Ting......,... bunyi notifikasi pesan di android ku setelah beberapa saat dinyalakan. Dengan rasa malas ku buka pesan tersebut. Betapa terkejutnya aku, itu adalah pesan dari orang yang tidak dikenal. Hahahaha.......... dan kalian tahu isinya pesannya apa? Isi pesannya adalah ucapan selamat ulang tahun.
Tapi tunggu dulu, aku mulai berpikir siapa yang ulang tahun? nyatanya tgl itu berbeda dengan tanggal ulang tahun ku. Namun demikian aku tetap mengucapkan terimakasih meskipun waktu ulang tahun ku sudah berlalu satu hari lalu.
Singkat cerita setelah itu kami pun berkenalan. Memberi respon positif satu sama lain.
Larut dalam pesan-pesan singkat darinya, Aku pun menaruh hati padanya begitu pun sebaliknya. Entah itu serius atau tidak hanya dia dan Tuhan' yang tau.
Untuk beberapa waktu kami melakukan percakapan sama seperti pasangan pada dasarnya. Saling menanyakan hal-hal sederhana yang membuat rasa sayang itu semakin bertumbuh.
Sulit dipahami memang, tapi itu adalah fakta. Aku yang biasanya tidak pernah berharap dengan orang baru kali ini berbeda. Dengan mudahnya aku memupuk perasaan ku hingga benar-benar jatuh cinta padanya.
Dia tidak melakukan apapun, dia hanya memberi ku respon positif untuk setiap apa yang ku sampaikan.
Ting...... itu adalah bunyi yang sedang ku tunggu.
"Yang, aku berangkat kerja dulu yah, pulangnya agak sore." Singkat tapi itu berarti bagi ku.
Iya, sayang. Hati-hati saat bekerja. Ku balas pesannya secepat mungkin.
Pesan-pesan kami hanya seperti itu. Hingga pada suatu waktu aku menerima pesan dari orang yang juga tidak ku kenal.
"Dek langgeng kau ya sama si Aji itu, baik baik la kalian."
"Lagian udh mau kami urus kok surat cerai kami"
"Biar bebas kalian"
Masa bodoh, itulah tanggapan pertama ku.
"Maksudnya apa ka?" Setelah beberapa saat kubaca pesannya, Aku bingung yang awalnya masa bodoh, dengan respon seadanya ku jawab pesan tersebut.
"Haha.......
Maksudnya apa?
Kau pacaran sama dia kan?
Ya udh!
Dia masih ber istri dk.
Kau sayang" an sama dia
Tapi gapapa, Bntr lagi kami cerai koo!!"
Ku baca perlahan pesan tersebut, deg....... jantung ku berdetak lebih kencang dari biasanya. Ber istri, wahhhhhh ini apa pikir ku.
Dia suami kka?
Serius nanya? Ku perjelas kalimatnya yang menyatakan bahwa Aji adalah orang yang masih memiliki seorang istri.
Ini sangat konyol menurut ku, dimana aku tidak berfikir dia sudah menikah di usianya yang masih 24 tahun. Dan sebelum aku menaruh hati padanya aku sudah bertanya terlebih dahulu meskipun itu tidak secara terang-terangan.
Namun inti dari pernyataannya adalah dia tidak memiliki seseorang yang dekat dengannya atau bahkan menjalin hubungan dengannya saat ini.
"Iya
Kenapa
Ga percaya kau
Dia blg apa lajang
Hahaha
Kau pun
Kok kegatalan"
ku buka kembali pesan masuk, dan itu diluar pemikiran ku.
........, hanya ini yang bisa ku ketik.
"Ga kau tanya" dia udh be binik
ga malu kau dek, Ayang-ayang sama suami orang?
Lucu aja kurasa
Kalau kalian mau lama sama
Bilang urus surat cerai dulu!!"
Deg, hati ku menangis namun tidak dengan mata ku, aku tidak menginginkan hal itu.
"Kok diam dek!
Udah la dek dek.
Udah berapa lama kalian pacaran?"
Jujur aku tidak pacaran dengan nya, karna memang kita tidak pernah jadian, kita hanya memanggil satu sama lain dengan kata sayang. Hahahaha, bodoh memang tapi itu sudah biasa kulakukan. Terkesan murahan tapi itu bukan hanya aku saja.
Aku tidak lagi membalas pesan-pesannya, karena jujur jantung ku berdetak kencang dan tangan ku sudah bergetar sedari awal. Dimana aku dapat melihat jelas pesannya di ikuti dengan bukti pemberkatan dan surat nikah.
Aku tidak memiliki cita-cita jadi seorang perusak. ku coba menjelaskan apa yang terjadi.
"Ka......
maaf;(
Aku baru dekat sama dia beberapa bulan yang lalu
Cuma dekat aja ka
ga pacaran"
Ku balas pesannya dengan sedikit keberanian.
"Kau panggil dia ayangg
Kan kalian pacaran
Kami udh ada anak
Trs aku lagi hamil lou
KAU GA PERCAYA
Tapi ya udh la
Kalau kau ga percaya
Ga masalah"
Segala permasalahan hidup bertambah.
Punya anak, sedang hamil.
Otak ku berfikir dimana letak kesalahannya
Iya kka tenang aja,
Ga bakalan di ganggu. Ku ambil langkah untuk segera menjauhi Aji.
"Tapi jangan jadi perusak hubungan orang" lagi dan lagi itu yang dia sampaikan.
Aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Ga baik loh
Bukti kan sama dia
Kalau kau ga ganggu dia lagi
kirimkan buktinya pada ku, jika tidak aku akan terus menyalah kan mu!"
Itu tidak akan terjadi, tanpa di suruh untuk menjauhi pun aku akan tetap meninggalkan nya. Karena logika berpikir ku masih berfungsi dengan baik.
Tut... Tut... Tut... bunyi nada panggilan yang sedang kulakukan pada Aji. Tidak ada jawaban.
Ku kirim kan beberapa penggalan pesan untuk nya.
send fict: @
"Ini apa? Siapa?
Siapa Itu ? Dia menjawab seakan-akan tidak mengenal nya
send fict: @
Aku kembali mengirimkan foto pernikahan mereka.
"Abaikan Aja Yang" jawaban macam apa ini?
Jadi pelakor dong, 😂😂😅
Aku berusaha untuk tidak terlihat dalam masalah.
"Siapa Jadi Pelakor
Gak Usah Mau Di Usik Dia
KAMI UDAH PISAH BEH
KALOK KAU GAK PERCAYA, kau Tanya Langsung Sama Dia"
Tidak ada yang perlu ditanyakan atau pun di perjelas.
Yang aku lihat kamu adalah seorang yang memiliki istri dan juga seorang anak.
"Aku Jujur Yang
KAU GAK SALAH
DIA YANG SALAH
NGAPAIN DIA GANGGU KEHIDUPAN KU LAGI
MAU LIAT SURAT CERAI?"
Tentu saja aku ingin melihat bukti cerainya, bukan untuk melanjutkan hubungan tapi untuk pembelaan bahwa aku bukan perusak rumah tangga orang lain.
"JANGAN SEDIH BEH
BUKAN SALAH MU
MELAINKAN DIA, Dia Yang Selingkuh , Udah Aku Minta Cerai , Malah Di ganggui Lagi Kehidupan KU 🤦"
Lihat, kalian bisa lihat. Bukan ini yang ku inginkan. Aku ingin mempercayainya karna aku sudah terlanjur menaruh hati. Namun aku juga tidak ingin mempercayainya karna aku adalah seorang perempuan.
Bagaimana mungkin aku bertahan jika pihak lain terluka. Aku jahat menginginkan bukti selembar kertas bertuliskan Cerai. Bukan ingin mendapatkannya tapi mencari aman diatas apa yang terjadi. Aku tidak ingin terjerat dalam rumah tangga yang hampir runtuh.
Kubiarkan hati ku kembali terluka, ku tinggalkan dia yang membuat ku pulih.
Ku yakinkan diri ku, bahwa dia memang tidak ditakdirkan untuk ku.
Kembali ke masa dimana aku masih menunggu, menunggu sepucuk surat berisi kata-kata perpisahan antara dua orang yang awalnya saling mencintai dan menyayangi berubah menjadi saling membenci, surat apalagi kalau bukan surat cerai.
Tepat pukul 11.00 di hari Senin, Ting bunyi notifikasi Android kesayangan ku, Ku ambil benda pipih itu seperti biasa.
@082xxxxxx mengirimkan foto
Ku perhatikan seksama foto itu tanpa membuka pesannya, antara terkejut dan bahagia akhirnya yang ditunggu datang juga.
Sedikit aneh, tapi ini aku. Dengan semangat ku buka pesan berupa foto tersebut kubaca perlahan. Benar saja itu adalah surat cerai. Wahhhhhhhh akhirnya aku bebas dari tuduhan sebagai perusak rumah tangga orang.
Tapi tunggu, kenapa surat ini rusak? Kenapa bisa terbelah menjadi dua, dan diperbaiki sedemikian rupa? Apa yang terjadi?
Ku kirim kan pesan singkat atas rasa penasaran ku.
Jii, kenapa surat nya rusak?
Apa kamu yang melakukannya?
@082xxx
Itu tadi karena sedikit emosi, mengingat perlakuan mantan istri dengan selingkuhannya, tapi tenang aja itu masih bisa dipakai kok;
Kembali aku berpikir, apa iya hal seperti itu bisa digunakan, bukankah itu tidak sah? Seperti yang di perlihatkan di tv. Jika salah satu pihak merobek surat cerai maka perceraian itu tidak sah.
Aku tau, kenapa kamu merobeknya, karena pada dasarnya kamu belum bisa lepas dari mereka kan, mengingat kalian sudah mempunyai anak dan saat ini dia sedang mengandung.
082xxx
Ngomong apa sih yang, itu bukan anak aku. Aku menikah dengannya saat dia sudah mempunyai anak, dan sekarang dia mengandung anak dari selingkuhannya.
Aku dibuat terkejut kembali olehnya, apakah itu fakta atau tidak hanya merekalah yang tau.
Kembali ke fokus awal, sekarang aku bebas, benar-benar bebas melakukan apapun.
Yang aku pikir ini adalah awal kebahagiaan ternyata aku salah besar. Mempercayainya adalah musibah, mencintainya adalah luka, mempertahankannya adalah duka.
Saat ini aku benar-benar sakit, sakit yang tidak berdarah dan tidak bisa dilihat. Fisik ku baik-baik saja tapi batin ku remuk berkeping-keping.
Tanpa satu katapun dia pergi meninggalkan ku, memblokir semua sosial media dan semua no yang pernah dia gunakan.
Aku tidak merasa ada kejanggalan mengingat kita masih baik-baik saja hari ini. Kita melakukan komunikasi seperti biasa dan bahkan melanjutkan hubungan kedekatan yang sempat terputus oleh ke salah pahaman.
Ku coba mencari beberapa akun medinya, tapi sayang tidak satupun dapat kutemukan. Aku ingin bertanya pada beberapa orang terdekat yang sempat dia kenalkan tapi aku malu pada diriku sendiri.
Hingga akhirnya ku hapus semua tentang dia, tentang apa yang dia sampaikan melalui pesan-pesan singkatnya.
Ku yakinkan diri ku bahwa dia tidak berarti apa-apa bagi ku. Dia hanya orang yang berlalu lalang di hati ku, dan hanya singgah untuk beberapa saat.
Ku buka lembaran baru meski jujur aku merasa kehilangan, tapi sudahlah yang benar-benar tulus tidak akan meninggalkan tanpa memberitahu.
Karma nyata dan benar terjadi, yang ku pikirkan itu adalah awal kebahagiaan ternyata itu adalah akhir. Aku mendapat hukuman atas apa yang kulakukan. Aku mendapat imbalan atas apa yang kuinginkan.