"Sial!!! Apa tak bisa mereka mandiri dan mengerjakan tugasnya sendiri!? Kenapa selalu aku yang disuruh!!" Amuknya menendang botol didepannya.
Panggil dia Kim Taehyung. Pemuda dengan seragam sekolah yang tak pernah terlihat rapi ditubuhnya. Beberapa luka di wajah seperti bibir yang sobek itu menghiasi mimiknya. "Aish!!! Aku memukulnya kurang keras tadi!!" Gerutunya. Bisa dibilang jika pemuda ini merupakan preman sekolah seperti kisah lain biasanya. Selalu pulang malam dan mendapat luka baru ditubuhnya.
Taehyung membuka pintu rumahnya kasar tak peduli sosok didalamnya akan terkejut dengan kehadirannya. Tanpa rasa peduli dengan raut khawatir sang eomma, ia hanya melenggang berjalan menuju lantai 2 kearah kamarnya. Ia membanting ransel sekolahnya dan melepas seragamnya menggantinya dengan pakaian serba hitam dan sedikit membersihkan wajahnya. Ia mengambil kunci motor miliknya kembali turun dan keluar rumah sembari mengendarai sepeda motor miliknya.
Tak lupa memakai helm, ia menarik gasnya cepat membelah angin malam di kota Seoul. Menuju kedaerah yang cukup sepi agak jauh dari keramaian kota. Hingga beberapa lampu sepeda motor dan keramaian menyambut penglihatannya.
Ia berhenti dipinggir jalan dan mematikan mesin motornya memilih turun menemui sahabatnya. "Siapa yang akan beradu malam ini Jim?" Tanyanya.
Sosok yang merasa terpanggil menoleh dan tersenyum miring melihatnya. "Choi Eunjo" balasnya.
"Apa taruhannya?"
"Kekasihnya" balas Jimin santai.
Taehyung memutar bola matanya malas, sungguh tak tertarik dengan taruhan yang diberikan. Pacar Eunjo merupakan gadis binal yang hobi ke club malam. Tentu saja ia malas untuk menantang pemuda itu. Akan lebih baik jika tawarannya berupa uang.
"Kalau kau ingin, Jungkook menawarkan 50 juta won bagi siapa yang mengalahkannya" lanjut Jimin. "Tapi jika kau kalah, sepeda motor milikmu akan jadi miliknya"
"Menarik"
"Dia sahabatmu bodoh, tanpa balapan pun kau bisa memintanya" sahut Jimin malas.
Taehyung mengangkat bahunya acuh sebelum akhirnya mendekati Jungkook yang tengah asyik merokok diatas sepeda motornya. Beberapa gadis pun menggelayut manja tanpa peduli kalau pemuda bertato itu sudah memangku sosok cantik mainannya.
"Jungkook-ah!" Panggil Taehyung santai.
"Eoh Hyung, wae?" Balas Jungkook menoleh kearah sahabatnya.
"Mau bertanding denganku?" Tanyanya.
"Woah.... Tak kusangka seorang V mengajakku bertanding"
"Aku hanya akan mengajarimu bagimana caranya balapan, pendatang baru" senyumnya meremehkan Jungkook.
"Dan berapa gaji yang kau inginkan seonsaengnim?" Ledek Jungkook.
"2 kali lipat dari taruhanmu. 100 juta Won" balas Taehyung.
"Ah kau perlu uang rupanya" tebak Jungkook.
"Kau bank berjalan ku Jungkook-ah" tawa Taehyung.
Beruntung Taehyung bersahabat dengan orang sekaya Jungkook. Hubungan mereka sudah jadi timbal balik sejak pertama kali bertemu. Taehyung yang pandai dalam segala bidang selalu membantu Jungkook hingga menyainginya, kecuali dalam pelajaran sekolah. Jungkook lemah dalam hal itu dan Taehyung memanfaatkannya.
Sebagai balasan, uang Jungkook adalah uangnya juga. Berapapun yang ia minta Jungkook selalu memberikannya. Karena dia Jeon Jungkook, sosok tuan muda yang selalu dimanja tanpa pernah dikekang.
Saat ini keduanya berada digaris start dengan sepeda motor sport masing-masing. Taehyung menoleh kearah Jungkook yang hanya mengangguk sampai akhirnya seorang gadis berjalan diantara mereka. Keduanya saling terkekeh pelan mengingat Jungkook yang baru saja bergabung 5 hari lalu. Dan saat ini seorang pro mengajarinya.
Bendera diturunkan dengan pose seksi membiarkan 2 pembalap itu pergi. Seperti yang diduga Jungkook, ia kalah dari Taehyung. Melihat pemuda yang berkendara didepannya membuatnya fokus melihat apa yang dilakukan Taehyung dan menirunya. Sesekali ia mendahului pemuda itu hingga akhirnya hampir digaris finish, Taehyung menyalip dirinya cepat.
"Wah wah, seperti yang diduga sosok V tak pernah kalah" ucapnya berhenti disamping Taehyung.
Jungkook mengulurkan tangannya memberikan tos yang dibalas senang oleh Taehyung. "Kau sudah bisa kan? Coba tantang dia yang disana. Kau bisa dapat jalang baru" balas Taehyung santai.
"Yeah benar, aku perlu mainan saat ini. Aku akan memberikan uangnya besok disekolah Kim" balas Jungkook melambaikan tangannya singkat.
Taehyung memilih berkendara menuju taman karena melihat jam masih pukul 8 malam. Berhenti dan memilih memakirkan sepedanya kemudian berjalan santai. Beberapa kali ia pergi ke taman setelah balapan, terasa ramai dan beberapa orang berpacaran disana.
Taehyung menuju kios membeli cemilan yang bisa ia makan sembari berjalan. Ia mengedarkan pandangannya sembari menunggu pesanannya dibuat.
"Apa anda tertarik dengan Agashi itu?" Tanya penjual yang melihatnya tengah memperhatikan gadis yang sedang duduk di kursi taman.
"Apa dia selalu disana ahjeossi?" Tanyanya pelan.
"Ah iya, saya tidak mengenalnya. Tapi Agashi selalu duduk disana sejak sore sampai-"
Taehyung melihat sosok laki-laki menjemput gadis itu. Berjalan dan menunduk sembari menggandeng tangan sosok yang menjemputnya. "Ahjeossi apa dia?"
"Eoh? Itu kakaknya. Mereka yatim piatu. Itu yang saya dengar" balas penjual kemudian memberikan menu Taehyung.
Pemuda itu pelan mengikuti sosok kakak adik yang menarik perhatiannya hingga sang kakak menoleh melihatnya. "Sial" gumamnya. Pria itu tertawa pelan kemudian berbicara dengan adiknya lagi.
Taehyung memilih duduk ditempat gadis tadi duduk dan memakan cemilannya. Sekelebat tapi ia melihat jelas gadis itu. Cantik, imut, dan menawan. Terlihat pemalu dan lucu, Taehyung tertarik. Hanya saja pengalamannya kurang untuk berkenalan dengan gadis. Karena tanpa usaha pun ia sudah dikejar banyak gadis.
.
.
.
.
.
"Tae! Kau melamun apa? tanya Jungkook menarik atensi Jimin untuk melihat Taehyung.
"Sepertinya dia berpikir untuk membeli sesuatu yang membingungkan" balas Jimin mengingat baru saja cek diberikan Jungkook pada Taehyung.
"Aniya, ini pasti masalah wanita" balas Jungkook yang sudah pro mengenai lawan jenis.
"Aniya. Aku hanya berpikir sepertinya aku harus berhenti dari kenakalanku" balas Taehyung. Ia menatap kedua JJ yang syok dengan ucapannya. Tak heran karena mereka tau tabiat Taehyung sejak lama.
"Kau tak sakit kan Tae?" Sahut Jimin.
"Kau semalam mampir kemana? Kau pasti dirasuki sesuatu!"
"Yak makhluk ghaib!!! Hilang dari sini! Hilang dari tubuh sahabatku!!" Seru Jimin mencekik Taehyung dan menggoyangnya kemanan dan kekiri.
"YAK!!! AKU MENYUKAI SESEORANG!!!" Bentak Taehyung. Seluruh isi kantin menoleh kearahnya sembari cengo. Bisa-bisanya Kim Taehyung yang terkenal dingin menyukai seseorang.
"Siapa yang kau sukai memangnya?" Tanya Jimin pelan, tetap dengan wajah syoknya.
"Orang yang aku temui. Tapi belum mengenalnya. Hanya melihatnya dan- wae!?" Tanya nya melihat wajah kedua sahabatnya yang menatapnya malas.
"Tidak, hanya saja... Pffft- Kim Berandalan Taehyung menyukai seseorang. Gadis seperti apa dia?" Tanya Jimin menahan tawanya bersama Jungkook.
"Yak! Dia tipe ku bajingan!" Ketus Taehyung.
"Ah benar, pasti dia gadis nakal"
"Ck" decih Taehyung tak suka. "Dia cantik, selalu duduk diam dan menutup matanya. Dia anggun sekali dan imut. Aku melihatnya memakai dress sederhana. Terlihat pemalu dan-"
"BUAHAHAHAHAHAHA!!!!!" Tawa Jimin dan Jungkook pecah.
"Hahahahaha... Kook-ah, dia iblis tapi mencoba menggapai malaikat" tawa Jimin.
"Molla haha... Aku juga begitu. Kurasa mereka akan jadi beauty and the beast real version" balas Jungkook ikut tertawa lebar.
"Sial"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Taehyung memakirkan sepedanya menuju taman dan memilih duduk dibawah pohon jauh didepan bangku gadis kemarin duduk. Tak peduli dengan ejekan Jungkook dan Jimin, Taehyung menyandarkan tubuhnya memainkan ponsel dan mendengar musik melalui earphone miliknya.
"Ne oppa, jemput aku seperti biasa"
Taehyung menoleh ke asal suara. Terlihat gadis itu duduk dengan totebag gambar kartun kumamon disana. Ia memilih menghentikan play lagunya dan mendengarkan apa yang dibicarakan kedua kakak beradik itu.
"Jam 8 malam? Aku mungkin telat 30 menit" balas sang kakak.
"Aniya, aku yakin aku baik-baik saja. Ada sosok yang menjagaku"
Taehyung merinding sekali, apa gadis itu indigo? "Aku akan berusaha tepat waktu. Nikmati waktumu, Yoonji-ah" balas sang kakak.
Taehyung tersenyum senang mendengar nama yang diucapkan pria tadi. Dengan begitu ia tau kalau gadis itu bernama Yoonji. Kembali memilih melihat gadis disana yang duduk dan memakan kue mochi.
Rambut panjang sepinggang dan poni yang menutupi matanya. Bando biru yang senada dengan dress sederhana menambah kesan imutnya. Jika dilihat lagi, kemarin malam ia pikir Sadako pindah negara. Ia diam diam mengarahkan kamera belakangnya kearah gadis yang bernama Yoonji. Tepat sekali ketika gadis itu tersenyum dan ia mendapatkannya.
"Cantik..." Gumamnya pelan.
Ia menoleh mendengar kekehan pelan gadis yang menjadi target kekasihnya. Saat ini pukul 4 sore dan Taehyung hanya akan duduk disana sampai sang kakak datang. Gadis itu terus saja diam dan sesekali tersenyum atau terkikik pelan membuatnya sedikit takut.
Jujur saja ia pikir Yoonji indigo. "Aah mengerikan. Kenapa dia terkekeh sendiri? Apa dia indigo? Woah bulu kudukku merinding..."
"YAAAK!!!"
"AH WAE!?" Kaget Taehyung.
"Bajingan! Aku menelfonmu berkali-kali tak kau angkat! Kau tuli!? Untung saja Jungkook melacak mu" ketus Jimin. "Kita harus pergi sekarang!" Tarik Jimin.
"Ah andwe!!! Aku tidak mau! Kalian yang punya masalah kenapa aku yang susah!" Tolak Taehyung ketika ia sedikit jauh dari gadis itu.
"Tapi kami butuh kau"
"KALIAN SELALU MENGANDALKAN AKU! JIKA BEGINI TERUS KAPAN AKU BEBAS MENIKMATI WAKTU KALAU KALIAN SELALU MEMANGGILKU!! URUS URUSAN KALIAN SENDIRI! JANGAN BUAT MASALAH KALAU TAK BISA MENGATASINYA!!" Bentak Taehyung emosi. "Aku pergi!" Lanjutnya.
Jimin yang dibentak hanya melongo. Tak salah juga sih, mereka selalu memanggil Taehyung ketika tak bisa menyelesaikan masalah dengan berandalan lain. "Ah dia benar, aku harus mengatakannya pada yang lain" gumamnya. "Pantas saja dia jomblo, waktu santai saja tak ada" lanjutnya tak sadar diri.
Kembali pada Taehyung. Pemuda itu kembali duduk dibawah pohon dengan emosi yang memuncak. Memilih melihat kearah bangku taman namun terkejut kala gadis itu tak ada dan hanya tersisa totebag nya saja.
"Minumlah tuan, sepertinya anda tengah kesal" seru seseorang. Taehyung menoleh kearah belakangnya melihat gadis yang dicarinya begitu dekat.
Gadis itu menyodorkan sebotol minuman kearahnya sembari tersenyum. "Ah, terima kasih" ucapnya pelan. Jujur jantungnya seakan mau keluar saja saat ini. Ribuan kupu-kupu seolah berterbangan di perutnya.
"Mau duduk bersama?" Tanya gadis itu.
Taehyung yang meneguk minuman memuncratkan nya lagi. Ia syok, malu, dan tampak bodoh sekali. "Ah mian..." Ucapnya. Beruntung gadis itu disampingnya dan bukan dihadapannya.
"Aniyo. Tak apa, anda baik-baik saja?" Tanyanya.
Taehyung mengangguk mencoba menunduk sedikit agar bisa melihat mata gadis didepannya ini. Ia geram sekali karena poni panjang yang menutupi matanya. Taehyung terjengit pelan kala tangannya digenggam oleh sosok didepannya ini. Terasa dingin dan lembut, ia tersenyum tipis dan berjalan mendahului gadis itu.
"Namamu?"
"Min Yoonji. Anda?"
Taehyung tersenyum senang. Tak ia sangka ternyata pendekatan semudah ini. "Kim Taehyung" balasnya. Gadis itu mengangguk kemudian tersenyum tipis dan kembali mengangkat kepalanya bersandar di punggung kursi taman.
Taehyung terpesona, gadis didepannya amat sangat cantik ketika poni panjang itu menyingkir dari dahi dan matanya. Taehyung tersenyum mencoba untuk mengingat jelas mengenai pemandangan didepannya kini.
"Anda menikmati pemandangannya Taehyung-ssi?" Tanya Yoonji. Gadis itu kembali menunduk dan terkekeh pelan dengan sosok yang tengah gopoh sendiri disampingnya.
"Ah ne, pemandangannya indah" balasnya. Ia gelagapan ketahuan menikmati pemandangan yang jujur tak bisa mengalihkan penglihatannya.
"Apa makanan di penjual sana enak Taehyung-ssi? Semalam saya tau kalau anda membelinya" seru Yoonji.
Taehyung menggaruk pelipisnya tak gatal. Kenapa ia cupu sekali didepan gadis ini yatuhan. "Enak, kau mau coba?" Tanya Taehyung.
"Oppa tak akan suka jika saya memakan makanan diluar. Saya hanya penasaran bagaimana rasanya" balas Yoonji.
Taehyung tersenyum dengan sedikit paksaan. "Bisakah jangan terlalu kaku padaku Yoonji... -ssi?" Seru Taehyung. Ia sedikit canggung bila gadis itu terus menyebutnya anda, anda, dan anda. Ia bukan tuan muda seperti Jungkook.
"Maaf, saya jarang berkomunikasi selain dengan oppa saya" balas Yoonji pelan.
"Ah sebentar" seru Taehyung. Ia pergi menuju penjual cemilan yang ia datangi semalam dan memesan sesuatu yang sama. Terlihat penjual itu tersenyum lembut melihatnya yang sedikit canggung.
Tak menunggu waktu lama, pemuda itu kembali duduk disamping Yoonji. "Cobalah satu suap" serunya. Ia menyuapkan cemilan yang dibawanya kearah mulut Yoonji dan tersenyum ketika melihat gadis itu mengunyah. "Bagaimana?"
"Ini enak. Saya- ah aniya, maksudku aku pertama kali mencobanya dan rasanya sempurna" balas Yoonji berbicara dengan sedikit menunduk.
"Syukurlah, aku akan memakan sisanya. Jika kau ingin lagi katakan saja, aku akan merahasiakannya dari oppa mu"
.
.
.
.
.
"Aaaah leganya..." Desah Taehyung merebahkan dirinya dikasur empuknya. Ia baru saja pulang dari menemani Yoonji dan berjanji akan kesana lagi esoknya. Ia tersenyum dan melompat mengambil buku sketsa gambar baru yang ia beli.
Menggoreskan ujung pensilnya menjadi sebuah gambaran indah. Pemandangan yang sangat menakjubkan menurutnya. Tak lupa ia menulis tanggalnya dan kembali menyimpan bukunya di rak.
Karya sempurna dari salah satu bakat menggambarnya. Melukis seorang Min Yoonji dari samping bukanlah hal sulit baginya. Ingatannya cukup kuat untuk mengingat detail dan menuangkannya ke sebuah gambar.
"Aaah aku pasti lebih bahagia kalau dia punya handphone" gumamnya. Ia mengingat dimana jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Taehyung masih tetap duduk bersama Yoonji di taman.
"Apa kau tak lelah selalu disini?" Tanya Taehyung.
"Aniya, aku menikmati waktu ku Oppa" balas Yoonji. Terlihat menggemaskan ketika gadis itu memanggilnya oppa.
"Kau tidak sekolah?" Tanya Taehyung lagi. Sungguh ia ingin tau dengan kehidupan Yoonji.
"Hm? Tentu saja, sekolahku usai pukul 1 siang" balas Yoonji.
"Yak! Kau sekolah dimana!?" Kaget Taehyung. Ia menahan kikikan gemasnya kala gadis itu tertawa. "Kenapa kau menutup matamu Yoonji-ah?" Serunya spontan. "Bajingan! Kenapa kau bertanya sialan!" Batinnya.
Gadis itu tersenyum lembut kembali menghadap ke depan, "aku, terbiasa dengan kegelapan oppa" balasnya. "Tenanglah, aku bisa melihat kok. Hanya saja buram, karena itu aku memilih menutup mata"
Taehyung ingin rasanya membelai kepala gadis itu, hanya saja sedikit ragu. Ia baru mengenalnya dan dekat dengannya. Ia tertarik.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Selama 1 bulan Taehyung selalu menemani gadis itu meskipun ia terkadang telat karena teman-teman yang menyusahkan. Dan selama itu pula ia akan pulang sebelum kakak dari gadis itu datang. Ia akan selalu menunggu gadis itu dibawah pohon dan ikut duduk jika sang kakak sudah pergi.
Seperti saat ini, ia kembali duduk dan menyelesaikan lukisannya di buku sketsa. Menunda untuk mendekat kearah gadis itu lebih dulu. Sapuan halus ia berikan diatas kertas putihnya hingga satu jam terlewat. Ia fokus memberikan tekstur bayangan pada gambarnya tak sadar jika gadis yang dari tadi menjadi objeknya sudah berada disampingnya.
"Duduk dibawah pohon tak buruk juga" seru Yoonji.
Taehyung yang awalnya asyik menggambar terjengit pelan dan menutup buku sketsanya. "Ah iya tidak buruk. Wae?" Tanyanya. Sungguh ia pikir Yoonji lebih mirip hantu, bahakn hawa kehadirannya tak terasa.
"Kau terlalu fokus oppa, aku mendatangimu" balas Yoonji.
Taehyung terkekeh pelan, "mau kembali ke kursi tempatmu duduk?" Tanya nya.
Gadis itu mengangguk membiarkan Taehyung memasukkan semua alat gambarnya kedalam tas. Ia berdiri kemudian seperti biasa Taehyung akan menggandengnya, berjalan lebih dulu menuju kearah kursi taman. Duduk berdua seperti biasa dan sesekali Yoonji memakan bekalnya.
Taehyung memainkan handphone miliknya, daritadi Jimin terus saja menghubunginya. "Yoonji-ah, keberatan jika foto bersama?" Tanyanya.
Yoonji terkekeh pelan, "kau selalu memotret diriku, dan apa aku keberatan?" Tanyanya.
"Mian, kau cantik saat menutup mata" balas Taehyung. Gadis itu bersandar dibahunya, jujur ia tegang. Apa yang harus ia lakukan sekarang, gadis itu bersandar padanya. Untuk duduk nyaman seperti biasa terasa susah baginya.
"Besok aku tidak akan datang oppa, kau tak usah menungguku" ungkapnya.
"Wae?" Tanya Taehyung.
"Hanya urusan pribadi"
"Lalu lusa apa kau kemari lagi?" Tanya Taehyung.
"Hm, aku kemari lagi" balas Yoonji.
Taehyung menghela nafas pelan, syukurlah jika ia masih bisa bertemu dengan gadis ini. Ia menoleh kesamping bawah melihat wajah manis gadis itu. "Kau manis sekali, apa kau memakan gula untuk makanan pokok?" Seru Taehyung terkekeh dengan ucapannya.
"Oppa bisa menghadap ke arahku?" Tanya Yoonji. "Boleh aku menyentuhmu, oppa?" Lanjut gadis itu yang diangguki olehnya.
Gadis itu menegakkan tubuhnya menoleh kearah Taehyung, begitu juga Taehyung yang duduk menyamping menuruti gadis pujaannya. "Shit!" Batin Taehyung. Gadis itu membelai pipi dengan kedua tangannya, meraba wajahnya dari dahi, mata, dan hidungnya. Taehyung tersenyum tipis kala gadis itu meraba bibirnya, beralih ke telinga dan mengusak rambutnya pelan.
Ia melotot, gadis itu membuka matanya tepat didepannya. Pandangannya bertemu tatap dengan mata cokelat terang milik gadis didepannya. "Kau tampan oppa" serunya.
Satu bulan mereka duduk berdua, bercerita bersama, mendengar kisah satu sama lain. Ini adalah kali pertama Taehyung melihat jelas sosok yang disukainya. Mata cokelat menawan, bibir tipis berwarna pink, hidung bangir yang cantik, dan seluruhnya begitu menawan.
Ingin sekali mengecup kening gadis itu, hanya saja ia takut. Ia ingin memeluk gadis didepannya tapi takut. Pendekatan yang mereka lakukan hanya mendapatkan hasil kisah satu sama lain dan tidak lebih. Taehyung menunduk mengalihkan pandangannya hingga sentuhan jemari Yoonji terlepas dari wajahnya.
"Wae oppa?" Tanya Yoonji.
"Aniya, hanya saja aku sedikit banyak pikiran" balas Taehyung pelan.
"Kalau kau ada urusan dengan sahabatmu, pergilah. Kau selalu menemaniku disini, apa tidak bosan?" Seru Yoonji, gadis itu tersenyum tipis kembali menutup matanya dan kembali menghadap kedepan.
"Tidak ada, aku juga tidak bosan menemanimu. Rasanya nyaman" gumamnya.
Gadis itu kembali bersandar dibahunya membuat senyum tipis timbul di mimik wajahnya. "Aku juga nyaman. Aku pikir tak akan ada orang yang menyukaiku" seru Yoonji. Taehyung gelagapan ketika gadis itu terkekeh. "Aku tahu oppa, kau selalu menunggu dibalik pohon sampai Yoongi oppa menjemputku" lanjut gadis itu. "Kau juga... Memotret ku diam diam ketika aku baru datang dan duduk menunggumu yang berada dibawah pohon sembari melukis diriku bukan?" Tebak Yoonji.
Wajah Taehyung memanas, bahkan telinganya juga merah. Ia malu sungguh, memilih menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya. Ia menunduk sembari melirik Yoonji yang tertawa lebar disampingnya. "Kau tidak marah?" Tanya Taehyung ragu.
"Kenapa harus marah?" Tanya Yoonji berbalik. Tak bisa disangka, sosok berandalan Kim Taehyung bisa malu dan salah tingkah didepan sosok bernama Min Yoonji.
"Kalau begitu, kau tak menolak untuk menjadi kekasihku kan?" Tanya Taehyung.
"Aku menolaknya" singkat Yoonji.
Untuk pertama kalinya Taehyung ditolak dan dia merasa sakit hati. "Wae? Bukankah kau..."
"Aku akan menerimamu kalau kau bisa berjanji 1 hal padaku oppa" seru Yoonji tersenyum manis.
"Janji apa?" Tanya Taehyung.
"Berjanjilah kalau kau akan menungguku"
Taehyung mengangguk patuh dengan senyum merekahnya. "Aku akan menunggumu, aku janji selama apapun itu akan kutunggu" balas Taehyung. Ia menendang angin senang bahkan berdiri sembari mengangkat tangannya senang.
Yoonji tertawa pelan, pemuda itu gila sekali. Taehyung kembali duduk disamping Yoonji dan menggenggam tangan gadis disampingnya senang. Ia melihat jam ditangannya yang menunjukkan kini pukul 18.30. "Sebentar lagi aku harus pulang" seru Taehyung.
"Kau tak akan melihatku dari jauh kan oppa?" Tanya Yoonji.
"Itu, sudah menjadi aktivitas tambahan untukku"
"Kapan-kapan, bisa tunjukkan gambarmu padaku kan oppa?" Tanya Yoonji.
"Sekarang juga bisa kuberikan padamu" seru Taehyung senang.
"No, lain kali saja. Oppa bilang ingin berfoto?" Tanya Yoonji.
Taehyung terkekeh pelan dan mengeluarkan ponselnya menyuruh gadis itu untuk mendekat padanya. "Sudah? Tiga... Dua... Sat-"
Cekrit....
Taehyung melongo. Gadis itu mengecup pipinya, terasa bibir itu lembut sekali dan Taehyung suka. Ia melihat hasil selfienya dengan Yoonji. Sempurna, terlihat gadis itu menutup mata tulus dan mengecupnya.
"Apa hasilnya bagus?" Tanya Yoonji.
Taehyung diam melihat gadis yang menutup mata sembari menengadah kedepan. "Oppa, apa hasilnya bag-"
"Sangat, sempurna" gumam Taehyung. Tangannya mengarahkan wajah Yoonji untuk menoleh kearahnya dan menciumnya lembut. Tak ada kesan menolak membuat tangan satunya menekan tengkuk Yoonji dan membelai pipi gadis itu dengan tangan kanannya.
Ia suka, manis stroberi yang dikecapnya. Perlahan tapi pasti ia menutup matanya membiarkan kedua tangan Yoonji menyentuh pundaknya. Mengarahkan tangannya untuk ikut membelai rahang tegasnya. Ia tersenyum disela ciumannya sebelum memperdalam lumatannya.
Taehyung membelai pipi Yoonji sayang sebelum menjauhkan wajahnya dan mengakhiri dengan menghisap bibir bawah gadis itu. Memilih menempelkan keningnya dengan kening Yoonji sebelum terkekeh bersama. "Bibirmu manis" ucapnya kembali mengecup pelan bibir gadis didepannya.
"Itu first kiss ku Oppa" ucap Yoonji.
"Aku yang mengambilnya? Aku merasa terhormat" balas Taehyung membelai kepala Yoonji lembut.
"Sudah jam 7, 30 menit lagi aku akan pergi. Lusa, akan kutunggu" seru Taehyung.
Yoonji mengangguk kemudian bersandar lagi di pundak Taehyung menikmati waktu yang tersisa. Hingga waktu menunjukkan tepat dimana Taehyung memilih membawa ranselnya untuk lebih dulu pergi dan melihat Yoonji dari jauh. Ia tersenyum ketika gadis itu menyentuh bibirnya sendiri sembari terkikik pelan.
"Kiyowo..."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Taehyung duduk diatas kasurnya membiarkan Jimin dan Jungkook bermain PS dikamarnya. Bahkan tak peduli dengan eommanya yang selalu saja sibuk bekerja.
"Bagaimana kabar gadis pujaan mu Tae? Kau jarang membahasnya lagi" tanya Jimin.
"Aku mengajak kalian kemari karena bosan. Hari ini dia tidak datang ke taman. Aku bahkan sudah menunggunya disana 1 jam dan benar dia tidak ada" balas Taehyung. Ia merebahkan dirinya malas membahas tentang kegalauan yang dialaminya. "Aku pergi mandi dulu" lanjutnya.
Jimin dan Jungkook bergumam menjawabnya. "Aah kau curang Jungkook!!" Ketus Jimin ketika kalah dengan permainan Jungkook. Pemuda itu malas mengulang permainannya dan memilih duduk di meja belajar Taehyung. "Eoh?" Gumamnya. "Jungkook-ah, lihat ini" serunya.
Jungkook yang baru saja akan kembali memainkan PS Taehyung menoleh melihat buku sketsa yang dibawa Jimin. Merasa penasaran ia mengikuti Jimin tidur bersandar di kepala ranjang sembari membuka buku sketsa Taehyung.
"Woah gila!!! Siapa dia?" Seru Jungkook.
Jimin kembali membalik semua lembar sketsa dan menampilkan sosok yang sama dengan posisi yang berbeda. "Apa mungkin..."
"YAK!!!" Teriak Taehyung merebut buku sketsa miliknya.
"Aah wae!?" Protes Jimin dan Jungkook bersamaan.
"Diam kalian!"
"Dia siapa Tae?" Tanya Jimin.
"Kekasihku" balas Taehyung singkat.
"Sejak kapan?" Tanya Jungkook.
"Sejak kemarin!" Malas Taehyung dengan nada ketus.
"Woah, pantas kau menyukainya, dia secantik itu" balas Jimin.
Taehyung memutar bola matanya malas, harusnya ia menyimpan buku sketsa itu baik-baik. Tapi bagaimana lagi, kedua sahabatnya itu memang sudah biasa memeriksa barangnya. Taehyung memakai kaos oblongnya dan duduk dikursi meja belajarnya membiarkan Jimin dan Jungkook tiduran dikasurnya.
Membosankan, ia ingin duduk menikmati waktu bersama Min Yoonji. Bukannya melihat 2 makhluk yang tengah bermain game mobile di handphone. "Aish..."
.
.
.
.
.
Saat ini Taehyung tengah duduk dibawah pohon. Lusa yang ditunggunya sudah tiba dan ia senang sekali untuk kembali bertemu dengan gadis pujaannya. Ia duduk sembari melukis sketsa gadisnya dengan mata terbuka dan senyum menawan yang diberikan 2 hari lalu.
Semua gambar yang dia buat hanyalah goresan warna hitam kelabu dikertas putih yang bersih. Hingga ia melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 17.45. Ia mengernyit ketika tak dilihatnya gadis yang ia tunggu.
Taehyung berdiri dan memasukkan semua alat gambarnya dan memilih untuk membeli cemilan sebentar. "Oh nak, dari kemarin aku menunggumu" seru sang penjual. Taehyung menaikkan sebelah alisnya heran.
"Wae ahjeossi?" Tanya Taehyung.
"Kakak dari gadis yang selalu duduk bersamamu menitipkan kotak ini padaku. Katanya untuk diberikan padamu" balasnya. Penjual itu memberikan kotak kado kecil berwarna putih dengan pita biru yang melapisi apik.
"Terimakasih ahjeossi" balasnya. "Apa gadis itu tidak datang kemari kemarin?" Lanjutnya bertanya.
"Ah, kakaknya bilang dia tak akan duduk disana untuk sementara waktu. Jadi kau tak perlu menunggunya"
Taehyung mengangguk pelan dan berjalan pergi menuju kearah kursi taman tempat ia biasa duduk. Ia membuka kotaknya berisi flashdisk dengan figur kumamon yang menghiasi. "Dia suka kumamon ternyata" gumamnya terkekeh. Ia ingin melihat apa yang ada didalam flashdisk tersebut, hanya saja ia tak membawa laptop miliknya.
Taehyung kembali mengeluarkan sketsa gambarnya dan melanjutkan lukisannya. "Dasar pembohong" gumamnya. Ia terkekeh gemas mengingat ciuman mereka 2 hari lalu. Bahkan sampai hari ini ia tak bisa melupakannya.
.
.
.
.
.
Taehyung melotot melihat gadis yang membuat Vidio untuknya. Terdengar juga suara sang kakak yang mengatakan kalau Vidio sudah dimulai. Gadis itu tersenyum sembari menutup mata dan mendongak kearah kamera.
"Anyeong Tae oppa" serunya. Taehyung tersenyum tipis melihatnya, menggemaskan.
"Maaf kalau aku berbohong. Aku tidak akan pernah lagi duduk diam disana. Oppa, jika kau tau pasti kau tidak akan menyukaiku" ucap gadis itu. Taehyung tak merespon dan tetap diam melihat layar laptopnya.
"Untuk 1 bulan ini, terimakasih. Aku pasti kembali, kau berjanji menungguku kan? Karena itu tunggu aku. Aku janji aku akan kembali, bahkan disaat yang tidak kau duga" ucap gadis itu terkekeh pelan. Taehyung tersenyum tipis melihatnya, manis dan cantik, hanya saja tak bisa dielakkan lagi kalau hatinya sedikit sakit dan kecewa.
"Aku ingin mengatakan padamu oppa, aku tunanetra. Kau pasti terkejut kan?" Taehyung mengangguk, ia terkejut. Matanya memanas melihat gadis yang menyugar poninya kebelakang dan membuka matanya. Pupil itu tidak memiliki warna, lalu apa yang ia lihat 2 hari lalu?
"Aku memakai lensa dan berusaha menatap matamu, karena itu aku bertanya oppa, boleh aku menyentuhmu?" Taehyung tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia tersenyum tipis melihat layar laptopnya. "Tunggu aku ne? Aku akan kembali untuk menemui mu"
Taehyung mengusap wajahnya kasar. Menyadari alasan kenapa gadis itu selalu menutup matanya. Sadar ketika gadis itu menggandeng tangannya dan mengikutinya yang berjalan menuju kursi taman. "Ah aku kurang peka untuk menjadi seorang yang pengertian" gumamnya.
Taehyung membuka handphone miliknya melihat foto pertama dan terakhir mereka. Yoonji mengecup pipinya dan masih terasa sampai sekarang. Taehyung merebahkan dirinya memilih menutup matanya.
.
.
.
.
.
-------------------
"Tae, kau tak dengar kabar ada anak baru dikelas XI?" Tanya Jimin santai.
"Apa aku terlihat peduli Jiminie?" Balas Taehyung malas.
"Sudahlah Jim, dia masih galau ditinggal kekasihnya" balas Jungkook.
Taehyung hanya duduk di kursinya dan memainkan handphone miliknya malas. Selama 4 bulan ia menunggu dan duduk dikursi taman sampai jam 7 malam. Terkadang ia melukis atau mendengarkan musik melalui earphone miliknya.
Ia bahkan tak peduli dengan masalah teman-temannya. Seolah dia memang sudah tobat dan memilih menunggu Yoonji untuk datang. "AAAAAAH!!! BOSAN AKU!" Teriaknya. Taehyung keluar dari kelas tak peduli dengan guru yang mengajar. Bahkan Jimin dan Jungkook saling pandang heran dengan pemuda Kim itu.
Taehyung memilih tiduran dibangku bekas yang sengaja ia dan Jimin tata di atap. Hingga akhirnya terdengar bel istirahat. Taehyung yang memang daritadi kelaparan mendengus pelan. Terlanjur dia naik keatap, sekarang ia harus turun ke kantin. Bajingan.
Ia berjalan melewati lorong kelas XI dengan wajah dingin dan malas berinteraksi khas miliknya. Hingga...
"Apa benar murid pindahan dikelasmu cantik?" Tanya salah satu gadis dengan gadis lainnya.
"Sungguh aku tidak bohong! Dia cukup pintar tapi kurang mengerti tulisan. Dia juga selalu entah menutup mata atau tidur, tapi setiap guru bertanya dia dapat menjawabnya"
"Woah luar biasa. Siapa namanya?"
"Namanya Min Yoon-"
"TAE!!!! TAEHYUNG-AH!!!" Panggil Jimin dan Jungkook.
Taehyung yang sebelumnya menguping itu mendengus pelan tak dapat mendengar kelanjutan cerita 2 orang yang sebelumnya bergosip. "Wae?" balasnya malas.
"Ani- itu- apa..." Bingung Jimin mau bicara bagaimana.
"Ah Bantet bodoh!!! Gadis yang kau lukis ada di kantin!!"
Taehyung berlari meninggalkan Jimin dan Jungkook yang memberitahunya mengenai gadis yang ada dalam lukisannya. 2 orang yang tengah bergosip juga hampir menyebutkan nama Min Yoon sebelum Jimin menyahutnya.
"Apa itu kau? Apa benar kau?" Gumamnya memohon.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Ah Bantet bodoh!!! Gadis yang kau lukis ada di kantin!!"
Taehyung mengedarkan pandangannya ketika memasuki kantin. Ia melotot kala matanya tertuju pada rambut panjang seorang gadis yang berdiri disamping meja menunggu temannya untuk duduk lebih dulu. Bando putih yang ia kenal, wajah yang ia rindukan. Bedanya kini poni itu tak lagi menutupi matanya, terkesan imut karena dipotong lebih pendek dan menutupi alisnya.
Taehyung berjalan mendekat menarik tangan gadis itu sembari menatap tajam matanya. "Ma- maaf, kau siapa?" Tanya gadis itu. Taehyung tersenyum senang, suara yang jelas sangat ia rindukan.
"Kau, melupakan janjimu Min Yoonji-ssi? Aku sudah menunggumu lama" Ucap Taehyung tersenyum tipis.
Mendengar suara yang amat dikenalnya membuat Yoonji melotot kaget, "Taehyung oppa?"
Ia bahagia, Taehyung senang. Ia memilih menarik pinggang gadis didepannya ini dan mencium bibirnya lembut. Tak peduli dengan semua mata yang melihatnya iri sesekali dengki. Tak peduli dengan sorak sorai orang dikantin, ia menyesap lembut bibir gadisnya.
"Ah Kim Sialan Taehyung" lelah Jimin sembari ngos-ngosan.
"Dasar, seenaknya saja" balas Jungkook dalam keadaan yang sama.
Namun keduanya kembali melotot melihat Taehyung yang ternyata good kisser mencoba untuk lembut ketika mencium gadis yang ada dipelukannya. Dengan posisi dimana tangan kanan Taehyung yang meremas pinggang gadis itu dan tangan kiri yang membelai lembut tak memaksa ciumannya.
"Sejak kapan tangan kasar Taehyung selembut itu?" Tanya Jimin cengo.
"Apa aku salah lihat? Tangan yang selalu memukul orang menjadi lembut seperti itu?" Cengo Jungkook. Tak lupa ia memotret kegiatan 2 sejoli yang tengah asyik menikmati ciuman ditengah keramaian kantin.
Taehyung melepas ciumannya seperti biasa mengakhiri dengan menghisap bibir bawah lawan mainnya. Mengecup pelan untuk akhirnya dan menjauhkan wajahnya menatap mata yang juga membalas tatapannya. "Kau bisa melihatku sekarang?" Tanyanya. Gadis itu mengangguk sembari tersenyum manis, "oppa tampan sekali" balasnya.
Didalam akhir Vidio, Yoonji mengatakan jika ada sesepupunya yang meninggal akan mendonorkan mata untuknya. Ia mengecup kening gadis itu pelan sebelum menarik tangannya menuju keatap setelah gadis itu membawa kotak bekalnya.
Jujur ia kesal juga ketika Jimin dan Jungkook mengikutinya. "Wah, tak kusangka kau lebih cantik dari yang ada dilukisan Taehyung" puji Jungkook.
"Ah kau benar. Tak kusangka berandalan seperti Taehyung berubah setelah mengenalmu" balas Jimin.
"Kau pulang nanti, bisa kita ke taman?" Tanya Taehyung.
"Ah, aku harus ijin pada Yoongi oppa kalau begitu" seru Yoonji mengeluarkan handphone barunya. Ia diam melihat layar yang menampakkan keyboard dan kotak pesan didepannya.
"Wae Yoonji-ah?" Tanya Taehyung.
"Aku tidak ingat huruf Hangul" balas Yoonji.
Taehyung terkekeh pelan meminjam handphone Yoonji dan mengirim pesan pada kakaknya.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau mencoba menutupi hal itu dariku hm?" Tanya Taehyung memeluk bahu Yoonji yang bersandar dipundaknya. Kini mereka berdua berada dikursi taman duduk seperti biasa.
"Aku takut oppa akan membenciku ketika tau kalau aku tunanetra" balas Yoonji menunduk.
"Berhenti menunduk! Kau sudah bisa melihat wajah tampanku, dan aku bisa melihat mata indahmu. Untuk selanjutnya jangan pernah menutupi apapun dariku" ucapnya. Taehyung membelai kepala Yoonji merasakan betapa lembut dan terawatnya rambut gadis itu. "Perasaanku tidak serendah itu sampai tidak menyukai sosok tunanetra sepertimu. Di Vidio tepat kau membuka poni dan menunjukkan pupil mata putih itu, aku menyukainya. Itu bukan kekurangan tapi kelebihanmu. Seolah kau sosok fantasi dari dongeng. Aku kecewa karena kau merahasiakan keindahan itu" seru Taehyung.
Yoonji tersenyum manis, pemuda ini begitu menyukainya. "Oppa, kau lupa menunjukkan satu hal yang selalu ingin kuketahui" balas Yoonji.
"Apa?"
"Lukisanmu"
Taehyung terkekeh pelan dan memberikan buku sketsa miliknya pada Yoonji. Membiarkan gadis itu membuka lembar demi lembaran yang menunjukkan gambar dirinya. Ia tersenyum ketika gadis itu juga tersenyum kagum atas gambarannya.
"Oppa kau berbakat sekali, tak heran kenapa kau bisa menjadi idola sekolah" seru Yoonji dengan nada sedikit mengejek.
Gadis itu kembali bersandar dibahunya dan membuka memuji setiap lukisannya. "Aku menyukai setiap tingkah lakumu oppa. Kau juga menyembunyikan fakta kalau kau seorang berandalan. Tapi aku senang, dengan begitu kau pandai berkelahi dan bisa menjagaku" seru Yoonji.
Taehyung tertawa mendengarnya. "Kupikir kau tak suka badboy atau berandalan dan semacamnya"
"Eoh? Aku suka jika itu dirimu"
"Kau bisa menggoda ternyata"
"Sedikit"
Taehyung tertawa diikuti cengiran Yoonji. "Saranghae, Min Yonnji-ssi" gumamnya.
Di kursi taman, dimana mereka bertemu. Taehyung kembali melumat lembut bibir gadis pujaannya, menunjukkan seberapa berharga gadis itu untuknya. Dimana matahari mulai menyembunyikan dirinya seolah malu melihat keduanya saling membelit lidah. Taehyung menyukainya, bibir stroberi yang menjadi candunya.
---The End---