau disuruh mengulang oleh Rayyan.
Satu lagu yang dinyanyikan Shanty bisa diulang sampai lima, enam kali.
Itu tentu menjengkelkan.
Kulihat Andhika sudah menahan amarah ketika Santy lagi-lagi tidak bisa mengikuti iringan musik.
"Istirahat dulu deh, Ray. " kata Andhika.
"Tanggung nih. " jawab Rayyan datar.
Aku tak bisa menebak apa yang terpendam pada ekspresi Rayyan yang datar itu.
"Iya. Satu kali lagi, setelah itu aku mau pulang. Nanti ada pesta ulang tahun temanku. " sahut Santy enteng.
Kami melongo.
Bisa-bisanya dia ngomong begitu.
Waktu latihan untuk pentasnya sudah sangat mepet dan dia main pulang saja.
Rayyan tidak berkomentar.
Dia mengangkat tangan untuk memulai latihan satu lagu lagi .
Itu pun masih gagal. Aku sudah tidak tahan lagi.
Aku sudah menunggu giliran latihan sejak jam setengah dua siang sampai hampir maghrib begini, satu lagu saja dari Santy belum kelar.
"Sudah deh, Ray. Kalau lagu ini enggak benar juga, kita ganti saja. " potongku kesal.
Santy terbelalak.
Dia sepertinya tidak menyangka aku akan bicara keras begitu. Rayyan melotot. Aku tak peduli. Biar mereka tahu kalau orang lain juga bisa kesal.
Rayyan menggertakkan giginya. Tanpa bicara apa-apa dia mengajak Santy keluar. Aku terdiam karena merasa bersalah.
Tak ada yang bisa kami lakukan tanpa Rayyan.
Kami berlatih tanpa petikan bass nya. Tidak nyaman sih, tapi lumayan juga untuk menyelaraskan suara dengan musik.
Kami hanya bisa menunggu.
Biasanya sekitar setengah jam Rayyan mengantar Santy dan kembali lagi untuk latihan. Tetapi kali ini sampai jam tujuh malam Rayyan belum juga pulang. Tidak mungkin aku menunggu sampai malam.
"Sabtu nanti kita tampil, tetapi hanya ada satu lagu yang benar-benar siap. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana penampilan kita nanti. " keluh Arman.
Andhika dan Rino termangu-mangu.
Target latihan hari ini adalah menguasai tiga lagu tapi hanya satu lagu yang beres.
Ketika sudah hampir jam sembilan malam, aku memutuskan untuk pulang.
Percuma berlatih tanpa semangat seperti ini.
Saat itu Rayyan datang. Dia mengajak latihan. Aku menolak, alasan aku kecapean. Rayyan mendelik.
"Ya, pulang sana. Dan latihan terakhir kamu nggak usah datang. Kamu juga nggak perlu datang waktu band kita tampil nanti. "
Aku terkejut. Apa apaan ini? Tetapi sorry banget kalau aku harus merengek. Ku banting pintu keras -keras ketika keluar dari studio.
*** *** ***
Pentas malam pergantian tahun sepertinya sukses.
Ruangan penuh sesak.
Tiket pun habis terjual.
Band-ku (oh aku sudah tidak berhak menyebutnya begitu) sebentar lagi tampil.
Kudengar tepuk tangan penonton begitu meriah.
Semua berteriak menyebut nama kami berkali-kali.... "RAYYAN! TITAN! "
Mereka tidak tahu kalau malam ini aku tidak tampil.
Aku berlari menjauh dari ruangan.
Di bawah pohon cemara aku melihat indahnya bulan diantara bintang-bintang.
Hanya dentuman drum Arman yang terdengar sampai ke tempat aku duduk.
Tak terasa air mataku meleleh.
Saat ini aku sadar kalau aku telah patah hati untuk kedua kalinya.
Patah hati yang pertama karena aku tidak bisa tampil bersama band yang membuat aku bangga.
Betapa sakitnya diperlakukan sekasar ini sama Rayyan. Tanpa alasan yang jelas dia melarang aku tampil.
Patah hati yang kedua, ketika aku mulai menyadari bahwa ikatanku dengan band ini sudah sebesar ikatanku pada senyuman Rayyan yang tipis. Kusadari bahwa betapa aku selalu menunggu saat-saat latihan dan aku selalu berusaha menampilkan vokalis yang sempurna supaya senyuman tipisnya itu tersungging.
Ku jaga sikapku supaya matanya tetap mencuri pandang padaku. Tetapi semuanya hancur karena Santy.
Aduh.... Kenapa aku harus menyalahkan orang lain?
Aku merasa tersisih sejak kedatangan Santy. Dia sudah menghabiskan seluruh perhatian Rayyan sampai tidak tersisa setetes pun untukku.
Aku bahkan dikeluarkan dari band yang kucintai dengan sepenuh hati.
Aku mencintai band ini seperti aku mencintai Rayyan.
Usai sudah semuanya.
Usai sudah ayunan tanganku untuk mengajak penonton ikut nyanyi di atas panggung.
Selesai sudah masa aku menggenggam mick di tangan.
"Tan... "
Aku tersentak. Itu suara Andhika.
"Kamu tadi nggak nonton? "
Aku menggeleng, "Nggak ada gunanya, Dhika. Sudah selesai semuanya. Tapi sukses kan? Aku yakin kalian tampil bagus, seperti biasanya. "
"Sayang sekali kamu nggak ikut tampil, Tan. Sejak awal aku tahu Santy enggak cocok buat band kita. Tapi ah, sudahlah...! Tadi empat lagu nggak ada yang sempurna. Terpaksa Rayyan yang menyanyikan dua lagu terakhir. "
"Jangan menghiburku, Dhika. Shanty hanya perlu banyak latihan supaya bisa seiring dengan keyboard, dengan drum Arman, dengan melodi Rino, dengan......."
"Ehhh... Sudah ya. Aku beres -beresin alat dulu. " potong Andhika membuat aku langsung terdiam.
Aku kembali menyandarkan punggung ke batang pohon.
Kulihat Arman dan Andhika tengah memasukkan keyboard ke dalam mobil.
"Tan...."
Itu suara Rino.
Upsss... Cepat- cepat kuseka air mataku.
Ternyata Rino tak sendirian.
Dia bersama Dewi, pacarnya.
Dewi menyeret ku menjauh, sementara itu Rino kembali menemui yang lain.
"Tadi band kalian tampil alakadarnya. Mengesalkan. Sepertinya kurang persiapan. Tapi diakhir lagu tadi, Rayyan maju dan menyanyi. Sebelum mulai menyanyi, dia bilang sesuatu. Aku masih mengingat karena kata-katanya sangat dahsyat. Katanya 'Malam ini saya sangat menyesal karena seseorang yang terbaik yang pernah ada dalam hatiku, tidak bisa tampil. Dimanapun dia berada, saya hanya ingin mengatakan, jangan pergi karena kamu ada di hatiku.' Nah, siapa lagi yang dimaksud kalau bukan kamu, Tan. "
"Hah????? " aku tersentak kaget mendengar kata-kata Dewi.
"Iya Tan. Tadi Rayyan bilang begitu. " kata Dewi lagi.
Dewi tidak mungkin bohong.
Kupandangi sosok yang sangat ku kenal diantara kegelapan. Sosok itu sedang mengangkat gitar ke dalam mobil.
Dewi kembali ke tempat Rino.
Sepeninggalan Dewi aku kembali duduk di bawah pohon.
Kulihat sosok semampai itu mendekat Rayyan.
Tak salah lagi, itu pasti Shanty.
Seperti biasanya Santy bergelayut manja di lengan Rayyan.
Aku tak sanggup melihat pemandangan itu.
Kubekap kepalaku di antara lutut.
Entah beberapa lama aku memejamkan mata sampai ketika sebuah tangan dengan ragu-ragu menyentuh bahuku.
Aku nggak mengangkat kepala.
"Tan, aku nggak punya perbendaharaan kata yang enak di telinga. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku enggak bisa melepasmu. "
Kuangkat kepala. Rayyan duduk di depanku. Tangannya merangkum kedua lututku.
"Kupikir dengan perhatianku selama latihan, kamu sudah bisa menangkap perasaan aku. Tapi, aku enggak bisa menebak perasaan kamu. Sampai akhirnya Santy minta supaya dia bisa menjadi vokalis pendamping kamu. Awalnya, aku memang sengaja membawanya sebagai backing vokal, bukan penyanyi utama. Dengan mengajak Santy, penonton akan tertarik walaupun dia nggak dapat kavling untuk menyanyi. Kalau akhirnya semua berubah, itu salahku. "
Rayyan menatap lurus ke bola mataku.
"Aku minta maaf, Tan. Aku nggak menyalahkan Santy karena dia mengira aku menanggapi perasaannya. Waktu latihan terakhir denganmu, kami berantem. Perasaan kesal karena disuruh-suruh Santy membuat aku bersikap kasar padamu. Maaf. "
"Kenapa kamu ngusir aku saat itu? " tanyaku datar.
Rayyan menelan ludah. Tangannya meremas punggung tanganku.
"Itu karena aku kalut sekali. Seharusnya aku tahu kalau kamu dan yang lain sedang menahan diri supaya nggak menyinggung perasaan aku. Malam itu aku dipaksa Santy mengantar dia ke pesta ulang tahun temannya. Kupikir itu sudah berlebihan. Kamu tahu sendiri aku nggak bisa menolak rengekan Santy. Aku nggak tega. Dia nggak pernah keluar rumah sendiri. Makanya aku mau mengantar jemput. "
Mataku menjadi basah.
"Kamu keterlaluan Ray. Aku nggak pernah diperlakukan sekasar itu. "
"Ya Tan. Aku nggak pernah mengantar jemput kamu karena kupikir kamu mandiri dan bisa mengerti apa yang ku mau. Santy nggak. Tadi Santy titip pesan untukmu. Dia sadar suaranya nggak cocok sama band kita. Dia menyerahkan lagi lagi posisi vokalis kepadamu. Maafkan aku, Tan. "
Mana bisa aku menolak permintaan maaf Rayyan? Kupandangi cowok itu dengan seribu perasaan.
"Ada lagi pesan untuk kamu. " lanjut Rayyan.
"Apa? "
"Ada seseorang yang mencintaimu sejak lama. Hanya saja, orang itu bukan tipe cowok yang bisa mengatakan cinta. Dia hanya menatap kamu dengan lekat dan tersenyum. Dia hanya bisa menuangkan perasaannya lewat lagu. Dan orang itu adalah.... "
Rayyan menghentikan kata-katanya.
Aku menunggu kalimatnya selesai. Rayyan menarik napas berat dan melanjutkannya.
"Orang itu adalah aku. "
Kupandangi wajah Rayyan lekat-lekat.
"Ya... Tan. Itu aku. Dan malam ini, di malam pergantian tahun ini aku... aku mau mengatakan kalau aku cinta kamu Tan. Kamu mau kan jadi pacar aku? "
Aku tak bisa menjawab pernyataan Rayyan.
Tanpa berkata banyak aku langsung menghambur ke dalam pelukan Rayyan.
#The_End