Aku hanya memandang datar ketika wanita itu mengisyaratkan untuk diriku bergabung di ruang keluarga. Tanpa banyak bicara, aku mengikuti apa yang diperintahkannya sambil terus memandang punggungnya. Wanita itu pun juga tidak banyak berinteraksi denganku. Aku sadar dia mengalihkan pandangannya dariku. Aku juga sadar jika dia sedari tadi berusaha agar tidak berbicara banyak denganku. Terlebih lagi jika hanya berdua.
Wanita itu ibuku. Dan aku tidak heran jika dia masih seperti itu kepadaku hingga saat ini. Padahal sudah sekitar 4 tahun kami tidak bertemu–jika tidak dihitung dengan liburan semester perkuliahan, tapi semua itu tidak berubah. Tidak ada sama sekali. Dan aku pun tidak mengharapkan apapun.
Besok salah satu sanak saudaraku akan menikah, jadi mau tidak mau aku harus menghadiri dan membantu acara tersebut. Aku memandangi sepupuku yang sedang bercanda ria dengan sepupu lainnya. Tepat di samping sepupuku, ada bibiku yang tengah membaca buku yang entah berisikan apa. Mungkin itu adalah buku hariannya. Atau mungkin pula buku bisnis yang berisikan angka-angka. Karena ekspresi bibi yang sangat serius itu, aku sangat yakin dia tidak sedang membaca buku dongeng anak-anak.
Suara gelas yang diletakkan sedikit kasar di hadapanku membuatku kaget. Aku memandangi sang pelaku dalam diam. Baik suara gelas maupun pelakunya cukup membuat kesenanganku menghilang dalam sekejap. Pelaku itu memandangiku datar sebelum pergi berbaur dengan keluarga lainnya. Dan lagi-lagi aku memandangi punggungnya yang semakin menjauh dalam diam sebelum mengalihkan pandanganku ke arah gelas yang ditaruhnya.
Gelas itu berisi teh dengan uap yang menari-nari diatasnya. Aku yang tidak bisa minum minuman panas itu pun mau tidak mau harus menunggunya sedikit dingin. Salahkan lidah kucingku yang memang ada sedari lahir. Seandainya bisa, mungkin aku berharap memiliki lidah yang tahan panas. Dengan begitu aku bisa memakan dan meminum apapun tanpa harus menunggu lebih lama.
Tapi kan itu seandainya. Sudah waktunya untukku berhenti berandai-andai.
Tentu saja aku tidak bisa merubah lidahku menjadi lidah tahan panas. Aku hanya manusia biasa yang menikmati keseharianku. Setidaknya, ya setidaknya aku masih bersyukur dapat menikmati hidupku.
Aku menghirup aroma teh itu selagi menunggunya dingin. Aku tersenyum tipis. Ini jenis teh kesukaanku. Dan terlebih lagi di dalamnya terdapat campuran madu. Aku kembali memandang ibuku yang tengah memberikan minuman ke pamanku. Aku hanya memandangnya dalam diam. Tidak ada satupun kata yang bisa terucap untuknya.
Seperti, 'Tehnya enak sekali, bu!' ataupun 'Aku yakin ibu hanya memasukkan satu sendok madu, kan?' dengan nada santai layaknya ibu dan anak. Aku segera mengalihkan pandanganku ketika ibuku menoleh ke arahku. Jujur saja, teh ini adalah teh kesukaanku. Minuman favoritku yang tidak bisa kuhindari berapa kalipun.
Aku dulu berusaha untuk tidak menyukai minuman ini. Berkali-kali. Tapi pada ujungnya, ketika dalam perasaan senang maupun sedih pun minuman ini selalu bersamaku. Seakan-akan aromanya berkata, 'Kamu pasti bisa melaluinya' atau 'Selamat berjuang' atau juga 'Kamu sudah melakukan yang terbaik' dan berbagai kalimat yang tidak pernah ibuku ucapkan. Seakan-akan hanya inilah bagian dari ibuku yang menempel pada diriku.
Aku memegangi seluruh sisi gelas itu dengan kedua tanganku. Membiarkan telapak tanganku merasakan kehangatan dari teh tersebut. Saat ini, aroma tehnya seakan berkata, 'Kamu tidak sendirian'. Aku tertawa kecil ketika membayangi aroma teh itu berubah menjadi sesosok mungil yang terbuat dari uap dan mengatakan itu dengan lantang.
Karena kesendirianku, imajinasiku berkembang cukup luas. Tak jarang aku tertawa sendiri karenanya. Dan mungkin karena itu, ibuku bersikap seperti itu padaku. Anak yang aneh, menyendiri dan jarang sekali berbicara. Sudah pasti ibu malu memiliki anak sepertiku.
Memikirkan itu membuat perasaanku kembali buruk. Tanpa kusadari, ruangan ini mulai sepi. Sepupuku yang sedang asyik bercanda tadi pun sudah entah kemana. Saat kusadari, paman sedang membantu kakek untuk berjalan ke kamar dan menyisakan aku dengan bibi yang masih fokus membaca bukunya.
Tak butuh waktu lama untuk wanita paruh baya itu menyadari jika ruangan ini sudah sangat sepi. "Yang lain sudah beristirahat, kah?" tanyanya sambil menutup bukunya. Aku menganggukkan kepalaku. Melihat jawabanku, bibi berdiri dan mulai beranjak pergi. "Hei, kamu juga istirahat sana. Besok kita harus bangun pagi untuk persiapan." ucapnya kemudian berlalu.
Aku mau beristirahat, tapi aku ingin menghabiskan teh madu ini terlebih dahulu. Tehnya sudah sedikit dingin namun tetap saja akan begitu terasa panas di lidahku. Aku meniup-niup pelan minuman itu lalu mencicipinya perlahan. Rasa teh bercampur madu itu membuat suasana hatiku sedikit membaik. Hanya dengan itu aku bisa tersenyum tipis.
"Cepat habiskan itu terus tidur." Suara yang sangat familiar itu nyaris membuatku tersedak. Senyuman tipisku langsung menghilang, begitu pula dengan suasana hatiku. Semua hilang dalam sekejap. Aku berusaha tidak menoleh ke arah sumber suara. Aku tau ibuku sedang memandangku dari pintu itu. Dan aku tau pula dia sedang kesal entah karena alasan apa. Suasana hatinya selalu memburuk dalam sekejap.
Wanita itu mematikan televisi dan kipas. "Kamu itu bukan anak kecil lagi, jangan sedikit-dikit disuruh." ucapnya dengan nada kesal. Genggamanku pada gelas itu menguat.
Sedari kecil, dirimu tidak pernah menganggapku anak kecil.
"Heran deh punya anak kok susah sekali buat ngomong doang. Ngga heran kamu itu dikira bisu, tau?"
Padahal dirimu yang tidak pernah membiarkanku untuk mengeluarkan suaraku. Bahkan untuk sekedar pembelaan diri.
"Ngga tau lagi gimana caranya ngurusin kamu. Apa-apa disuruh. Kalau ngga, ya diem aja duduk ngga ada ngapa-ngapain. Yang lain ngumpul, kamu malah diem aja di kamar."
Jika saja dirimu tidak terus mengomentari dan menyalahkan semua tindakan dulu mungkin aku tidak akan seperti ini.
Ocehannya terus berlanjut dan aku memilih untuk tidak mendengarnya. Aku hanya diam dan memandangi teh milikku. Teh ini padahal buatannya. Tapi aku tidak bisa memprotes minuman itu. Mungkin satu-satunya hal yang kusuka dari ibuku hanyalah teh buatannya.
"Ibu," panggilku memotong ocehannya. Wanita itu hanya mendelik sambil mengambil piring kotor yang berada di atas meja. Diamnya dia mungkin karena sudah lelah mengoceh. "Kenapa kamu melahirkanku?"
tanyaku tanpa menoleh.
Wanita itu diam. Dan aku pun tidak mengharapkan jawabannya. Tanganku sedikit bergetar. Entah karena takut atau hal lainnya. "Jika dirimu mencari pelampiasan amarahmu, seharusnya jangan kepadaku. Dirimu terus menyalahkan semua apa yang kulakukan tanpa memikirkan perasaanku." ujarku lalu meminum teh madu itu. Aroma teh itu seakan kembali menyemangatiku.
"Jika dirimu kesepian, ibu bisa memelihara hewan atau melakukan kegiatan yang ibu suka. Aku sama sekali tidak melarangmu bahkan jika dirimu pulang larut malam untuk sekedar menghilangkan stresmu." Lagi, aku meminum tehku. Ini selalu membuatku merasa lebih baik. "Aku memang tidak pernah minta dilahirkan. Dan aku dilahirkan bukan untuk pelampiasanmu. Tidak semua salahku atas permasalahan yang dirimu punya, bu."
Aku tidak pernah mencari masalah di sekolah. Di rumahpun sebisa mungkin aku tidak membuatnya marah. Aku kembali meminum tehku hingga habis. Memang ibu tidak pernah memukulku, tapi ucapannya yang begitu tajam itu membunuhku secara perlahan. Selalu terus mengomentari setiap gerakku tanpa memikirkan perasaanku. Aku menarik napasku dalam-dalam dan menatap langsung matanya. Rasa sesak itu datang ketika mata kami bertemu.
Kira-kira, kapan terakhir kali mata itu menatapku dan penuh kasih sayang? Seketika aku merindukan masa-masa dimana ibu masih memandangku seperti itu.
"Aku tidak tau kenapa ibu selalu seperti itu padaku. Tapi meskipun semua itu kamu lakukan padaku, aku tidak bisa membencimu." Aku memandang matanya dengan sungguh-sungguh. "Teh buatan ibu selalu yang terenak. Mungkin hanya itu yang kusukai dari ibu. Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan teh buatan ibu. Terima kasih atas tehnya, bu." Aku mencoba tersenyum tipis. Senyuman yang cukup tulus dariku untuknya.
"Aku pamit tidur dulu." pamitku sambil ke arah dapur untuk mencuci gelas itu dan berjalan ke kamar tanpa menoleh lagi ke arahnya.
Ibu hanya terdiam disana tanpa berkata apapun. Dan aku tidak ingin memperpanjang urusanku disana. Aku menyenderkan punggungku di dinding. Secara perlahan, tubuhku merosot ke bawah. Dengan kepala yang menengadah, aku memandang langit-langit rumah itu. Aku sudah mengatakannya. Sebisaku aku mengatakan itu dari mulutku.
Aku memandang pintu ruangan yang menjadi saksi bisu kejadian itu. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku yakin ibu sangat menyayangiku. Alasan mengapa aku tidak bisa memandangnya lagi, karena aku melihat tatapan ibuku yang memandangku sedih. Terlihat ada penyesalan disana. Tatapan yang lagi-lagi membuatku tidak bisa meninggalkannya.
Seakan-akan diriku ditawan oleh tatapan itu, aku bertahan disampingnya. Menahan telingaku dari segala ocehannya. Menguatkan hatiku dari segala tindakan maupun ucapan tajam miliknya. Dan menjaga sikapku agar tidak membuatnya marah.
Ibuku hanya kesepian. Dia hanya tidak tau harus melampiaskan kemarahannya pada siapa. Dia menanggung semuanya sendirian.
Aku mengulangi semua kalimat itu di dalam benakku. Semua kalimat itu terus bermunculan ketika melihat sorot mata sedihnya tadi. Kalimat itu membuatku tidak bisa kabur, namun kalimat itu pula yang membuatku bertahan.
Aku memeluk diriku sendiri. Aku tau aku bisa menghadapi itu semua. Aku tau aku bisa. Tapi ada kalanya aku lelah untuk menyemangati diriku sendiri.
Untuk kesekian kalinya, kesunyian selalu menemaniku. Aku tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan.
Aku menyayangimu, bu. Kumohon, jangan bersikap seperti itu lagi kepadaku.