Namaku muhammad Azreal, aku lahir dibandung tanggal 24 Agustus 1999. Aku dipesantrenkan oleh ayahku karena dulu aku adalah seorang anak yang nakal. Ayahku sudah jengkel dengan setiap sikap brengsekku yang sehingga aku dipesantrenkan oleh ayahku.
Ini ceritaku, cerita paling memilukan sekaligus mengasyikkan.
"Azreal, baca qur'an surat al-kahfi ayah lima belas". Perintah pak ustadz kepadaku. Aku tidak mengerti bagaimana cara membaca qur'an. Aku hanya diam tak bergeming ketika pak ustadz memerintahku.
"Ayo". Perintahnya. Aku masih diam. Hingga aku memberanikan diri untuk berbicara.
"Saya tidak bisa baca qur'an". Ucapku dengan menundukkan kepalaku. Rasanya malu ketika semua orang menertawaikku yang tidak bisa membaca qur'an, aku hanya bisa menerima nasibku ini.
"Jangan ada yang tertawa!!!". Teriak pak ustadz. Seluruh santri diam dan masih saja ada yang tertawa namun tidak bersuara.
"Tugas manusia itu hanya belajar, jangan karena kalian merasa bisa, kalian seenaknya mentertawai teman kalian itu". Ceramah pak ustadz. Semua santri menunduk merasa bersalah. Bagaimana tidak? Mereka mentertawaiku karena aku tidak bisa membaca qur'an.
Aku berada dikobong H. Aku hanya diam sembari membaca buku pelajaran akidah dan akhlak. Aku merasa menjadi orang yang begitu pemalu ketika berada dipenjara suci ini.
Aku merasa mengantuk. Aku menyimpan bukuku dan berbaring untuk tertidur.
Ketika aku akan beralih ke alam mimpi, temanku oh bukan teman lebih tepatnya manusia sialan yang berada satu kobong denganku mengerjaiku dengan cara menyimpan gulungan kertas disela sela jariku dan membakar ujung kertas itu sehingga merembet. Aku terpelonjak kaget karena merasakan panas yang ah tidak bisa aku ceritakan.
Aku membiarkan manusia sialan yang mengerjaiku itu. Meskipun nafsuku sudah memuncak, aku mencoba menahannya. Malam yang buruk.
.
.
.
.
.
.
Aku sedang duduk dihalaman untuk sekedar menbaca baca buku ajaran tentang agama. Ada seseorang yang mendekatiku dan mengajakku berkenalan.
"Aku Gery". Ucap orang yang beralih berduduk disebelahku.
"Oh, aku Azreal". Ucapku membalas aluran tangan yang diberikan Gery kepadaku.
"Kamu santri baru kan?". Tanyanya. Dia seperti orang yang baik. Mungkin.
"Iya". Jawabku sembari menutup buku dan beralih menatap Gery.
"Kamu harus hati hati, santri baru selalu dikerjai disini". Ucapnya memberitahuku. Pantas saja, malam itu mereka mengejaiku.
"Oh iya..". Ucapku, Aku berharap semoga Gery itu adalah orang yang baik.
Aku diajak ke madrasah oleh Gery karena aku meminta untuk diajarkan membaca Al-qur'an, dan dia sepertinya tidak keberatan.
Aku diajarkan langkah yang paling dasar dari membaca Al-qur'an oleh Gery yaitu mengenal huruf huruf hijaiyah. Aku hanya sedikit paham tentang huruf huruf itu, aku tidak terlalu mengerti.
Satu jam sudah Gery mengajarkanku cara cara membaca Ak-qur'an, dia mengajakku untuk pergi kepasar.
Waktu masih pagi, banyak santri dan santriyah yang berlalu lalang dipasar hanya untuk belanja kebutuhannya masing masing.
Dan yang anehnya, mereka berjalan dengan cara menunduk agar tidak bertemu pandang dengan berbeda jenis.
Aku sedang berjalan dibelakang Gery yang berada didepanku. Aku menemukan name tag bernama Fadhilah Nurul Jannah. Aku celingak celinguk mencari keberadaan wanita yang name tagnya jatuh itu, tapi aku tidak menemukan keberadaannya.
"Real, mau beli apa?". Tanya Gery ketika kita sudah sampai ditempat jualan. Aku bingung, aku tidak membutuhkan apa apa untuk hari ini.
Aku hanya menggeleng kepada Gery. Gery membeli banyak barang untuk persiapannya itu untuk dibawa kekobong. Sedangkan aku, aku hanya membawa Name tag milik seseorang yang tidak aku ketahui.
.
"Ya, Name tag aku mana?". Tanya Fadhilah kepada Cahaya. Fadhilah baru saja membeli name tag itu dan sekarang name tag itu telah menghilang secara mistis.
"Gak tahu Dhil, yang aku masih ada nih". Ucap Cahaya dengan menunjukkan name tag yang ia pasang dikerudungnya itu.
"Yah.. padahal aku baru beli". Ucap Fadhilah dengan lesu.
.
Aku ingin menanyakan seseorang yang bernama Fadhilah itu kepada Gery tapi aku malu. Aku hanya menyimpan name tag itu didalam lemariku yang aku kunci dengan rapat.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 19:00. Aku sedang melaksanakan solat berjamah bersama santri yang lain.
Setelah selesai melaksanakan solat berjamaah, aku bersama Gery berjalan menuju madrasah untuk mengikuti kegiatan mengkaji yang diwajibkan oleh pak ustadz.
Pak ustadz belum juga datang, aku hanya mencoret coret buku dibagian belakang dengan asal. Setengah jam berlalu pak ustadz masih saja belum datang. Ustadzah datang untuk memerintahkan seorang senior untuk menggatikan posisi pak ustadz suaminya itu.
Senior itu maju kedepan dan memerintahkan santri lain untuk membawa kitab Fathul Athfal. Aku hanya menyimak ketika seluruh santri membaca kitab itu.
Senior itu memerintahkan santri lain untuk membaca kitab itu secara bergantian. Jantungku berdegup dengan kencang karena sekarang yang membaca kitab itu adalah Gery, yang otomatis setelahnya adalah aku.
Sekarang adalah giliranku. Aku mengaku kepada senior itu bahwa aku tidak bisa membaca kitab. Senior itu memerintahku untuk maju kedepan dan mengangkat sebelah kakiku.
Plak.....
Kakiku dijepret oleh sebatang kayu yang tipis. Aku meringis kesakitan ketika aku dijepret oleh kayu itu dengan kerasnya.
Aku berjalan terpincang untuk kembali duduk ditempat asalku. Huh..menariknya.
.
"Dhil, kata ayah kamu pesantren kita ada santri baru gak yah?". Tanya Meisita kepada Fadhilah yang sedang sibuk menghafal Qur'an.
"Aku gak tahu Mei, kamu jangan ganggu aku, aku lagi menghafal". Titahnya. Meisita hanya menampakkan wajah cemberutnya.
.
Sekarang adalah acara Tabligh Akbar. Seluruh santri diperintahkan untuk hadir dalam acara ini.
Aku pergi bersama Gery dengan bermodalkan kacang kulub yang masih hangat.
"Acara apa ni Ger, ramai amat". Tanyaku kepada Gery. Sekarang aku sudah lebih akrab kepada Gery,. bahkan aku meminta untuk pindah kobong agar bisa bersama Gery.
" Tabligh Kabar". Ucapnya sambil mengupas kacang menggunakan giginya.
"Acara yang selanjutnya adalah pembacaan ayat suci Al qur'an yang akan dibacakan oleh saudari Fadhilah. Waktu dan tempat kami persilahkan". Ucap sang pembawa acara.
Aku seperti tidak asing mendengar nama itu. Namanya seperti mirip dengan name tag yang aku temukan dipasar sewaktu itu.
"Siapa dia". Tanyaku kepada Gery. Gery masih sibuk mengupas kacang dengan giginya itu.
"Dia Fadhilah Nurul Jannah, anak dari pak ustadz yang punya pesantren ini". Jelasnya. Aku sudah tidak salah lagi, pasti dia yang memiliki name tag ini.
Dia melafalkan ayat demi ayat dengan sangat merdu dan damai. Suaranya yang lembut mampu menghipnotis santri awam sepertiku.
Dia cantik, bahkan sangat cantik. Spertinya dia adalah incaran para kaum Adam yang sangat ingin untuk bisa menikahinya.
Aku kembali kekobong untuk mengistirahatkan badan. Aku membayangkan raut muka yang ahh begitu cantiknya. Aku mendengar suara ribut diluar. Aku melihat bahwa Gery sedang dipalak oleh seorang santri yang tidak aku kenal.
"Woy!!! apa apaan lo". Teriak gue yang hanya memakai kolor.
"Siapa lo? jangan so ikut campur atau gue bejek bejek lo". Ucap santri itu. Mereka tidak tahu aku atau bagaimana. Aku memang selalu menahan amarahku hanya karena mentertawaiku. Namun semuanya bisa menjadi masalah bagi mereka jika mereka berani bermain fisik kepadaku atau kepada sahabatku.
Aku berlari dan menerjang satu santri dari ketiga santri itu hingga terjatuh.
Aku beradu jotos bersama ketiga santri itu sedangkan Gery hanya diam ketakutan. Dasar payah.
Aku dipisahkan oleh santri lain dan dipanggil untuk menghadap pak ustadz kerumahnya.
"Apa yang kalian ributkan sehingga berani beradu fisik seperti itu". Ucap Pak ustadz. Mereka hanya terdiam sembari menunduk. Nah begini nih jika merasa bersalah.
"Dia malak temen saya pak ustadz". Ucapku sembari melihat kearah pak ustadz. " Dia juga mukul temen saya pak". Lanjutku.
Pak ustadz seperti berpihak kepadaku. Beliau menjelaskan bahwa ini bukan perbuatan yang pertama kali yang mereka lakukan.
Aku tiba tiba melihat kearah wanita yang sedang mencari buku tulisnya itu. Dia seperti ohhhh dia adalah Fadhilah.
"Yah. Buku tauhidku mana?". Tanyanya kepada ayahnya. Aku bertatap tatapan dengan sekilas bersamanya. Dia memalingkan pandangannya dariku.
.
"Tadi ada santri yang ketahuan berantem sama ayah". Ucap Fadhilah ketika masuk kedalam kobong. " Mana cuma pakek kolor lagi". Lanjutnya.
"Astagfirullah, berarti kamu ngeliat aurat laki laki dong Dhil? ihh itu kan berdosa!!!". Teriak Cahaya dengan menutup mulutnya.
.
Sekarang sudah memasuki tahun ke 7 aku berdiam diri dipesantren ini. Aku hanya mengirim setiap isi hatiku kepada Fadhilah, tapi dia sama sekali tidak pernah meresponku.
Aku selalu mengirim cokelat, bunga, pulpen yang bernamakanku, penghapus dan masih banyak lainya.
Sekarang aku sudah lumayan pandai dalam membaca qur'an. Peningkatan yang bagus.
Aku mencoba yang terakhir kalinya untuk mengirim surat kepada wanita yang selalu aku panjatkan ketika berdiskusi dengan sang pencipta.
Mungkin ini yang terakhir kalinya aku mengirim surat kepadamu meskipun kamu tidak pernah merespon surat dariku.
Aku memang bukan lelaki yang kau idamkan selama ini.
Aku terlalu buruk untukmu yang begitu sempurna dimataku.
Aku mencoba berubah untuk bisa meminangmu namun kau tak peduli setiap usahaku.
Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku sangat serius mencintaimu.
Aku begitu ingin menjadi imam yang baik meskipun aku tak sebaik orang yang mendaftar untuk menjadi imammu.
Aku hanya bisa meminta kepada sang pencipta disetiap doa yang aku panjatkan.
Aku bermohon kepadamu untuk membalas iya atau tidak didalam surat terakhirku ini.
Aku tidak memaksa hanya saja meminta.
Semoga kau sedia membalasnya.
Maaf, aku selalu membuang waktumu hanya untuk membaca surat yang tak berfaedah dariku.
Untukmu dari bayanganmu.
Seperti itulah surat yang kutuliskan untuknya. Aku hanya bisa berharap dan menerima apa yang telah sang pencipta kasihkan.
Aku menunggu masih menunggu jawaban darinya.
.
"Dhil, surat lagi nih dari calon imamu" Ucap Cahaya dengan memberikan sekertas surat. Cahaya pergi meninggalkan Fadhilah agar membaca surat itu dengan tenang.
Fadhilah membaca surat itu. Dia membaca sesekali menyeka air matanya. Dia bingung, sangat bingung.
Dia bibgung antara menerima ajakan dari Azreal atau ajakan dari Septian.
Azreal memang sangat jauh jika dibandingkan dengan Septian. Azreal hanya bisa membaca Al-qur'an meskipun masih banyak tajwid dan pelafalannya yang salah. Tapi dia mampu menjadi dirinya sendiri, dia tidak pernah mencoba untuk menjadi orang lain.
Fadhilah pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan solat Istikharah agar dimudahkan segala kebingungannya oleh Allah SWT.
Dia melaksanakan solat dan berdoa kepada sang pencipta.
"Ya Allah, hamba bingung untuk menerima dari salah seorang pria ini ya Allah. Ini adalah ibadah yang beliau ciptakan untuk saling menyempurnakan. Keduanya sama sama mengajakku kedalam hal yang baik dalam ajaranmu ya Allah. Tolong mudahkanlah hamba dalam mengambil keputusan ini ya Allah. Ammin". Fadhilah kembali menitikkan air matanya. Rasanya sedih hanya untuk menolak salah satu dari mereka. Tolong mudahkanlah hambamu ini ya Allah.
.
Semibggu sudah aku menunggu balasa surat dari Fadhilah. Aku merasa putus asa, namun aku tidak boleh lemah.
Sekarang aku akan berpamitan kepada seluruh santri karena aku akan dibawa oleh ibu bapakku untuk pergi ke francis.
Aku bepamitan kepada Gery yang menangis histeris atas kepergianku.
"Jika selama ini Azreal ada salah, mohon dimaafkan yang pak ustadz". Ucap ibu. Aku hanya menunduk antara sedih dan rasa untuk tetap tingg disini. Tapi aku tidak bisa membantah perkataan ibu.
"Tidak, semoga kalian selamat sampai disana". Ucap pak ustadz. Aku mencium punggung tangan oak ustadz atas bentuk terima kasihku karena telah diberika ilmu yang sangat bermanfaat bagiku.
Terima kasih Asrama, Kau telah menjadikanku manusia yang selayaknya manusia.
.
"Astagfirullahaladzim". Teriak Fadhilah terpelonjak kaget dari kasurnya. Cahaya dan teman lainnya terbangun.
"Ada apa Dhil?". Tanya Cahaya dengan mengelus ngelus punggung Dhila.
"Aku mimpiin Azreal Ya". Ucapnya menangis sembari memeluk Cahaya.
"Kamu belum ngambil keputusan Dhil?". Tanya Cahaya yang masih memeluk Fadhilah.
Fadhilah hanya menggelengkan kepalanya.
Fadhilah melepaskan pelukan Cahaya dan berlari keluar untuk menemui ayah dan tidak mengenakan kerudung.
Fadhilah mencari ayah, ayah didapati sedang membaca qur'an dengan ibu. Fadhilah menghampirinya.
"Yah". Ucap Fadhilah memeluk ayah dengan menangis.
"Heh.. Kamu kenapa?". Tanya ayah yang bingung karena Fadhilah menangis secara tiba tiba.
Fadhilah menceritakan semua yang telah dia lalui, Dhilah kembali menangis, ibu yang mengetahui kondisi Dhilah saat ini hanya bisa memeluknya.
"Ketika kamu selesai melaksanakan solat istikharah, Kamu tertidur?". Tanya ayah mengintimidasi Dhilah
"Iya yah". Jawab Dhilah sendu.
"Siapa yang kamu mimpiin?". Tanya ayah mengerutkan dahinya.
"Tadi aku mimpiin Azreal yah". ucapnya denga kembali menangis histeris, ayah mengetahui bahwa jawaban dari solat yang Dhilah lakukan itu adalah Azreal.
Dhilah mencari keberadaan Gery dipasar. Dia mencari Gery dan dia berhasil menemuinya.
"Ger, tolong kasihin surat ini ke Azreal yah". Ucap Dhilah dengan memberi selembar surat kepada Gery.
"Emang kamu belum tahu Dhil?". Tanya Gery yang sibuk memakan basreng buatan mang Arul.
"Apa?". Tanyanya.
"Gery ikut ayahnya ke prancis dua hari yang lalu". Ucap Gery.
Perasaan Dhilah seketika hancur, dia menjatuhkan surat yang ingin dia berikan kepada Azreal, Dhilah berlari meninggalkan Gery. Gery membawa surat itu dan memasukkannya kedalam saku.
.
"Serius pak ustadz? Saya akan langsung melamar putri bapak sekarang juga". Ucap Azreal dengan langsung mematikkan teleonnya tanpa memberi salam terlebih dulu akibat senangnya.
Azreal mengajak ibu dan ayahnya untuk kembali keindonesia dan melamar anak semata wayang yang dimilkki oak ustadz.
Azreal sampai sekitar pukul lima sore, dia bergegas mandi dan langsung mengajak ibu dan ayahnya.
Azreal berlari ketika sudah sampai dipesantren itu dan menuju rumah pak ustadz.
"Assalamualaikum". Ucap Azreal dengan mengetuk ngetuk pintu.
"Waalaikumsalam". Ucap ibu sembari membuka pintu dan bernapakkan Azreal yang begitu tampan dilihattnya. "Eh nak Azreal, masuk masuk".
Ibu berbincang dengan pak ustadz dan bu ustadzah. Aku menunggu kehadiran Fadhilah yang katanya siap aku pinang.
Tak lama dari itu, Fadhilah datang bersama pak ustadz. Dia begitu pucat, kantung matanya bengkak, seperi habis menangis.
"Dia selalu menangis". Ucap pak ustadz menjelaskan keadaan Fadhilah yang sangat tersiksa.
Aku menjadi terharu. Singkat cerita.
" Apakah kamu siap untuk menjadi istriku?". Tanyaku dengan gemeteran. Aku menunggu jawaban namun tak kunjung dijawab. Sampai akhirnya suara yang sangat kecil menghiasi sejuta kebahagiaan yang hadir di dalam hidupku.
"Iya, saya bersedia".
Horeeeeeeeee ceritanyaa tamat.
Akhirnya Azrela dan Fadhilah hidup dengan dikarunai tiga anak.
"Bu ayah mau nambah lagi dedek". Ucap Azreal sambil memandang istrinya yang sedang menemani anak bungsunya itu tertidur.
"Yah, Reki masih bayi masa kita mau nambah lagi dedek bayi sih". Ucap Fadhilah yang hanya dibalas pelukan syang dari suaminya itu.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Jangan lupa baca karya lainku yah Judulnya Gama Si Galan. Pokonya ceritanya menarik deh ..... babay