Di bawah hujan kita bertemu dan di bawah hujan pula kita berpisah.
***
Aku mematut diriku di depan cermin dan memastikan seragam sekolah yang ku pakai sudah rapi.
"Na, kamu sudah siap?" Seorang perempuan paruh baya berteriak di depan kamar ku. Siapa lagi kalau bukan perempuan terbaik di dunia ini, Mama.
"Sebentar Ma." Aku mengambil ransel lalu keluar dari kamar. Mama tersenyum menatap ku.
Kami berjalan menuju meja makan lalu menikmati sarapan.
"Nana pergi dulu ya, Ma," kata ku setelah aku menghabiskan sarapan dan susu.
"Bawa payung ya. Takutnya nanti hujan."
Aku melihat ke luar jendela. Sedikit mendung sih tapi tidak mungkin hujan. Begitulah yang ada di benakku. Aku berpamitan pada Mama dan mengabaikan perintahnya tadi.
Gluduk!
Byur!
Hujan pun turun. Aku mendengus kesal lalu berlari menuju halte.
"Harusnya tadi aku mendengarkan perkataan Mama," gumam ku lalu aku duduk di bangku halte.
"Permisi." Seorang lelaki berdiri di hadapan ku.
Aku menoleh padanya.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya nya.
Aku menatap ke sekelilingku. Hanya aku yang ada disana. Kenapa dia harus meminta izin pada ku.
"Silakan."
Lelaki itu tersenyum lalu duduk tak jauh dari ku.
"Hujannya deras ya." Lelaki itu memulai pembicaraan di antara kami.
"Iya," kata ku. Aku teringat perkataan Mama agar tidak terlalu percaya dengan orang asing.
"Kamu sekolah di SMA Mulia ya?" tanyanya lagi.
"Darimana kamu tahu?" tanyaku terkejut.
"Itu." Dia menunjuk lengan baju kiriku.
Aku tersenyum dan kembali menatap ke jalanan berharap hujan segera berhenti.
"Allen Yoan Anggara. Nama kamu siapa?" tanya nya sambil mengulurkan tangannya.
Aku menatap nya dengan ragu.
"Tidak perlu takut. Aku bukan orang jahat." Dia tersenyum dan seketika hatiku berdebar karena senyumannya.
Aku pun membalas uluran tangannya. "Reyna Azalea."
"Nama yang cantik."
"Terima kasih."
Kami larut dalam kesibukan masing - masing. Dia dengan ponselnya dan aku dengan harapan, ayolah hujan segera berhenti.
Tak lama kemudian, hujan pun mulai reda. Ku lihat dia masih sibuk dengan dunianya. Aku pun berlari kecil meninggalkannya.
Aku menstabilkan napas ku begitu sampai di depan gerbang sekolah. Aku masih belum percaya jika lelaki tadi orang baik - baik.
"Kalian tahu tidak, hari ini ada guru yang magang di sekolah ini." Lisa, teman sebangku ku bercerita dengan semangat. Anggi dan Dian yang duduk di belakang ku mendengarkan dengan seksama.
"Laki - laki atau perempuan?" tanya Anggi yang tidak kalah semangat.
"Aku dengar sih laki - laki."
"Kalau laki - laki berarti usia nya tidak jauh berbeda dong dengan kita," kata Dian.
"Bagaimana kalau kita jodohkan dengan sahabat kita yang jomblo ini?"
"Hei, hei, siapa yang jomblo?" tanya ku sewot karena aku berpikir pertanyaan itu pasti untukku.
"Kamu!" Lisa, Anggi dan Dian tertawa.
"Siapa bilang aku jomblo? Aku juga punya pacar tahu." Aku tidak mau kalah dengan ketiga sahabatku yang sudah punya pasangan masing - masing.
"Oh ya, siapa?" tanya Lisa.
"Namanya Allen Yoan Anggara. Orangnya tampan."
"Berarti saya tampan ya?" Seorang lelaki yang suaranya tidak asing berbicara padaku.
Aku terkejut dan perlahan menoleh ke belakang. "Dia lelaki yang tadi di halte?" gumam ku.
Lelaki itu berjalan menuju meja guru dan duduk di kursi. Setelah kami semua diam, dia pun berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Allen, saya mahasiswa dari Universitas Negeri dan akan mengajar pelajaran Sejarah selama 3 bulan di kelas kalian.
Murid perempuan yang ada dikelas ku bersorak kegirangan. Bagaimana tidak, ada lelaki tampan yang akan mengajar di kelas ku. Ya setelah ku perhatikan, dia cukup tampan sih.
"Kamu, ikut saya ke ruangan." Allen berkata dengan serius padaku. Dengan terpaksa aku pun mengikutinya.
"Ada apa ya Pak?" tanya ku ketika kami sampai di ruangannya. "Hebat juga dia baru magang satu hari sudah punya ruangan sendiri," gumam ku.
"Jangan panggil saya Pak. Kamu kan pacar saya."
"Ma...maaf Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu." Yang benar saja aku pacaran dengan dia.
"Tidak usah sungkan. Kebetulan saya juga jomblo."
"Maaf Pak. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, saya permisi dulu." Aku melangkahkan kaki ku dengan cepat. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi dari Allen.
***
Aku sedang asyik menonton acara tv kesukaan ku. Berada sendirian di rumah itu cukup seru karena aku bisa menguasai apa pun tanpa harus berebut dengan Mama atau adik lelaki ku.
Tok tok tok
"Siapa sih?" Aku kesal karena jika itu tamu nya Mama maka aku harus menemaninya hingga Mama pulang.
"Bapak!" teriak ku ketika mengetahui siapa yang datang berkunjung.
"Sudah saya bilang jangan panggil saya Bapak."
"Suka - suka saya dong. Tapi Bapak kok bisa tahu rumah saya?"
"Saya memintanya dari wali kelas mu. Ngomong - ngomong, kamu gak izinin saya masuk nih. Saya mau ketemu calon mertua."
"Duduk di luar!"
"Kamu kok galak sih sama pacar kamu sendiri." Allen mengerucutkan bibirnya dan pura - pura sedih.
"Nih anak kenapa sih? Benar - benar bencana. Kenapa sih aku bisa kepikiran bilang sama mereka kalau dia pacarku. Mana dia dengar lagi," gumam ku. Akhirnya Allen duduk di kursi teras dan aku mengambilkan minum untuknya. Bagaimana pun dia adalah guru ku dan aku tidak mau nilai ku sampai jatuh karena dia.
Tak lama kemudian, Mama dan adik lelaki ku pulang. Mereka tampak terkejut dengan kedatangan lelaki asing di rumah. Dengan sopan Allen mencium punggung tangan kanan Mama sambil memperkenalkan dirinya dan yang lebih mengesalkan lagi adalah dia benar - benar mengatakan pada keluarga ku kalau dia adalah pacar ku. Rasanya aku ingin tenggelam saja.
"Kenapa Allen tidak kamu suruh masuk?" tanya Mama.
Aku hanya mengangkat bahu ku. Allen benar - benar bisa mengambil hati adik dan Mama ku.
***
Sudah sebulan, aku dan Allen resmi pacaran. Besok adalah hari terakhir dia magang di sekolah ku dan hari ini aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya.
Setelah pulang sekolah, aku langsung menuju ke parkiran dan ku lihat Allen sudah duduk di motornya. Dia tersenyum begitu aku menghampirinya.
"Sudah memutuskan kita mau kemana?" tanya Allen sambil memberikan helm padaku.
Aku mengangguk lalu naik ke motor dan memeluknya dari belakang. Aku mengabaikan teriakan teman - teman yang menggoda ku.
Kami sampai di tujuan pertama yaitu salah satu rumah makan yang cukup terkenal di kota ku. Aku pikir kami harus mengisi perut terlebih dulu sebelum melakukan aktivitas yang nantinya pasti akan melelahkan.
Setelah selesai makan, kami menuju ke salah satu Mall untuk bermain timezone. Aku melihat raut wajah Allen yang sangat bahagia. Entah kenapa aku mulai berpikir kalau dia tidak pernah sebahagia ini. Bahkan selama satu bulan kami bersama, baru kali ini aku melihat kebahagiaan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku baru saja tiba di rumah. Aku mengembalikan helm pada Allen namun dia menolaknya.
"Untuk kamu."
"Helm nya untuk ku?" tanya ku.
Allen mengangguk. "Simpan baik - baik ya."
"Kamu ini ngomong apaan sih? Besok kamu jemput aku lagi kan?"
Allen kembali mengangguk disertai senyuman manisnya. "Aku pulang ya. Sampaikan salam ku untuk Mama dan Reyhan. Aku menyayangi mu Reyna Azalea." Allen tersenyum lagi kemudian memakai helm nya dan melaju meninggalkan rumah ku.
Sejujurnya ada perasaan tidak enak dalam hatiku. Allen tidak pernah mengatakan dia menyayangi ku dan bila aku bertanya padanya dia selalu mengalihkan pembicaraan ku. Aku menepis pikiran burukku dan masuk ke rumah.
Baru saja aku melangkahkan kaki ku menuju kamar, ponselku berbunyi. Aku melihat nama Allen tertera di layar. Aku segera mengangkat teleponnya.
"Kamu sudah sampai di rumah?" tanyaku.
"Nana, aku....menyayangi mu." Suara Allen terdengar lemah dan banyak keributan di sekelilingnya. Bahkan aku mendengar suara ambulance.
"Allen, kamu dimana? Aku akan kesana." Aku benar - benar panik dan langsung keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Mama yang masih sempat aku dengar sebelum aku menerobos keluar dari rumah dan menyusuri jalanan.
Hujan yang turun dari langit tak ku hiraukan. Aku terus berlari dan tiba - tiba aku teringat saat pertama kali aku bertemu dengan Allen. Bukankah saat itu juga hujan?
"Allen, jawab aku! Kamu dimana?" teriak ku di telepon.
"Aku menyayangi mu. Kamu juga menyayangiku?"
"Tentu saja aku menyayangi mu. Sekarang katakan kamu ada dimana?" Aku kembali berteriak.
"Na, aku sangat - sangat menyayangi mu. Maaf aku tidak bisa berada di sampingmu selamanya. Aku berdoa agar kamu selalu bahagia."
"Allen! Allen! Jawab aku! Kamu dimana?" Aku terus berteriak namun sudah tidak ada jawaban. Aku terus berlari sekuat tenaga hingga mata ku tertuju pada kerumunan orang - orang. Aku pun menghampirinya.
Tangisku pecah saat melihat lelaki yang sedang di angkat oleh beberapa petugas adalah Allen. Aku memaksa untuk memeluknya dan ku pikir ini adalah terakhir kalinya aku bisa melihatnya. Benar saja, keluarga Allen langsung membawa Allen ke peristirahatan terakhirnya keesokan paginya.
Mama Allen berkata bahwa Allen menderita penyakit leukimia. Dia senang karena selama tiga bulan terakhir Allen terlihat bahagia dan semangat menjalani pengobatannya. Dia berpikir akan ada keajaiban Allen bisa sembuh dari penyakitnya. Mama Allen tidak menyalahkan ku karena waktu itu Allen baru saja pulang dari rumah ku. Dia justru memeluk dan mengucapkan banyak terima kasih padaku karena aku sudah membuat Allen bahagia.
Aku memandang batu nisan yang bertuliskan nama lelaki yang aku sayangi. Lagi dan lagi aku menangis. Aku hanya diberikan tiga bulan kesempatan untuk bersamanya. Aku bersyukur karena aku tidak terlambat menerimanya. Aku bahagia karena dia bisa menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup ku.
"Na, ayo pulang!" Mama menepuk bahu ku. Aku tahu Mama dan adikku juga menangis.
Aku meninggalkan makam dengan langkah yang berat. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengannya.
***
Author POV
5 tahun kemudian...
Seorang gadis berjalan dengan langkah terburu - buru memasuki perusahaan.
"Semoga direktur yang baru belum datang. Bisa di pecat aku," gumam gadis itu.
Bruk!
"Maaf, maaf!" Gadis itu menundukkan kepalanya.
"Tidak apa - apa.
"Suara ini?" Gadis itu mengangkat kepalanya lalu terkejut.
"Allen!"
"Bagaimana kamu tahu nama saya Allen?" tanya lelaki itu bingung.
Gadis itu, yang tak lain adalah Reyna Azalea. Dia menangis. Lelaki di hadapannya ini benar - benar mirip dengan Allen.
"Kamu kenapa?" tanya nya.
"Kamu... Allen?"
"Iya, aku Allen. Allen Yoan Anggara."
Tangis Nana pecah. Bagaimana bisa wajah dan nama lelaki itu mirip dengan Allen.
"Apa kamu punya kembaran?" tanya Nana.
Lelaki itu menggeleng.
"Kamu... mirip dengan seseorang."
"Kata Mama, dulu ada seorang lelaki yang menyelamatkan Mama dan Papa. Tapi lelaki itu meninggal lalu Mama dan Papa memberikan aku nama yang sama dengan lelaki itu."
Nana tersenyum. Air mata masih membekas di pipinya. Entah kenapa seketika hatinya tenang.
"Allen! Terimakasih. Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi," gumamnya.
"Nama ku Reyna Azalea. Ayo kita berteman." Nana mengulurkan tangannya disertai senyuman.
Lelaki itu, Allen, dia tersenyum dan membalas uluran tangan Nana. "Ayo!" serunya.