Namaku Husna, menjadi mahasiswa merupakan hal yang menyenangkan dan membanggakan bagi sebagian orang tidak terkecuali diriku. Bagaimana tidak, selama masih SMA kita selalu diikat oleh aturan dan seragam yang melekat di badan tanpa harus bisa menjadi diri sendiri, itu menurut pemikiranku. Banyak yang mengatakan masa-masa indah itu saat SMA, bagiku tidak. Mengapa? Ya, selama aku SMA aku merasa dibully dan dimanfaatkan. Terbukti, saat ini teman-teman SMAku tidak perduli dengan diriku, tidak pernah mengundangku dalam event-event penting dimana saat teman-teman SMAku berkumpul, tidak pernah saling memberikan kabar, padahal kita berteman di akun facebook dan bahkan tidak pernah menyapaku. Kita akan kembali ke masa SMA dulu sebelum kita membahasa bagaimana indahnya hidup menjadi mahasiswa.
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di SMA Aku merasa sedih, karena tidak bisa bersekolah dengan sahabatku semasa kecil, Edie sekaligus teman-teman baikku di kampung. Hal ini terpaksa aku lakukan, karena orang tuaku tidak mampu untuk membiayai pendidikanku jika aku bersekolah di salah satu SMA favorit di kota. Di sekolah, aku masuk di kelas unggulan, kelas X 1. Tidak ada seorang pun yang aku kenal di kelas tersebut. Ya, hanya aku saja berasal dari SMP di kampungku. Singkat cerita aku akrab dengan beberapa orang yang tidak harus kusebutkan namanya. Aku merasa bahwa aku merupakan bagian dari mereka, kegiatan apa pun yang mereka lakukan, aku pun terlibat. Hingga suatu hari, aku sadar bahwa mereka tidak pernah menganggapku ada. Ya, ketika mereka mengumumkan anggota genk mereka dan hanya berjumlah 10 orang sedangkan diriku tidak termasuk. Padahal, aku selalu bersama mereka. Namun ku tepis rasa sedihku itu dan tetap bergaul dengan mereka. Aku merasa tidak punya teman yang begitu akrab denganku selama SMA. Mereka semua dekat denganku ketika ada PR dan saat ulangan, terutama ulangan Biologi, Bahasa Indonesia serta Agama. Mereka tidak pernah mengajakku foto bersama, ya karena mukaku jelek, gigi kelinciku nongol mereka menyebutnya monyong. Mereka semua punya nama panggilan untukku, ya "JABU". Nama itu masih melekat sampai sekarang, aku tidak tahu apakah aku harus bangga atau tidak. Singkat cerita, akhirnya aku tamat SMA. Kalian tidak akan pernah menemukan fotoku bersama teman-teman. Jika ada mungkin hanya sekedar lewat saja. Aku cuma menjadi tukang foto bagi mereka. Masa SMA yang begitu suram dan tidak bahagia.
-----
Salah satu Universitas di Kota Palopo menjadi tempatku untuk menyelesaikan pendidikan strata satu. Sebenarnya, aku terpaksa dan benci kuliah di kampus ini. Semua teman-temanku saat SMP berkuliah di luar daerah seperti di Makassar dan Bandung begitu pun juga teman-teman SMA ku. Hal yang paling menyedihkan buatku adalah kenapa untuk kedua kalinya aku tidak bisa bersekolah dengan sahabatku. Aku benci dengan kehidupan miskin. Karena kemiskinanlah aku tidak bisa bersekolah di tempat yang aku impikan. Lagi-lagi aku melawan rasa sedihku dengan tetap semangat karena dimana pun aku kuliah baik di PTN atau PTS semua tergantung dari diriku sendiri jika ingin menjadi yang terbaik.
Masih membekas dalam memori ingatanku, saat pertama kali aku mendaftarkan diri ke Kampus ini. Aku meminta sahabatku Edie untuk mengantarku mendaftarkan diri. Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, namun berhubung aku tidak tahu jalan dan takut tersesat, akhirnya aku meminta pertolongan sahabatku itu. Ada rasa bahagia saat aku menerima formulir pendaftaran mahasiswa baru. Aku mengcopy formulir tersebut. Kalian pasti bertanya untuk apa di copy?. He….he…he… aku sangat hati-hati mengisi formulirnya, karena formulir tersebut adalah harta berharga bagiku. Bagaimana tidak, biaya untuk mengambil formulir tersebut Rp. 100.000. Uang segitu sangatlah banyak bagiku dan mendapatkannya pun dengan susah payah. Aku harus bekerja mencuci ubi jalar yang hanya dihargai Rp. 2.000/karung. Makanya, aku sangat berhati-hati dengan formulir tersebut. Aku mengisi biodataku pada formulir yang aku copy. Ada dua pilihan jurusan, pilihan pertama aku memilih Biologi MIPA, sebenarnya aku sangat ingin memilih Biologi Pendidikan karena aku ingin menjadi seorang pengajar. Tetapi, tidak menjadi masalah, yang penting aku belajar Biologi. Jika ditanya kenapa aku memilih Biologi? Ya, karena sejak SD aku suka ilmu pengetahuan alam dan sangat mencintai alam. Alam ini terlalu banyak menyimpan teka-teki. Selain itu aku selalu mengikuti lomba IPA meskipun hanya satu kali aku menyabet juara 1 tingkat kecamatan waktu SD dan itu sudah membuatku bangga. Ada memori indah saat menjadi juara, saat aku menerima hadiah sebesar Rp. 150.000. Uang yang aku peroleh tersebut aku berikan kepada kedua orang tuaku, sebagai bayaran sekaligus hadiah agar aku mendapatkan satu ciuman hangat dari Bapakku. Sampai sekarang, ketika aku mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku, aku selalu memberikan sebagian kepada kedua orang tuaku. Meskipun tidak banyak, yang terpenting adalah aku masih melihat senyum kedua orang tuaku. Senyum yang membuatku semangat dan tegar menjalani hidup (he..he.. kalau ngomongin orang tua, aku bawaannya pengen mewek binti nangis, cengeng sedikit nggak apa-apa yah). Ada hal yang menjadi pelajaran dan catatan terpenting bagi mahasiswa baru sekarang saat ingin menentukan jurusan yang di pilih yaitu pilihlah jurusan sesuai dengan keinginan hatimu bukan keinginan egomu.
Lanjut cerita, pilihan kedua aku memilih Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra. Mengapa? Karena aku suka menulis puisi sejak aku masih SD, bahkan aku pernah menciptakan sebuah puisi untuk temanku yang aku beri judul "Nur Hayati". Puisi yang aku tulis tangan dengan hiasan lukisan wajah temanku itu aku tempel di dinding ruang tamuku. Oh, ya aku juga hoby menggambar, meskipun aku hanya bisa menggambar saat melihat objek bukan lewat imajinasiku. Kalau di tanya, apakah aku masih mengingat puisi tersebut? Jawabannya hanya satu baris ku tahu.Puisi ini aku buat saat aku masih duduk di kelas 2 SD
“Kau berjalan kaki ke sekolah
Menyusuri sawah, melintasi ladang
Hujan dan panas tidak menjadi rintangan
Demi sekolah menjadi tujuan
Nur hayati
Gadis kecil dari desa
Ramah, sopan dan bersahaja
Namun teguh mengejar cita-cita
Untuk menjadi manusia yang berguna
Selain puisi aku juga suka menuliskan cerita. Ketika waktu SD, aku selalu menuliskan cerita lewat buku diaryku, tetapi menggunakan kata sandi. Buku diary itu sudah tidak ada sekarang. Kemungkinan besar hilang saat rumahku direnovasi.
Aku menunjukkan kedua pilihaku tersebut kepada Pak Hartojo, guru sekaligus ayah angkatku. Walaupun tanpa surat adopsi dan sebuah pengakuan, aku menganggap beliau tetap sebagai ayahku. Pak Hartojo kurang setuju dengan pilihan keduaku, karena menurut beliau jurusan yang aku pilih itu bukan sastra melainkan pendidikan. Selain itu, tanpa aku kuliah di jurusan Bahasa Indonesia, aku tetap bisa menulis dan berkarya. Benar juga, aku pun mengikuti perkataan beliau. Lalu aku mengganti pilihan keduaku dengan Kimia. Meskipun aku tidak terlalu bisa dengan kimia, namun entah kenapa aku sangat menyukainya. Akhirnya kukembalikan formulir tersebut ke BAAK kampus.
-----
Hari demi hari berlalu, alhamdulillah aku lolos dipilihan pertamaku. Ada satu hal yang menarik saat aku mendaftar ulang. Ketika itu aku berdiri di depan papan pengumuman kampus. Secara tidak sengaja aku membaca pengumuman tentang nama finalis mahasiswa teladan. Mataku terpaku pada foto wanita berkerudung hitam. Di bawahnya terpampang nama
“RINI ANGRAENI, FINALIS MAHASISWA TELADAN PRODI BIOLOGI”
Senyumku pun mengembang, lalu dengan tiba-tiba aku berkata kepada teman-temanku
“Kamu lihat senior ini?” kataku sambil menunjuk foto kak Rini
“Hmmm, memang kenapa dengan senior itu? Kamu mengenalnya?” tanya temanku
“Tidak, aku tidak mengenalnya sama sekali, tetapi suatu hari nanti aku yang akan menggantikan posisi senior ini untuk menjadi finalis, bukan hanya finalis tetapi akulah yang akan menjadi mahasiswa teladan” kataku dengan mantap
“Ha…ha… ngimpi kamu Husna, emang kamu tahu bagaimana caranya jadi mahasiswa teladan”? tanya temanku lagi
“Tidak sih, tetapi aku akan cari tahu, lihat saja nanti” jawabku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Perkataan yang pernah aku ucapkan ketika aku mendaftar ulang tersebut akhirnya menjadi kenyataan (Sabar ya..nanti ada episode tersendiri untuk menceritakannya)
----
Seperti mahasiswa baru pada umumnya, aku mengikuti kegiatan ospek yang diadakan oleh mahasiswa senior di kampusku. Kegiatan ospek tersebut dinamakan OMB (Orientasi Mahasiswa Baru). Aku sering mendengar bahwa pada saat ospek itu, mahasiswa senior akan melakukan tindakan kejam kepada juniornya. Aku tidak merasa takut, justru aku ingin mencoba dan membuktikannya. Aku dan beberapa orang temanku mengikuti serangkaian kegiatan seperti pra OMB dan pengambilan atribut OMB. Beberapa atribut OMB yang masih aku ingat adalah baju OMB warna hitam (sudah dibagikan sama panitia), tali rafia yang dibuat rumbai-rumbai warna sesuai dengan fakultas yaitu Biru (mirip pakaian orang dayak, harganya Rp.5.000), topi petani di cat merah putih (harga Rp. 20.000), tas kardus warna fakultas (Rp. 10.000), ember, kain lap dan sabun cair (Rp. 20.000), kaos kaki warna putih dan biru (20.000), sapu lidi (Rp. 5.000), pita warna merah dan putih (Rp.10.000). Catatan untuk pembaca : salah satu perploncoan yang dilakukan oleh mahasiswa senior adalah atribut yang tidak ada guna dan maknanya diminta untuk dipakai saat OMB, dan seharusnya mahasiswa senior tidak usah melakukan jual beli seperti ini, kasihan kan mahasiswa barunya. Beberapa barang yang seharusnya tidak ada adalah rumbai-rumbai, kaos kaki, pita merah putih, ember, kain lap dan sabun cair. Karena pada saat OMB tidak dipergunakan sama sekali. Lanjut lagi ceritanya yuk…..
Pada saat pelaksanaan OMB tersebut, ternyata pihak kampus tidak menyetujuinya dan banyak di edarkan pernyataan bahwa OMB tidak penting dan bagi mahasiswa baru yang mengikutinya akan dikeluarkan. Jiaaaaaaaahhh, hello pak…. aku sudah ngabisin duit 4 juta lebih untuk biaya awal kuliah plus atribut OMB dan keperluanku saat OMB, dan bapak mau mengeluarkan mahasiswa baru dengan begitu mudahnya.
Hari pertama pelaksanaan OMB, aku harus ke kampus jam 3 subuh. Untunglah, jarak kampus dan kos sepupuku berdekatan. Jadi aku tidak khawatir untuk terlambat. Hari pertama sangat menyenangkan. Aku berada di gugus 10, dengan pendamping gugusku kak Musakkir Laiming dan Kak Beddu Ali.
Hari kedua pelaksanaan OMB, pihak birokrasi kampus datang untuk membubarkan kegiatan OMB. Mereka mengamcam untuk mengeluarkan mahasiswa baru dan lama jika terus mengikuti kegiatan OMB. Beberapa orang peserta meninggalkan kegiatan tersebut, namun aku tidak, justru aku mempengaruhi teman-temanku dengan mengatakan kepada mereka.
“Kalau kalian berhenti sekarang, kita akan rugi. Sudah berapa banyak uang dan waktu yang kita gunakan untuk kegiatan ini? Ayo nikmati saja kegiatan ini, anggap ini semua adalah pengalaman paling menarik yang akan kamu ceritakan suatu hari nanti. Kemarin kita sudah mendapatkan beberapa materi penting disini, banyak hal yang akan kita dapatkan jika kita terus mengikuti kegiatan ini” kataku membujuk teman-temanku.
Akhirnya semua teman-temanku setuju untuk tetap ikut kegiatan OMB. Lalu dengan di pandu oleh wakil presiden BEM kak Sumartono kami semua mengepalkan tinju tinggi-tinggi dan mengucapkan ikrar SUMPAH MAHASISWA INDONESIA
“Sumpah Mahasiswa Indonesia”
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbangsa yang satu bangsa yang patuh akan keadilan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa yang satu, bahasa tanpa kebohongan
Merinding bulu kudukku saat kuucapkan ikrar sumpah mahasiswa tersebut. Ada sesuatu yang merasuk hingga ke dalam relung hatiku. Air mataku menetes dan seluruh tubuhku bergetar.
Hari ketiga kegiatan OMB, aku tetap berantusias untuk mengikutinya. Banyak materi baru yang aku dapatkan, diantaranya ada Student Government, Nilai-nilai identitas mahasiswa, sejarah pergerakan mahasiswa dan Tri dharma mahasiswa dan perguruan tinggi. Aku sangat aktif dalam kegiatan OMB ini, suka bertanya kepada pemateri, menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan hingga menulis puisi tentang kegiatan OMB. Ada hal yang tidak pernah aku lupakan dalam kegiatan tersebut hingga saat ini. Ketika itu steeringnya adalah Kak Herinda Mardin, wanita cantik dengan jilbab panjangnya. Kak Herinda adalah satu-satunya steering wanita pada kegiatan tersebut. Kak Herinda bertanya kepada peserta OMB tentang pacaran, apakah setuju atau tidak. Dengan tegasnya, aku mengacungkan jempol dan berkata TIDAK SETUJU. Hanya ada 3 orang peserta yang mengikutiku sedangkan peserta lainnya berkata setuju. Maka, kak Herinda bertanya mengapa aku tidak setuju dengan pacaran. Karena aku telah berkata TIDAK , maka dengan sangat terpaksa aku menjawab.
“Pacaran itu tidak ada dalam ajaran Rasulullah, saya mengakui bahwa saya pernah pacaran dan bahkan jika ada laki-laki yang menyukai saya, saya merasa senang. Rasa suka terhadap lawan jenis itu adalah fitrah dan manusia tidak akan mungkin menolaknya. Namun, rasa suka tersebut tidaklah harus disampaikan dengan cara berpacaran. Pacaran itu banyak negatifnya dibandingkan dengan positifnya. Apa negatifnya? Salah satunya adalah berbuat maksiat. Tidak ada istilah berpacaran secara islami. Pacaran itu mendekatkan diri pada zina. Kalau kalian mengatakan bahwa pacar itu penyemangat hidup kita, masih ada orang yang menyemangati kita tanpa pamrih, ya mereka adalah orang tua kita. Pacar itu bisa membantu kita dalam banyak hal. Masih ada kok sahabat dan teman-teman kalian. Perbandingan antara manfaat dan ruginya pacaran adalah 1:1000” Jawabku. Banyak peserta yang menatapku dengan sinis. Mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Melihat kondisiku yang disudutkan maka salah seorang panitia OMB bertanya kepada peserta yang setuju dengan pacaran. Lalu peserta itu pun menjawab
“ Berbuat maksiat atau tidak itu tergantung dari individunya yang penting bisa menjaga diri. Meskipun tidak pacaran, kalau mereka ingin maksiat bisa kan? Pacaran itu banyak manfaatnya diantaranya ada teman berbagi, teman curhat, jalan-jalan, saling menyemangati dan masih banyak lagi”