Apa rasanya dipaksa menikah dengan seorang CEO yang kaya dan tampan? Alicia memiliki jawabannya. Wanita cantik itu mengalami sendiri kejadian tersebut.
Alicia dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Berbagai alasan diberikan oleh kedua orang tua Alicia. Sudah beberapa kali perjodohan untuk Alicia dilakukan namun selalu saja gagal. Alicia selalu mampu menggagalkan semua rencana perjodohan yang diupayakan oleh kedua orang tuanya.
Tetapi pada akhirnya, Alicia mau tidak mau harus mengalah dengan keputusan final kedua orang tuanya.
"Alicia... Ingat usia kamu! Ibu tidak mau kamu jadi perawan tua!" Ujar ibunya Alicia.
"Bu... Relax... Usiaku masih 30 tahun. Kenapa ibu resah begitu?" Tanya Alicia berang.
"Ibu sudah punya dua anak di usia segitu!" Ibu Alicia mendengus.
Perdebatan terus saja terjadi antara ibu dan anak tersebut. Hingga akhirnya, Alicia dengan sangat terpaksa menyetujui permintaan ibunya.
Sampai akhirnya tiba hari pernikahan Alicia dengan seorang CEO yang tampan dan pastinya kaya raya. Acara pernikahan mereka digelar dengan begitu mewah. Para tamu undangan tentu saja berasal dari kalangan atas, pejabat kota, dan orang-orang penting lainnya.
Alicia dan Alex terlihat sangat serasi. Semua tamu undangan berkali-kali memuji pasangan pengantin yang tampil maksimal hari itu.
Diam-diam Alicia sudah menyimpan rasa suka pada suaminya tersebut. Memiliki suami yang tampan dan kaya tentu merupakan impian semua wanita kelas atas. Perjodohan yang sangat menguntungkan! Alicia bersyukur pada akhirnya dirinya mau menuruti permintaan ibunya.
Namun sayang beribu sayang, Alicia ternyata bertepuk sebelah tangan. Alex tidak menyukai Alicia, apalagi mencintainya. Alex menikahi Alicia juga karena terpaksa.
Demi menyelamatkan aset kekayaan keluarga dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, kedua orang tua Alex mengambil jalan pintas dengan cara menjodohkan Alex dengan putri sulung seorang jenderal bintang tiga, yaitu Alicia.
Bapaknya Alicia adalah seorang jenderal yang sangat dihormati. Selain itu, mereka juga adalah keluarga keturunan bangsawan di kota itu.
Maka, menggabungkan dua keluarga hebat tersebut adalah keputusan yang tepat. Keluarga jenderal dan bangsawan bersatu dengan keluarga konglomerat terkaya di kota tersebut. Benar-benar perpaduan yang sempurna.
Akan tetapi, Alex merasa keberatan namun terpaksa menerima keputusan keluarga besarnya. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus bersedia mengikuti perintah kedua orang tuanya.
Sedangkan Alex sendiri sesungguhnya mencintai wanita lain yang selama ini sudah bertahun-tahun menjadi kekasihnya. Sungguh malang kisah percintaan sang CEO tampan itu.
Jika Alicia sangat kagum dengan sosok suaminya, maka sebaliknya Alex justru sangat tersiksa dengan pernikahan mereka.
Meskipun Alicia juga berparas cantik, tetapi di mata Alex, Alicia sama sekali tidak menarik.
Menjelang petang, acara resepsi pernikahan yang mewah itu selesai juga. Semua tamu undangan sudah keluar dari gedung acara. Kedua mempelai pengantin diantar ke kediaman yang telah dipersiapkan oleh keluarga besar Alex.
"Alicia, beristirahatlah..." Ujar Alex ketika mereka tiba di sebuah apartemen mewah milik Alex.
"Hemmm... Terima kasih." Ucap Alicia lembut.
Alex membawa Alicia menuju kamar pengantin mereka yang telah didekorasi sedemikian rupa. Aroma mawar yang lembut menyapa indra penciuman Alicia.
Alicia menatap Alex dengan tersipu. Alex berusaha mengalihkan perhatiannya pada ponselnya.
"Ruang kerjaku ada di sebelah. Malam ini aku harus lembur." Ujar Alex dingin.
"Oh... Iya... Jangan lupa istirahat..." Alicia mencoba memberi perhatian.
Alex meninggalkan Alicia tanpa sepatah kata. Alicia mulai merasa ada yang aneh dengan Alex.
Hari demi hari berlalu. Alex tetap saja bersikap dingin dengan Alicia. Alicia mulai curiga ada apa sebenarnya. Mereka adalah pengantin baru. Tetapi mengapa Alicia merasa seperti diasingkan dari kehidupan pribadi Alex. CEO tampan itu tidak pernah mendekatinya apalagi menyentuhnya!
"Bukankah aku ini istrinya?" Suara hati Alicia selalu bertanya begitu.
Ingin sekali Alicia bertanya tentang hal itu pada Alex. Tetapi Alex selalu saja sibuk dan jarang berada di apartemen. Akhirnya Alicia memutuskan mencari tahu sendiri.
Dalam waktu yang relatif singkat, Alicia menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini sering hadir di dalam hatinya. Dia sungguh terkejut setelah mengetahui bahwa Alex ternyata tidak mencintainya, melainkan mencintai wanita lain yang notabene adalah mantan kekasihnya.
Alicia begitu kecewa. Dia sudah mencoba mencintai Alex, suaminya. Namun Alex mencintai wanita lain.
"Maafkan aku, Alicia..." Suara Alex terdengar parau.
Alicia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang marah dan kecewa ketika memutuskan membahas persoalan itu dengan Alex.
"Mengapa harus begini? Kamu kan laki-laki, seharusnya kamu bersikap lebih tegas." Tuding Alicia kesal.
"Tidak semudah yang kamu bayangkan..." Tutur Alex lirih.
Alex lalu menceritakan segalanya, awal mula perjodohan sampai Alex tidak diberi kesempatan untuk menolak. Keadaan Alex ternyata lebih pelik dari keadaan yang dialami oleh Alicia.
Alicia menjadi iba melihat Alex yang terpuruk. Di satu sisi, Alicia mencoba mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Alex. Di sisi yang lain, Alicia terluka batinnya. Alicia tahu, meskipun dirinya merasa kecewa, sebenarnya Alex lebih merasa putus asa.
"OK... Aku bisa ngerti gimana perasaan kamu..." Ujar Alicia setelah sekian lama terdiam membisu.
Alex mendongakkan wajahnya. Dia menatap wajah Alicia dengan tatapan tak percaya.
"Kita terpaksa menikah karena keinginan kedua orang tua kita..." Tutur Alicia.
"Kita sudah terjebak di dalam pernikahan ini..." Sambung Alicia.
"Maafkan aku..." Potong Alex.
"Kita tidak mungkin begini terus... Kekasihmu pasti lebih kecewa dariku..." Kata Alicia.
Alex menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa nelangsa. Ia merasa begitu lemah, tidak dapat melakukan apa-apa untuk memperjuangkan cintanya sendiri. Di dunia kerjanya, ia adalah seorang CEO yang sukses dan disegani oleh rekan bisnisnya. Namun dalam urusan pribadi ini, ternyata dia begitu lemah.
"Mungkin kita bisa fikirkan solusinya..." Alicia berkata dengan suara datar.
"Maksudmu?" Tanya Alex.
"Ya, solusi untuk ini semua. Aku... Jujur aku tidak ingin berada dalam pernikahan yang seperti ini. Tidak ada wanita yang ingin berada di posisi begini." Jelas Alicia.
"Ya..." Ucap Alex lirih.
"Kita harus cari jalan keluar..." Ujar Alicia sambil menghela nafas panjang.
Malam kini semakin larut. Rintik hujan mulai turun. Sepasang pengantin baru itu larut dalam angan mereka masing-masing. Mereka berusaha mencari penyelesaian terbaik.
"Aku tidur duluan..." Alicia pamit menuju kamar tidur mereka.
"Tidurlah... Ini sudah larut malam." Sahut Alex.
Alicia mengangguk pelan dan beranjak meninggalkan ruang tamu.
"Terima kasih, Alicia. Untuk pengertianmu..." Ucap Alex.
"Hemmm..." Alicia menggumam pelan sambil tersenyum tipis.
Di balkon apartemen, Alex menatap kosong langit malam yang gelap dan dingin. Rintik hujan malam ini membuat suasana hatinya semakin kacau.
"Maafkan aku, Alicia..." Alex mendesis lirih.
Alicia lalu masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya begitu saja. Ia merasa lelah sekali. Rasanya ingin menjerit, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya air mata yang tiba-tiba menetes tanpa bisa diajak kompromi.
Beginikah rasanya sebuah pernikahan yang dipaksakan? Hanya berujung sakit dan kecewa. Bergelimangan harta namun tanpa cinta.
Alicia menyesali mengapa menaruh hati pada Alex. Ia bahkan lebih menyesali lagi mengapa sejak awal tidak bersikeras menolak perjodohan dirinya dengan CEO yang tampan dan kaya tersebut.
Kini tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa dalam hati Alicia. Hanya tinggal rasa sesal dan kecewa yang menyesakkan dada.
***TAMAT***