Sepuluh tahun berlalu, Ada tidak dapat mengingat apa yang terjadi sebelumnya, setiap hari selalu saja ada kepingan memori yang perlahan membangunkan alam bawah sadarnya, dan itu terjadi setiap dia melihat bunga anyelir yang sekarang berada di hadapannya.
Ada rasa sakit sekaligus sesak di dadanya setiap melihat bunga itu. Kedua orang tuanya telah lama tiada, semuanya mengatakan bahwa orang tuanya meninggal dikarenakan kecelakaan. Itu saja yang ia dengar, tidak ada lagi cerita yang mendetil mengenainya.
Tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh neneknya. Setiap ia bertanya kronologis tentang hal itu, pandangan mata neneknya meredup seperti ada rasa sesal di dalamnya.
Ada secara diam-diam mencari informasi mengenai kecelakaan sekitar sepuluh tahun yang lalu sekaligus penyebab ia kehilangan ingatannya. Tapi segala informasi itu seperti lenyap di telan bumi.
Sampai pada suatu hari ia mendengar percakapan dua orang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah neneknya. Saat ia sedang mengambil air minum di dapur, secara tidak sengaja ia mendengar perkataan mereka.
"Tidak terasa sudah sepuluh tahun lamanya Tuan dan Nyonya Samuel meninggal, dan sampai saat ini Non Ada masih kehilangan ingatannya, padahal mereka adalah keluarga yang harmonis", kata Bibi Mary.
"Iya aku masih ingat betapa bahagianya keluarga itu, Tuan dan Nyonya Samuel adalah orang yang sangat rendah hati, ramah kesemua orang tanpa memandang status sosial masing-masing orang", jawab Bibi Amy.
Bibi Mary menghela nafas dan meneruskan perkataannya," jika saja waktu itu mereka tidak menghadiri pernikahan kakaknya Tuan Andre, mungkin hal ini tidak akan terjadi".
"Tuan Andre?, apa hubungannya dengan keluarga Kak Andre tunangan ku?, nanti kalau aku bertemu dengannya akan aku tanyakan hal ini padanya, tapi sebelum itu aku akan menanyakan hal ini kepada kedua Bibi itu", gumam Ada.
"Selamat sore Bibi, wah, Ada baru menyadari kalau kebun di belakang rumah nenek sangatlah indah, Ada boleh ikutan ngobrol ga?", sapa Ada dengan senyuman yang indah menghiasi bibirnya.
Wajah kedua Bibi itu memucat, mereka menyalahkan diri mereka sendiri yang tanpa hati-hati membicarakan tentang topik yang sesungguhnya di larang keras dibicarakan di rumah itu.
"Ada sudah mendengarkan dengan jelas perkataan Bibi berdua, Ada ingin sekali mengetahui penyebab meninggalnya kedua orang tua Ada, kalaupun itu adalah kecelakaan, tolong ceritakan kecelakaan apa itu?", tanya Ada dengan penuh antusias.
"Eh, Non Ada, maaf Non, kami berdua juga kurang mengetahui tentang hal itu, kami juga hanya mendengar kedua orang tua Non Ada meninggal dikarenakan kecelakaan, selebihnya kami tidak tahu", jawab Bibi Amy dengan nada yang sedikit gugup.
"Mm, begitu ya, jadi Bibi berdua masih mau tutup mulut, kenapa sih kalian semua menutupinya dari Ada?, Ada ini anak mereka, wajar kan kalau Ada tahu, siapa tahu semua ini bisa mengembalikan ingatan Ada", ada nada kecewa di dalam suaranya.
"Maafkan kami Non, kami berdua sayang sekali sama Non, kami tidak ingin terjadi apa-apa dengan Non Ada", jawab Bibi Mary.
"Ah, ya sudahlah, Ada tidak bisa menyalahkan Bibi berdua, lagi pula Ada juga tidak bisa memaksa, karena Nenek juga pasti marah besar kalau mengetahui Bibi berdua membicarakan hal ini", Ada berkata sambil tersenyum (padahal hatinya gemasnya bukan main).
Ketika ia melihat sebuah vas bunga yang berisi bunga Anyelir saat ia hendak menuju kamarnya. Seketika sekilas ingatan memenuhi pikirannya, ia melihat dirinya sedang memegang bunga anyelir yang dipenuhi oleh warna merah, warna merah itu adalah darah. Ada berteriak dan seketika pandangannya menghitam.
Seluruh rumah kaget, dan berlari menuju ke arah tempat Ada berteriak. Mereka kemudian menemukan Ada tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan. Neneknya Ada kemudian cepat memanggil dokter keluarga, pandangan Neneknya Ada tertuju ke arah vas bunga yang berisi bunga anyelir tersebut lalu berteriak," siapa yang meletakkan bunga itu disini!".
Andre yang mendengar kabar dari Bibi Mary bahwa tunangannya pingsan, segera bergegas menemui Ada.
Sesampainya di rumah Ada, ia melihat wajah wanita yang dicintainya itu terlihat pucat, ia mendengar bahwa Ada pingsan karena melihat bunga anyelir yang entah siapa meletakkannya di dekat kamar Ada.
Tangannya mengepal, ternyata teror ini masih berlanjut, masih jelas dalam ingatannya, sepuluh tahun yang lalu saat itu Ada berusia delapan tahun, ditemukan sedang memegang bunga anyelir dengan keadaan berlumuran darah, matanya menatap kosong, Andre yang saat itu berusia lima belas tahun merasakan sedih yang tidak biasa melihat ke arah Ada. Ia menemani pamannya yang ditugaskan kedua orang tuanya untuk melihat keadaan anak sahabatnya itu.
Pada saat itu Ada hanya diam membisu tidak bergerak dan juga bicara, pandangan matanya hanya tertuju pada bunga yang ada ditangannya. Polisi segera menangani kasus tersebut. Ada di bawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter mengatakan bahwa Ada kehilangan sebagian ingatannya dan ingatan yang hilang itu berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada waktu itu.
Andre ingat penyebab meninggalnya kedua orang tua Ada, mereka meninggal karena di bunuh, hal itu terjadi ketika mereka dalam perjalanan menuju ke pesta pernikahan kakaknya Andre. Tidak ada yang mengetahui siapa pembunuhnya dan apa motifnya, dan bagaimana Ada bisa selamat dalam keadaan memegang bunga anyelir dengan keadaan berlumuran darah.
Penyelidikan masih berlangsung, semua berita itu dihilangkan dari publik, karena kedudukan neneknya Ada, semua berita tentang pembunuhan itu ditutup rapat. Tapi ternyata semua itu belum selesai, Ada masih dalam bahaya, karena ia adalah saksi dari pembunuhan sepuluh tahun yang lalu.
🔪TAMAT🔪
Baru kali ini penulis membuat cerita dengan tema misteri, banyak tantangannya untuk membuat pembaca mengira-ngira siapa pembunuh sebenarnya. Harap maklum ya, it is my first time writing about this kind of short stories. Enjoy and happy reading..😊