Pagi ini aku bangun kesiangan. Hal pertama kulihat saat membuka mata adalah punggung Alfin yang duduk di meja baca dan mengerjakan sesuatu di laptopnya. Aku bangkit dari tidurku untuk mandi. Aku merasa sedikit lemas dan pusing, mungkin karna aku tidur agak larut tadi malam.
Setelah mandi, Alfin sudah tidak ada di meja baca. Dia tengah sarapan di meja makan dekat dapur. Langsung saja aku menggulung rambutku yang panjang dan basah dengan handuk agar tidak menitik. Kubuka laptopku untuk menyambung pekerjaanku tadi malam.
Selang beberapa menit rambutku pun kering, ku gerai saja rambut itu tanpa ku ikat. Ku lirik Alfin yang sedang menonton tv, tanpa acuh padanya kulanjutkan pekerjaanku. Tugasku ini harus cepat diselesaikan karna harus dikumpulkan hari Selasa. Mau tak mau, aku harus duduk di depan laptop seharian. Padahal ini adalah Minggu yang berhargaku. Salahku juga sih, Yuri sudah mengingatkan untuk mengangsur ringkasan dari materi yang diterangkannya di kelas tapi, dengan pintarnya aku malah mengundur-undur urusan ini demi kesenangan pribadi. Jadilah aku yang harus duduk di kursi ini untuk menyelesaikan tugasku demi nilaiku.
***
Alfin adalah orang yang tidak suka kamarnya menjadi terlalu panas. Alfin juga adalah orang sangat bersih dan rapi. Pernah kutanyakan kenapa kamar kita tidak boleh lebih hangat lagi, Alfin hanya berkata dia benci berkeringat karena keringat itu kotor sehingga dia harus mandi lagi kalau sampai berkeringat. Saat mendengar hal itu aku hanya dapat diam tanpa berkomentar.
Pagi ini, aku merasa kamar ini agak terlalu dingin dari biasanya. Aku menoleh padanya yang masih asyik menonton tapi kali ini Alfin menonton di laptopnya.
“Hei!” panggilku, Alfin menoleh.
“Apakah kamar ini tidak terlalu dingin?” kataku lagi.
“Kalau begitu naikkan saja suhunya, remotnya ada di atas nakas.” jawabnya acuh dan melanjutkan tontonannya.
Bukannya menaikan suhu AC aku malah mematikannya. Sepertinya Alfin tidak menyadarinya karna masih sibuk dengan filmnya. Selang 10 menit, Alfin merasa suhu kamar ini sudah agak terlalu panas, Alfin pun menghidupkan AC kembali.
“Kenapa dihidupkan lagi?” aku berbalik dan melihat Alfin kembali menghidupkan AC-nya.
“Aku kedinginan.” kataku lagi, Alfin hanya menoleh dan menatapku sebentar.
“Ini sudah panas.” balasnya ketus.
Aku bangkit dari dudukku, lalu merebut remot AC itu darinya. Alfin hanya Alfin melihatku merebutnya. Langsung saja kumatikan lagi AC-nya dan berlalu pergi kembali ke meja baca untuk melanjutkan tugasku. Alfin masih diam menatapku dari jauh. Aku menyadari bahwa Alfin tak juga beranjak bahkan, saat aku sudah mulai menulis.
Jengah, aku pun tak tahan dan berbalik menghadapnya, “Ap-”
“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanyanya, memotong ucapanku begitu Alfin melihatku berbalik.
“Apa pedulimu, hah?!” balasku agak ketus dan berbalik melanjutkan tugasku.
“Kau begadang lagi ya, tadi malam?” tanyanya lagi tanpa peduli pada perkataanku yang ketus, sambil melangkah mendekatiku.
Aku yang merasa diguruiku oleh orang yang juga pulang larut karena bekerja, pun berdiri. Aku berdiri dan mendapati wajah Alfin di depan mataku. Wajahnya begitu dekat dan tampan. Aku segera berpaling karena tak tahan melihatnya dari jarak yang begitu dekat, rasanya kedua pipiku memanas tanpa alasan yang aku ketahui. Meskipun begitu, Alfin masih menatapku lamat-lamat. Jujur saja, tatapannya mengintimidasiku.
Alfin berbalik meninggalkanku dan berjalan ke arah dapur sambil berlalu, dia berkata, “Kau harus sarapan, kau belum makan, ‘kan?”
Mangut-mangut aku mengikutinya ke dapur. Saat berdiri aku merasa kepalaku sakit dan keseimbangan tubuhku sedikit terganggu. Aku memegang kepalaku dengan tanganku yang dingin dan segera menyeimbangkan langkahku agar tidak jatuh. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapan pria dingin yang tinggal serumah denganku karna dijodohkan ini. ‘Huh, aku tak sudi’ pikirku dan memalingkan sedikit kepalaku.
“Apa yang kau lakukan? Cepat duduk!” aku melihatnya menatapku dari balik meja makan. Di atas meja sudah ada sarapan pagi yang sama dengan miliknya tadi pagi. Ah, dan juga segelas susu cokelat. Seperti yang selalu kusuka, pasti Alfin diberitahu oleh ibuku bahwa aku selalu sarapan dengan segelas susu cokelat hangat. Tanpa menunggu lagi, aku duduk dihadapnya dan mulai meneguk susu pagiku. Aku tak ingin susu itu menjadi dingin karna menungguku. Saat aku tengah menyantap sarapanku, bel rumah berbunyi. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Alfin berdiri dari duduknya dan pergi ke pintu depan.
Aku dengan segera menyelesaikan sarapanku walaupun jari-jariku terasa lemas sehingga agak kesulitan memegang sendok. Sarapanku sudah selesai, tapi Alfin tak juga kembali dari melihat tamu yang datang. Aku bangkit dari dudukku dengan langkah agak tertatih untuk mengintip siapa tamu yang membuatnya begitu lama disana. Saat aku tiba tamu itu sudah pamit untuk pergi, aku tak sempat melihat siapa yang ada di depan sana. Tapi aku tahu satu hal, tamu Alfin adalah seorang wanita.
Alfin menutup pintu setelah punggung wanita itu tak terlihat lagi di halaman rumah.
Alfin berbalik sambil berkata “Apa yang kau lakukan disana? Apa kau tidak ingin menyambung membuat tugasmu?” sepertinya Alfin sudah menyadari keberadaanku. Aku berdiri tegak guna keluar dari posisi ngintipku tadi. Alfin kembali berbalik dan mengunci pintu. Aku melihat Alfin memegang sebuah amplop.
“Sekitar setengah jam lagi aku akan…” aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Alfin katakan karna kepalaku berdenging dan diserang rasa sakit. Dan aku merasa pijakanku bergoyang dan aku terjatuh, dalam sisa kesadaranku aku merasa ada hawa hangat yang mendekapku. Aku mengerjap dan dengan samar melihat kemeja yang dipakainya pagi ini. Aku menengadah dan melihat Alfin… sepertinya Alfin panik dan berteriak padaku. Tapi, aku sudah kehabisan energi untuk mengetahui apa yang Alfin katakan. Dalam kegelapan, aku mencium wangi semerbak yang memenuhi indra penciumanku.
***
Alfin POV
Setelah sekretarisku pergi, aku berbalik dan menghadap Tanie. Aku sudah tahu Tanie mengintip dari balik dinding, mungkin Tanie penasaran siapa yang datang Minggu pagi begini.
“Apa yang kau lakukan disana? Apa kau tidak ingin menyambung membuat tugasmu?” tanyaku, kulihat dia keluar dari tempatnya mengintip. Tanpa menunggu jawabannya, aku pun berbalik untuk kembali menguci pintu.
“Setengah jam lagi aku akan keluar karna ada urusan, apa kamu-” ucapanku terpotong karna Tanie yang memegangi kepalanya tampak kesakitan. Aku bergegas menangkap tubuhnya yang kehilangan pijakan. Hal pertama yang kurasakan adalah panas. ‘Sudah kuduga, anak ini demam’. Aku biarkan Tanie bersandar padaku dan mulai memanggil-manggil namanya. Aku sempat melihat Tanie mengerjapkan matanya dan menatapku dengan mata nanarnya untuk sesaat dan kembali kehilangan kesadaran.
‘Aduh anak ini menyusahkan, sudah tau ngak kuat begadang malah begadang demi tugas, AC nya dingin pula.’ gerutuku, teringat kamar yang begitu dingin tadi malam sambil mengangkat tubuh Tanie yang tak berdaya ke kasur. Aku menyelimutinya, dan mengecek suhu tubuhnya. ‘Hmm, 39°C lumayan tinggi’. Kuraih remot di atas nakas dan menyalakan penghangat ruangan. Setelah aku mengompresnya, aku menelpon temanku untuk membatalkan janji ketemu hari itu. Padahal Kevin sudah susah-susah membujuk sekretaris-ku untuk mengajakku main.
Rrrrr rrrrr
“Ya?” jawab suara di sebrang sana.
“Kevin mana?” tanyaku, mengenali suara di sebrang telepon bukanlah suara Kevin.
“Ada perlu apa, yah? Kevin lagi gak ada, kamu bisa titip pesan ke aku.”
“Arana, siapa yang nelpon?” suara pria yang kukenali menyahut dari kejauhan.
“Oh ini, ‘Temen sok sibuk’ nelpon.” jawab wanita itu dengan nada yang menyebalkan.
“Yo! Apaan?” Kevin menyapaku dengan gaya kasualnya.
“’Yo’, ndas lu? Buruan ganti nama kontak gua” hardikku tak terima di cap sok sibuk
“Ada apaan nelpon? Jangan bilang gak bisa ngumpul lagi?”
“Tanie sakit” aku acuh akan perkataannya to the point mengutarakan alasanku.
“Yang bener, lu alasan aja kali.” sahutnya tak percaya.
“Dia demam” jawabku cuek.
“Udahan, yah, gua sibuk” ucapku lagi memutuskan sambungan telpon, sebelum sambungan terputus aku sempat mendengar Kevin bilang akan datang. Terserah dia sajalah.
***
Tanie POV
Pusing, adalah hal pertama yang kurasakan saat sadar. Pusing yang luar biasa dan juga panas. Aku mencoba menggeliat untuk mencari udara yang lebih dingin, namun tak bisa. Perlahan kubuka mataku. Akhirnya aku tau kenapa aku merasa panas dan tak bisa bergerak. Lihatlah, Alfin yang berbaring memelukku, sudah tidak ada jarak lagi di antara tubuh kami kecuali selimut. Sepertinya Alfin terbangun karena aku menggeliat, dan sekarang mata kami bertemu di jarak yang berbahaya untuk jantung.
“Minggir, panas~” kataku dengan suara serak seraya mendorong dadanya menjauh. Sia-sia, Alfin bahkan bergeming disana.
Melihat usahaku itu, Alfin duduk dan menoleh padaku, dia bertanya apakah aku haus. Sebagai jawaban aku hanya bisa mengangguk dan menarik selimut untuk membenamkan kepalaku. Alfin bangkit dari kasur dengan meninggalkan kecupan pada puncak kepalaku yang tak tertutup selimut.
Alfin pun berlalu pergi dan mengambilkan aku segelas air dingin. Saat aku sedang meneguk air itu, seseorang di luar sana telah membunyikan bel pintu rumah kami. Alfin menatapku sebentar kemudian berlalu pergi untuk mengecek siapa orang yang bertamu kali ini. Aku samar-samar dapat mendengar percakapan mereka dan ada juga hal yang dengan jelas kudengar, “Istri sohib sendiri sakit masa ngk dijenguk”
‘Siapa pula yang istri sohib-nya,’ gerutuku tak terima. Tak lama setelah itu, aku tau siapa tamunya. Itu adalah Kevin, teman Alfin dan ada 2 gadis tetangga bersamanya.
Aku yang tak ingin ditemui siapa pun saat sakit, pun memutuskan pura-pura tidur saja. Tak lama kemudian, saat aku mulai terlelap aku mendengar seseorang masuk ke kamarku. Awalnya kupikir itu Alfin, tapi aku mendengar suaranya sedang berbincang dengan 2 gadis itu dari luar.
Apakah Kevin masuk ke kamarku? Apa sih yang Alfin lakukan di luar sana sampe temannya bisa masuk kamarnya begini.
Aku bisa dengar Kevin mendekat ke sisi kasurku. Aku masih diam dan pura-pura tidur. Hening sejenak, aku menduga dia duduk di sisi kasurku dan menatapku. Tapi, aku terlalu takut membuka mata dan memastikan hal itu, lebih tepatnya aku malas meladeni Kevin jika dia tau aku tak benar-benar tidur.
Tiba-tiba, aku merasa keningku dingin. Apa Kevin mengecek demamku? Setelah Kevin menjauhkan tangannya aku dapat merasakan hawa keberadaan yang mendekat ke arahku. ‘Dia mau ngapain, sih?’ batinku. Tapi takut untuk membuka mata. Entah apa yang di pikirkannya yang pasti dia sudah begitu dekat.
Bruk…!
“Aw!” Rintihnya, menoleh dan menjauh dariku. Diam-diam aku bernafas lega, jujur saja aku takut berdua saja dengan orang asing seperti tadi.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Aku tau itu suara Alfin, dan itu bernada ketus. Dia sepertinya tidak senang.
Belum sempat Kevin menjawab pertanyaan Alfin sudah berkata lagi, “Keluar ‘gih, 2 gadis itu mencarimu."
Setelah suara langkah Kevin menjauh. Alfin menutup pintu dan duduk di sisi kasur. Aku membuka mataku dengan takut-takut. Alfin menatapku dengan tatapan yang mengerikan, seakan-akan Alfin hendak melenyapkanku saat itu juga.
“Aku tau kau tidak tidur,” katanya bangkit berdiri dari sisi kasur, nada bicaranya terdengar sedikit kesal. Tapi kenapa? Mungkinkah itu hanya ilusi karena aku sedang sakit saja?
“A-aku takut.” kataku segera duduk dan meraih tangan yang hendak pergi.
“Ach!” Aku segera melepaskan tangannya dan berganti memegangi kepalaku yang rasanya hendak pecah akibat bangun secara tiba-tiba. Alfin menatapku yang kesakitan, dia berdecak pelan lalu kembali duduk. Alfin menolongku untuk kembali berbaring dengan baik.
“Apa yang kau takutkan?” tanyanya, bertahan pada posisinya dan menatap langsung mataku dari dekat dengan kedua lengannya di sisi kepalaku. Aku dapat mencium bau semerbak dari tubuhnya karna kedekatan kami. Bau yang sama dengan bau yang kucium sebelum hilang kesasadaran.
“...” aku tak menjawab dan hanya berpaling dari tatapannya. Aku tak tahu harus menjawab apa padanya.
Alfin yang melihat itu menjadi kesal dan memegangi sisi kepalaku agar kembali menatapnya.
“Jawab!” katanya dengan aksen yang sedikit membentak karena tak sabar. Kali ini Alfin nangkup pipiku sehingga aku tak dapat berpaling.
Jujur saja, aku tak tahu apa yang kutakutkan. Melihatnya yang menatapku dengan tatapan tajam itu membuat hatiku sakit. Mataku terasa panas dan air mataku mulai mengalir. Alfin yang kaget melihatku menitikkan air mata pun mendekapku.
***
Alfin POV
“Mana dia?” Kevin bertanya padaku setelahku persilahkan masuk
“Mungkin tidur di kamar.” jawabku acuh. Aku tau sekali tabiat temanku yang playboy satu ini. Saat Kevin tahu aku akan ditunangkan dengan Tanie oleh keluargaku, Kevin berkata, ‘Itu terlalu kolot, saat ini kita harus menentukan masa depan sendiri bukan karna di suruh oleh keluarga.’ Tapi, Kevin mengubah pendapatnya setelah bertemu Tanie.
Sebelum hari pertunanganku aku sudah beberapa kali bertemu dengan Tanie. Pertama kali aku bertemu Tanie adalah beberapa hari setelah Ayah memberitahuku bahwa aku akan ditunangkan dengan anak temannya. Jujur saja, Tanie terlihat seperti anak yang manis dan penurut. Saat itu, Tanie masih duduk di bangku kelas 3 SMA.
Setelah pertemuan pertama itu, Ayah sering menyuruhku untuk menjemput Tanie sekolah atau sekedar menyuruhku untuk mengunjungi kediaman Tanie. Pada setiap kedatanganku ke kediaman Tanie aku jarang bertemu dengannya. Seringkali yang menyambutku adalah Ibunya. Ibu Tanie banyak bercerita tentang Tanie. Pernah di suatu kunjunganku, aku hanya disambut oleh pembantu di rumah itu. Saat kutanyakan dimana Tuan rumah, pembantu itu berkata bahwa Nona Tanie sedang sakit dan Nyonya sedang merawatnya di kamarnya. Pembantu itu juga memberitahuku dimana kamar Tanie terletak. Hari itu, aku tahu bahwa Tanie memiliki tubuh yang lemah sejak kecil sehingga Ibu Tanie selalu khawatir setiap putrinya itu pulang terlambat dan sakit. Ibu Tanie banyak bercerita juga hari itu, dia berkata bahwa dia sangat berharap aku akan menjaga putri kecil-nya dengan baik. Ibu Tanie juga memberitahu beberapa kebiasaan dan hal yang Tanie sukai, seperti susu cokelat hangat untuk sarapan. Saat aku mengetahui kebiasaan sarapannya itu, hal yang pertama kali terpikir olehku adalah betapa manisnya Tanie. Aku pun tak tahu, kenapa aku berpikir begitu hanya karena secangkir susu hangat.
Beberapa waktu sebelum hari pertunanganku dengan Tanie, kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk mengurus beberapa hal terkait pesta pertunangan, seperti gaun pesta Tanie dan tuxedo-ku, juga beberapa detail dekorasi. Seringnya kebersamaan kami membuat kami lebih mengenal satu sama lain. Aku mengetahui bahwa Tanie bukanlah seorang gadis yang benar-benar penurut, hanya saja dia pemalu dan tak tahu harus berbuat apa dalam berbagai situasi. Aku sempat berpikir bagaimana orang seperti Tanie dapat hidup di dunia ini.
Pada hari pertunangan kami, Kevin datang dan berkata padaku bahwa dia menarik kembali perkataannya tentang perjodohanku, dia berkata bahwa dia jatuh cinta pandang pertama Tanie. Aku sempat tak percaya apa yang dikatakan temanku yang satu itu tapi menilik dari sifat playboynya gadis mana pun dapat menjadi makanannya dan aku tak akan membiarkan Tanie menjadi salah satunya.
Siang itu, Kevin berkunjung ke rumahku karena aku memberitahunya Tanie terserang demam. Dia berdalih bahwa istri sohibnya sakit dan harus menjenguknya, tapi aku tahu betul dia masih menyukai Tanie. Setelah pernikahanku dengan Tanie, tepat setelah kelulusan SMA Tanie, dia berkata padaku untuk menjaga Tanie dengan baik, tapi bukan itu poin pentingnya. Dia juga berkata bahwa saat Tanie berpaling dariku maka dia akan berdiri di sana. Tanie adalah gadis yang polos dan tulus walaupun agak ketus, dia tak akan berpaling apalagi berselingkuh dariku. Meski aku mengetahui hal itu, perkataan Kevin tetap menggangguku.
Saat kami asyik berbincang di ruang tamu, Kevin bilang dia ingin meminjam toilet. Ini bukan pertama kalinya dia ke rumah kami, aku tak perlu menunjukkan jalan padanya Alfin bisa pergi ke sana sendiri.
“Apakah Tanie sakit?” tanya Arana padaku begitu Kevin hilang dari pandangan kami
“Iya, tadi Kevin berkata pada kami bahwa Tanie sakit.” sambung Helen menginginkan perhatianku
“Iya, dia demam” jawabku seadanya. Kedua gadis itu saling pandang dan tersenyum satu sama lain.
“Apa kamu tahu cara menyembuhkan demam?” tanya Arana masih dengan senyumnya, senyum yang begitu menggangguku oleh hal sirat yang disimpannya.
“Tentu saja aku tahu, apa maksudmu bertanya seperti itu?” aku kesal akan pertanyaannya. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Apa aku terlihat begitu bodoh sampai tidak mengetahui hal yang umum begitu?
“Apakah kau benar-benar yakin sudah melakukannya?” ucap gadis satunya.
“Tentu saja, Aku menyelimutinya dan mengompresnya juga menghangatkanya. Apa lagi?”
Kedua gadis itu kembali saling tatap dan tertawa. Mereka menatapku dan dengan bergantian berkata, “Apakah kau tahu, apa cara paling efektif untuk menghilangkan demam seseorang? Hal yang kau tidak tahu tapi Kevin tahu.”
Mendengar hal itu aku merasa ada hal yang ganjil, “Apa?” tanyaku penasaran.
“Kissing” jawab mereka bersama
“Kau dapat menciumnya untuk mengambil penyakitnya.” jelas Helen
Aku terdiam dan menyadari kepergian Kevin yang terlalu lama. Aku segera bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan ruang tamu. Sepeninggalku dari ruang tamu aku dapat mendengar kedua gadis itu tertawa, sepertinya mereka sedang mengode akan sesuatu. Aku melihat pintu kamarku sedikit terbuka, saat kuintip dugaanku ternyata benar. Kevin ada di kamarku, dan lihatlah apa yang sedang dia lakukan. Apa dia hendak mencium Tanie-ku? Tanie yang bahkan belum pernah kusentuh? Aku dengan cepat menilai situasi dan meraih buku di atas meja baca, aku memasuki kamar dan memukul kepala bajingan yang hendak mencicipi Tanie-ku. Dia menoleh padaku dan segera bangkit berdiri menjauhi Tanie.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanyaku sebelum Kevin sempat protes. Aku berusaha agar terlihat setenang mungkin menghadapi situasi ini.
“Keluar sana,” usirku, “Kedua gadis itu mencarimu,” tambahku, tanpa berkata apa-apa lagi dia segera meninggalkan kamarku. Aku merapatkan pintu kamar setelah Kevin pergi, aku letakkan kembali buku Tanie di atas meja baca dan kupandangi Tanie. Begitu melihat Tanie, aku tahu dia tidak benar-benar sedang tidur. Tanie adalah gadis yang jujur, sangat mudah bagiku untuk mengetahui kebohongannya dan itu membuatku geram.
Aku duduk di sisi kasur tempat Tanie berbaring. Aku menatapnya dengan kesal. ‘Kenapa dia membiarkan dirinya hampir dicium oleh Kevin? Apakah dia tak mennghargaiku sebagai pasangannya? Apa yang membuatnya tetap diam seperti itu?’
Tanie pun membuka mata, ‘Apakah kau sudah lelah berpura-pura? Kenapa tak kau lanjutkan saja? Lanjutkan saja tidur indahmu itu sampai dicium pangeranmu.’ batinku kesal. Aku dapat melihat mata hitam dan bulat Tanie yang dalam dan indah. Aku senang memandanginya, tapi entah kenapa aku kesal melihatnya sekarang. Mata yang begitu polos itu seperti mempermainkan perasaanku.
“Aku tahu kau tidak benar-benar tidur tadi.” aku bangkit berdiri dan meninggalkan Tanie untuk kembali beristirahat, aku benci membayang mata itu akan memandang orang lain dan hanya orang itu, aku tak ingin membaginya, aku hanya ingin dia melihatku, untukku seorang.
“A-aku takut.” katanya menahan tanganku dengan kedua tangannya yang panas dan kemerahan.
Aku menoleh, “Maaf,” katanya lagi. Aku hanya diam memandangi tangannya yang menahanku. Kemudian, dengan cepat dia menarik tangannya dan memegangi kepalanya dengan kesakitan. ‘Ah, kenapa gadis ini selalu memaksakan diri begini? Seharusnya dia tidak tiba-tiba duduk begitu.’ Aku tak tega melihatnya menahan sakit begitu, aku membaringkan dengan lembut. Tapi, aku tak segera menjauhinya.
Aku masih penasaran apa maksud dari perkataannya padaku itu. ‘Takut? Apa yang dia takutkan di rumahnya sendiri? Apa dia takut pada Kevin?’ aku membatin. Aku menatap mata hitam Tanie dalam-dalam, mata itu lebih indah dari jarak yang dekat ini.
“Apa yang kau takutkan?” tanyaku membuka suara, aku lihat Tanie tak nyaman dengan posisiku di atasnya. Dia enggan menjawab dan memaling wajahnya dariku.
Aku menangkup pipi putihnya yang kemerahan dan mulus itu guna agar dia tak memalingkan wajahnya dariku. “Jawab” pintaku lebih tegas.
‘Kenapa kau tak mau menjawab, Tanie? Apa yang kau takutkan? Aku tak akan tahu apa yang kau takutkan kalau kau tidak memberitahuku. Kenapa kau begitu enggan memberitahuku?’ ditengah tuntutanku yang membatin. Aku melihat air matanya berlinang di mata indahnya itu. Tanie menitik air mata.
Aku terkejut melihat itu dan menyadari kebodohanku, ‘Kenapa aku begitu bodoh dan tak menyadarinya? Aku sudah mengetahuinya.’ Aku melihat matanya tertutup dan air matanya deras mengalir. Aku mendekapnya dalam pelukanku.
‘Kenapa aku begitu bodoh dan tak menyadarinya? Tentu saja Tanie ketakutan menghadapi Kevin yang orang asing baginya walaupun dia adalah teman dekatku.’ Tanie adalah gadisku yang pemalu, meski dia terlihat kalem di depan umum, dia menyimpan ketakutan di dalam hati kecilnya.
“Maaf, Tanie. Maafkan aku yang telah membuatmu takut.” aku terus berbisik meminta maaf padanya. Aku telah melanggar salah satu janjiku pada Ibu Tanie hari ini. Tanie tak mampu menjawabku, dia hanya sesegukan di sela tangisnya hingga akhirnya jatuh tertidur dipelukanku karena kelelahan.
Aku yang mendengar tangis Tanie mereda hanya dapat mengelus rambut hitam Tanie yang panjang. Saat aku tahu Tanie jatuh terlelap karna kelelahan, aku tak segera bangkit dari posisiku. Aku masih ingin mendekap tubuh Tanie-ku ini lebih lama.
***
Kevin POV
Teman-teman kampusku berkata bahwa aku adalah seorang playboy. Pada dasarnya, aku hanya tak ingin menyia-nyiakan ciptaan indah Tuhan. Aku bergaul dengan banyak wanita tanpa memilih-milih mereka. Aku tahu mereka bukanlah wanita yang akan kunikahi kelak, jadi aku tak pernah berhubungan terlalu jauh dengan satu wanita.
‘Alfin’ adalah salah satu teman dekatku saat di kampus. Kami sudah saling kenal sejak SMA. Suatu hari, Alfin bertanya padaku bagaimana pendapatku soal pernikahan yang dijodohkan. Itu agak ganjil bagiku yang dengan sesuka hati memilih wanita yang hendak kukencani dan Alfin juga bukan orang sering bergaul dengan wanita. Alfin berkata bahwa keluarganya akan menjodohkannya dengan seorang gadis yang belum pernah Alfin temui sebelumnya, dan itu terdengar tolol bagiku.
Aku pertama kali bertemu gadis itu, Tanie secara langsung adalah saat pesta pertunangan Alfin. Aku kaget dan takjub, aku mengenal begitu banyak wanita tapi aku tak ada yang memiliki hal yang Tanie miliki. Di saat aku melihat Tanie hari itu, aku tahu bahwa sohibku adalah orang beruntung yang dapat memiliki Tanie. Hari itu, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pandang pertama pada seorang gadis. Dalam sekali pandang, aku tahu Tanie adalah gadis polos dan manis, sepertinya Alfin juga penurut.
Siang ini, saat aku tahu Tanie sakit dari Alfin, aku merasa sangat khawatir. Pasalnya, Alfin pernah berkata padaku bahwa Tanie memiliki tubuh yang lemah dan tak tahan dingin. Ingin rasanya aku segera menghampirinya dan memeluknya agar tak kembali pada Alfin. Aku berpikir mungkin tak apa-apa bila aku menjenguknya. Dengan bersegera aku menyelesaikan urusanku dan mengajak 2 teman wanitaku yang mengenal Tanie untuk menjenguknya siang itu.
Dalam perjalanan kami banyak berbincang tentang berbagai hal termasuk tentang Tanie. Dua teman wanitaku yang kembar itu tahu bahwa aku menyukai Tanie dan tak dapat berpaling. Begitu pula Tanie, semua orang yang mengenal Tanie dan Alfin tahu bahwa tak Tanie tak pernah memandang orang lain selain Alfin. Jujur saja, fakta itu agak menyakitiku tapi aku bersyukur karna sahabatku yang sok sibuk itu dicintai dengan tulus oleh seorang wanita.
Di rumah Alfin, kami membicarakan banyak tentang masa lalu kami. Saat datang bertamu ke rumahnya, aku sempat bertanya padanya tentang dimana Tanie dan keadaannya. Tampak dari gelagatnya bahwa aku tak dapat bertemu dengan Tanie. Sedari awal niatku adalah untuk menjenguk Tanie, aku berdalih padanya meminjam toilet dan melihat Tanie terlelap di kamar mereka.
Aku tak dapat menahan godaan untuk tak mendekati Tanie yang tidur dengan damai. Aku memasuki kamar mereka dan duduk di atas lantai di sisi kasur Tanie. Aku sedang memandangi Tanie yang terlelap ketika aku melihat Tanie mengerutkan keningnya. ‘Apakah kau bermimpi buruk?’ tanyaku di dalam hati. Aku menyentuh dahi Tanie yang terasa panas, ‘Dia pasti kesakitan?’ lagi-lagi aku membatin.
Aku ingin mengambil mengambil demam ini dari Tanie. Aku tidak tega melihat dia kesakitan seperti ini. Aku lagi-lagi memandangi kecantikan Tanie, lihatlah bibir yang merah ranum itu ‘Apakah Alfin pernah mencicipinya? Apakah aku boleh mencicipinya?’ Memikirkan itu saja, cukup bagiku untuk mendekatkan bibirku padanya dan memotong jarak. Saat aku hendak mencium Tanie, aku terhenti karna mengingat Alfin. Sebuah buku pun menghantam kepala bagian belakangku, tidak begitu keras namun mengejutkanku. Alfin melihatku dengan sinis di atas sana, aku berdiri dan hendak mengatakan sesuatu.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tapi, Alfin terlebih dahulu bertanya padaku. Aku melihatnya begitu kesal, mungkinkah karena posisi yang bisa membuat orang salah paham itu. Apa mungkin Alfin cemburu? Haha, kalau itu benar, aku tidak akan berdalih lagi. “Keluar sana, kedua gadis itu mencarimu” tanpa berkata apa-apa lagi aku keluar menemui 2 teman wanitaku dan mendapati mereka sedang asyik bercakap-cakap ria. Sepertinya, mereka bahkan tak terlalu peduli akan kedatanganku. Aku memikirkan lagi situasi yang tadi kuhadapi, ‘Apakah Tanie baik-baik saja?’ batinku lagi.
Aku kembali ke kamar mereka untuk melihat apa yang Alfin lakukan terhadap Tanie, ‘Semoga dia tak salah paham akan hal tadi.’ dalam hati aku berharap. Dari luar kamar mereka aku dengan samar dapat mendengar Alfin mempertanyakan sesuatu pada Tanie. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Tanie tapi aku tahu sohibku sedang cemburu. Saat aku hendak pergi dari meninggal mereka, aku sempat mendengar suara isak tangis Tanie. Alfin tak mengunci kamarnya, aku mengintip sedikit dari celah pintu. Aku mendapati Tanie tersegu-segu menangis dalam dekapan Alfin.
Apa yang aku pikirkan? Tanie pasti menangis karena aku menakutinya dengan tiba-tiba duduk di sisi seperti tadi. Aku sadar Tanie sebenarnya tidak benar-benar tidur, karena dia beringsut menjauh saat aku hendak mendekatinya tadi. Seharusnya aku tahu bahwa Tanie merasa asing padaku walaupun aku adalah sahabat dekat suaminya. Aku harus benar-benar pergi saat itu juga karna disana Alfin yang selalu berada di sisi Tanie untuk mengambil penyakitnya.
‘Seharusnya aku tahu akan tempatku dan tidak mengganggu’