Sinar mentari memasuki ruangan berpenghuni dengan serentak membuat seorang yang berada di ruangan itu terusik akan kehadirannya. Dia mulai mengerjap ngejapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Gadis itu bernama Alisha Fariska atau bisa di panggil Lisha, dia gadis yang cantik,tinggi, pintar dan putih. Bahkan dia termasuk golongan anak famous di sekolahnya, banyak lelaki yang tertarik dengan parasnya yang menawan itu dan juga akan kepintarannya di dunia akademik.
***
"Hoammmm, hari sudah pagi ternyata. selamat pagi dunia" ucap Lisha sembari turun dari ranjangnya dan memasuki kamar mandi untuk mandi pagi dan berangkat ke sekolah.
Lisha keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah rapi dengan menggunakan seragam sekolahnya, dia keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat mamanya yang telah menunggunya di sana dengan pakaian yang sangat rapi. Mama Lisha seorang model jadi tak heran jika Lisha cantik dari keturunan mamanya yang juga tak kalah cantik. Terkadang mamanya memang menunggu Lisha untuk sarapan bersama tetapi jika jadwalnya sibuk mamanya bahkan bisa berangkat pagi pagi buta.
"Selamat pagi ma." Sapa Lisha pada mamanya.
"Pagi, cepat habiskan sarapanmu dan segera pergi ke sekolah" ujar mamanya pada Lisha.
"Baik ma" jawab Lisha dengan tersenyum miris.
"Kapan mama tidak cuek padaku, dan papa kapan pulang ingin rasanya seperti dulu lagi" batin Lisha.
Keheningan melanda meja makan tersebut. Mama sibuk dengan laptopnya sedangkan Lisha sibuk dengan makanannya.
"Aku berangkat sekolah dulu ya ma" kata Lisha yang hendak mencium tangan mamanya tetapi tidak di balas olehnya bahkan dilirik pun tidak. Lisha kembali menarik tangannya dan berjalan keluar rumah untuk berangkat ke sekolah.
***
"Pagi Lisha" sapa Valeri dan Sharly serentak
"Pagi Val, pagi Sharly"
"Ouh iya Lis,bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita ke mall" ujar Valeri.
"Tidak bisa val, setelah pulang sekolah nanti aku ada urusan yang harus ku selesaikan."
"Bukankah terakhir kita ke mall kemarin ya, dan kamu ingin ke sana lagi?" Ucap Sharly.
"Ya aku hanya ingin jalan jalan saja dan ada beberapa barang yang belum aku beli kemarin. Tapi jika tidak, ya tidak apa apa" kata Valeri dengan wajah yang sedikit cemberut.
***
Kringggg... Kringggg... Kringggg...
Pelajaran di sekolah telah usai. Kini waktunya murid murid untuk kembali ke rumahnya msing masing, begitu pun dengan Alisha, sekarang dia sedang menunggu sopirnya untuk menjemputnya bersama Sharly yang menemaninya.
"Apa kamu merasa ada yang menjanggal dengan Valeri?" Tanya Sharly sembari membuka pembicaraan.
"Menjanggal gimana maksud mu?"
"Kenapa dia selalu mengajakmu untuk pergi ke mall, bukankah kemarin kita baru saja ke mall, dan sekarang dia memintamu untuk menemaninya ke mall lagi dan sesampainya di mall kamu yang selalu membayar semua belanjaannya dengan alasan lupa bawa dompet lah, uangnya gak cukuplah seolah olah dia sedang merencanakan sesuatu atau jangan jangan dia hanya memanfaatkan kamu aja."
"Aku juga gak ngerti. Sudahlah kenapa kita jadi membahas ini dan kamu jangan terlalu berburuk sangka pada Valeri tidak baik, dia juga sahabat kita. Jemputanku sudah datang aku pulang duluan ya byeee." Ucap alisha pada Sharly.
"Aku merasa akan ada suatu kejadian yang membuat persahabatan ini merenggang. Aku harap semuanya akan baik baik saja." Ucap Alisha dalam hati.
***
"Kenapa aku kepikiran dengan ucapan Sharly tadi ya. Ahh sudahlah" kata Lisha dengan merebahkan badannya di kamar tidurnya. "Apa mama bakal pulang malam lagi ya hari ini? Dan kapan papa pulang ya, apa papa tak rindu pada putrinya."
Tanya Alisha pada dirinya sendiri.
Semenjak lima tahun lalu ketika papa berangkat kerja ke Singapura, papa tak pernah pulang dan itu yang membuat mama gila akan bekerja dirumah. Sering kali papanya membuat harapan palsu pada Lisha dan itu membuat Lisha sedih dan kecewa. Mengingat itu membuat Lisha tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Tidak bolehkah aku berharap jika suatu saat nanti aku bisa berkumpul bersama papa dan mama seperti dulu lagi. Ingin rasanya aku memeluk papa saat ini. Dan juga boleh kah aku berharap agar mama berubah seperti dulu lagi. Aku sungguh berharap." Ucap Alisha pada dirinya dengan berderai air mata.
"Biarkan harapanku terkabul aku mohon. Aku iri jika melihat teman temanku bisa bersenda gurau dengan mama dan papanya sedangkan aku berkumpul hanya sebentar pun rasanya mustahil. Aku iri biarkan aku merasakan hangatnya keluarga juga."
Ucapnya dengan sesenggukan.
Semesta yang menjadi saksi bisu hancurnya seorang gadis terlihat begitu kuat, namun tak lebih dari seorang yang rapuh. Sesaat terdengar suara berisik dari ruang tamu, dan itu cukup menarik perhatian Alisha.
"Siapa itu ya, apa jangan jangan itu mama? Lebih baik aku liat saja." Kata Alisha mengelap air matanya dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.
"Mama, ada apa ini ma? Mama kenapa? Kata Alisha.
Terlihat ruang tamu yang kini seperti kapal pecah, barang barang berserakan dimana mana juga terdapat pecahan vas bunga, mama Alisha sangat terlihat tidak baik baik saja, mukanya merah padam menandakan dirinya sedang emosi semua benda yang ada disampingnya akan melayang ke udara sehingga menimbulkan suara berisik.
"Semua ini gara gara kamu, dasar anak pembawa sial, dasar anak gak berguna. Menyesal melahirkan mu seharusnya dari dulu saya membuangmu saja, menyusahkan!" Bentak mama dan melangkahkan kaki menuju kamar lalu menutup pintu kamar dengan sangat keras.
Sudah menjadi kebiasaan jika mama ada masalah di pekerjaannya pasti aku yang akan kena imbas emosinya.
"Sampai kapan mama akan terus seperti ini padaku?." Ucapnya dengan mata yang berkaca kaca
"Aku lelah, jika memungkinkan biarkan aku pergi dari dunia ini untuk selamanya"
Alisha kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Tiba tiba nada dering terdengar dari hpnya.
Dringggggg.... Dringgggg... Dringgggg...
Ternyata yang menelponnya yaitu papa nya.
"Halo putri papa, apa kabar kamu nak?"
"Halo papa, kabarku baik bagaimana dengan papa?"
"Kabar papa baik kok nak. Oh iya papa punya kabar gembira untuk putri papa"
"Kabar gembira apa tuh pa?"
"Besok papa akan pulang ke Indonesia."
"Benarkah? Apa aku masih bisa mempercayai papa? Apa papa tidak berbohong lagi padaku? Sudah cukup dengan semua harapan palsu yang papa berikan, hatiku sakit pa, ketika pahlawanku cinta pertama bagi Putrinya berkata bahwa dia akan datang tapi semuanya hanya omong kosong."
"Maafkan papa kalau selama ini papa mengecewakanmu nak, sungguh maafkan papa. Tapi kali ini papa akan benar benar pulang ke Indonesia."
"Akan ku usahakan bahwa aku akan selalu percaya sama papa. Janji ya pa, aku akan tunggu papa disini."
"Iya nak papa janji, ya sudah papa tutup dulu ya telponnya. Dadah putri papa."
Telepon telah usai dan malampun telah tiba. Sudah saatnya aura untuk istirahat dan mempersiapkan untuk hari esok, dan alisha berharap besok akan baik baik saja.
***
Keesokan harinya seperti biasa Alisha Melakukan kegiatannya,mandi pagi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
***
Sesampainya di sekolah Alisha bejalan menelusuri lorong sekolah untuk sampai ke kelasnya, dia tak sengaja mendengar pembicaraan seseorang yang sedang menelpon dibalik dinding kamar mandi.
"Kamu tenang aja dia tidak akan curiga padaku jika aku hanya memanfaatkan dirinya saja."
"..."
"Ya kamu benar, dia sungguh bodoh dalam hal ini. Sungguh bodoh, bisa bisanya dia tertipu denganku hahaha."
"..."
"Bisa ku urus, akan aku peras lagi hartanya. Kupastikan tidak ada yang curiga dengan pesona seorang Valeri, hahaha"
"Bagaimana bisa seorang Alisha yang sangat pandai dalam bidang akademik ternyata sangat bodoh dalam hal pertemanan." Kata Valeri setelah menutup telponnya.
Alisha sangat terkejut mendengar perkataannya, dia langsung bergegas pergi menuju ke halaman belakang sekolah. Dia menangis, tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi, untung saja halaman belakang sekolah sepi jadi tidak ada yang tau kalau dia sedang menangis.
"Jadi selama ini aku dibohongi olehnya. Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya, kenapa." Ucapnya dengan air mata di pipi.
"AKU BENCI DIRIKU MENGAPA AKU BISA DITIPU OLEHNYA, MENGAPA AKU TIDAK MENYADARINYA, MENGAPA!" Teriak Alisha.
"Kamu sudah mengecewakanku Val, padahal aku sudah menganggapmu sebagai sahabat bahkan kamu sudah aku anggap layaknya seorang saudaraku sendiri tapi ternyata kamu hanya memanfaatkan ku saja." Gumam Alisha tersedu sedu.
Setelah puas menangis Alisha segera menghapus air matanya dan berlari meninggalkan sekolah atau dengan kata lain dia bolos sekolah. Kemudian dia segera mencari taksi, setelah mendapatkannya dia pun pergi ke Bandara untuk menjemput kepulangan papanya.
"Sudah jam 08.30 sebentar lagi papa sampai" ucapnya sembari duduk di kursi penunggu.
Tiga jam telah berlalu papa belum juga kunjung datang, Alisha yang tertidur karena lama menunggu akhirnya terbangun dia segera mengecek hp nya ternyata sekarang sudah menunjukkan pukul 12.00 Alisha yang khawatir bahwa papanya akan mengecewakannya lagi"
"Halo papa, papa katanya sampai di Indonesia jam 09.00 sekarang sudah jam 12.00 tapi kenapa papa belum sampai juga"
"Maafkan papa nak, papa gak jadi pulang sekarang tiba tiba aja ada meeting mendadak jadi papa gak jadi pulang sekarang, sekali lagi maafkan papa nak."
"Jadi papa lebih memilih untuk meeting daripada untuk menepati janji pada putrinya? Papa mengingkari janji lagi, papa mengecewakanku lagi."
"Tolong lah mengerti nak, karena hari ini papa ada meeting mendadak yang sangat penting."
"Aku sudah sering mengerti dengan pekerjaan papa, tapi apa papa mengerti perasaan ku yang tiap kali papa bohongin. Papa pembohong, aku benci papa!" Dengan memutuskan panggilan telpon.
Lagi dan lagi Alisha meneteskan air matanya, entah sudah berapa kali alisha menangis. Dia sudah lelah menangis tetapi sepertinya semesta menginginkan dia untuk selalu menangis.
"Lagi lagi ini semua terjadi, papa membohongiku lagi papa mengecewakanku lagi, aku benci papa, AKU BENCI PAPA!" Teriak Alisha dan untung saja taman dekat bandara sepi jadi gak ada yang mendengar teriakannya. "Aku benci hari ini, Valeri menghianatiku, papa mengecewakanku. Aku benci hari ini, tidak bisakah aku bahagia untuk sekejap saja" ucap alisha sembari sesenggukan.
Kini telah rapuh semua pertahanan Alisha, ia meluapkan segala perasaannya. Langit yang awalnya cerah kini menjadi mendung seakan tau apa yang di rasa oleh gadis itu. Semesta seakan tak memberi kebahagiaan padanya atau mungkin semesta menyembunyikan kebahagiaannya agar dia menjadi sosok yang kuat.
Jakarta, 4 Agustus 2022